My Chosen Wife

My Chosen Wife
MCB05 : Ingatan Masa Kecil



Buat kalian yang tahu keluarga Atmadja, dari karya saya Terpaksa Menikah. Ini, adalah kisah cinta dari anak Rava dan Renata, Ramses Atmadja. Jangan lupa mampir di karya baru saya "My Childhood Husband". Terima kasih.


...☘☘☘...


Dua puluh tahun kemudian.


Matahari pagi itu menyambut kedatangan keluarga dari Rava Atmadja, anak dari Raka Atmadja dan Evacalista. Sembilan tahun yang lalu, Rava terpaksa membawa istri dan kedua anaknya untuk menetap di kota New York. Bukan tanpa alasan. Rava mau tidak mau, dia harus memboyong istri beserta anak-anaknya, untuk ikut bersama dia. Sebab, perusahaan yang pernah ia besarkan sendiri, hampir saja gulung tikar karena orang kepercayaan tidak lagi bisa di percaya. Banyak penggelapan yang dilakukan oleh orang-orang di perusahaannya, tanpa Rava dan keluarga lainnya tahu.


Akhirnya, setelah semuanya kembali normal. Rava membawa kembali keluarganya, untuk menetap dan tinggal di Jakarta, setelah Ramses menyelesaikan sekolahnya. Tapi, tidak dengan Rebecca. Karena, saat Ramses menyelesaikan sekolahnya, Rebecca keburu mendaftar di salah satu Universitas di New York.


"Bagaimana?" Rava menatap pada putranya. Ketiganya sedang berjalan menuju pintu keluar Bandara.


"Masih sama," balas Ramses singkat. Ia menarik kedua sudut bibirnya.


Rava yang mengenakan kaca mata hitam dan menggangdeng Renata, tersenyum memandang anaknya yang sudah beranjak dewasa.


"Rasa-rasanya, aku masih tidak percaya, kalau kedua R, sudah tumbuh besar seperti sekarang," ucap Rava pada Renata.


Renata ikut menatap pada Ramses. "Kenapa besarnya sangat mirip sama Papa Raka?"


"Bisa saja. Opanya tidak pernah terkalahkan tampannya. Ya, bisa saja 'kan jadi turun temurun ke cucunya." Rava ikut menimpali.


"Tapi masih lebih banyakan Rams, 'kan?" Pria muda itu menoleh pada Papa dan Mamanya. Kedua sudut bibirnya tertarik kecil. Cukup susah, untuk bisa mendapati senyum lebar dari anak Rava dan Renata.


"Kau benar-benar cucunya. Sepertinya, Papa juga suka sekali berkata seperti itu." Rava lalu tertawa. Renata apalagi. Dia benar-benar ingat, kalau papa mertuanya, tidak ingin ketampanannya di saingi oleh siapapun. Meskipun itu dengan anaknya sendiri.


"Itu paman Defan," tunjuk Ramses ke arah kerumunan orang yang sudah menunggu di pintu kedatangan luar negeri. Defan yang tersadar, pun cepat mengambil ancang-ancang.


"Kenapa jadi dia yang datang?" gumam Rava pelan.


Defan berlari sekencang yang ia bisa, untuk menggapi tubuh Rava.


"Kakak," katanya sambil merangkul Rava. Ia mendekap erat Rava. Kakak kesayangannya, yang selalu ia rindukan.


"Fan," panggil Rava.


"Paman ... bukannya kau baru seminggu yang lalu berjumpa dengan kami, bersama Bibi Alice, dan sikembar?" tegur Ramses keheranan.


"Ssstt ... kau ini merusak saja. Anggap saja, pura-pura melepas rindu gitu." Defan melonggarkan pelukannya dan menatap kesal pada Ramses. Cepat, Rava menepis kedua tangan Defan darinya.


"Kau pikir anakku bisa di ajak menjadi bodoh? jangan aneh-aneh, Fan. Sekarang bantui dorong barang bawaan kami," ucap Rava mengarahkan matanya pada Ramses.


"Tidak usah, Pa. Papa gak lihat apa, tubuh Paman dan Rams, perbedaannya sangat jauh. Jadi, biarkan saja ini menjadi tugas Ramses." Anak dari Rava dan Renata itu, tersenyum kecil. Tanpa menunggu jawaban dan protes dari Defan, ia berjalan lebih dulu di depan mereka. Mulut Defan terngagah, ia mengikuti gerak ke mana arah Ramses berjalan.


"Sial. Kenapa gue di bilang seperti itu. Sementang dia tinggi seperti paman Raka, kenapa dia menghina sekali," ucap Defan tidak terima. Renata dan Rava tertawa.


"Jangan sedih. Kau memang lebih pendek dari dia. Kau tidak tahu, kalau dia pemain basket di sana?"


"Enggak."


"Kasihan."


"Sudah, Fan. Kakak sangat lelah. Gimana dong?" Renata memangkas obrolan keduanya.


"Egh iya. Yuk kita pulang. Rumah kalian sudah seperti panti jompo. Semua orang tua sudah berkumpul di sana, untuk menyambut kedatangan kalian. Mari kita bergerak," ucap Defan. Rava dan Renata pun ikut bergegas, mengikuti Defan. Kembali mengingat. Saat Raka dan Eva datang, mereka berdua memang terlihat sangat tua. Rambut mereka sudah terlihat memutih. Namun, masih terlihat keharmonisan cinta dan kasih sayang antara keduanya. Masih mampu untuk membawa tubuh mereka, berjalan jauh, meskipun terasa ada batasan karena usia mereka.


...🌺🌺🌺...


Rmses malu, jika ia harus mengatakan selamat tinggal, atas kepulangannya ke Jakarta. Sebab, hubungan keduanya tidak baik, namun dekat karena tetangga. Kedua mama mereka yang dekat, layaknya sahabat di sana. Sedangkan Ramses, ia berlaku dingin padanya.


"Rams." Renata tiba-tiba masuk ke dalam kamar putranya. Ramses sigap membawa tubuhnya untuk duduk. Ia tersenyum tipis, melihat kedatangan Renata.


"Ada apa, Ma?"


"Ini susunya, Sayang."


Ramses mendadak sedih, "ma ... Rams sudah gak butuh lagi. Rams 'kan sudah besar. Masa harus minum susu setiap sebelum tidur?" tanyanya lirih.


Renata yang sudah duduk di depan Ramses tersenyum.


"Sayang ... papa saja minum susu sampai sekarang. Masaan, kamunya nolak? katanya mau jadi pebasket Internasional. Gimana sih? minum susu itu, bukan lihat seberapa besar orangnya. Seberapa besar usianya. Ini juga perlu, untuk anak seusia kamu." Renata kembali menyodorkan segelas susu hangat ke arah Ramses.


"Tapi, Ma–"


"Nggak ada tapi-tapian, Sayang. Habiskan. Mama khusus buati untuk Ramses, anak kesayangan Mama dan Papa. Adiknya kakak Rebecca," ucap Renata sambil senyum.


Ramses menarik napasnya. Ia pun menerima pemberian wanita di depannya.


"Terima kasih, Ma," balasnya.


"Minum di depan Mama dong," ucap Renata memastikan.


Ramses benar-benar tak mampu menghindar. Ia akhirnya memilih untuk meneguk sampai habis susu putih itu, di depan Renata.


"Ini, Ma." Renata mengusap kedua sudut bibir putranya, kemudian ia berdiri.


"Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah," ucap Renata. Ia pun berjalan dan menyentuh saklar lampu, agar Ramses bisa tertidur.


Melihat Mamanya yang sebegitu senangnya saja, Ramses ikut tersenyum.


"Kadang Mama berpikir, anak umur dua puluh tahun sepertiku, masih seperti anak umur dua tahun di matanya." Kembali ia merebahkan tubuhnya. Ingatannya kembali memunculkan, gadis semasa kecilnya.


Gadis yang belum sempat ia lihat, setahun belakangan itu. Sebab gadis kecil yang di kenal Ramses, pindah dan menetap di California, karena papanya sakit-sakitan. Jadi, Ramses tidak sempat melihatnya sebelum pindah ke Jakarta. Tidak ada kabar dari keluarga gadis kecil itu.


"Kecil, polos, menggemaskan, rambut kuncir dua, bedak yang tidak merata di wajahnya, mulutnya yang suka berbicara sangat cepat, gigi tanggal dua di bagian depan, apalagi? argh, akan kusimpan dalam memori masa kecilku. Semoga saja namamu tetap 'Cloe'. Agar aku mengenalmu dalam satu pertemuan"


Seingat Ramses, tiga tahun sebelum kepindahan gadis bernama Cloe itu ke California. Gadis itu, sempat berucap pada Ramses dengan lantang, di atas padang rumput hijau, di Central Park.


"Semoga saja kita berjodoh suatu saat nanti. Kau akan kutemukan, meskipun di ujung dunia sekalipun. Walaupun, kau sangat mirip sama bongkahan Ice. Tapi aku bisa merasakan, kalau hatimu mirip sama jahe, menghangatkan." Cloe tersenyum, menampakkan giginya yang tanggal. Di sini, mereka sudah menginjak usia tujuh belas tahun. Masuk dalam usia anak remaja.


"Kita lihat saja ucapanmu. Benarkah Koala kecil sepertimu, bisa menemukan Olaf?"


Ramses dia tersenyum, kemudian mencoba memejamkan matanya untuk segera tertidur. Meskipun sangat susah, karena harus menyesuaikan waktu tidur di negara sebelumnya.


...🌺BERSAMBUNG🌺...


...🌼Jangan lupa Rate ⭐⭐⭐⭐⭐...


...🌼 Tekan Like...


...🌼 Komentarnya ✍...


...🌼 Jika ada poin, silahkan Vote ya. ^^...