
Sesampainya di Apartemen Renata, mereka sudah di sambut oleh Casandra dan juga Varel. Langsung saja mengajak keduanya untuk menikmati makan malam yang sudah di hidangkan oleh Casandra. Varel membantu sang Istri, mempersiapkan yang bisa dia persiapkan.
“Duduklah Nak.” Varel mempersilahkan keduanya.
“Terima kasih paman,” Rava pun duduk di salah satu bangku di samping Renata.
Keempatnya saling memandang, betapa canggungnya si Rava. Untuk pertama kalinya makan bersama dengan Varel dan Casandra. Sebelum-sebelumnya mereka di temani para sahabat dari orang tua mereka. Casandra yang sempat bingung pun tersenyum, “Sudah.. Ayo Renata ambilkan makanan untuk calon suami kamu.” perintah sang Mami.
Renata yang sedang mengambil lauk untuk mengisi ke piringnya terhenti, lalu menoleh pada Rava dan berpindah lagi pada sang Mami, “Mami enggak salah? Rava kan sudah gedek Mi, ada tangan untuk mengambilnya sendiri, kenapa harus Renata yang mengambilkannya?” celetuknya dan melanjutkan mengisi lauk ke peringnya sendiri.
Rava menjadi kaku, sedangkan Casandra menarik nafasnya, lalu Ia mengambil piring dan menyendokkan nasi ke piring Varel sambil berkata, “Kelak.. kalau kamu sudah berumah tangga bersama Rava, Kau harus melayaninya Nak, mempersiapkan yang harus di persiapkan untuk pendamping hidup kamu. Karena Rava akan seperti Papi, Kamu. Tempat untuk kita bertumpu, bukan pada Mami atau pun Papi kamu lagi Renata. Bersikpalah dewasa anakku,” ujarnya dengan memberikan piring yang sudah berisi ke Varel.
“Benar itu yang di katakan Mami kamu nak,” sambung Varel.
Rava dan Renata saling memandang, Rava memberikan senyum seperti kemenangan dan melototokan matanya ke arah Renata. Renata yang merasa kalah, dengan cepat dia mengambil piring Rava dan mengisinya seperti yang di lakukan Maminya terhadap Papinya.
“Nih…” Renata meletakkan piring yang sudah berisi makanan untuk rava.
“Terima kasih sayang,” ucap Rava refleks.
Renata menoleh ke Rava dengan wajah yang terkaget, Rava sendiri tersenyum dan langsung menatap ke depannya yang juga sama kagetnya dengan Renata. Varel dan Casandra kaget , dan tersadar saat Rava menatapnya dan sama-sama tersenyum.
“Pria sejati,” gumam Varel.
“Selamat makan Paman, Bibi.” ucap Rava kemudian menyantap makanannya.
“Selamat makan , Nak.” ucap keduanya.
Renata sendiri pun tersenyum, lalu menyantap makanannya. Makan malam dengan hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di tengah-tengah mereka. Seusai makan, Rava berdiri membuat semuanya menatap ke arahnya.
“Apa yang mau Kau lakukan?” Renata menengadah ke arah wajah Rava.
“Aku.. Mau bantui bibi, cuci piring.” jawab Rava jujur.
Varel melotot mendengarkan jawaban Rava, Casandra apa lagi, Renata sontak berdiri saat Rava mulai mengangkati piring kosong.
“Rava duduklah, biar Bibi dan Rena saja,” ucap Casandra.
“Tidak Bi, biar Rava dan Renata saja. Bibi dan Paman, duduklah, kita bergantian, kalian sudah lelah mempersiapkan ini semua,” ucap Rava bersemangat.
Varel tersenyum, “Ayo sayang, kita ke ruangan tamu saja, biarkan mereka berdua yang membereskan ini semua. Kau tahu itu kode dari orang yang kasmaran?” sindir Varel seraya berdiri.
Renata dan Rava yang merasa tersindir sempat terdiam, kemudian dengan cepat membawa piring kotor ke arah dapur di ikuti oleh Renata. Casandra yang melihat tingkah laku keduanya yang purak-purak enggak dengar tertawa sendiri.
Di dapur, Rava menarik lengan kemejanya lalu bersiap untuk mengambil spon cuci piring, langsung di cegah Renata.
“Duduklah di sana, biar aku sendiri yang mencucinya.” perintah Renata dengan menggeser tubuh Rava dan mulai menyabuni piring kotor.
Rava tertawa kecil, berdiri dengan bersandar menatap ke arah Renata.
“Kenapa Kau sangat imut sekali?”
“Jangan menggodaku, kenapa Kau jadi suka menggoda?” ucap Renata tanpa menoleh ke Rava.
“Ya karena dirimu, Aku sadar.. Kau itu sangat menggemaskan. Bikin Aku ingin mencubit kedua Pipi mu ini,” Rava menarik kedua pipi Renata.
Renata terhenti dan menoleh kesal pada Rava, “Kau… mau membuatku marah?”
“Boleh.. Marahlah. Aku suka kalau Kau marah,” Rava semakin tersenyum dan tidak melepaskan tangannya.
Renata kesal dan menepisnya dengan lengannya, “Kau mengganggu! Sana.. Duduklah bersama kedua orang tuaku,”
“Tidak… Aku masih ingin di sini, lusa Kau sudah kembali. Apa Kau tidak akan merindukan aku?” Rava memasang wajah sedih.
Renata yang sempat menatapnya, langsung berpindah dan melanjutkan aktifitasnya.
“Sepertinya Aku tidak akan merindukan dirimu,” ucap Renata santai.
“Agh.. Rasanya hatiku sangat sakit. Apa aku harus mencari wanita lain saja,” Rava memegang dadanya.
Dengan sepontan Renata menyiramkan air ke wajah Rava, hingga Rava kewalahan sendiri di buatnya.
“Apa Kau sudah gila!” protes Rava.
Renata tertawa senang, “Iya Aku sudah gila karenamu, seenaknya saja Kau kata mau mencari Wanita lain. Apa Kau mau Aku menghilang selamanya di hadapanmu baru Kau sadar!”
Rava tersenyum dan mendekat ke Renata, menarik tubuhnya dan memberikan kecupan pada bibir Renata, “Jangan berani menghilang dari pandanganku, tanpa seizinku.”
Renata memerah dan salah tingkah, “Kau mulai gombal, sudahlah jangan mengganggu ku lagi, duduklah di sana saja.” tunjuknya ke meja kecil yang tak jauh dari dapur.
“Baiklah,Istriku.” ledek Rava kemudian mengikuti perintah Renata.
Renata yang mendengarnya senyum-senyum sendiri sambiil membereskan semua yang harus di bereskannya. Di rasa sudah selesai, Renata mengajak Rava untuk bergabung bersama kedua orang tuanya.
“Sudah malam.. pulanglah Nak.” ucap Casandra pada Rava.
“Apa Mami mengusirnya?” tanya Renata.
“Sayang.. Bisa bedahkan nada Mami kamu? Hadeh.. ini sudah malam, Rava sudah lelah bekerja seharian dan di sini bersama kita. Harusnya Kau paham itu. Dasar… ini anak kalau sedang bahagia enggak konek sama sekali. Ajari itu anakmu Pi,” kata Casandra ke Varel.
Varel tertawa, “Yang di bilang Mami kamu ada benarnya, pulanglah Nak. “ ucap Varel sangat lembut.
“Baiklah Paman, Bibi. Terima kasih untuk makan malamnya, untuk acara lamaran dan pernikahan, akan kita ceritakan saat Rava ke Jakarta.” Rava menatap dengan serius.
“Iya Nak, hati-hati di jalan.” Casandra menimpali.
“Iya Paman, Bibi. Terima kasih.” ucap Rava beranjak dari kursinya di ikuti oleh Renata.
Sesampainya di depan pintu, Rava menatap ke Renata.
“Tidak perlu mengantarkan Aku. Masuklah… Istirahat , kau barusan saja pulih. Besok akan Aku jemput, dan membawamu untuk berjalan-jalan sebelum Kau pulang ke Jakarta. Apa Kau mau?”
“Hemmmm…. Mau apa Enggak ya?” Renata purak-purak berpikir.
Rava menarik hidungnya, “Kau suka sekali, ingin membuat ku kesal,”
“Hahahah… Baiklah, Aku mau.” Renata tertawa senang.
“Baiklah.. Seperti itu sangat baik. Jadi Istri yang penurut,” ucap Rava dengan menatapnya mesra.
“Semoga Aku bisa, sudah sana, hati-hati di jalan ya.” ucap Renata.
Rava masih menatapnya dengan tersenyum, “Baiklah.. Sampai jumpa besok. Sampai Rumah akan Aku kabari, masuklah.” ucap Rava dengan bergegas untuk meninggalkan Renata.
Renata pun membalas senyumannya dan kemudian masuk, sesudah Renata masuk Rava berjalan menyusuri koridor menuju lift. Renata yang usil itu kembali keluar dan memanggil Rava.
“Sayangkuuuu…” jeritnya hingga membuat Rava terhenti dan menoleh ke Renata.
“Hati-hati di jalan ya sayang.. Aku sangat mencintaimu,” ucap Renata dengan memeluk Teddy bear pemberian Rava.
Rava di sana tertawa, “Kau memang jahil, saat Aku sudah jauh, baru Kau berani berkata seperti itu. Coba kalau dekat, mungkin sudah ku lahap dirimu. Sudah sana masuk,” jerit Rava.
Renata hanya melambaikan tangannya, dan kemudian masuk kembali ke dalam Apartemennya. Rava yang masih tersenyum senang menggelangkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya.
“Dia sungguh imut” gumamnya pelan.
***
Setibanya di kediaman Rava, Vara, Defan dan Harsen berbaris di depan pintu menunggu Rava turun dari mobilnya. Rava yang turun menatap aneh pada ketiganya, yang menatap tajam pada Rava. Rava berjalan mendekati mereka, merasa aneh di tatap seperti pencuri pikirnya.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Rava.
“Seperti ada bau-bau mencurigakan,” ucap Defan masih dengan posisi siap.
Rava melirik ke sekitarnya, “Apa yang mencurigakan?” tanyanya pada Defan.
“Seperti ada yang lagi bahagia,” sambung Vara.
Rava menatap pada sang adik yang berdiri di tengah Defan dan Harsen.
“Siapa? Apa Kau sedang bahagia Vara?” tanya Rava yang juga menatap Vara.
“Hemmm… Sepertinya ada yang purak-purak tidak tahu,” Harsen menimpali.
Kini pandangan Rava berpindah pada Harsen, keningnya mengkerut, dan kemudian menarik nafasnya.
“Katakan pada Kakak yang sesungguhnya! Ada apa dengan kalian! Kalian mau meledeki Kakak?” Rava protes.
“Itu barusan tahu, Kakak jangan purak-purak tidak mengerti apa maksud dari kami bertiga. Kakak jadian kan dengan Kak Rena. Kenapa tidak mengabarkan kami?” Vara menatap kesal pada sang kakak.
“Ough… Pasti kalian tahu dari Harsen ya. Ya sudah masuklah dulu, kalian enggak lihat Kakak sudah lelah seharian di luar,” Rava memasang wajah purak-purak kasihan.
“Agh.. Ayo Kak kita masuk,” Defan mendekati Rava dan merangkul lengannya, sontak Rava menatap ke arah tangan Defan itu yang sigap menariknya masuk.
Rava mau aja, karena malas di tanyain oleh Vara, pikirnya Defan penyelamatnya. Berjalan masuk tanpa menolak di peluk Defan dengan mesranya, hingga tiba di depan tangga, Rava menyentuh tangan Defan dan menepisnya denan perlahan agar melepas tangan Rava, dengan purak-purak tertawa lalu Rava berkata, “Terima kasih Fan, sudah membantu kakak.” Ucap Rava lalu bergegas lari menaiki anak tangga.
Defan, Vara dan Harsen menatap aneh pada sifat Rava itu. Kenapa dia jadi menghindari ketiganya. Lalu ketiganya saling memandang, dengan cepat Harsen mengalihkan pemikiran keduanya.
“Sudahlah.. Mungkin Kak Rava sedang lelah. Malas mendengarkan pertanyaan kalian, besok akan kita tanyakan lagi. Apa kalian setuju?” tanya Harsen.
“Baiklah Kak, kalau begitu Defan juga ke atas. Sudah mengantuk, menunggu kak Rava hasilnya mengecewakan. Membuatku penasaran saja,” ucap Defan dengan berjalan menaiki anak tangga.
“Kamu juga sana, naiklah. Sudah malam, tidak baik untukmu.” Perintah Harsen ke Vara.
“Ayo Kak.. kita sama-sama ke atas.” Ajak Vara menarik paksa tangan Harsen.
Harsen hanya terdiam, pikirnya walaupun di paksa, ini namanya pemaksaan yang enak bagi dirinya. Keduanya berjalan menaiki anak tangga hingga sampai ke atas, “Sudah sampai sini aja,” kata Harsen agar Vara melepaskan tangannya.
“Ayo.. sampai kamarku,” perintah Vara.
Lagi-lagi Harsen tidak bisa menolak, selagi ada kesempatan kecil untuknya, dia mengikuti kemauan Vara dengan mengantarkannya ke depan pintu kamar Vara.
“Oke sampai di sini, Kak Harsen selamat malam, jangan lupa memimpikan Vara ya,” ucap Vara dengan tawanya.
Harsen menegang dan kaku, dia melototkan matanya merasa salah tingkah, tubuhnya menjadi gugup sendiri, “Agh… I-Iya. Selamat malam, ber.. bermimpilah yang indah. Kakak ke kamar ya,” ucapnya dan dengan cepat Harsen berlari ke kamarnya. Sangkin gugupnya, Ia hampir terjatuh.
Vara tertawa, Harsen menoleh ke belakang dan kembali membawa kakinya berjalan ke kamarnya. Vara masih tertawa dan berjalan masuk ke dalam kamarnya, rasanya sangat lucu kalau Harsen sudah salah tingkah. Pikirannya jadi tidak focus, membauat dirinya menjadi aneh.
.
Tekan like dan jangan lupa untuk VOTE semua pembaca yang baik, Terima kasih ^^