
Seperti pagi biasanya, seusai bersiap mereka berkumpul di meja makan. Berbedanya pagi ini, Harsen adalah pemimpin sekaligus baby sitter–nya Vara dan Defan. Kenapa? karena Rava yang sudah memberikan tugas itu sendiri ke Harsen. Daaann... Memang sudah mengingatkan pada Vara dan Defan harus mengikuti perintah dari Harsen.
Mereka bertiga makan dengan tenang, membuat Harsen merinding melihat ke duanya yang hanya fokus ke makanan mereka sendiri. Tapi, Harsen merasa bersyukur, jadinya enggak perlu repot bahkan kupingnya panas karena perdebatan keduanya.
Seusai makan, Harsen memilih beranjak berdiri dan membawa piring kosongnya ke arah dapur. Kepergian Harsen membuat keduanya saling memandang.
"Sudah Aku turuti apa mau mu Vara, Jangan lupa atur kencanku dengan Alice seperti janjimu padaku." kata Defan mengingatkan.
"Iyaaaa... sabar. Pasti Aku turuti, Kau tenang saja di boncengan." jawab Vara dengan melirik-lirik ke Harsen yang masih di dapur.
"Bantu aku persiapkan yang special ya Sepupuku sayang" katanya lagi..
"Hueeeeweeeek.... Jangan panggil-panggil sayang ke Aku. Mau muntah Aku jadinya mendengar perkataan mu."
"Berapa bulan yang di kandunganmu?"
Vara membulatkan matanya menatap tajam ke Defan, "Masih perawan ting-ting , Lo mau gua cekik?"
"Wuhhhh... menakutkan." balas Defan.
Harsen tiba-tiba datang, keduanya kembali diam dan memasang wajah kalem. Harsen merasa curiga melihat keduanya. Tapi, tetap saja Ia membuat dirinya seperti biasanya.
"Sudah selesai, mari kita berangkat." kata Harsen pada Defan dan Vara.
Keduanya langsut nurut, bersama-sama beranjak dari bangku mereka dengan hening. Tanpa penolakan, tanpa perdebatan. Kedua alis Harsen terangkat, saat melihat ketidak biasaan dari keduanya. Lalu mereka berkumpul di garasi mobil, Defan membawa mobilnya keluar dan bersamaan itu Harsen membawa mobilnya dengan Vara yang sudah berada di dalamnya. Kedua mobil melaju meninggalkan area rumah dan menuju ke kampus Vara dan Defan. Di mobil, Vara juga hening tanpa kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Harsen yang penasaran menoleh ke Vara.
"Sayang." panggil Harsen seraya menggoda.
"Iya sayang." balas Vara enggak mau kalah.
Harsen refleks tertawa kecil, dirinya merasa geli mendengarnya. Bila mana mulut Vara yang biasanya suka ketus, manja dan cerwet menjawab dengan kata sayang. Bagi Harsen itu sesuatu hal yang langkah, yang jarang terjadi di antara mereka.
Vara mencebikkan bibirnya, "Cis... Kenapa tertawa?" tanya Vara kesal.
"Sok mesra sih" jawab Harsen tertawa lagi.
"Entar kalau Vara marah-marah salah lagi."
"Kamu marah masih cantik kok." Harsen berkata tanpa menatap ke Vara.
Vara masih menatap dalam diam, sebenarnya ini Harsen apa bukan sih? bukan gayanya dia banget pikir Vara.
"Kenapa? Apa ada iler di wajah Kakak?" tanya Harsen yang tau Vara menatapinya lalu Ia menoleh ke Vara dan kembali tersenyum.
"Kak.... sebenarnya kakak ini terbuat dari apa sih?"
"Hemmm... dari apa ya? sejenis bahan bangunan kali ya?" jawab Harsen, "Kenapa emangnya?"
"Vara aneh sama Kakak... Kenapa Kak Harsen berbeda dari biasanya?"
"Karena sekarang kan kita berdua" jawab Harsen singkat.
"Maksudnya? Apa karena Kak Rava enggak ada ya?" tanya Vara dengan kaget.
Harsen mengganggukan kepalanya, "Iya dong.. Kalau ada kak Rava enggak boleh mesra-mesraan. Enggak sopan itu namanya."
"Wah... calon adik ipar yang baik." balas Vara senang.
"Vara." panggil Harsen serius.
Vara menoleh ke Harsen, "Iya kak?"
Sejenak hening.
"Hemmm... Kakak boleh tanya gak sesuatu ke Vara?"
"Boleh saja, silahkan Kak. Kok pakai nanya segala sih?" Vara merasa gugup sebenarnya.
"Untuk pernikahan, Vara kapan siapnya?" tanya Harsen tanpa gugup, Ia membalas tatapan Vara pada dirinya.
"Ou... Kok, jadi tanya tentang pernikahan sih Kak?" Vara membuang pandangannya ke arah jalanan.
"Iya.....Karena Kakak kan harus kumpul dana dulu buat pernikahan kita." balas Harsen mencoba membuat candaan di antara keduanya.
"Serius karena itu?" tanya Vara tidak yakin.
"Iya... emangnya karena apa lagi? Jika Vara wisuda nanti, kan Vara maunya berkarir dulu, kakak enggak akan larang keinginan Kamu. Sampai di mana Vara siap untuk menikah, katakan pada Kakak. Kakak siap mengajukan lamaran pada paman, bibi dan kak Rava." Harsen tersenyum.
"Baiklah... Akan Vara pikirkan Kak." balas Vara singkat.
"Semangat ya" ucap Harsen pada Vara.
Vara melepas seatbeltnya dan menatap Harsen serta tersenyum.
"Baiklah Kak... Kakak juga yang semangat ya." balas Vara kemudian hendak turun.
Harsen menarik tangan Vara, membuat Vara terhenti dan melirik ke Harsen.
"Ada apa Kak?" tanya Vara bingung.
"Apa tidak ada yang kelupaan?" tanya Harsen.
Vara mencoba melirik ke seluruh bawaannya dan kembali menatap ke Harsen.
"Tidak ada Kak.." balas Vara.
"Yakin tidak ada?" Harsen meyakin lagi.
"Enggak ada kak.. Apaan sih?" tanya Vara enggak sabaran.
Harsen tersenyum, "Ini." balasnya dengan mengarkan pipinya ke Vara dan dengan tersenyum.
Vara merasa malu dan juga tersenyum, "Dih... manja banget sih Kamu."
"Kan kamu bilang Kakak harus semangat, Nah biar semangat berikan Vitamin cinta." Harsen kembali menunjuk pipinya.
Vara menjadi kelepek-kelepek sendiri, liat Harsen jadi mesra.
"Iya deh." balas Vara mendekati wajahnya ke arah Harsen dan hendak memberikan kecupan pada pipi Harsen. Berbeda dari apa yang di minta, Harsen merubah posisinya dan mengecup bibir Vara.
Saling memandang, mata Vara membulat sempurna karena terkesiap. Harsen tersenyum membalas tatapan Vara masih dengan memberikan kecupan pada Vara. Saat cukup, Harsen melepas kecupannya dan kembali tersenyum.
"Begitu baru benar Sayang... Semoga urusanmu semuanya lancar. Nanti kalau mau pulang kabari Kakak, biar Kakak yang jemput." Harsen mengusap lembut kepala Vara yang masih berdiam menatapnya.
"I—ya Kak." balas Vara dengan cepat menarik handel pintu mobil dan segera turun. Vara merasa grogi dengan sikap dan perubahan Harsen.
Harsen yang melihat ketegengan tubuh Vara yang berjalan membuatnya tersenyum.
"Aku akan mencoba membuat dirimu merasakan pacaran yang sesungguhnya." ucap Harsen kemudian melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.
Sebenarnya, waktu itu pembicaraan Vara bersama Eva, tidak sengaja di dengar oleh Harsen. Saat Vara bilang Harsen sama sekali gak romantis dan kaku. Harsen ingin saja melempar tubuhnya ke lautan. Sedih benar di kata kaku padahal rasa Harsen tidak seperti yang di katakan Vara.
"Apa dia aneh? kenapa dia berubah hanya dalam satu hari? Apa itu memang kak Harsen? Bukan jelmaan yang masuk ke dalam tubuhnya. Kenapa Aku di buat merinding begini dengan perlakuan mesranya ke Aku. Dih... Pusing, bukankah harusnya aku senang ya? calon suamiku semakin pintar aja. Ngajak nikah lagi duhhhhhhh... rasanya aku kepengen terbang aja dech." gumam Vara sendiri sambilan tersenyum sendiri.
Bruuuuuugggggg....
"Awwwwww."
.
VOTE hari ini di tutup di jam 22:59:59 kiranya kakak pembaca memberikan dukungannya buat karya saya , dan Like nya juga tentunya. Terima kasih ya, maaf syaa enggak bisa up 2 bab🙏