My Chosen Wife

My Chosen Wife
PSIKOPAT.



BUAT YANG MAU VOTE, DI JAM 23:05 AJA YA. BERHUBUNG UNTUK NAIK KE ATAS ITU SUDAH SANGAT JAUH. SEMOGA DI PERMULAAN HITUNGANNYA, KALIAN LANCAR MAU BANTU VOTE MCW 😘🥰


.


.


.


"Lepaskan Aku!" teriak Vara saat ia sudah sadar dan di tempatkan di salah satu gudang yang sangat bau. Bau menyengat seperti aroma bau rumah yang sudah lama tidak di tempati meringkuk masuk di indera penciuman Vara.


"Nona! Tolong diam! ikuti saja perintah kami, kalau anda mau selamat!"


"Egh! jangan beraninya sama perempuan! kalau lo tau siapa, Papa,Kakak dan suami gua! jangan harap lo bisa keluar dengan tangan yang masih utuh!"


"Hahahaha... sudah di culik masih bisa bangga ni cewek bro!" katanya ke temannya.


Vara yang merasa ketakutan masih mencoba untuk berusaha mencari cara melarikan diri. Tangannya yang terikat di belakang, membuatnya tersadar, saat tangannya bersentuhan dengan tangan Renata yang masih dalam efek bius.


"Gak ada otak lo semua ya! Kakak ipar gua sedang mengandung." umpat Vara kasar.


"Bisa diam gak lo! Kalau gak karena si boss bilang jangan melukai lo pada, sudah gua gampar lo!" kata pria berbadan besar itu ke Vara.


Vara di buat takut, tapi dia mencoba biasa untuk tidak memperlihatkan ketakutannya ke pria-pria yang bertubuh besar di hadapannya.


"Kak Renata, bangun Kak." kata Vara mencoba menyadarkan Renata.


"Diam lo! jangan bersik!" perintah si penculik lagi.


'Harus bagaimana ini? Kak Rava, Kak Harsen, Papa. Tolongi Vara dan Kak Rena.' gumam Vara di dalam hatinya. Vara ingin sekali menangis dan beteriak. Hanya saja, dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang-orang di depannya.


Vara mencoba menenangkan dirinya, dari rasa ketakutannya. Mencoba mencari cara, dia harus meminta bantuan sebelum penculik benar-benar membawa melakukan hal lain lebih dari ini.


'Mimpi apaan gua, punya cerita bulan madu yang tragis seperti ini.'


Masih sempat bergumam dalam hatinya sambil berpikir.


"Bro! kata boss Ansel, dia sudah dalam perjalanan kemari. Tolong lo urus kedua wanita ini, gua mau tiduran sebentar."


'ANSEL?'


"Oke Bro!"


"Jangan lupa, bangunkan gua kalau si bos sudah sampai!"


"Sip Bro!"


Kedua mata Vara membulat penuh, pikirannya di penuhi segala umpatan yang kotor untuk Ansel. Vara benar-benar tidak habis pikir, sekotor itu cara Ansel untuk memenuhi keinginannya.


"Tolong!" kata Vara ke arah si penjaga.


"Mau apa lo!" pelototan mata si pria berbadan besar, sempat membuat Vara terdiam sejenak. Bibirnya seperti bergetar.


"Sa-saya mau buang air. Bisakah anda membawa saya ke toilet?"


"Aghhhhh.... buat kerjaan aja lo! Awas lo berniat ngelabui gua ya! langsung gua tebas lo."


"Ee-enggak. Saya sudah sangat menahannya sedari tadi." Vara membuat tampang kasihan di wajahnya.


"Ya udah, gak usah minta di kasihani gitu! Gua lepas nih, jangan berani lo kabur!" bentaknya ke Vara.


Vara pun menjawab perkataan si penculik, dengan di temani berjalan menuju toilet tangan Vara pun di lepas dan dengan cepat masuk ke dalam toilet yang sangat menyeramkan bagi Vara.


Meskipun Vara merasa takut, tapi niatannya menghubungi Harsen lebih besar dari rasa takutnya. Saat sudah berada di dalam kamar mandi, Vara buru-buru mengambil handphone-nya. Si penculik tidak tau kalau Vara membawa handphone karena memang berada di mode mati.


"Ayo dong cepat!" ucap Vara ke Handphone-nya yang masih loading.


Satu menit kemudian, dalam mode aktif, buru-buru Vara menekan tombol 1 dari layarnya, karena panggilan cepat itu langsung terhubung ke nomer Harsen. Dengan tangan gemetar dan harap-harap cemas akan ketauan oleh si penculik, Vara menunggu suara Harsen menjawab panggilannya.


"Ayo Kak di angkat." gumam Vara sambil terisak, kini air matanya berangsur mengiri ketakutannya.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara Harsen.


"Halo Vara... kamu di mana?" ~ Harsen.


"Kak, Vara di culik. Gak tau ini di mana, di sini hanya rumah yang gelap di sekelilingnya." ~ Vara.


Vara menangis dengan pelan.


"Kamu yang tenang ya. Kirimkan lokasi kamu lewat Whatsapp."~Harsen.


"Baik Kak...jangan di matikan, Vara sangat takut Kak." ~Vara.


Dengan tangan gemetaran dan air mata yang masih menggenangi kedua pipinya, Vara mengirimkan lokasinya ke Harsen, setelah mengirimkan lokasinya ke Harsen, suara dobrakan pintu terdengar.


"Awwwwwwwwww." Vara kaget dan refleks berjongkok menutup matanya.


"Kau ternyata pintar!"


Di sana suara Harsen terdengar sangat jelas, ketika suara jeritan Vara membuatnya semakin menjadi-jadi.


"Ansel!" teriak Vara.


"Kemarikan handphone-mu!" Ansel merampasnya dari tangan Vara dengan paksa.


"Jangan Ansel! kau keterlalun!" teriak Vara saat Ansel sudah mendapatkan ponsel Vara.


"Bawa dia kembali ke ruangan! Lo berdua memang ****!" Ansel geram ke pria yang bertubuh gumpal itu, karena semua rencana awalnya jadi berantakan.


"Baik Bos."


Keduanya menarik paksa Vara untuk keluar dari kamar mandi.


"Lepaskaaaaaann! dasar pria brengsek! Gak punya malu, adik dan kakak sama saja! Pecundangggg" teriak Vara menjadi-jadi ke arah Ansel.


"Jangan berani lo sama Istri gua, Sel! gua gak akan tinggal diam, kalau lo menyakiti Istri gua. Lo ingat itu, sedikit saja kulitnya tergores karena ulah Lo yang gak punya cara lain mendapatkan sesuatu yang lo mau! gua matikan lo! Lo ingat itu!" Harsen yakin Ansel masih mendengarnya.


"Tenang Bro! kalau begitu, mari kita satu lawan satu. Gimana? Mau gak lo! jangan membawa siapapun, jangan beritahu keluarga lo! Kalau lo mau man to man, datang kemari buat selamati Istri lo dan kakaknya. Jangan kasi tau siapapun, lo ingatttt!"


"Dasar pria cemen! berani nya lo sama perempuan!"


"Tidak usah membuang-buang energy untuk memaki gue bro! lo bisa datang ke alamat yang di kirimkan Vara ke Lo, jam 5 pagi. Waktu lo tinggal 2 jam dari sekarang. Lumayan jauh dari tempat lo, gue mau liat seberapa kuatnya lo bisa ngalahi gue!"


"Baiklah, tunggu aja dengan pemikiran busuk Lo!"


Harsen memutuskan duluan sambungan teleponnya. Ansel sendiri tertawa mendengar suara ketakutan Harsen.


"Mari kita mulai permainan kita." ucap Ansel dengan bangga.


Di ruangan gudang, tampak Vara mendekati Renata yang ternyata sudah sadarkan diri.


"Vara, Kakak sangat haus." kata Renata dengan lemas menatap Vara. Tubuhnya memang sangat lemas, tetapi Renata berusaha bertahan dengan yakin , Rava akan menolong mereka.


"Kak tahan sebentar. Kak Harsen akan datang menjemput kita." Vara terisak sedih melihat wajah Renata yang pucat.


Kini kedua matanya menoleh ke arah pria-pria bertubuh gumpal itu. Tolong! Berikan saja Kakak saya minum. Dia sedang mengandung! kenapa kalian tega sekali!"


"Tapi di sini tidak air minum Nona!"


"Belikan saja dulu!" perintah Ansel yang tiba-tiba datang dari pintu samping.


"Baik Bos."


Kedua mata Vara menatap penuh kebencian.


"Jangan menatapku dingin, Kau sangat cantik Vara. Karena dari itu, kau membuatku sangat terhina. Menolakku untuk Harsen. Dia sangat beruntung bisa memilikimu. Maafkan Aku yang tidak tau, kau ke sini untuk berbulan madu." Ansel tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.


"Dasar kau psikopat! Gak tau malu! Kau dan adikmu sama-sama gak punya urat maluuuuu!"


"Sssstt... jangan keras-keras. Kau nanti bisa kehabisan energimu. Suami-mu akan datang dua jam dari sekarang. Aku akan mengajukan permintaan sebagai imbalan untuk melepaskanmu. Menurutmu, mau gak Harsen menceraikanmu dan memberikannya untukku." Ansel menatap penuh harap.


"Gila! kau benar-benar gila! Jika dia mau pun, Aku tidak akan pernah menikah dengan pria gila sepertimu!" umpat Vara.


"Vara!" panggil Renata.


"Iya Kak? Kakak yang sabar, kita tunggu kak Harsen ya."


"Kakak benar-benar sangat haus, tidak tahan lagi Vara." ucap Renata dengan suara lemah.


"Kau tau kan siapa Kakakku? Papaku? Kau lihat, jika Kakak-ku dan kandungannya bermasalah! Jangan harap kau dan keluargamu bisa hidup tenang!" ancam Vara dengan isakan tangis ke arah Ansel yang berjalan ke arahnya.


"Hahaha...mari kita lihat. Apakah semuanya sama seperti yang kau bilang Vara. Kau kalau galak begini, semakin cantik saja!" Ansel mendekati Vara dan meyentuh kedua pipi Vara.


"Kenapa kau tidak memilihku!" ucapnya dengan menyentuh kulit wajah Vara yang mulus.


"Lepaskan tangan kotormu!" Vara membuang wajahnya.


"Hemmm... sangat dingin. Baiklah, kita menunggu kedatangan suamimu. Aku ingin membuatnya hancur karena dia bisa memiliki apapun yang aku mau. Ini ponselmu! simpan-lah. Sudah ku bantu mematikannya." balas Ansel lalu berjalan keluar gudang.


"Dasar psikopat!!!"