My Chosen Wife

My Chosen Wife
MASIH CEMBURU.



Sebelumnya tolong dong kalian yang Like dan Komentar, berikan dukungan kalian lewat VOTE, yang Like bisa sampai ribuan orang, tetapi di cek di riwayat VOTE enggak semua mau VOTE, Like itu tidak bisa menaikkan ranking ya.


Jadi di sini Saya setiap hari Update buat kalian, kalian juga tolong dong berikan VOTE kalian 20-30poin per hari nya saja sudah sangat membantu karya saya untuk naik Ranking, apalagi lebih. Jadi mohon kerja sama kalian dong, karena itu membantu karya saya. Terima kasih buat kalian yang selalu membantu saya πŸ™.


γ€€


γ€€


***


Di kediaman Keluarga Leo.


γ€€


"Kenapa? Ayo masuk." ajak Harsen.


γ€€


γ€€


Vara membuang pandangannya, "Tidak usah! Aku mau pulang!" katanya sambilan berjalan dan hendak membuka pintu mobilnya.


γ€€


γ€€


Harsen dengan sigap menolak pintu mobil Vara. Vara menoleh kesal ke Harsen, "Kak Harsen!."


γ€€


γ€€


"Kenapa? Kenapa buru-buru? bukankah baru sampai di sini? Ayo masuk dulu." kata Harsen seraya menarik tangan Vara.


γ€€


γ€€


Vara kembali menepis kembali tangan Harsen, "Vara enggak mau Kak! Vara mau pulang!!!" ketus Vara lalu berbalik lagi.


γ€€


γ€€


Harsen menarik tangannya dan saling memandang.


γ€€


γ€€


"Ada apa dengan dirimu? Apa kau marah? Apa Kau cemburu karena Sylvia?" tanya Harsen dengan kedua mata yang menatap dalam pada Vara.


γ€€


γ€€


"Keduanya! Apa Kakak puas! Sudah....Lepaskan Vara! Vara mau pulangggg!" ucapnya lagi.


γ€€


γ€€


Lagi-lagi Harsen menahannya, "Katakan pada Kakak, di mana letak kesalahan Kakak?"


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


"Kakak enggak tahu?"


γ€€


γ€€


γ€€


"Tidak...beritahu pada kakak." balas Harsen.


γ€€


γ€€


"Hah... Sudalah... lupakan saja." ucap Vara masih kesal.


γ€€


γ€€


"Bagaimana bisa di lupakan, jika wajahmu seperti itu." kata Harsen dengan menahan sabarnya.


γ€€


γ€€


"Ada apa dengan wajahku?"


γ€€


γ€€


"Wajahmu mengatakan kalau Kau marah pada Kakak! Bagaimana bisa kakak melupakannya, jika ada yang berbeda dari dirimu."


γ€€


γ€€


Rere tiba-tiba datang dan berdiri di depan pintu menatap keduanya.


γ€€


γ€€


"Harsen... Ajak Vara masuk Sayang. Ajak Vara untuk sarapan pagi." ucap Rere ke Harsen.


γ€€


γ€€


Harsen menoleh pada Rere, "Iya Ma." balas Harsen.


γ€€


γ€€


Harsen menggenggam telapak tangan Vara dan mengajaknya berjalan masuk. Mau tidak mau Vara mengikuti Harsen berjalan memasuki rumahnya. Bukan kali pertama untuk Vara berada di rumah Harsen, sedari kecil Raka dan Eva sering membawa anak-anaknya sekedar mengunjungi Leo dan Rere.


γ€€


γ€€


γ€€


"Ayo Vara... Duduklah, sarapan dulu, Harsen sudah sarapan tadi." kata Rere dengan mengambil piring kosong.


γ€€


γ€€


"Baiklah Bi." gumam Vara pelan.


γ€€


γ€€


Harsen menarik salah satu bangku dan mendudukkan Vara di bangku tepat di bangku Harsen saat makan tadi.


γ€€


γ€€


γ€€


"Makanlah dulu....Kakak akan mandi sebentar, setelah mandi Kakak akan mengantarmu pulang." perintah Harsen dengan datar.


γ€€


γ€€


γ€€


Rere memperhatikan keduanya, melihat Vara yang hanya berdiam tidak menjawab perkataan Harsen. Tidak menunggu jawaban Vara, Harsen segera berlari ke arah tangga. Sedangkan Rere menarik bangku dan duduk di sebelah Vara.


γ€€


γ€€


γ€€


"Sayang....Maafin Harsen ya, kalau nada suaranya tidak pas. Mungkin saja Harsen lupa sama nada suaranya."


γ€€


γ€€


γ€€


Vara tersenyum dengan paksa, "Bibi... tidak masalah kok, Kak Harsen sudah biasa Bi seperti itu." ucapnya dengan lembut.


γ€€


γ€€


γ€€


"Iya Sayang, kamu yang sabar ya? Karena Harsen miripppp banget sama Papanya. Kalau begitu... Ayo sarapan dulu sayang." ajak Rere dengan menyendokan nasi ke atas piring Vara.


γ€€


γ€€


Vara mau tidak mau menuruti ajakan Rere, padahal Ia ingin sekali cepat pergi dari rumah Harsen, karena perasaan kesalnya ke Harsen masih di ubun-ubun.


γ€€


γ€€


"Bi... Sedikit saja." kata Vara dengan pelan.


γ€€


"Wah... Apa kamu sedang diet?" tanya Rere ke Vara.


γ€€


γ€€


"Tidak Bi... Vara hanya masih kenyang saja." balas Vara.


γ€€


γ€€


"Agh...baiklah sayang." balas Rere dengan menyendokkan lauk ke piring Vara, kemudian Ia berikan pada Vara.


γ€€


"Makanlah Nak." ucap Rere lagi.


γ€€


γ€€


"Terima kasih Bi," kata Vara mengambil piring yang sudah di isi oleh Rere.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


"Bi....Sudah selesai. Apakah Vara harus mencuci piring?" tanya Vara seraya berdiri dan mengangkat piringnya.


γ€€


γ€€


"Tidak usah sayang, biar Bu Lasma saja." kata Rere dengan menarik piring yang di pegangan Vara.


γ€€


γ€€


"Heheh.. Terima kasih Bi," balas Vara dan dengan cepat meneguk air putih yang di depannya.


γ€€


γ€€


Vara kemudian mendekat ke Rere dan mencium pipi Rere, membuat Rere menjadi kaget.


γ€€


γ€€


"Terima kasih Bibiku sayang, makanannya sangat enak... Tapi Vara pulang dulu ya Bi. Vara enggak bisa menunggu kak Harsen, sebelum Vara ketahuan sama Kak Rava dan Mama." ucap Vara dengan berjalan keluar dari bangkunya.


γ€€


γ€€


"Tapi Sayang... Apa tadi kamu tidak mendengarkan perkataan Harsen? Dia akan mengantarkan kamu sayang, tunggulah sebentar lagi." ucap Rere seakan menahan.


γ€€


γ€€


γ€€


"Tidak apa-apa Bi, Vara sudah terlalu lama di luar. Jadi katakan pada Kak Harsen, Vara buru-buru." ucap Vara dengan lembut dan berjalan.


γ€€


γ€€


Rere pun mengikutinya hingga kedepan pintu, dengan cepat Vara masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin mobilnya. Tak lama tampak Harsen yang keluar dari dalam.


γ€€


γ€€


"Varaaaa!" jerit Harsen.


γ€€


γ€€


Mobil Vara sudah meninggalkan kediaman Leo dan melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan Harsen di buat kesal dengan tingkah Vara yang tidak mau mendengarkannya.


γ€€


"Bagaimana Nak? Apa Vara marah dengan kamu?" tanya Rere seraya menyentuh pundak Harsen.


γ€€


γ€€


"Entahlah Ma... Harsen kejar Vara dulu ya Ma." kata Harsen dengan tersenyum kecil pada Mamanya.


γ€€


γ€€


"Baiklah Sayang... Hati-hati berkendara." balas Rere.


γ€€


γ€€


γ€€


*Di dalam mobil Vara


γ€€


γ€€


Vara menyentuh keningnya dengan tangan sebelah kanan, dengan tangan kiri memegang kendali setirnya sambilan berdecak, "Dia tidak tahu salahnya di mana? Dasar Pria aneh!!!" umpat Vara kesal.


γ€€


γ€€


Jalanan kota Jakarta sudalah ramai, membuat Vara terhenti karena memang adanya lampu merah. Rasa kesalnya Vara semakin bertambah, saat suara nada dering dari ponselnya terdengar, Vara pun menebak kalau itu adalah Harsen.


γ€€


γ€€


Dan benar saja sesuai tebakan Vara, Harsen menghubunginya dan dengan cepat Ia mengangkat telepon dari Harsen seraraya melajukan pelan mobilnya karena pertanda lampu hijau sudah tampak di depan, dengan pelan melajukan mobilnya, karena memang sangat macet.


γ€€


γ€€


γ€€


πŸ“² VaraΒ Β Β Β  : Apa!!!


πŸ“² Harsen : Kamu di mana?


πŸ“² VaraΒ Β Β Β  : Bukan urusan Kakak. Jangan memperdulikan Aku.


πŸ“² Harsen : Vara , jangan seperti anak-anak. Ada apa denganmu?


πŸ“² VaraΒ Β Β  : Kakak bilang Vara seperti anak-anak? Kakak enggak tahu apa kesalahan Kakak?


πŸ“² Harsen : Enggak... sepertinya kakak tidak melakukan kesalahan.


πŸ“² VaraΒ Β Β Β  : Agghh... benarkah? Baiklah.. akan Vara kasi tahu. Kesalahan pertama, Kakak kemarin pulang kenapa enggak beritahu Vara? dan yang kedua, kenapa kakak bisa di rumah Sylvia! Jangan bilang karena kakak cuma mau membantunya. Ingatlah Kak... Apa yang dia lakukan pada Kak Renata di depan umum begitupun dengan Vara! Dasarrr... ternyata semua Pria sama saja!!!!


γ€€


γ€€


Brugggggggg.....


γ€€


"Agggggggggghhh!" jerit Vara seraya ponsel Vara terlempar hingga terjatuh ke bawa bangku.


γ€€


γ€€


Harsen yang mendengarkan suara Vara berteriak tiba-tiba menjadi panik.


γ€€


"Haloo... Vara." panggilnya dengan memburu.


γ€€


γ€€


"Vara... Apa kau baik-baik saja?" tanya Harsen semakin kacau tidak mendengar jawaban dari Vara.


γ€€


γ€€


Vara pun menaikkan wajahnya dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia memilih segera turun dari mobilnya, bersamaan dengan si penabrak mobil Vara dari belakang, ikut turun dari mobilnya. Langsung saja Vara melihat bumper bagian belakang mobilnya dan kemudian menatap pada si pengemudi mobil dengan mata tajamnya.


γ€€


γ€€


"Apa kau tidak lihat di sana sudah lampu merah Tuan?" tanya Vara dengan kesal.


γ€€


Pria itu berperawakan tinggi besar dan sangat sempurna untuk idaman para wanita, tetapi Vara sedang tidak tertarik dengan Pria yang menatapnya dengan memakai kaca mata hitamnya. Bukannya menjawab, Ia malahan tersenyum menatap ke Vara, membuat Vara semakin jengkel.


γ€€


γ€€


"Kenapa malahan tersenyum? Agh... Kau memang pintar Tuan, syukurlah Mobilku tidak lecet. Kalau lecet, Kau harus mengurusnya! Karena Kau tahu? Ini Mobil kesayanganku!" kata Vara dengan sedikit meninggi.


γ€€


γ€€


"Kalau Kau marah, kenapa semakin cantik saja." katanya pada Vara.


γ€€


γ€€


"Apa Kau bilang?"


γ€€


"Kau sangat cantik." ujar nya dengan keren.


γ€€


"Siapa Kau?"


γ€€


"Kau tidak mengenaliku?" pria itu berlagak keren di depan Vara.


γ€€


"Jangan main tebak-tebakan, agh.. atau jangan-jangan, Kau purak-purak mengenaliku agar Kau lari dari kesalahanmu ya?" tanya Vara masih dengan kesalnya.


γ€€


"Kau lupa pada diriku?"


γ€€


γ€€


γ€€


Bersambung.


...


Sebelumnya tolong dong kalian yang Like dan Komentar, berikan dukungan kalian lewat VOTE, yang Like bisa sampai ribuan orang, tetapi di cek di riwayat VOTE enggak semua mau VOTE, Like itu tidak bisa menaikkan ranking.


γ€€


γ€€


saya setiap hari Update buat kalian, kalian juga tolong dong berikan VOTE kalian 20-30poin per hari nya saja sudah sangat membantu karya saya untuk naik Ranking. Jadi mohong kerja sama kalian dong, karena itu membantu karya saya. Terima kasih buat kalian yang selalu membantu saya πŸ™.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€