My Chosen Wife

My Chosen Wife
GELISAH.



Keesokan harinya, Harsen yang tahu pagi itu adalah masalah genting bagi mereka, dengan cepat meminta ke pihat Hotel, untuk membungkus makanan yang akan mereka jadikan sarapan pagi selama di perjalanan.


 


Harsen sangat tahu sifat Rava, dia tidak bisa makan dengan tenang, jika masalah yang sedang dia hadapi belum juga selesai. Karena itu, sebelum mendapatkan perintah dari Rava, Harsen sudah menjalaninya terlebih dahulu, meskipun Harsen harus duluan bangun.


 


Seusai mengurus semuanya, Harsen langsung menuju kamar Rava, menggedor pintu kamar Rava yang tak lama terbuka.


 


"Selamat pagi, Kak." sapa Harsen.


 


"Pagi Sen, kenapa kau sangat pagi?" Rava masih mengacak-acak rambutnya, seakan masih berat untuk terbangun.


 


"Bukankah kita akan berangkat pagi kak?" Harsen yang sudah masuk, mengikut Rava yang duduk di tepi ranjangnnya.


 


"Iya... Maaf aku telat, kau tunggulah sebentar." jawab Rava kembali berdiri.


 


"Oha ya Kak... Apa mau segelas susu dengan roti?"


 


"Tidak usah Sen, Kau membuatku sama seperti Vara saja, bawalah makanan untuk kita selama di perjalanan seperti biasa." perintah Rava, lalu Rava berjalan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu, Rava kembali mendekati Harsen yanga sedang menyusun barang bawaan Rava.


 


"Sen... Bagaimana? Sudah dapat informasi tentang Renata dan keluarganya?"


 


Harsen terhenti menoleh ke Rava, "Sudah kak, dari antara daftar nama penumpang, tiadak ada satu pun nama mereka, Kak."


 


"Hemmmm... Berarti semuanya masih di sini. Baiklah Sen, biarkan saja. Berikan waktu untuk Renata bermain-main dengan ku. Dia hanya ingin membalas dendam kepadaku." ucap Rava lalu meninggalkan Harsen, menuju kamar mandi.


 


Harsen memiringkan kepalanya, menoleh kepergian Rava yang rasanya gak kalut seperti tadi malam pikirnya. Tapi ya itu Rava, pasti dia sudah punya rencana tersendiri untuk semua yang terjadi.


 


Seusai semuanya beres, Rava memilih untuk check out sebelum waktunya, dia malas berlama-lama di kota yang tidak sering dia kunjungi. Barusan keluar dari loby Hotel, dari kejauhan tampak si Vanessa yang baru turun dari mobilnya, tanpa di temani suaminya.


 


Rava hanya sekilas menatap ke Vanessa dan tetap berjalan dengan santainya, berbeda dengan Harsen, matanya menatap tajam ke Vanessa, seperti hendak menggigitnya. Vanessa bukannya takut, Ia mengejar Rava yang hampir sampai di depan mobilnya.


 


"Rava..." teriak Vanessa yang mendekat dan menarik tangan Rava.


 


Rava menoleh dengan perasaan kesal, dan tatapan tajamnya.


 


"Mau apa lagi!"


 


"Kau sudah mau kembali?" tanya Vanessa.


"Bukan urusanmu, minggirlah." perintah Rava.


 


"Sebentar saja Rava, tolong jangan begini kalau bertemu denganku. Apa kau masih marah denganku?" Vanessa menatap sendu.


 


Rava menarik nafasnya, merasa malas menanggapi ocehan Vanessa.


"Aku tidak marah, aku hanya malas berurusan denganmu lagi. Sudahlah... Jangan menggangguku, jika bertemu denganku lagi, purak-purak tidak kenal saja." Rava mencoba jalan, Vanessa menghalanginya.


 


"Rava... Tolong jangan begini, tiga tahun kita bersama, masa iya kau terus-terusan menghindar dariku. Setidaknya kita berteman Rava, seperti dulu." Vanessa memohon.


 


Belum sempat Rava menjawab, Harsen mendekat ke Vanessa.


 


"Tolong Nyonya, yang sopan sedikit dengan atasan saya, jadi minggirlah. Tuan Rava, tidak punya waktu untuk menanggapi Anda." Harsen menahan, Vanessa. Rava sendiri berjalan masuk ke dalam mobilnya.


 


"Kenapa kau selalu ikut campur!" bentaknya ke Harsen.


 


Harsen melirik ke kiri dan ke kanan, lalu Ia menunjuk ke wajahnya.


 


"Saya? Benar saya, Nyonya? Hemmm... Mungkin karena atasan saya jijik melihat tingkah anda yang tidak tahu malu! Tolong posisikan diri anda, atasan saya tidak memiliki perasaan apapun lagi dengan Anda! Bukankah, Anda sudah menjadi Istri dari Pria lain! Jadi posisikan diri Anda sebagaimana mestinya, Nyonya. Jangan mempersulit atasan Saya, Terima kasih, selamat pagi dan jangan lupa sarapan, biar otaknya gak blank." Harsen meninggalkan Vanessa yang sudah mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi atas ucapan Harsen kepadanya.


 


Mobil Rava melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan area Hotel, tampak emosi yang meletup-letup. Emosi yang tidak bisa di ekpresikan Vanessa sendiri. Ada rasa penyesalan tersendiri dari Vanessa, meninggalkan Rava demi kepuasan keluarganya.


****


Kediaman Rava Atmadja.


Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya, kicaun burung terdengar menghiasai pepohonan rumah itu. Terlihat awan putih bercampur biru menggantung dengan indahnya. Pagi itu, Raka terlebih dulu bangun dari tidurnya, menatap wajah sang Istri yang masih tertidur. Semalaman... Eva tidak bisa tertidur karena memikirkan Renata dan yang lainnya.


 


"Kau itu sangat baik, selalu saja memikirkan orang lain." ucap Raka dengan senyuman.


 


Raka beranjak dari ranjangnya, menuju balkon kamar dan membuka pintu balkon yang membuat udara pagi itu menyelinap masuk ke kamar. Raka berdiri di pinggir dinding, menatap ke depan dan menghirup udara pagi yang segar.


Dari arah belakang, Eva yang terbangun dengan merasakan angin segar dari luar, beranjak dari ranjangnya. Berjalan perlahan, mendekat sang suami dan memeluknya dari arah belakang, serta menenggelamkan wajahnya di tubuh Raka yang kekar.


 


Raka kaget, sontak Ia menggenggam tangan Eva yang melingkar di perutnya.


 


"Kau bangun? Apa aku membangunkanmu?"


 


Eva menggelengkan kepalanya.


 


"Tidak... Hanya ada yang kurang. Kenapa tidak membangunkan aku?" Eva mencoba mengarahkan wajahnya ke Raka.


Raka memutar tubuhnya, keduanya saling memandang dan tersenyum.


 


"Aku tidak tega sayang, kau itu sudah susah tidur, masa iya aku bangunkan."


 


Eva langsung memeluk Raka, dan menenggelamkan wajahnya ke dada Raka.


 


"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir dengan Renata. Apa mereka semuanya baik-baik saja?"


 


"Kau tidak usah khawatir sayang, anak kita sudah besar. Dia tahu jalan mana yang harus dia pilih, mana yang harus dia lakukan. Kau tidak boleh meragukan Rava. Semuanya akan baik-baik saja, jangan di pikirkan." Raka menyentuh pundak Eva, memberikan ketenangan pada Istrinya.


Tokkkk...Tokkkkk.... Tokkkk....


"Bang Raka.... Mba Eva...." seru Frans dari balik pintu.


"Astaga... Itu anak kenapa tidak berubah sama sekali sih!" ucap Raka merasa terganggu.


Eva menengadah ke arah wajah Raka yang kesal, ia tersenyum.


"Buruan buka... Nanti kau tahu kan bagaimana adikmu itu." ucap Eva dengan senyum dan melepas pelukannya.


Raka membuka pintu, tampak wajah Frans yang sudah tertawa senang melihat Raka.


"Ada apa, Frans?"


"Cuma mau bilang... Ayo sarapan bang, ajak mba Eva juga. Hari ini Frans pulang bang, ayolah kita sarapan bareng." ajaknya ke Raka.


Raka mengelus dadanya, "Akhirnya Frans, kau tahu diri juga. Kau tahu yang abangmu mau," Raka nyengir sendiri, sedangkan Frans menatap wajah Raka dengan sedih.


 


"Bang Raka memang mentega, terlalu banget sih dengan adik sendiri."


 


"Lah... Kenapa kau jadi sedih, bukankah ada baiknya kau itu memang pulang. Harusnya kau pikirkan Delia, bukan yang di sini."


 


"Iyaalah... Adik selalu salah." balas Frans sedih.


 


"Ada apa Frans?" Eva mendekat keduanya.


 


"Mba... Bang Raka jahat, masa iya mentega di jadikan alasan untuk mengusirku pulang." ucap Frans dengan menunjuk wajah Raka.


 


"Apaan Kau ini! mengada-ngada saja, bukan seperti itu sayang." balas Raka.


 


"Kalian... Kenapa susah banget sih akurnya. Anak kalian saja akur, kenapa para bapak susah amat ya. Sudahlah... jangan di tanggapi abangmu, kamu butuh apa Frans?" tanya Eva dengan lembut.


 


"Enggak ada Mbaku, Frans cuma mau ngajakin sarapan bersama. Anak-anak sudah di bawah, tinggal Mba dan Bang Raka. Dan Frans mau balik di penerbangan sore Mba, karena semuanya sudah beres kan. Walau kita tidak tahu, si kunti dan orang-orangan sawah pada ke mana. Tapi mba Eva tenang, Frans sudah menyuruh orang suruhan mencari keberadaan Renata dan yang lainnya." ujar Frans dengan penuh keyakinan.


 


"Kau jangan ikut campur Frans, biarkan Rava sendiri yang mengambil jalannya. Kita tidak bisa ikut andil dalam masalah mereka. Kalau begitu pun pilihanku, sudah dari awal aku juga memerintahkan orang suruhanku. Tarik semua orang mu, jangan ikut campur masalah Rava." perintah Raka.


 


Eva menjadi bingung dengan kedua anak didik nenek Lusi itu.


 


"Baiklah Bang," Frans menunduk.


 


"Sudahlah jangan sedih begitu, tunggulah kami di bawah Frans." ucap Eva.


 


"Okey Mbaku," jawab Frans dengan senang, lalu Ia menoleh ke Raka dan menjulurkan lidahnya, kemudian beranjak untuk turun ke bawah.


Rava cuma bisa menggelengkan kepalanya, Eva hanya tersenyum, lalu merangkul lengan Raka berjalan masuk. Seusai kepergian Frans, keduanya pun ke kamar mandi dan membersihkan diri, lalu keluar ikut bergabung dengan lainnya.


***


Beberapa jam kemudian, Rava tiba di kediamannya. Dengan rasa lelah yang di bawanya, tetapi tidak di rasakannya, Ia bersemangat untuk berjumpa dengan keluarganya.


 


"Selamat datang kembali, Tuan Muda." sapa Bi Tarni.


 


"Terima Kasih, Bi. Oh ya... Kok sepi Bi?"


 


"Tuan besar dan Nyonya Eva mengantarkan Tuan Frans ke Bandara, Tuan. Hanya Non Vara yang ada di kamarnya." jawab Bibi dengan sopan.


 


"Ouuu... Baiklah, Bi. Saya ke atas,"


 


"Tidak mau di buatkan masakan, Tuan?"


 


"Hemmm... Coba tanya Harsen saja Bi. Saya mau rebahan dulu,"


 


"Baik Tuan."


 


Rava membawa kakinya menuju lantai atas, sesampainya di atas, Rava langsung saja ke kamar Vara. Ia sangat merindukan sang Adik, yang sempat menangis dalam sambungan telepon kemarin. Rava mencoba membuka pintu, tetapi di kunci dari dalam.


 


"Vara...." panggil Rava dengan menggedor pintu kamarnya.


 


"Varaaaa... Kakak sudah pulang." Kembali lagi Rava menggedor pintunya.


 


Tak lama pintu terbuka, "Kakak...." seru Vara dan memeluk Rava dengan erat, Rava juga memeluk Vara dengan sangat erat.


 


 


"Kenapa pintunya di kunci? biasanya enggak pernah di kunci?" tanya Rava dengan senyuman.


 


"Ia... Karena Vara kan sendirian di rumah." balasnya dan menatap wajah Rava.


 


"Kau ini.... kan ada Bibi dan yang lainnya. Sudah ayo... masuk ke kamarmu."


 


Keduanya berjalan masuk ke kamar Vara lalu duduk di pinggir ranjang.


 


"Bagaimana Kak? Apa kakak sudah menemukan kak Renata?"


 


"Kenapa kau bersemangat sekali? Bukannya kau tidak suka dengan Renata?" tanya Rava dengan tersenyum ke Vara.


 


"Iya....Itu dulu. Sekarang kan uda enggak kak. Vara baru tahu, memang kak Rena sudah berubah, dan memang cocok dengan kakak. Kak Renata sekarang, malah tampak lebih tertutup ya kak. Enggak kek dulu asal ceplos... Vara jadi bingung sendiri."


 


Rava mengacak rambut sang adik, "Kenapa kau yang jadi bingung? Harusnya kakak dong, yang sudah di tinggal pergi dua wanita. Kakakmu di campakkan lagi, tapi yang ini lebih menyakitkan ketimbang yang dulu." Rava terdiam dan membuang pandangannya ke sembarang arah, seakan yang di katakannya memang membuat perasaannya sakit.


 


"Kakak." panggil Vara sedih.


 


"Sudah... Jangan bersedih. Kak Rava tidak apa-apa, biar kakak yang urus, kau tenanglah. Hemmm... Terus kenapa Vara di sini? Kamu bolos kuliah ya?" Rava mengalihkan pembicaraan.


 


"Iyaa Kak... Vara sedang tidak mood. Jangan marah ya?" Vara menunduk takut.


 


"Tidak, kakak tidak marah. Ya sudah... jangan bersedih, tidurlah. Kakak mau istirahat dulu, jika papa dan mama pulang, bangunkan kakak." Rava beranjak dan mendapatkan anggukan jawaban dari Vara.


 


Bergegas langsung menuju kamarnya, Rava berjalan dengan rasa bersalah dan beratnya masalah yang Ia hadapi. Rava mencoba tegar di depan orang-orang terdekatnya, tetapi hatinya sangat rapuh.


 


Bersambung.


........


Tekan Like dan Jangan lupa VOTE nya ya. Ingatt... ini kisahnya anak-anak dari Raka dan Eva, bukan Raka dan Eva lagi. Tolong di pahami maksud saya ya... Terima Kasih Cinta.