My Chosen Wife

My Chosen Wife
ROMANTIS.



Bruuuuuugggggg....


"Awwwwww."


Seperti Dejavu saja, Vara kembali menabrak tubuh pria yang sempat Ia tabrak di depan lorong kelasnya. Entah kenapa rasanya bisa terus berjumpa dengan Pria itu. Vara menengadah ke arah wajah Pria yang Ia tabrak, bukannya marah Pria itu tersenyum lalu mengangkat tangannya menyentuh kening Vara seraya mengusap-usap kening Vara.


"Kau???" seru Vara kaget.


"Apa itu.sakit?" tanya Ansel pada Vara dengan mengusap kening Vara.


"Jangan menyentuhku,"Vara menepiskan tangan Ansel dan melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.


Ansel mihati Vara yang berlalu dari tempatnya, Ansel tersenyum.


'"Apa dia itu wanita waktu itu?" tanya Baron sahabat Ansel yang tinggal di New York.


"Iya." jawab Ansel.


"Dua kali dia menabrakmu, apa kau berjodoh dengannya sel?" ledek si Baron.


"Dia sudah punya Harsen, Aku telat mengenalnya." ujar Ansel dengan nada kecewa.


"Masih pacaran, belum menikah juga Sel. Masih punya kesempatan untuk bisa dekat dan mencuri cintanya." lagi-lagi Baron memberikan ide gila.


"Kita lihat saja nanti." balas Ansel merasa percaya diri.


"Okey Bro... Aku ada tugas di sini, aku tinggal dulu. Apa kau baik-baik saja senidiri?" tanya Baron.


"Iya... aku cuma mau buat surprise. Aku di mobil aja Ron..Kau kerjalah.." balas si Ansel.


Vara mendaratkan tubuhnya di bangku tempat Ia biasa duduk. Saling sapa dengan teman-teman lainnya. Merasakan rindu setelah beberapa minggu tidak masuk ke kelas. Hari ini, Vara akan menyelesaikan segala urusannya sebelum mereka wisuda.


 


"Kenapa aku selalu ketemu dengan Pria itu?" gumam Vara dalam hatinya.


 


Dari bagian ujung kelas, Zahra menatap sinis ke Vara. Begitupun dengan kelompoknya yang lain. Vara malas ingin berdebat, karena ini memang hari-hari terakhirnya sebagai mahasisiwi di Universitas itu.


 


 


Hari pun berlalu, setelah usai mahasiswa dan mahasiswi berhamburan keluar. Tinggal beberapa orang di dalam kelas termasuk Vara, Zahra, Coco dan Luna beserta beberapa mahasiswa lainnya. Tiba-tiba seorang Pria masuk, membuat Zahra menjadi terkesiap dan berseru, "Kakak."


 


 


Panggilan Zahra menghentikan Vara yang sedang menyusun seluruh bukuknya ke dalam tas menjadi mengarah ke siapa ia memanggil. Tampak Zahra yang sudah berlari ke arah Pria yang ia panggil Kakak itu.


 


 


"Apa kabar adikku?" tanya Ansel sambil memeluk tubuh Zahra.


 


 


"Adik?" gumam Vara dalam hatinya.


 


Bukan hanya Vara saja yang kaget, Coco dan Luna sama dengan dirinya. Karena selama ini tidak ada yang tau kalau Zahra punya seorang kakak.


 


 


"Zahra sehat Kak.. kenapa kakak enggak mengatakan kalau kakak sudah sampai? seperti waktu itu juga, ke sini kakak juga enggak bilang apapun sama Zahra." ucap Zahra dengan bibir di kerucutkan.


 


 


"Maafi Kakak... waktu itu Kakak sangat sibuk. Dan sekarang, Kakak cuma mau kasi surprise buat kamu. Kakak akan mendampingi kamu di sini sayang." balas Ansel mengacak rambut Zahra


 


 


 


Belum sempat Zahramenjawab perkataan Ansel.


 


"Permisi." ucap Vara ke pada Kakak beradik itu, yang berdiri di depan pintu.


 


 


 


Mata Zahra menatap tajam ke Vara, "Lewat saja, jangan cari perhatian!" ketusnya ke Vara.


 


 


Mata Ansel melirik ke Zahra dan ke Vara. Merasa aneh pada keduanya.


 


 


Vara menarik nafasnya dan berkata, "Jika kalian tidak menghalangi pintu yang gunanya untuk keluar masuk orang, saya enggak mengganggu kalian!"


 


 


"Ka—"


"Zahra... tidak boleh seperti itu dengan temanmu sendiri. Kalian satu kelas kenapa bisa bermusuhan seperti ini sih?" Ansel bertanya pada adiknya yang manja.


 


 


"Karena Kakak enggak tau, betapa menyebalkan wanita ini!"


 


 


"Karena Kakakmu juga enggak tau, betapa jahatnya adik!" Vara kembali menajamkan matanya.


 


 


Zahra merasa gugup, dia melirik ke Vara dan Ansel. Kening Ansel mengerut dan seakan mencerna maksud perkataan Vara barusan


 


 


"Maaf tolong minggir!" Vara berkata dengan penekanan.


 


 


Mau tidak mau Zahra mengubah posisinya agar Vara bisa berjalan keluar. Setelah Vara keluar, Ansel menatap Zahra


 


 


"Kakak kenal dengannya?" Zahra terkesiap.


 


"Iya... tolong Kamu jelaskan nanti. Sekarang, ayo kita makan di tempat favorit kamu." ajak Ansel dengan mengacak rambut si Zahra.


 


 


 


Ketika Vara berjalab melewati lorong sambil menggerutu di dalam hatinya. Tiba-tiba makhluk tak kasat mata menampakkan diri di belakangnya dan mengejutkan Vara.


 


 


Darrrrrrrrrrr.....


"Eh mukamu jelek." kata Vara terhenti dan menyentuh dadanya.


 


 


"Defaaaaan!" teriak Vara saat melihat wajah Defan dengan tawanya yang senang akan keusilannya.


 


"Kau lucu Vara... Imut-imut banget," ucap Defan menyentuh kedua pipi Vara dan menariknya, "kaget pun bisa menghina Aku juga! aku ini tampan kau kata jelek, buat aku ingin menciummu!" ledek Defan.


 


 


"Lepaskan tanganmu!" suara pria yang berada di ujung lorong.


 


 


Mata Defan dan Vara sama-sama melirik ke arah suara. Refleks Defan melepas tangannya dari kedua pipi Vara.


 


"Jangan cemburu Kak, Vara ini kan Kakak sepupuku yang enggak jelas." kata Defan salah tingkah.


 


 


"Gua bukan kakak sepupumu! jangan berhayal, gua gak punya sepupu aneh seperti dirimu!" balas Vara sekalian berjalan ke arah Harsen.


 


 


Di belakang mereka tampak si Zahra , Ansel, Coco dan Luna yang memperhatikan Vara, Harsen dan Defan. Tampak Harsen memperlakukan Vara dengan sangat special. Mereka semua jadi tau, Vara sudah memiliki kekasih setampan Harsen, terkecuali si Ansel.


 


"Ayo kita makan siang dulu." ajak Harsen seraya menarik seluruh bawaan yang di tangan Vara.


 


"Terima kasih Kak." ucap Vara.


 


"Jangan sungkan, Ayo Defan." Harsen mengajak keduanya untuk berjalan ke arah parkiran.


 


 


***


 


Seusai melakukan permainan yang membuat diri merasa terhibur, pengantin baru itu sekarang melajukan mobilnya ke tempat yang sudah di persiapkan Rava untuk Renata. Makan malam spesial, untuk Istri tercinta. Rava menyewa satu tempat untuk mereka berdua.


 


Sesampainya di salah satu restoran, tampak kelap kelip lampu hias di area restoran menambah keromantisan suasana di iringi musik piano. Staff resto yang tau kedatangan si pemesan restoran itu membawa mereka ke salah satu meja yang sudah di hiasi dengan bunga mawar berwarna merah, serta hiasan lainnya. Dari di mana mereka duduk, Tampak keindahan negara tersebut di malam hari. Cahaya lampu seluruhnya tampak sangat menawan bagi keduanya.


 


 


"Apa kau suka?" tanya Rava membuyarkan pandangan Renata dan kekagumannya pada pemandangan indah di hadapannya.


 


Renata menganggukan kepalanya dengan tersenyum kebahagiaan, "Sangat suka... Ini sesutu yang aku harapkan sayang. Makan malam romantis dengan suami sendiri, di padukan pemandangan dari atas. Ini seperti mimpi saja." ucap Renata girang.


 


"Syukurlah... Kita akan menghabiskan waktu seperti dengan kemaunmu." Rava tersenyum.


 


"Terima kasih suamiku." balas Renata, kembali ia bertopang dagu dan melirik ke pemandangan dari atas.


 


Tak lama...seluruh pesanan yang sudah di pesan Rava sebelumnya terhidang di atas meja mereka. Tampak satu piring makanan yang berhiaskan Happy Honeymoon, membuat Renata tersenyum, betapa romantisnya suaminya ternyata. Sisi lain Rava mulai kelihatan selama mereka berumah tangga.


 


"Ayo di makan.. kenapa hanya di lihati?"


 


"Iya.... Terima kasih sayang." balas Renata.


 


"Sama-sama Istriku." ucap Rava.


 


Keduanya menyantap makanan mereka dengan perasaan bahagia. Tersaji juga wine yang di sediakan dari pihak restoran untuk mereka. Sesekali keduanya berbincang dengan mengangkat gelas wine mereka sambilan berkata, "Cheers."


 


Keduanya pun berbahagia dengan menikmati momen yang sudah di persiapkan oleh Rava untuk Renata. Seusai makan malam romantis, kini Rava membawa Renata ke pantai. Kembali lagi Renata di kejutkan dengan kembang Api yang di persiapkan oleh Rava.


Beberapa Foto liburan Renata dan Rava dari kamera ponsel Rava, ecek-eceknya ya hahaha..


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENHA SAYANGGGGG.