My Chosen Wife

My Chosen Wife
MAKAN MALAM.



Sebentar lagi malam itu akan gelap, malam yang di terangi sinar cahaya bulan penuh, menambah kebahagiaan Defan, seperti bintang yang bersinar terang di langit, di mana Defan memijakan kakinya di depan rumah Alice. Alice sendiri sudah bersiap, saat Defan siang itu menghubunginya, karena keluarga dari Paman dan Bibinya mengundang Alice dan Ibunya untuk makan malam bersama.


"Ma... Defan sudah datang. Apa Alice sudah terlihat cantik, Ma?" tanya Alice yang masih di depan kaca, menatap penampilannya.


"Kau sangat cantik sayang, bukankah Mama katakan , sewaktu Mama muda, wajah Mama sangat mirip denganmu? Dan kau tahu sendiri kan? Mama saat muda, sangat berkharisma. Karena ulah dari masa lalu mama, kehidupan mama sangat hancur dan susah, hingga Mama menemukan Papa kamu, yang merubah hidup Mama jadi lebih baik." ucap sang Mama dengan senyuman.


Alice mendekati sang Mama, dengan menarik lembut tangannya, "Mama... Maafin Alice, Alice enggak bermaksud membuat Mama bersedih."


"Tidak sayang... Mama bangga punya Alice. Maafi Mama yang enggak bisa memberikan kehidupan Alice seperti Mama yang di berikan kehidupan yang serba ada oleh Kakek dan Nenek mu." Mama Alice tersenyum.


"Tidak apa-apa, Ma. Sewaktu Papa ada juga, Alice kan sudah kalian berikan kehidupan yang baik. Hanya saja sekarang Papa sudah tidak ada, hanya Mama kebahagiaan Alice yang paling hakiki, Ma. Jadi Alice dengan Mama saja sudah sangat bahagia." Alice memeluk tubuh Mama nya.


Dengan membelai lembut rambut panjang Alice, sang Mama tersenyum, "Sayang... sudahlah. Ayo kasihan Defan sudah menunggu kita di luar." ajak sang Mama.


"Oh iya... Sampai kelupaan, Ma. Ayo kita keluar Ma." ajak Alice dengan lembut.


Alice dan Mamanya yang sudah sangat rapi, beranjak keluar dari kamar Alice. Keduanya berjalan dengan senyum yang masih melingkar di setiap sudut bibir mereka. Lalu menghampiri Defan, yang sedari tadi di gigit nyamuk, karena memang di suru menunggu sebentar, jadilah Defan berdiri di depan rumah Alice.


"Defan." panggil Alice.


Defan menoleh kebelakang, menatap kagum dengan penampilan Alice yang sangat memukau cantiknya. Rambut ikalnya yang di kuncir setengah dengan pita di kaitkan di tengah rambutnya menambah kecantikan Alice. Dengan mengenakan Dress berwarna kuning kombinasi putih, di padukan sepatu kets putih, tas selempang yang menggantung di bahunya, memberikan kesan tersendiri bagi Defan.


Bagaimana tidak, selama bertemu dengan Alice, Defan tidak pernah melihat Alice mengenakan dress, selalu kaos dan jeans. Begitupun dengan seragam kerjanya, Defan sangat tahu betul dengan penampilan Alice yang biasa. Baginya malam ini, Alice sangat luar biasa, polesan make up nya yang natural, juga sangat imbang dengan penampilan dan umur Alice.


"Defan..." panggil Alice dengan melambaikan tangannya di depan wajah Defan.


Sontak Defan tersadar, "Hah... Maaf..."


Mama Alice tersenyum, "Apa putriku sangat cantik?" tanyanya ke Defan.


"Hahaha... Ini bukan cantik lagi, Bi. CETAR MEMBAHENOL, Bi." celetuk Defan tanpa segan.


"Apaan itu?" Alice memiringkan kepalanya seakan bingung.


"Agh... Sejenis makanan ringan, Sudah tidak usah di pikirkan, Ayo Bi Naik... kita segerah meluncur." ajak Defan dengan senang.


Semuanya mengambil posisi masing-masing, Alice di depan bersama Defan, sedangkan si Mama duduk di belakang. Defan segera meluncur dengan kecepatan sedang. Betapa bahagianya hati sang Mama, Alice mendapatkan Pria yang baik dan dari kalangan orang mampu. Mama nya berharap, Alice bisa mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya bisa dia berikan untuk anak semata wayangnya.


****


Kediaman Rava Atmadja.


Seluruhnya sudah bersiap untuk menyambut kedatangan pacar si Defan, Raka dan anak-anaknya sedang bersantai di ruangan keluarga bersama dengan Harsen. Berbedah dengan Eva, dia masih saja sibuk mempersiapkan makanan yang harus di sajikan buat keluarganya begitu juga buat pacar Defan dan mamanya. Semaksimal mungkin, Eva menghidangkan menu terbaik untuk tamu dan keluarganya, sebelum keberangkatan mereka kembali ke Jakarta.


"Bi...Apa sudah siap semua?" tanyanya ke Bi Tarni dan Marni.


"Semuanya sudah siap, Nyonya." balas Bi Tarni.


"Iya , Nyonya. Buah, Jus, makanan penutup sudah saya hidangkan." sambung Bi Marni.


"Baiklah... Kalau begitu saya tinggal dulu, ya Bi."


"Iya, Nyonya." balas keduanya dengan bersamaan.


Eva melepas Apron merah yang terbalut pada tubuhnya, berjalan meninggalkan dapur menuju ruangan keluarga, tampak keempat orang yang sangat di sayang Eva, tertawa dengan sangat senang. Bagaimana tidak, anak-anak mengajak Raka bermain Ludo online, sehingga keempatnya bisa tertawa senang karena melihat Raka yang merasa sedih, pion ludo nya tidak kunjung keluar.


Saat giliran Raka, Eva mendekatinya. Semuanya menoleh ke arah Eva yang tiba-tiba mendekati mereka.


"Maaa... Kasihan banget suami mama ini, kita sudah hampir satu kali putaran, Papa masih di rumahnya saja. Tampaknya Papa sangat nyaman di rumah, Ma." ledek Vara , menambah kesedihan Raka.


Refleks Harsen dan Rava yang mendengarnya tertawa.


"Sayang... coba kamu yang mainkan. Aku pusing kalah terus dari anak-anak." Raka mengadu sedih.


Eva tersenyum lalu duduk bergabung dengan keempatnya di atas lantai, "Baiklah... biar mama yang coba, Ya." ucap Eva dengan percaya diri.


"Baik... Ma. Siapa tahu dengan jari Mama, pionnya Papa pada keluar." sambung Rava dengan girang.


"Okey... Ayo kita coba." ucap Eva lalu menekan tombol star.


Dan benar saja, kedua dadu yang terlempar menunjukkan angka dobel yang berjumlah dua belas. Sontak semuanya terkaget.


"WOW... Amazing Ma." ucap Vara.


"Bibi hebat." sambung Harsen dengan menepuk kedua tangannya.


Raka menarik tangan Eva dan menatapnya dengan mata yang serius, "Iya sayang... Bagaimana mungkin, sekali sentuhan jari mu ini bisa mendapatkan angka dobel." ucap Raka berdecak kagum.


Raka mengikuti perintah sang Istri, lalu Rava mengatakan untuk melanjutkan lagi permainan sang Papa yang mendapatkan angka dobel itu.


"Sayang... Tekan lagi. Aku padamu, baby." celetuk Raka girang.


"Yeee... Papa, maunya ini." Vara menggerutu.


"Kamu jangan cemburu sayang, Mama mu ini Dewi keberuntungan, Papa." balas Raka dengan lembut.


"Siapa Dewi? Aku Eva, Pa." sambung Eva dengan protesnya.


Seluruhnya di buat tertawa oleh Eva, terkecuali Raka. Mulut Raka terngangah dan menatap Eva dengan aneh, Raka mengulurkan tangannya dan menempelkannya di kening Eva.


"Apa oonmu, kambuh sayang?"


Eva menepis tangan Raka, "Apaan sih kamu, aku masih waras tahu!."


"Kok jadi berantam sih, ayo Ma buruan mainnya." perintah Rava yang tidak sabaran.


"Baiklah sayang, kau tidak sabaran sekali." balas Eva lalu menekan star pada layar tablet.


Kembali lagi dadu itu mengeluarkan angka dobel berjumlah dua belas.


"Gilaaaa... Mama benaran hebat." Vara terpukau.


"Kau baru menyadarinya sayang? Karena itu, Papa sangat mencintai, Mama kamu" ujar Raka dengan bangga.


"Rezeki Papa ada di Mama, ya kan Ma?" tanya Rava.


"Benar... Bibi hebat banget, Harsen salut." sambung Harsen mengangkat jempolnya.


"Kau terlalu memuji Bibi, Nak." serunya ke Harsen.


"Ayo... Buruan Pa. Keluarkan Pionnya." perintah Rava.


"Okey..." Raka kembali mengambil Pion yang sudah berjumlah dua itu.


"Ayo Ma, sekali lagi." ucap Vara.


Dan untuk yang ke tiga, dadu yang keluar berjumlah tiga, jadilah Raka menjalankan pionnya untuk pertama kalinya.


"Terima kasih, baby." Raka mengecup pipi Eva.


"Idih... Papa genit." ucap Vara.


Dengan cepat Raka berpindah mengecup pipi Vara.


"Agh Papa...."


"Kenapa? Apa Kau sudah tidak mau di cium, Papa mu?"


"Bukannnn... Pa. Vara kan sudah gadis, harusnya cowok Vara dong yang cium Vara."


"Halah... Mau kamu saja." sambung Rava.


"Nyonya... Tuan Defan sudah datang." Bi Marni memotong suasana bahagia mereka.


"Wah sudah datang... Ayo semuanya. Vara sangat merindukan Alice." Vara dengan cepat berdiri dan berlari ke arah pintu.


"Ayo..." ucap Rava dengan malas.


Rava sebenarnya malas, kenapa? karena dia masih merasa sedih dengan kepergian Renata. Dan sekarang, malahan Defan yang berada di posisi tahap kebahagiaan karena cinta.


Harsen, Eva, Raka dan juga Rava, bersamaan berjalan untuk menyusul Vara yang sudah tidak tampak. Berjalan bersama ke pintu utama untuk menjamu tamu mereka.


Saat semuanya sudah di depan pintu, Alice yang sudah bersama dengan Vara mendekat ke arah yang lainnya. Defan sendiri, menemani mama Alice yang hendak melangkah ke arah pintu masuk.


Semuanya menyambut Alice dengan hangat, dan saat melihat Mama Alice, Raka dan Eva membelalakan mata mereka. Betapa kaget keduanya, orang yang sangat mereka kenal, gadis yang di depan mata mereka. Saling pandang dan berpindah pandangan. Rava, Vara, Alice maupun Harsen juga Defan, memandang kepada orang tua itu dengan bingung. Siapakah mereka?


.


.


Jangan lupa tekan Like dan VOTE. Tolong bantu masuk ke ranking 10 besar ya. Kalau enggak masuk, mak malas update... kwwkwkek... selamat malam All 🥰