My Chosen Wife

My Chosen Wife
RAVA MARAH.



Rava langsung saja menghadiri undangan Expo perusahaan, tanpa asisten pribadi maupun sekretarisnya. Sesaat di mulai, barusan saja ia mengikuti acara Expo tersebut, tampak Renata yang sangat serius, dengan di dampingi para perusahaan lainnya. Semangat bersama saling berbincang, menjelaskan satu dengan yang lainnya. Setiap kata yang terucap dari bibirnya, menjadi senjata bagi para pemegang perusahaan lainnya.


 


 


Rava masih berdiri , tanpa berkedip memandang ke arah Renata dari kejauhan, melihat gaya nya berbicara, tersenyum, Rava mengerti maksud ucapan Defan di meja makan tadi. Renata sungguh dewasa, dia memang berubah, tak seperti awal mengenalnya. Rava hanya bisa mengenang , saat kedekatan mereka.


 


 


Di sela-sela Renata berbincang dengan anggota expo lainnya, tampak seorang Albert yang datang menghampiri Renata, mata Rava dan Renata sama-sama kaget menatap Albert.


 


 


"Kenapa dia di sini?" gumam Rava dalam hatinya.


 


 


Renata pun kembali berbincang, dan hanya bersama Albert. Mereka berdua berjalan bersama, mengikuti setiap acara Expo, memamerkan dan mendemonstrasikan produk dan layanan terbaru mereka, mempelajari aktivitas pesaing dan mengikuti tren dan kesempatan baru.


 


 


Seusai mengikuti acara Expo, Rava berjalan keluar munuju area parkiran. Tak berapa lama, saat ia tiba di depan mobilnya, tampak Renata dan juga Albert di area parkiran. Sempat ingin menghindar, Renata keburu melihat ke arah belakangnya sebelum ia masuk ke dalam mobil. Renata terhenti dan memandang pada Rava.


 


 


“Rava,” gumam Renata pelan.


 


 


“Ada apa, Rena?” tanya Albert, saat ia masih melihat Renata yang tak kunjung masuk kedalam mobilnya.


“Agh… Tidak apa-apa,” jawab Renata cepat, tanpa menghiraukan Rava ia pun masuk kedalam mobil Albert. Duduk di kursi samping pengemudi, Rava hanya bisa melihat tanpa bisa berka-kata. Selepas melihat kepergian mobil Albert, ia pun langsung saja masuk kedalam mobilnya menuju perusahaannya.


 


 


Sedangkan Renata, dia tampak diam mengingat Rava yang menatapnya dengan wajah sendunya. Albert yang sedari tadi mengajaknya untuk berbicara, hanya merespon anggukan, atau tawa dari Renata. Tetapi hati dan pikirannya mengarah pada Rava.


 


 


“Kenapa sangat susah terelepas dari, Pria seperti dirinya.” batin Renata.


 


 


***


 


 


Beberapa menit kemudian, Rava tiba di perusahaannya dengan perasaan kesal. Rasanya ingin sekali melempar sesuatu yang bisa menghilangkan rasa kesalnya. Harsen yang tahu kedatangan Rava, menyambutnya dan berjalan bersama Rava menuju lift. Saat di dalam lift, Rava  masih berdiam diri seperti memikirkan sesuatu. Harsen tahu betul sifat dan tabiatnya Rava, dia pun tidak ingin banyak berbicara.


 


 


“Sen,” panggil Rava tiba-tiba.


 


 


“Iya, Tuan.” jawab Harsen cepat.


 


 


“Tolong… kamu cari tahu tentang Albert. Kau ingatkan, pria yang ada di Bandara, saat menjemput Renata. Aku mau tahu, siapa dia dan apa tujuannya mendekati Renata. Tolong kau kabarkan secepatnya denganku.”ujar Rava dengan tegas seraya keluar dari lift dan berjalan kearah ruangannya.


 


 


“Baik.. Tuan.” balas Harsen, lalu ia mengikuti Rava masuk kedalam ruangannya.


 


 


“Apa masih ada sesuatu yang ingin kau katakan?” tanya Rava seraya mengambil dokumen di atas mejanya.


 


 


“Tuan… malam ini anda dan sahabat anda ada pertemuan. Apa anda mengingatnya?”


 


 


“Agh… iya baiklah, Sen. Kau ikut kan?” tanya Rava tanpa menoleh ke Harsen.


 


 


“Baik Tuan, saya ikut.”


 


 


“Okey.. kalau begitu, kita sama aja. Jemput aku di rumahku,” perintah Rava.


 


 


“Baik Tuan, saya permisi.” ucap Harsen, kemudian ingin berjalan keluar.


 


 


“Harsen,” panggil Rava lagi.


 


 


Harsen berbalik menoleh kea rah Rava, “Iya.. Tuan?”


 


 


“Apakah kau bisa jelaskan kepadaku, kejadian tadi malam. Kenapa sampai membuat Renata menangis?” tanya Rava seraya beranjak dari kursi, mengajak Harsen duduk di ruang tamu ruangannya.


 


 


Harsen  sejenak memejamkan matanya, sebenarnya ia sangat takut mengadukan semuanya. Karena takut, Vara akan di marahin oleh Rava. Rava kalau sudah marah, enggak tanggung-tanggung. Bisa-bisa barang yang di depannya terlempar, kepribadian Rava mirip seperti mamanya. Dia jarang marah, sekali marah akan meledak-ledak. Sedangkan Vara, menurun sifat papanya, yang tukang marah tanpa melihat sesuatu yang sebenarnya dulu.


 


 


“Ayo… jelaskan, kenapa kau diam?” tanya Rava dengan menatap tajam ke Harsen.


“Kakak.. tapi janji padaku,untuk tidak memarahi Vara.” Harsen memohon, sebagai adiknya.


 


 


“Kenapa? Kalau salah, aku harus memarahinya, agar dia tidak terbiasa. Mama dan papa akan marah, jika tahu adikku seperti tidak memiliki sopan santun selama dia bersamaku, Sen. Kau lihat Defan? Apa selama ini kau pernah melihatnya marah?” tanya Rava dengan menatap wajah khwatir di raut wajahnya.


 


 


“Tidak sih, Kak. Sebenarnya, Harsen setuju dengan yang di katakan Defan tadi pagi. Tapi tolong kak, jangan memarahinya dengan keras.” pinta Harsen .


 


 


“Kenapa jadi kau yang mengaturku? Tidak usah membelanya, katakan padaku yang sebenarnya terjadi.” ucap Rava dengan tegas, membuat Harsen tidak berani membantah.


 


 


“Baiklah, Kak.” gumam Harsen pelan, dan memulai mengatakan semua yang terjadi malam itu. Tampak wajah Rava memerah menahan emosinya.


 


 


“Pantesan saja, dia menangis. Apa pantas aku tidak  memarahinya, Sen? Mama dan papa ku tidak pernah mengajari Vara dan Aku untuk seperti itu. Kau tahu sendiri kan? Mama dan Papa malahan mengajarkan tentang  kasih dan menyayangi sesama, kenapa dia seperti itu. Ini tidak bisa di biarkan. Nanti kau jemputla Vara, aku menunggu di rumah.” perintah Rava lalu berjalan menuju meja kerjanya.


 


 


Harsen merasa ngeri, menatap wajah Rava yang suda merah padam itu. Pantas mereka marah pada Vara pikirnya, karena Vara sudah sangat keterlaluan  pada Renata. Seusai di rasa Harsen, tidak ada lagi yang di perlukan, dia pun beranjak keluar ruangan rava dengan wajah yang bersungut-sungut, Nadia menatap ke Harsen, yang keluar dengan raut wajahnya yang tidak biasanya.


“Ada apa denganmu, Tuan?” tanya Nadia aneh


 


 


“Agh.. Tidak apa-apa, nona.” jawab Harsen dengan cepat berjalan ke arah ruangannya.


***


Di kampusnya Vara, ia sangat tidak bersemangat menyambut jam pulang kelas yang biasanya paling di tunggunya. Vara berjalan dengan lesu, dengan bibir yang di kerucutkan ia berjalan di koridor kampusnya. Tampak Zahra dan teman yang lainnya, berjalan mengikuti Vara dari belakang dan sengaja menyenggol Vara, dengan mendahului Vara.


 


 


“Dasarrrr perempuan aneh!” teriak Vara, pas pikirnya melampiaskan rasa kesalnya.


Zahra dan teman lainnya  terhenti dan menoleh ke Vara dengan gaya parlentenya, “Kek ada yang mengeong ya teman-teman. Apa kalian mendengarnya?” sindir Zahra dengan menatap ke Vara.


 


 


“Kucing garong kali, Ra.” sambung Coco dengan tertawa ngakak.


 


 


“Kau itu yang kucing garong, betina!” ucap Vara dengan nyolot.


 


 


“Duh.. sepertinya kucing garongnya jarang di belai tuh, Ra.” sindir Luna dengan tertawa.


 


 


Wajah Vara mulai memanas,ia tidak sabaran ingin menjambak gigi si Zahra dan yang lainya, ia mengepalkan tangannya dan mulai berjalan ke arah Zahra.


 


 


“Iiiiiiiiiiiiiiihhhh..” Vara mulai berjalan dengan penuh amarah yang meletup-letup.


 


 


“Vara…” panggil Harsen dengan suara yang di ikuti dengan nafas yang terengah-engah. Keempat gadis itu menatap pada Harsen.


 


 


 


 


“Iya.. Ayo kita pulang.” Ajak Harsen, dan menatap pada teman-teman yang suka jahat pada Vara. Ia sangat mengenal wanita, yang ia cap sebagai Iblis bar-bar.


“Siapa pemuda tampan itu?’ tanya Zahra pada Vara.


Dengan cepat Vara berjalan dengan kerennya, ke arah Harsen, menarik lengan Harsen dan memeluk lengannya.


 


 


“Perkenalkan, ini pacarku.” ucap Vara dengan berbangga diri.


 


 


“Nona.. apa anda tidak salah?” bisik Harsen.


 


 


“Tidak.. jangan membantah. Aku mohon, kakak menolongku.” bisik Rava pada Harsen.


 


 


“Ehemmmm… Ayo sayang, kita pulang.” Harsen berdeham, seraya menarik  pinggang Vara untuk mendekatkan tubuhnya ke Harsen, sontak saja Vara terkaget, mendengar dan melihat aksi konyol Harsen yang membantunya dari teman-temannya yang suka iri itu.


 


 


“A-Ayo sayang, Ayo kita pulang.” jawab Vara dengan gugup dan tak mau kalah merangkul pinggang Harsen dan tersenyum paksa pada Zahra dan yang lainnya, yang tercengang menatapnya dengan mulut yang terngangah menatap kepergian Harsen dan Vara.


 


 


“Apa mereka masih melihat kita, Kak?” bisik Vara dengan kakunya.


 


 


“Sebentar, biar kakak lihat.” gumam Harsen, lalu menoleh ke arah belakang.


 


 


“Masih, Nona.” bisik Harsen lagi.


 


 


“Percepat jalannya kak, aku takut di  lihat orang, di kirain kakak benaran pacarku.”


 


 


Harsen tersenyum mendengar ucapan Vara itu, kemudian keduanya berjalan dengan mempercepat langkah mereka. Hampir tiba di parkiran, tampak Defan yang menatap keduanya, dengan cepat keduanya melepas pelukan mereka.


 


 


“Bu-bukan seperti yang kau lihat, Defan. Jangan berpikir yang macam-macam.” ucap Vara dengan mengangkat kedua tangannya.


 


 


Harsen hanya menatap ke Defan,yang menatap kesal pada Vara, lalu berjalan masuk ke mobilnya, tanpa berkata apapun. Harsen tahu persis, dengan respon defan kepada mereka. Keduanya melihat, mobil Defan yang sudah melaju meninggalkan area parkiran.


 


 


“Ayolah,jangan bersedih.” ajak Harsen yang melihat Vara mematung.


 


 


“Tidak, siapa yang bersedih?” bantah Vara dengan cepat.


 


 


“Sudah.. masuklah. Kak Rava menunggu kita,”


 


 


“Kakak? Habislah aku,” ucap Vara seraya  masuk ke mobil yang di bukakan oleh Harsen untuknya. Lalu Harsen berlari kecil, menuju kursi kemudinya. Di dalam mobil, Vara memikirkan apa yang hendak ia katakan  pada kakaknya. Harsen menoleh ke Vara, ia tahu Vara yang biasanya rewel itu, tiba-tiba terdiam.


 


 


“Nanti, jangan mengatakan apapun pada kak Rava. Jangan membantahnya atau pun menjawabnya, apa kamu mengerti Vara?” tanya Harsen tanpa formal.


“Tumben kakak, enggak memanggilku Nona.” Sindirnya dengan ketus.


 


 


“Ini permintaanku sebagai temanmu,” ucap Harsen tanpa sungkan.


 


 


“Tidak aku terima,” balas Vara tanpa menoleh ke Harsen.


 


 


“Jangan terlau keras Vara, kamu benar-benar sangat melampaui batas kesabaran kakakmu dan juga defan. Defan saja tidak pernah marah, kamu lihat dia sampai tidak menyapa kakak dan juga kamu?”


 


 


“Heeemmmm… Kakak cerewet! Sama seperti Defan,” ketusnya dengan bibir yang di kerucutkan.


 


 


Harsen hanya menarik nafasnya, enggak tahu lagi rasanya membujuk Vara. Harsen ingin melambaikan tangannya ke arah kamera, sayangnya kamera di  mobil itu tidak ada. Harsen kemudian memilih untuk diam, focus pada jalanan sore itu. Sedangkan Vara,ikut berdiam diri, masih memikirkan cara untuk berbicara dengan kakaknya.


 


 


Selang tiga puluh menit, mereka tiba di kediaman Rava. Tampak mobil Rava, sudah terparkir dengan rapi di halaman rumahnya. Jantung Vara berdegup kencang, menakutkan pikrinya. Harsen dengan cepat , turun dan membuka  kan pintu Vara, lalu mengikuti Vara untuk masuk kedalam rumah mereka.


 


 


“Selamat datang kembali, Nona, Tuan” ucap bi Tarni menyambut Vara dan juga Harsen.


 


 


“Terima kasih bi,” balas Harsen.


 


 


Vara cemberut, “apa ada pesan  untukku bi?” tanya Vara ke bi Tarni.


 


 


“Ada Nona, Tuan muda Rava meminta saya untuk memberitahukan Nona, kalau Tuan sedang menunggu anda di ruangan kerjanya.” ucap bi Tarni.


 


 


“Matilah aku kak,” ucap Vara meringis ke arah Harsen.


Harsen menoleh ke Vara, “Kenapa kamu takut? Bukankah kemarin malam, dengan semangat tinggimu memaki kedua kakakmu. Tunjukkan kegigihanmu,” ucap Harsen menyemangatinya.


 


 


“Aghhh… kakak masih bisa bercanda,”


 


 


“Sudah…Ayolah, nanti kakak akan semakin marah, jika kita lama menemuinya.” ajak Harsen dengan berjalan menuju tangga, di ikuti Vara yang sudah jantungan itu.


 


 


Sesampainya di depan ruangan Rava, Harsen mengetuk pintu ruangannya, dengan sepontan Vara menarik lengan Harsen dan memeluknya. Harsen menepis pelan  tangan Vara, dan menepuknya lembut seraya memberikan semangat. Mendengar suara Rava, Harsen dengan perlahan membuka pintu, tampak Rava menatap mereka dengan tatapan tajam.


 


 


Vara menunduk, dan berjalan di belakang Harsen, karena sangat takut melihat wajah kakaknya yang tampak sangat emosi itu.


 


 


“Harsen, tinggalkan kami berdua.” perintah Rava, membuat Harsen dan Vara terkejut.


 


 


“Tapi.. Kak.” jawab Harsen.


 


 


“Ini urusanku dengan adikku, aku minta kau keluarla dari sini. Tunggu aku, di bawah.” perintah Rava lagi.


 


 


“Baiklah kak,” ucap Harsen seperti berat meninggalkan Vara.


 


 


Seusai Harsen keluar, Rava berdiri mendekati Vara yang sedari tadi menunduk.


 


 


“Duduklah, kakak ingin berbicara padamu!”


 


 


 


Tekan Like dan Vote nya, Terima kasih.