
****
Mentari pada pagi menjelang siang hari itu sangatlah menawan, kilauannya menerawang ke setiap kaca jendela sebuah bangunan menjulang tinggi, meski tertata kumpulan kain berbahan tebal takan mampu menahan silaunya terang matahari di luar sana. Seorang wanita memiliki postur tubuh yang ramping dengan bahan berbentuk modern terbalut sempurna mulai dari kepala hingga kaki sedang berada dalam ruang yang berukuran 4x5 yang telah menjadi ruang kerja miliknya beberapa hari yang lalu, ia berjalan menuju meja kerja, matanya terkesiap saat bola hitam itu menangkap sebuah kotak berkhiaskan pita dan setangkai bunga mawar terletak begitu rapi di atas meja kerjanya.
Tak memakan waktu lama, ia mengambil kotak tersebut dan melirik kesetiap sudut dalam ruangan, ia melihat tak ada siapa-siapa dalam ruangannya selain dirinya sendiri.
Ia kembali meletakkan kotak tersebut, enggan untuk membukanya namun pikirannya dipenuhi rasa penasaran. Sepucuk surat dan beberapa permen coklat memenuhi kotak tersebut.
Tak ada nama pengirimnya, ucapnya sambil membolak-balik kertas surat tersebut.
Ia menyimpan kotak itu di atas meja kecil yang menjadi tempat jamuan untuk tamu,,,
^^^
Permisi bu Kinaya, anda di panggil untuk keruangan tuan besar, panggil seseorang yang menerobos pintu ruangan yang hanya tertutup sebagian.
Marisa, kau membuatku sedikit terkejut,
Baiklah, aku akan segera ke sana. Imbuhnya
Marisa sedikit menganggukan kepala dan hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan tersebut tiba-tiba teriakan Kinaya membuat langkahnya harus dihentikan.
Apa kau menyukai permen coklat,
Dengan rasa sungkan ia hanya membalasnya dengan tersenyum,
Ambillah ini, tanpa ada jawaban dari Marisa, ia segera memberikan kotak tersebut pada perempuan itu.
Bu bukannya ini pem—
Ambillah Marisa, aku tidak terlalu menyukai coklat, potong Kinya
Hmm,, baiklah terima kasih bu aku permisi, pamitnya dan Kinaya menganggukkan pelan kepalanya.
Marisa bisa kau jangan memanggilku ibu, aku sungguh muak mendengarnya,
Aku sudah terbiasa memanggil ibu pada sekertaris yang bekerja di sini sebelumnya, lagian itu terdengar tidak sopan jika hanya menyebut nama bu Kinaya,
Itu jika kau berbicara pada orang yang sangat dipatuhi, di sini kita bekerja hanya sebagai bawahan
Tapi bu, seorang sekertaris itu juga harus di segani, seperti sebelumnya ibu Maria dia sangat galak dan sangat susah untuk di ajak berbicara seperti ini.
Jangan menceritakn kejelakn orang lain Marisa, itu karena dia orang tua yang memang harus di segani, sedangkan aku masih gadis dan aku lihat kita seumuran, kau baiknya memanggil namaku saja supaya terdengar akrab,
Baiklah kalau begitu bu, eh maksudku Kinaya, ucapnya dengan kalah
Jadi kotak ini, beneran diberikan untukku, tanyanya dan Kinaya mengangguk
-
Padahal kotak ini pasti pemberian dari kekasihnya, aku pikir isinya adalah berlian nyatanya hanya permen coklat, tidak romantis sekali, gumamnya setelah ia berada d meja kerjanya,
`
Perempuan yang menjadi pekerja baru itu baru saja keluar dari ruangan Yandra dengan membawa beberapa berkas ditangannya, namun tiba-tiba benda itu terhempas ke lantai,
Maaf, aku tidak sengaja. Ucap seseorang yang berdiri di hadapan perempuan tersebut,
Biar kubantu, lanjutnya yang ikut membungkukkan tubuhnya hendak membantu memungut berkas” tersebut.
Tidak apa-apa, jawab Kinaya singkat,
Tanpa melihat siapa yang menabraknya, ia bergegas meninggalkan tempat tersebut, namun ia tau bahwa yang menabrak dirinya tak lain adalah seorang pria, sesaat matanya membuktikan di saat ia memungut barang bawaannya dan sebagian kertas itu berada di atas sepatu laki-laki tersebut.
Di balik tubuhnya yang sedang melangkah dengan gontai sepasang mata yang tak henti memandanginya sampai pada tubuh itu menghilang dari pandangannya.
¤
Selamat pagi ayah, sapanya pada seorang lelaki paru baya berpostur tinggi dan berisi.
Hmm,, kau datang.? Jawabnya,
Apa pekerjaanmu tidak menumpuk dengan santainya kau berada disini. Lanjutnya bertanya saat ia tidak mendapati jawaban dari anaknya,
Ayah apa yang keluar dari ruangan ayah barusan adalah sekretaris ayah yang baru? Tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya, pria ini juga melemparkan pertanyaan pada pria yang menjadi ayahnya tersebut.
Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Rey untuk pertanyaan ayahnyaa yang baru.
Ada apa?
Tidak ada ap-apa ayah, aku hanya menanyakannya.
Oh yah ayah, berikan aku arsip pengajuan kontrak itu,
Tanpa bersuara Yandra segera mengambil berkas yang di maksud Rey dari dalam rak.
Ini, kerjakan secepatnya
Baiklah, terima kasih ayah. Katanya dan berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Ia berjalan menapaki lorong sebelum tubuhnya benar benar keluar dari ruang besar itu,
Silahkan tuan, ucap seseorang perempuan yang baru saja membuka pintu keluar, wanita itu tak lain ialah Marisa, tanpa suara ataupun anggukan ia berlalu begitu saja.
Kalau bukan anak tuan aku pasti sudah memakinya, berlagak, umpat marisa merasa kesal tak mendapat sautan dari Rey meski sebenarya ia tidak sengaja berpapasan dengannya saat hendak menemui Kinaya di balik pintu sebelah.
Marisa kau kenapa? Tanya Kinaya yang melihat umpatan dari asisten atasannya.
Hmm, itu bu’ anu , emm maksudku tidak ada apa-apa Kinaya, jawabnya dengan blak blakan.
Kau ini selalu saja membuat jiwa tawaku keluar,
Itu harus, supaya kau terlihat lebih cantik saat tertawa,
Sudahlah Marisa jangan membuatku malu, itu di tanganmu mau di apakan, tanyanya menukas tawa Marisa
Ooh, ini ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh tuan, ucapnya menyerahkan berkas itu, meski Marisa asisten dari Yandra tetapi yang berhak meminta tanda tangan itu adalah Kinaya selaku sekertaris.
Letakan saja di meja Marisa aku ketoilet sebentar, perintahnya dan Marisa pun mengangguk.
Kinaya berjalan menuju keluar ruang besar itu dan langkahnya dengan lihai membawa tubuhnya menuju toilet yang tidak jauh dari pintu ruang asalnya.
Bruk,
Tiba-tiba tubuhnya tebentur, namun cepat kilat tubuh yang menabraknya menahan dirinya untuk tidak terjatuh.
Maaf, aku berjalan begitu serius, ucapnya segera melepas tubuhnya dari tangkapan laki-laki yang menabrak dirinya.
Aku yang tidak menyadari kehadiranmu di balik pintu, aku yang harusnya minta maaf...
Rey.... ucapnya mengulurkan tangannya,
Tanpa membalas uluran tangan itu, ia menundukkan kepalanya segera berlalu menuju toilet wanita.
Rey sejenak melirik ketanganya yang tidak mendapat balasan uluran seketika tersenyum malu,
Kau perlu di rukyah sebelum wanita itu menyentuhmu, kau yang sabar tangan kau harus bekerja dengan giat lagi demi menggapai sentuhan itu. Ucapnya sembari memandangi tangannya...
~
Ya ampun, kenapa aku sangat gugup. Gumam Kinaya setelah dirinya berada dalam toilet dengan kaca besar yang menampakkan seluruh tubuhnya.
Bahkan dia merangkul sebagian tubuhku. Astagaa, aku terlalu sensitif dengan sentuhan itu.
Aku harus lebih berhati-hati lagi, bagaimana kalau orang yang aku tabrak itu galak. Tentu aku sudah mendapat makian. Untung dia baik, lanjutnya bergumam.
.
.
.
^
Mohon dukungannya,💞
Jangan lupa tinggalkan like🙏💕