My Chosen Wife

My Chosen Wife
Makan Siang



🌟🌟🌟


^


Matahari masih sangat jauh untuk di pandang mata, belum memberi tanda bahwa ia akan segera bersinar, Kinaya mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk berangkat lebih awal, seperti rencananya malam tadi ia akan berangkat sebelum Rey datang menjemputnya, ia segera membereskan beberapa benda penting untuk di masukkan kedalam tas yang akan ia bawa hari itu, kemudian langkahnya beranjak meninggalkan kamar dan berlalu begitu saja melewati halaman rumahnya setelah ia memastikan rumahnya sudah terkunci rapat,


"Ini masih sangat pagi, semoga aku bisa terselamatkan dari penganggu itu," ucapnya berjalan begitu cepat,


Ia mengamati dari kedua sisi jalan tersebut dan melihat jalan itu terlihat sangat sunyi,


Ia hendak mengecek kesediaan driver online dan bersamaan saat ia merogoh handphone miliknya, benda tersebut juga ikut berdering,


"aku pastikan si penganggu itu yang menghubungiku," ucapnya dengan kesal


Matanya seketika berbinar saat bukanlah yang ia pikirkan,


"Iya Marissa ada apa?" Sahutnya setelah menjawab telefon tersebut,


"Emm,,, aku baru saja ingin mencegat taxi, kau sedang di mana?"


"Ok, baiklah, maaf merepotkanmu Marissa," ucapnya dengan tidak enak hati dan segera menyimpan benda tersebut kedalam tasnya


Matanya membulat sempurna saat melihat seseorang yang berdiri tegak di sampingnya,


"Apa aku salah melihat?" Gumamnya dengan terus menunduk berharap ini hanya halusinasi nya saja,


"Apa kau mencoba menghindar dariku?" Tanya orang tersebut dengan tatapan tajam


"Sejak kapan dia ada di sini?" Gumamnya namun terdengar nyaring di telinga Rey


"Tidak perlu banyak bertanya, cepat ikutlah. Aku tidak punya banyak waktu untukmu..."


"Kau pergilah, aku akan pergi bersama temanku," jawabnya dengan nada rendah


"Apa kau ingin pergi bersama teman laki-lakimu itu?" Pertanyaan itu berhasil membuat tatapan Kinaya teralihkan,


"Siapa yang kau maksud?" Tanyanya dengan kerutan dahi yang sedikit bingung


Namun tak ada jawaban yang ia dapati, melainkan mata yang terus menajam kearahnya


"Kenapa dia selalu saja memandangiku seperti itu, aku ingin sekali mencabut biji matanyaa," umpatnya dalam hati


"Kau ingin berjalan sendiri atau aku akan menggendongmu?" Tanya nya dengan sangat keras


"Aku katakan, kau pergilah, aku tidak ingin merepotkanmu," jawabnya dengan sangat lembut


Setelah menyauti perkataan Rey, perhatian Kinaya teralihkan saat ia mendengar suara bisingan mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat ia berdiri,


"Kau pergilah, temanku sudah datang," imbuhnya mendekat ke arah mobil tersebut.


Marissa terlihat beranjak hendak menyapa kedua manusia yang berdiri di sana, namun sepasang bola hitam pekat sedang menatapnya dengan mimik wajah yang seakan mengisyaratkan sesuatu.


Marissa seketika mengalihkan pandangannya ke arah Kinaya yang sudah berada di samping pintu penumpang,


"Kinaya kau berangkatlah bersama tuan Rey, aku harus kembali kerumah karena ada sesuatu yang terlupakan," ucap Marissa memberi alasan agar Kinaya percaya,


"Tidak apa-apa aku bisa ikut pulang kerumahmu dulu," tukas Kinaya tanpa melihat kearah Rey


Rey masih memberi tatapan isyarat pada Marissa untuk memberi alasan lagi pada Kinaya,


"Emmm, tidak Kinaya kau akan terlambat jika kau ikut denganku," tolaknya seraya menggingit bibir bawahnya kerena sedari tadi mata Rey terus memandangnya...


Kinaya sejenak melihat ke arah Rey dengan wajah yang sangat datar, rasanya sangat berat untuk pergi bersama lelaki itu.


"Baiklah," ucapnya dengan helaan nafas yang terdengar sangat berat.


Dengan perasaan terpaksa ia mengikuti arah langkah Rey menuju mobil yang tidak jauh dari mobil Marissa berhenti.


Rey membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Kinaya untuk masuk ke sana,


"Aku bisa sendiri," ucapnya dengan kesal dan tangannya mengambil alih pintu tersebut membuat tangan Rey terlepas begitu saja.


Kemudian ia berjalan di sisi kemudi dan mengucapkan terima kasih pada Marissa lewat senyuman yang ia pancarkan sebelum tubuhnya menyusul Kinaya masuk kedalam mobil tersebut.


"Aku hampir saja terkena serangan jantung," girang Marissa setelah mendapat sarapan manis dari senyuman seorang Rey...


"Mengapa dia selalu saja mengangguku," gumamnya dalam hati dengan sangat kesal


"Apa kau merasa terganggu,' Tanya Rey melemah


"Apa dia mendengarku." katanya dalam hati dan melirik aneh ke arah Rey.


Rey tersenyum kecut, sambil fokus akan kemudinya.


"Apa dia punya indra ke enam," hatinya terus saja bertanya


"Kenapa menatapku seperti itu,?" Sahut Rey,


"Siapa yang menatapmu," bantah Kinaya.


"Lalu siapa yang kau lihat.?" Pertanyaan itu benar benar membuat Kinaya merasa murka


Kinaya mengepal kedua tangannya dengan kuat, rasanya ingin mendaratkan genggaman itu pada wajah yang ada di hadapannya,


"Kau begitu menggemaskan dengan mimik seperti itu, kau terlihat sangat cantik," goda Rey membuat Kinaya tidak bisa berkutik namun hatinya tidak pernah berhenti memakinya, kinaya melepas genggaman tersebut dan kedua tangannya melipat sempurna di perut datarnya dengan perasaan benar-benar kesal.


Rey semakin mengeratkan kedua bibirnya untuk tidak tertawa. Namun tidak di pungkiri jiwanya benar-benar terhipnotis dengan tingkah gadis polos di hadapannya sekarang....


.


.


.


Kinaya dengan cepat menarik gagang kecil pintu mobil hingga terbuka dengan lebar dan gerakan tubuh rampingya mengajaknya beranjak untuk meninggalkan kursi tersebut.


Dengan senyuman yang terlihat sangat sempurna melekat pada wajah segar tersebut membuatnya semakin menarik untuk di pandang, namun tidak ada siapapun lagi di sana melainkan dirinya sendiri. Matanya tidak pernah teralihkan pada satu titik yang terus bergerak hingga hanya menyisakan bayangan saja, membuat Rey segera pergi dari sana..


.



Ting, tanda pesan masuk...


Jangan lupa makan siang denganku, 15 menit aku akan menjemputmu___Rey.


Kinaya sekilas melirik pesan dari Rey tanpa membalasnya.


BALAS. !!! Pesan Rey kembali muncul di layar handphonenya....


Kinaya menekan tombol off karena tak ingin membalas pesan dari Rey...


15 menit kemudian, Rey sudah berada di halaman parkir gedung milik keluarganya, namun Kinaya tak kunjung membalas pesannya...


"Berani sekali dia membuatku menunggu." umpat Rey,


Langkahnya dengan cepat memasuki gedung tersebut...


Ia berjalan menuju pintu lift khusus ke ruangan penting itu, setelah pintu lift terbuka, ia di kejutkan oleh seseorang yang baru saja keluar dari sana,,,


"Ayah,!" sahutnya dengan langkah yang terhenti,


"Sedang apa kemari?" Tanya lelaki parubaya dengan kerutan wajah yang terlihat begitu penasaran


"Emm,, ayah apa aku boleh menemui Kinaya," izinya dengan begitu ragu


"Untuk apa?" Tanya nya dengan penuh selidik


"Aku ingin mengajaknya makan siang, ayah boleh yah?" Ucapnya dengan memohon


"Jangan menganggu pekerjaannya, ia sedang menyelesaikan rekapan data bulan ini sebelum ia off untuk bulan depan. "


"Aku tidak akan mengganggunya, bukannya semua karyawan ayah sedang istirahat, tentu Kinaya juga harus beristirahat ayah..."


"Dia masih di ruangannya," jawaban itu membuatnya segera memasuki lift dan menekan tombol pada angka 4.


"Dia selalu saja memaksa jika berkaitan dengan perempuan itu," ucap Yandra sembari menggeleng pelan kepalanya,


Rey baru saja keluar dari ruang kecil tersebut dan berjalan menuju pintu utama, geraknya begitu ringan untuk membawa tubuh tegapnya memasuki ruang sekertaris yang sudah berada didepannya, tanpa permisi ia segera membuka pintu tersebut dan memasang wajah dinginnya di sana.


Perempuan yang sedang berhadapan dengan layar komputer seketika dikejutkan oleh pendangan yang begitu tidak asing lagi ia tatap...


"Berani sekali kau membuatku menunggu," teriak Rey dengan tatapan yang masih sama,


"Aku tidak menyuruhmu menunggu, kenapa menungguku, makan saja duluan aku masih banyak kerjaan..." jawab Kinaya tanpa bergeming dari tempatnya


"Ikutlah denganku, jangan banyak bicara..." Rey menarik tangan Kinaya dan terlebih dahulu mengambil tas miliknya....


"Jangan memaksaku jika aku tidak mau, aku tidak suka di paksa...." celah Kinaya dalam tariakan tangan Rey.


Rey melepas tangan Kinaya, dan tatapannya menjadi lemah saat sorotan mata yang begitu sendu melihatnya,


"Maafkan aku," ucapnya lirih. "


Aku ingin mengajakmu makan, ayo kita makan siang." Lanjutnya,


"Aku tidak ingin makan," ketusnya,


"Kenapa?"


"Aku tidak berselera makan, pergilaah.!" Teriaknya,


"Aku tidak akan pergi sebelum membawamu ikut denganku," jawabnya dengan tatapan satu arah.


"ayo, ajaknya lagi dengan menadahkan tangannya dan tangan satunya lagi menenteng tas Kinaya,"


"Pergilah dulu dan jangan membawa tasku, "


"Aku akan membawa keduanya, tas dan pemiliknya, ayo ikutlah,,,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


*Mohon untuk tetap memberi dukungan 🙏💕


Jangan lupa like and vote ✴💓*