
"Rava." seru Varel.
Rava berjalan dengan perlahan menuju ranjang Renata.
"Selamat malam, Paman dan Bibi. Izinkan Rava untuk menjaga Renata malam ini. Bibi dan Paman, pulanglah ke rumah Rava. Buatlah Istirahat, karena perjalanan panjang sebelum tiba di sini, Rava yakin membuat kalian lelah." tutur Rava dengan lembut membujuk calon mertua itu dan mendekati ranjang Renata. Tepatnya dia berdiri di samping Renata, sesekali ia melihat wajah Renata.
"Tidak Rava, bagaimana mungkin dalam keadaan begini, kami meninggalkan dia. Dan Bibi, sudah tidak mempercayaimu Rava, biarkanlah Renata menjadi tanggung jawab kami, kau tidak perlu merasa bersalah atau pun merasa kasihan pada anak kami."ujar Casandra dengan sedih.
"Ia Rava, Paman tidak mau kau terpaksa karena keadaan Renata. Pergilah Nak, jika kau tidak mencintai putriku. Jika dia tersadar nanti, biar dia mencari kebahagiaannya sendiri." Varel menimpali.
"Paman... Bibi... Percayalah kepadaku. Beri Rava waktu, kali ini Renata tidak akan Rava sia-siakan. Rava enggak mau kehilangan Renata. Sekalipin Paman dan Bibi melarangku. Aku akan tetap memaksa, maafkan Rava."
"Rava.... Jangan keras kepala, Nak. Renata butuh cinta dan kasih sayang. Bukan kasihan dan merasa bersalah. Bibi dulu juga pernah muda seperti kalian, jadi tahu bagaimana rasanya cinta tak terbalaskan, dan hanya mencintai sepihak. Jadi seperti Bibi katakan, jangan memberikan harapan yang tidak membuatmu bahagia. Bibi sudah memutuskan, perjodohan kalian sampai di sini saja. Tidak usah di lanjutkan." tutur Casandra dengan sedikit penekanan.
"Siapa bilang Rava kasihan dengan Renata, Bi. Rava mencintai Renata, Rava menyayangi Renata. Rava tdak pernah kasihan pada Renata, karena kejadian inilah yang membuat perasaan Rava sadar terhadap dirinya, Bi. Jadi Rava mohon Bi, berikanlah kesempatan pada Rava, agar Rava bisa buktikan pada kalian kalau itu bukan rasa kasihan." Rava kali ini memohon dengan sangat penuh harapan.
"Rava.... Jika kau mencintai Renata, apa kau mau terima perjodohon kalia?" tanya Varel tegas.
Rava sejenak terdiam, dia benar-benar tidak mampu untuk kehilangan Renata dalam hidupnya. Rava mengepalkan kedua tangannya, dan menatap serius pada Pria yang di takutkan oleh para lelaki saat menghadapi pertanyaan dari orang tua kekasihnya.
"Saya bersedia, Paman." tuturnya dengan percaya diri.
"Rava." seru Casandra pelan.
"Saya mohon, Bi. Jangan meragukan Saya, izinkanlah saya memberikan hidup saya pada Renata. Izinkanlah Renata menjadi tanggung jawab Saya. Rava mohon Bi." pintanya dengan penuh harapan.
Varel sendiri, sangat menyukai tipe Rava untuk menjadi menantu tunggal. Menantu dari anak semata wayangnya. Kenapa? Karena dari Raka sendiri, Varel bisa melihat didikannya pada anak-anaknya. Salah satu, yang membuat Varel menyetujui perjodohan sang istri dengan Eva. Begitupun dengan sang Anak, yang memang mencintai Rava tanpa paksaan.
"Kau yakin dengan seluruh yang kau katakan?" tanya Casandra yang masih meragu.
"Apa... Rava harus menabrakan diri Rava seperti Renata? Agar kalian bisa percaya dengan Rava?" tanya Rava dengan seriusnya.
Casandra memutar kedua bola matanya lalu memandang Varel yang berdiri di hadapan Rava. Varel sendiri masih mencerna setiap perkataan Rava, yang sebenarnya sudah mencuri hatinya kembali. Sosok Rava memang bisa membuat Varel merasa yakin, merasa percaya sang anak bisa di lindungi tanpa perlu rasa takut.
Sedangkan Casandra, masih merasa ragu. Karena Renata juga belum tersadar. Biarlah, Renata yang menentukan nantinya. Dia masih ingin bersama Rava atau tidak. Casandra tidak akan memaksa perasaan sang anak.
"Bi... Rava sangat mencintai Renata. Bibi dan Paman pokokmya harus tahu, Rava sangat mencintainya dengan tulus. Kata-kata ini, akan Rava ungkapkan saat Renata terbangun." Masih di posisi yang sama, tepatnya di samping ranjang Renata, ia menuturkan perasaannya yang sesungguhnya.
Uhukkkk... Uhukkkk....
Rava langsung berbalik, menatap pada Renata.
"Renata... Kau sudah terbangun?" Rava menyentuh kepala Renata, mencoba memperhatikan gerakan Renata. Renata menggerakan kepalanya, matanya masih terpejam, seperti menahan rasa sakit.
"Renata... Ini Mami sayang. Ayo bangun, Nak." seru Casandra lirih.
Varel mendekati sang Istri, merangkul pinggang Casandra dan menatap haru pada Renata. Serta menyentuh tangan sanga Anak.
"A—ku ha...us." ucap Renata dengan suara serak , karena memang kerongkongannya sangat berasa sangat kering dan susah untuk berbicara.
Rava yang tidak mendengar suara Renata, membuka alat bantu pernapasan yang ada pada mulut dan hidung Renata itu.
"Ucapkan lagi Renata, kau mau apa?" tanya Rava sangat panik.
Saat Renata mendengar suara Rava dan sentuhan tangan Rava pada punggung tangannya, ia mengerjapkan matanya, menatap pada wajah Rava yang sangat takut itu. Sekilas air matanya jatuh, dari kedua pelupuk matanya, dan Renata tersenyum. Lalu Renata berpindah menatap pada wajah Varel dan Casandra.
"Kau sudah terbangun sayang? Mami sangat yakin, Renata anak yang kuat seperti Oma kamu." tutur Casandra dengan pelan.
Bagaimana tidak, Varel bisa tenang menghadapi seperti itu. Varel sendiri yakin, dia bisa menghadapi semuanya seperti mamanya yang akhirnya sembuh dari komanya. Begitu pun Renata, pasti memiliki gen dari sang Oma.
"Ma-Mi." ucap Renata pelan.
"Iya sayang... Ini Mami. Kau baik-baik saja kan? Enggak hilang ingatan seperti di film-film Drakor yang sering kita lihat kan sayang?" serunya pada Renata.
Renata tersenyum, lalu ia melihat Varel yang sudah menangis dalam diam, terus saja mengusap air matanya dengan cepat.
Dengan cepat Varel menggenggam tangan sang anak.
"Iya sayang... Ini Papi." jawab Varel lirih dengan ngusap-ngusap lengan tangan sang anak.
Renata kembali menoleh ke Rava yang sedari tadi menatapnya, dan mengelus rambutnya.
"Ra-Va." seru Renata dengan beratnya.
"Iya... Ini aku. Apa yang kau inginkan?" tanya Rava dengan penuh semangat, kedua matanya pun berkaca-kaca menahan rasa syukurnya yang masih bisa melihat kedua mata Renata terbuka dan mendengar suaranya yang biasanya berisik.
Renata mencoba mengangkat tangannya, karena sangat kaku, perlahan tangannya terangkat , Rava yang tahu dengan cepat membantu tangan Renata yang mengarah pada pipi Rava. Renata menyentuh perlahan pipi Rava, sehingga air mata yang sempat Rava tahan menetes dengan tawa kecil yang ia tampilkan, seakan ia ingin menutupi kesedihannya.
"Jangan menangis." serunya sangat pelan, dengan mengusap air mata Rava.
Rava menarik tangan Renata dan mencium telapak tangan Renata dan kembali menangis bahagianya.
"Terima kasih sudah berjuang, berjuang untuk sadar. Aku sangat merindukanmu." ucap Rava dengan jujur, dan masih dengan air mata kebahagiaannya.
"Aku, Haus." bisik Renata dengan pelan.
Dengan cepat Rava mengambil air dari meja di sebelahnya dan memberikannya pada Renata dengan sangat hati-hati. Usai Renata meneguk sedikit, untuk membasahai batang tenggorokannya, ia pun merasa legah.
"Bi... Paman. Rava panggilkan Dokter sebentar,"
"Baiklah Nak," jawab Varel.
Saat Rava akan meninggalkan ruangan, Renata menarik tangan Rava. Dengan cepat Rava menoleh ke Renata.
"Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?" tanya Rava mendekatkan wajahnya pada Renata.
"Di sini saja, jangan tinggalkan aku." ucap Renata dengan sangat pelan.
"Hanya sebentar... Tunggulah." balas Rava dengan senyum kecil.
"Di sinilah Nak, biar paman yang panggilkan." ucap Varel yang mengerti sang anak mungkin lebih merindukan Rava.
Rava pun kembali menatap wajah Renata dengan penuh hangat, sedangkan Casandra yang di samping kanan Renata menatap pada keduanya, ia tersenyum kecil. Sebenarnya, Casandra masih berharap dengan sosok Rava sebagai menantu pilihannya.
"Bibi Pulanglah... Izinkanlah, Rava yang menjaga Renata." seru Rava dengan menatap Casandra.
Renata sendiri hanya menatap pada Rava, ada rasa sedihnya, ada perasaan merindu, dan ada perasaan bimbang, ia masih menatap penuh arti. Entah apa yang ada di pikiran Renata.
"Renata... Coba kamu tanya Dia." balas Casandra.
"Bagaimana Renata? Apa aku boleh menjagamu?" Rava kembali mengusap lembut puncak kepalanya.
Belum mendapatkan jawaban, Dokter datang dengan sangat cepat mendekati Renata. Entah apa yang ada di pikirkan sang Dokter, sebelum Dokter memriksakan Renata, Dokter menatap pada Rava.
"Tuan-Tuan... Anda keluarlah dahulu. Saya akan melakukan pemeriksaan pada pasien." ucap Dokter menatap Varel dan Rava.
"Aku akan kembali." bisik Rava pada Renata.
Varel merangkul pundak Rava, bersamaan mereka berjalan keluar dari kamar Renata, di sambut dengan Raka, Eva, Anna dan Jimmy yang menunggu kabar baik itu.
.
.
BERSAMBUNG.
.
Tekan Like dan jangan Lupa VOTE ya. Terima Kasih 🥰