My Chosen Wife

My Chosen Wife
ISAK TANGIS VARA.



Rumah Sakit.


Di ruangan kamar yang sepi, Vara duduk menatapi wajah Harsen yang di hiasi dengan luka lebam yang menyerupai tatto. Kening yang di balut dengan kain perban putih, menghiasi wajah tampan Harsen.


Vara terisak sedih, hatinya sangat sakit. Untuk pertama kalinya dalam hidup Vara, melihat Harsen terbujur kaku. Apa lagi, kali ini statusnya berbeda. Suaminya, iya benar suami yang baru dia nikahi satu hari yang lalu, sudah berubah sangat mengenaskan.


Suara decitan pintu terdengar. Dengan cepat Vara mengusap air matanya. Dan menoleh ke belakang, Ia menyembulkan senyum terpaksa dari bibirnya yang juga lebam.


"Paman Jimmy." gumam Vara.


"Iya Nak. Bagaimana keadaan Harsen?"


"Masih sama Paman, masih tertidur." gumam Vara dengan pelan dan suara yang berat.


"Kamu yang sabar Nak. Bawa dalam doamu, agar Harsen segera terbangun." ucap Jimmy mengusap pundak Vara.


"Terima kasih Paman. Paman sendiri? bagaimana keadaan di sana Paman?"


Jimmy menghela nafasnya.


"Ansel sudah di bawa ke sel tahanan. Lagi di mintai keterangan, sepertinya Papamu dan Paman Varel akan mengusutnya setelah Renata dan Harsen benar-benar dalam keadaan baik, kita tunggu saja. Oh ya, Kau dapat salam dari Renata." kata Jimmy dengan serius, tumben.


"Paman dari kamar kak Renata? bagaimana keadaannya Paman? Vara masih di sini, menjaga kak Harsen." balas Vara sedih.


"Tidak masalah, Renata sudah baikan dan tenang, ada kakakmu dan juga pamanmu Varel yang menemani Renata. Sedangkan Papamu dan Mertuamu, masih menunggu di luar. Mereka mau, kamu tenang dulu di sini bersama Haresen. Kali aja, kalau ada Vara, Harsennya mau buka mata." celetuk Jimmy dengan tersenyum.


"Semoga saja ya Paman." balas Vara dengan suara berat.


Jimmy menarik nafasnya.


"Baiklah, Paman keluar dulu. Kalau membutuhkan sesuatu, katakan pada Paman."


Vara menganggukan kepalanya.


"Baiklah Paman.Terima kasih" ucap Vara.


Jimmy pun berlalu meninggalkan ruangan kamar Harsen. Kembali Vara menatap wajah Harsen yang masih setia menutup kedua matanya. Vara mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipi Harsen, sisa dari kulit yang tidak lebam.


Teringat wajah Harsen, saat pertama kali dia tiba di tempat kejadian. Vara tau, hati Harsen tidak menerima. Guratan wajahnya, membuat Vara yakin, perasaan mereka sama dengan pukulan yang di berikan ke Harsen.


Terluka saat melihat orang yang di sayangi terluka, merasakan sakit, jika orang yang sangat di sayanginya sakit. Itulah yang di rasakan keduanya saat keduanya saling menatap penuh arti.


Lagi-lagi, air mata Vara lolos dari sudut matanya, mengalir tanpa hambatan, hingga menggenangi kedua kulit pipinya. Vara terbawa suasana sepi di kamarnya, dia menundukkan kepalanya, tepat di bawahnya adalah tangan Harsen. Terisak dengan sedih, karena tidak mampu membendung perasaan sakit yang membuatnya berasa gila.


"Maafkan Vara, Kak." suara Vara bergetar, di iringi dengan isak tangisnya yang memenuhui ruangan kamar sepi itu.


"Kalau saja Vara tidak menjadi alasan Ansel untuk melukai Kakak, mungkin semua ini tidak terjadi pada Kak Harsen. Aku memang tidak berguna untukmu Kak!"


Air mata Vara membasahi tangan Harsen yang tidak bergeming sama sekali.


"Andai saja, Kakak tidak memenuhi keinginan Vara untuk berbulan madu di sini, kita tidak akan seperti ini Kak. Istri macam apa Aku ini!"


"Kau istri terbaik yang Aku punya." kata-kata itu membuat kedua mata Vara membulat penuh. Meskipun tidak kuat, tapi Vara mendengarnya. Masih menunduk dengan menatap tangan Harsen, Vara


terdiam dari tangisannya.


Tangan Harsen terangkat pelan, mengusap lembut air mata Vara yang membasahi wajahnya. Meskipun susah, Harsen mampu menggapainya. Hingga wajah Vara menoleh ke arahnya.


"Kakak." panggil Vara di sela-sela sesenggukannya.


Harsen mencoba menarik kedua sudut bibirnya yang memar. Kedua kelopak matanya yang membengkak pun menatap ke manik mata Istrinya yang selalu mendamba untuknya.


Lagi-lagi air mata yang sempat terhenti kini mengalir lagi. Vara sesenggukan di hadapan Harsen, yang seharusnya tidak dia tunjukkan di depan sang suami.


"Jangan menangis." ucap Harsen dengan pelan, tangannya menarik wajah Vara agar membalas tatapan mata Harsen.


"Jangan menangis! Kau sangat jelek kalau menangis." kata Harsen lagi dengan menyentuh wajah Vara.


"Bagaimana Vara tidak menangis, Kak. Kondisi Kakak seperti orang yang hampir mati. Kakak tau perasaan Vara, melihat Kakak di pukulin di depan mata Vara. Hati Istri mana yang tidak sedih Kak. Sekarang, tubuh Kakak penuh dengan luka-luka, bahkan wajah tampan Kakak sudah penuh lebam-lebam dan sudah bengkak Kak. Vara benar-benar tidak habis pikir dengan keadaan seperti ini. Rasanya Vara tidak mampu menerima ini Kak." ucap Vara dengan isakan tangisnya.


Harsen lagi-lagi mengusap air mata Vara dengan Ibu jarinya. Lalu sentuhan akhir mendarat di bagian lebam yang di buat oleh Ansel. Harsen benar-benar tidak terima sebenarnya dengan perbuatan Ansel yang melukai Vara.


Harsen menyentuh lembut bagian lebam yang sudah di berikan cream.


"Apakah ini sakit?" tanya Harsen dengan berat.


Vara yang masih bersedih menggelengkan kepalanya sambil menatap Harsen.


"Tidak! Masih lebih sakit luka di tubuh Kakak. jawabnya dengan suara parau.


Harsen kembali mencoba tersenyum.


"Maafi Suami kamu yang tidak berguna ini. Maafi, Kakak, karena tidak mampu melindungi Vara. Melindungi Istri sendiri, bahkan melindungi diri sendiri, Kakak pun tidak mampu. Maafkan Kakak Vara, malahan membuat kamu mengkhawatirkan Kakak. Harusnya saat itu, kakak memberikan info tentang Ansel ke Kak Rava. Karena Kakak terburu-buru, dan takut kehilangan sisa waktu Kakak untuk menyelamati kamu dan kak Renata, membuat semuanya berujung seperti ini. Membuat Kamu terus menangis karena mengkawatirkan Kakak." kedua manik mata Harsen berkaca-kaca. Karena memang benar, rasa sakit yang Harsen rasakan, membuat Vara lebih sakit dari apapun.


Vara menyentuh punggung tangan Harsen yang masih menyentuh sudut bibir Vara, kemudian menggenggamnya.


"Tidak Kak. Kakak adalah suami terbaiknya Vara. Sudah, jangan banyak bicara lagi. Kakak harus banyak istirahat, tidak boleh banyak bergerak. Bukankah itu sangat menyakitkan?" Vara mencoba untuk tenang.


"Tidak! Ini tidak sakit. Kakak akan sakit, jika melihat Vara menangis." balas Harsen semampunya.


Vara tersenyum di buatanya, menarik nafas panjang dari kedua lubang hidungnya, agar cairan bening itu tidak sampai keluar dari lubang hidungnya. Vara buru-buru menyekah air matanya, agar tidak membuat Harsen turut bersedih.


"Sudah tidak menangis." Vara tersenyum ke Harsen dengan jemari tangan yang dia tautkan di sela-sela jemari Harsen.


Harsen membalas senyuman Vara, kemudian tangan yang saling menggengam itu di angkat Harsen dan menyentuh pipi Vara.


Vara tersenyum dan menganggukan kepalanya, pipinya merona.


"Boleh... Kenapa tidak." jawab Vara bersemangat.


Vara pun beranjak dari duduknya, membawa tubuhnya mendekati Harsen dan mulai mendekap hangat tubuh Harsen dengan hati hati-hati. Kepalanya Harsen di buat di sisi pundak Vara hingga pipi Vara menempel di bagian sisi kepala Harsen.


"Terimakasih My Princess, sudah kembali ke hidupku dalam keadaan baik." ucap Harsen di dalam dekapan tubuh Vara.


"Widih widih... mesra mamat. Kayak Roti bantal sama mentega, lengkeeeeet teroooosss." kata Jimmy yang barusan masuk.


Harsen dan Vara saling memandang kakuh, melihat kedatangan Jimmy yang berjalan ke arah mereka.


"Paman mau dong Vara, di peluk kayak Harsen gitu." Jimmy berjalan ke arah ranjang Harsen dengan kedua tangan yang di buka selebar-lebarnya mengarah ke Vara. Kedua mata Vara membulat penuh.


Tiba-tiba dari arah belakang Jimmy, mendahului tubuh Jimmy dan menyambar tangannya yang terbuka dengan lebar.


"Apaan sih Pa! Tadi katanya Papa mau pamitan pulang sama Vara. Sekarang kenapa mau meluk-meluk segala, kayak teletubbies tau Pa! Ingat sama umur Pa, sudah Expired Date." gumam James menghentikan niatan Jimmy.


"Apaan sih lo tong! Papamu cuma mau menyambut itu, Kakakmu si Harsen sudah sadar, jadi bonusnya ya dapat pelukan dari Vara seperti Harsen." balas Jimmy ke James.


"Ya elah Pa! Kak Harsen itu Suaminya Vara. Lah kalau Papa? Siapanya?"


"Pamanya." balas Jimmy dengan menatap James.


"Lah itu nyadar! ya sudah, pamitan. Nanti Paman Raka dan Paman Varel menunggu lagi. Jangan ganggui waktu penting pengantin baru naaapa." celetuk James dengan mata sinisnya.


"Iyalah iyaaaa... salah lagi." gumam Jimmy melanjutkan jalannya.


"Sen! cepat sembuh ya Nak." Jimmy memeluk pundak Harsen.


"Awwwww." Harsen mengadu sakit.


"Paman, pundak Kak Harsen memar." ucap Vara mengingatkan.


"Ouuu maaf Sen, Paman lupa. Kalau begitu, Paman pamit pulang ya." kini tangan Jimmy berpindah ke kaki Harsen.


"Awwwwwww!"


"Papa! Kaki Kak Harsen tulangnya memar! kenapa tangan Papa gatal sekali!" James gantian memarahi Jimmy.


Refleks Jimmy mengangkat tangannya dan menyentuh bibirnya.


"Salah ya?" tanyanya.


Vara cuma bisa menarik nafasnya dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau bagian ini?"


"Jangaaaan Paman!" teriak Vara.


Tangan Jimmy menggantung dan langsung menoleh ke Vara.


"Itu jangan Paman. Karena itu juga sakit." gumam Vara sedih, saat Jimmy hendak menyentuh bidang dada Harsen.


"Pakai kata-kata saja kenapa sih Pa? Mesti banget menyentuh area terlarang. Gak liat itu dada Kak Harsen di balut sama perban?"


"Heheheheh... siapa tau saja kan, dengan sentuhan tangan Papa gitu, semuanya bisa kembali seperti semula." ucap Jimmy.


James menepuk keningnya.


"Alamakkkkk... Bapak siapa ini woiii!"


"Ssssttt... jangan berisik! ayo kita pulang sebelum Vara membombardir kita. Byeeee Vara dan Harsen, cepat sembuh." Jimmy menarik tangan James dan melambaikan tangan satunya ke arah Vara dan Harsen.


Harsen kepengen sekali ngakak dengan tingkah si Jimmy, salahnya dia tidak mampu. Dadanya terasa sakit, bila tertawa lepas.


"Paman Jimmy sangat unik. Kek pajangan di kamarku." gumam Vara ke Harsen.


"Mirip sama itu?"


"Bukan."


"Terus?"


"Yang di dekat meja TV." vara tertawa.


 


Harsen yang melihat tawa dari Vara di buat tenang. Tawa dan senyuman yang sangat di nantinya sedari tadi.


 


"Terima kasih Paman Jimmy." gumam Harsen di dalam hatinya.


 


Bersambung.


***


Nah yang tanyain Ansel, sabar ya. Yang tanyain Alice, sabar juga. Kan Defan masih sama si Rava. Entar kalau dia balik, kisah mereka akan kembali bersemi. Hihihihi... Terima kasih ya sudah mau bantu VOTE. Tolong di bantu untuk tetap bertahan di 10 besar ya. ❤🥰.


Oh ya.. saya pribadi mau mengucapkan Terima kasih banyak sama salah satu pembaca saya namanya Ci Iciil.. Sudah kasi masukan baiknya, kasi saran dan ide-ide baik untuk jalan cerita My Chosen Wife. Itulah semangat saya, di berikan saran yang membangun, dari pembaca saya sendiri, bukan menghakimi jika ada kekurangan. Pokoknya Mom benar-benar maaci banget sama kamu ci... ❤🥰. Kalian semua memang luar biasaaa! Jadi benar-benar semangat, usaha kalian, gak bohongan deh. Terima kasih banyakkk semoga kalian gak bosan-bosan ya untuk membantu Mom 😘🙏