My Chosen Wife

My Chosen Wife
MALAM PERTAMA.



Rava dan Renata saat tiba di depan pintu kamar mereka, menatap catatan besar yang di gantungkan di depan pintu yang tertanda nama Defan, "LAGI MALAM PERTAMA JANGAN DI BANTING!!!."


 


Rava dan Renata saling melirik dan kemudian tertawa bersama.


 


"Kenapa si Defan ini sangat kreatif?" tanya Renata ke Rava.


 


"Entahlah... mood ku semakin baik di buatnya." celetuk Rava dengan mata berbinar, "Sudah... Ayo kita masuk." kata Rava masih menggendong tubuh Renata.


 


Pintu terbuka dengan perlahan, pandangan pertama yang Rava lihat pada kamar ada perbedaan yang banyak menurutnya. Dengan lampu temaram menghiasi setiap sudut kamar, seluruh ruangan sudah di tempelin pernak pernik yang Rava rasa tidak ada sebelumnya.


 


"Turunkan Aku." ucap Renata yang juga sama kagetnya.


 


 


Rava menurunkan tubuh Renata dengan perlahan, lalu Rava mencari tombol lampu dan menyalakan lampu


kamarnya. Betapa kagetnya dia melihat seisi kamarnya berubah.


 


 


"Astaga... Kenapa kamar ku menjadi hutan belantara begini?" kata Rava menelusuri perlahan kamarnya.


 


 


Renata sendiri merasa kagum sih, karena dekorasi yang di buat di kamar Rava, mirip dengan dekorasi pelaminan mereka yang serba hijau dan banyak dedaunan juga kelopak bunga.


 


 


"Mana Aku tahu, bukankah ini kamarmu?" tanya Renata masih berdiri di posisinya.


 


 


"Apa aku salah masuk kamar? Tapi di depan pintu tadi, kan ada catatan Defan sudah jelas ini kamar pengantin." ucap Rava berjalan ke arah ranjang, Renata pun mengikutinya.


 


 


Tiba-tiba Rava terhenti dengan kagetnya menatap pada lantai, "HATI-HATI ADA RANJAU."


 


 


"Ada apa?" tanya Renata bingung.


 


 


"Jangan melangkah ke sini, peringatannya ada ranjau!" ucap Rava serius dan menghentikan langkah kaki Renata.


 


 


"Astaga... Kenapa kita seperti sedang adegan perang-perangan saja sayang?" tanya Renata aneh.


 


 


"Entahlah... Aku pikir mereka sedang mengerjai kita. Lebih tepatnya, Mereka ingin menggagalkan Malam pertama kita." ujar Rava.


 


 


"Coba deh....di ambil aja. Siapa tahu saja ada isinya gitu." kata Renata mendekati Rava dan memeluknya dari belakang, seraya melihat tulisan di bawah.


 


 


"Kau jangan memegang Aku, siapa tahu aja benaran ada sesuatu di dalamnya." ucap Rava melepaskan tangan Renata dari pinggangnya.


 


"Kita kan sehidup semati, masa iya aku biarkan kau mati sendiri?" protes Renata.


 


"Sayang... Sehidup semati itu artinya, satu hidup satu mati, jadi tunggulah di sini, biar Aku ambilkan." kata Rava.


 


Renata mengkerutkan keningnya, "Kenapa dia jadi ikut gila?" gumamnya kecil.


 


Rava setengah duduk di depan tulisan di anta lantai tersebut, dengan perlahan Ia menariknya dan keluar mainan orang-orangan dengan menjulurkan lidahnya, terkagetlah si Rava hingga Ia terduduk di atas lantai.


 


"Astagaaaaa.... Sial, Ini pasti kerjaan Defan." ucap Rava dengan menyentuh dadanya.


 


Renata tertawa melihat Rava yang hampir terjungkal ke belakang sangkin kagetnya.


 


"Kenapa kau tertawa sayang? Bukankah ini aneh, ini benaran kerjaan Defan, Aku sangat yakin." ucap Rava menatap Renata.


 


"Hahaha... Kalian memang lucu. Coba kamu ambil, itu ada tulisan terselip di per mainannya." tunjuk Renata.


 


Rava mengambil sesuai dengan yang di tunjuk Renata. Lalu Ia membaca perlahan setiap huruf yang tertulis, "Cieeee... Sudah enggak tahan ya?"


 


"Wah.... Parah." kata Rava melemparkan kertas tersebut sembarangan arah, lalu Ia bangkit dari duduknya.


 


"Ayolah... Kita mandi dulu. Aku sudah sangat gerah dengan situasi saat ini, dan kesabaranku sudah di ambang batas." kata Rava dengan panas dan menarik dasinya dan membuka kemejanya.


 


 


Renata pun merasa gugup, Ia mencoba membalikan tubuhnya dan ingin berjalan ke arah sofa. Rava menarik tangannya, "Ayolah... Kita berendam bareng. Melakukan pemanasan dulu. Pemanasan yang di sajikan Defan tidaklah menyenangkan." kata Rava pada Renata.


 


 


"Tapi Aku malu." jawab Renata menunduk.


 


Rava menarik tubuhnya dan memeluk Renata, "Aku ini suami kamu. Kenapa harus malu sih, bukankah ini hal lumrah yang di lakukan setiap orang usai menikah?"


 


"Iya sih... Tapi Aku benaran malu untuk mandi berdua denganmu." ucap Renata dengan menunduk.


 


Rava menarik wajah Renata dan saling menatap, secepat kilat Ia memberikan ciuman panas pada bibirnya, membuat Renata sampai susah bernafas. Tangan Rava terangkat ke arah kancing gaun Renata, menariknya dengan perlahan hingga terbuka.


 


Renata semakin gugup, tetapi ciuman Rava sepertinya mengalihkan kegugupannya, gaun itu terlepas dengan perlahan, Rava mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi melewati dekorasi Hutan belantara.


 


Saat di depan pintu kamar mandi, lagi-lagi Rava dan Renata di buat berhenti sebelum melangkah masuk.


 


 


"PERGUNAKANLAH KAMAR MANDI INI SEMANA MESTINYA, TERTANDA DEFAN."


 


"Astaga.... Defan... Awas Kau nanti." kata Rava dengan kesal.


 


"Sudahlah sayang... ayo kita mandi sayang." ajak Renata.


 


"Hah... Iya, ayolah." ucap Rava menjadi mengurungkan niatannya untuk bermesraan sebelum melakukan kegiatan pertama mereka.


 


 


"AWAS!!! ADA TEGANGAN TINGGI."


 


"Astaga.... Konsentrasiku hancur malam ini.... Benaran Hancur!!!" Rava meringis sedih.


 


"Bukankah ini unik??? Tapi di sekelilingnya ada bunga dan dedaunan. Dekorasi yang sangat bagus, tidak pernah Aku membayangkan malam pertamaku seindah ini." ucap Renata yang masih di gendongan Rava.


 


"Kau bilang ini indah? Agh... Aku tidak menyangkah, malam pertama seperti ini yang kau bayangkan?" celetuk Rava.


 


"Iya... Mau membayangkan yang bagaimana lagi? Egh.... Tapi ini benaran unik loh sayang, Lihat itu banyak juga tulisan dan catatan penting di dinding, nanti kita baca satu persatu, ada bingkisan juga, pokoknya sangat membuatku nyaman , seketika itu juga Kegugupan ku hilang." ucap Renata senang.


 


"Benarkah kegugupanmu sudah hilang? Baguslah.... mari kita bermain yang serius sekarang."


 


 


Rava tidak perduli dengan bunga yang bertebaran di atas ranjang dengan catatan tegangan tinggi tadi. Rava melempar tubuh Renata di atas ranjang dan segerah menindihnya.


 


Tak lama , Terdengar suara dari TV layar lebar di depan ranjang mereka yang tiba-tiba menghentikan aksi Rava yang sempat melancarkan nafsunya.


 


"Horeeeeeeeeeeeee." suara dari kemerian orang-orang dekat mereka.


 


Rava menoleh ke belakang, tepatnya ke arah TV hingga dia memilih terduduk dan di ikuti Renata, Rava menarik selimut putih dan menutupi tubuh Renata yang tidak terbalut apapun lagi.


 


"Aku sepertinya memang di kerjai oleh keluargaku sendiri." ucap Rava meratapi nasibnya dengan menyentuh wajahnya.


 


"Kita lihat dulu apa yang ingin mereka sampaikan." ucap Renata memeluk lengan Rava.


 


"Kau ini... Tidak tahu, bagaimana rasanya menahan sesuatu yang sudah di inginkan." gumam Rava sedih.


 


Cuplikan TV menyajikan seluruhnya sedang duduk bersama menatap ke arah Video. Ada Defan, Vara, Harsen, James, Casandra, Varel, Rere, Leo, Raka, Eva, Jimmy dan juga Anna.


 


"Maaf Anak-anak, Iklan dulu dari kami keluarga besar kalian. Papa Pribadi ingin mengucapkan, Selamat untuk pernikahan kalian, semoga malam pertama kalian di berikan kemudahan dan kelancaran." ujar si Raka dengan tersenyum.


 


Eva langsung menyambung, "Benarr....Selamat malam pertama anak mama dan anak menantu mama.Wah....Akhirnya ya kalian bisa sampai di tahap seperti ini, semoga semangat buat Rava." ucap Eva.


 


Rava menepuk keningnya, "Astaga... Mamaku." kata Rava.


 


"Hayooo sambung Vara." kata Raka pada Vara.


 


"Hemmmmm.... Halo Kakak dan Kakak ipar, ini Vara adik kalian yang paliiiing cantik. Gimana perasaan kalian? Pasti gugup ya, Ayooo semangattt terus kak Rava, biar Vara punya keponakan yang banyakkkkk dari Kakak. Kan Vara senang jadinya, ya ya ya... ingat ingat." ucap si Vara.


 


"Siapa sekarang?" tanya Vara.


 


"Defan... Ayo kasi pesan kamu ke kakak kamu." kata Eva.


 


"Baiklah... Hemmm... Dari Defan si tampan, Terima kasih atas waktu kalian berdua, untuk sebentar menunda segala urusan yang sudah di pikiran kak Rava, sabar ya kakakku, tapi..... Kami di sini, ingin memberikan ucapan sebelum kalian bertempur di hutan belantara. Bagaimana Kak? Apa kalian tersentuh dengan ide dan dekorasi yang kami buat? lebih tepatnya ide Defan. Pastilah ya kan kak tersentuh hingga terbujur." cetus Defan dengan ngakaknya.


 


"Awas saja Kau besok!" batin Rava.


 


"Nah... sekarang dari Paman Jimmy. Renata... Kamu yang semangat, Paman masih ingat pesan Mami kamu saat Paman dan Bibi Anna mau malam pertama, kamu datang untuk memberikan hadiah pernikahaan Paman dan Bibi, sekarang gantian pesan Paman untukmu, Mengaunglah dengan sekencang mungkin, begitu juga dengan Rava, buatlah Renata bisa mengangaung mengalahkan singa, Okeyyyy... Selamat buat kalian berdua. Semangatttttt!!!."


ucap Jimmy bersemangat.


 


"Apaan yang di maksud dengan mengaung?" tanya Rava pada Renata.


 


"Entahlah... Kita lihat saja dulu sampai habis." ucap Renata dengan tersenyum kecil.


 


"Dari Bibi Anna cuma singkat, kalian berdua, Jangan mau seperti yang di katakan Paman kalian. Jadilah diiri kalian sendiri, pilihlah mau mengangung, atau mau mengembek. Terserah pada diri kalian, Selamat menikmati." ucap Anna dengan lembut.


 


"Dari paman Leo dan Rere, sama aja, buatlah yang terbaik. Selamat menempuh hidup baru buat kalian berdua. Bibi dan Paman Leo berharap kalian bisa hidup dengan baik dan memiliki keturunan yang banyak." ucap Rere dengan menggenggam tangan Leo.


 


"Hanya Paman Leo dan Bibi Rere yang Aku rasa waras." ucap Rava dengan bertopang dagu.


 


"Mungkin saja. Kita tunggu Mami,Papi, James dan Harsen." ucap Renata.


 


"Dari Papi dan Mami, juga sama. Berikan kami cucu yang banyak, buat Rava dan Renata selalu di berkahi kebahagiaan." ucap Casandra di sertai anggukan Varel.


 


"Lanjut Harsen." bisik Rere.


 


"Harsen cuma mau bilang, selamat kak Rava dan Kak Renata, semoga kalian berbahagia selalu." ucap Harsen dengan tersenyum kecil.


 


"Masih waras juga." celetuk Rava.


 


"Nooooonaaaaa.....!!!! Giliran terkahir nih, Wah... Noona akhirnya mendapatkan apa yang Noona impikan selama ini. Kalian sudah berjodoh, menjadi suami dan istri. Berbahagialah selamanya ya Noona ku sayang. Kak Rava... Awas saja kakak menyakiti Noona ku, berhadapan denganku secara langsung." kata James dengan memukul dadanya.


 


"Parah... Malahan ngajak berantam." ucap si Rava.


 


"Akhir kata dari kami semua, selamat menempuh hidup baru buat Rava dan Renata." kata mereka bersamaan.


 


"Okey... Sudah sayang, sudah habis. Ayo kita mulai sekarang, aku sudah sangat sabar." ucap Rava langsung menindih tubuh Renata.


 


"Awwwwww...." jerit Renata.


 


"Belum, belum Aku apa-apain loh. Masih juga di nikmati kulitnya doang, belum dagingnya." kata Rava menatap wajah Renata.


 


Renata tersipu malu, "Kenapa seperti daging ayam? Ya sudah, pelan-pelan ya? soalnya aku deg-deg an ini." balas Renata.


 


"Baiklah... Aku akan pelan-pelan, kita sama-sama belajar. Karena ini juga yang pertama bagiku," kata Rava dengan tersenyum.


 


Renata pun menganggukan kepalanya sambilan tersenyum. Langsung saja Rava menciumi seluruh bagian tubuh Renata hingga Renata menggeliat geli. Sampai keduanya menyatu , menimbulkan teriakan yang di tahan oleh Renata.


 


"Sakit." gumam Renata pelan.


 


"Sabar sayang hanya sebentar saja." ucap Rava menggebu gebu.


.


Okey cukup!!! Jiaghhhh... kecewa dong 😆🤭. Selebihnya bayangkan saja sendiri ya, hahaha.. Maaf saya gak pandai dan gak bisa buat yang aneh-aneh, karena takutnya ada yang baca di bawah umur juga. Jadi sampai di situ saja dan Jangan lupa bantu VOTE dan Like nya ya 🥰🙏