My Chosen Wife

My Chosen Wife
HARI LAHIRAN 01.



Dua  Bulan Kemudian.


 


 


Pagi ini, Renata sudah meminta banyak hal ke Rava, karena kakinya yang sudah membengkak, perutnya yang sudah semakin membesar, rasa yang semakin lelah efek kehamilan tuanya pun, mulai dia rasakan.


 


 


Keinginan yang sudah di jadwalkan Renata dari kemarin, sehingga Rava memilih untuk cuti lagi, karena juga sudah hampir waktunya sang istri melahirkan. Tentu dia memilih berjaga-jaga dan siap siaga di dekat Renata. Wajar sih, di rumah mereka tidak seperti di awal kehamilan Renata adanya Defan di dekat mereka.


 


 


Jadi, ini jadwal yang di minta Renata ke Rava.


*Jalan pagi.


* Salon


* Makan Pizza


* Shopping


 


 


 


 


Hanya itu saja, list yang dia berikan ke Rava, dan Rava juga langsung menyetujuinya. Senang sih setidaknya Rava bisa menghargai lelahnya sang istri atas dasar korban dari keganasan nya di setiap malam saat mereka bergelut. Jadi, itu  mah masalah sepele pikirnya.


 


 


Eva dan Raka yang juga sudah tinggal  seminggu bersama Renata dan Rava, karena mereka ikut menunggu hari lahiran Renata, yang di prediksikan Dokter , hanya empat hari lagi. Bukan hanya Eva dan Raka saja yang gelisah, seluruh dari keluarga mereka, turut menanti, generasi baru dan pertama di tengah-tengah mereka.


 


 


Hanya saja, semalam, Rava dan Eva izin untuk kembali pulang ke rumah mereka. Alasan Raka saat itu, ada sesuatu yang hendak di kerjakan secara mendadak. Dan jadilah, semalam Renata dan Rava hanya di temani orang-orang pekerja rumah mereka.


***


 


 


“Kita sambil dengarin musik, sini aku pasang.” Rava menarik lengan Renata dengan lembut, denan membawa play musik mini, yang dia punya, Rava menempelkan salah satu headseat ke kuping Renata dan satunya lagi, ke kuping Rava.


 


 


Setelah keduanya sama-sama terpasang, music pun di putar dengan mode normal. Lalu, keduanya berjalan, mengelilingi komplek perumahan di mana mereka tinggal. Rava dan Renata, sama-sama menikmati keindahan pagi itu. Menikmati, suara desiran angin yang berhembus di daunan pepohonan di pinggiran jalanan komplek, dengan di barengi musik klasik dari play music.


 


 


Perasaan ibu hamil itu sangatlah teduh, kedua matanya terpejam sejenak, menikmati lantunan merdu dari musik dan alam. Bau pagi itu pun, sangat menenangkan hati dan jiwanya. Bagi Rava,ini adalah momen berharga yang dia miliki saat ini. Setidaknya, waktu yang dia berikan untuk sisa-sisa masa kehamilan sang Istri adalah yang terbaik untuknya. Apa lagi, perjuangan seorang Ibu itu, baru di sadari Rava, betapa  berharga dan hebatnya wanita-wanita di seluruh muka bumi ini. Kekuatan, semangat, cinta, waktu dan seluruh tenaga, di perjuangkan mereka sepenuhnya untuk satu makhluk hidup yang berbagi hidup di dalam rahimnya. Itulah yang di sebut, “IBU”.


 


 


“Apa kau senang?” tanya Rava tiba-tiba.


 


 


Kedua mata Renata terbuka dan ada senyuman di bibirnya.


 


 


“Sangat senang, ini seperti sebuah  mimpi  indah yang panjang, dan akan berakhir dengan kebahagiaan. Apa kau sudah membayangkan, ada suara tangisan di tengah-tengah kita nantinya?” tanya Renata dengan bersemangat.


 


 


“Sudah, aku suda membayangkan, bagaimana nantinya, Aku akan bergantian terjaga denganmu. Menggendongnya, menimangnya, membantumu membersihkannya,  bahkan memandikannya. Apa itu bayangan yang normal bagi para papa baru seperti aku?” tanya Rava, dia tersenyum.


 


 


Renata lagi-lagi tersenyum, senang sekali dia.


“Mungkin saja wajar, aku juga kadang berpikir seperti dirimu. Kalau begitu, aku tidak akan kelelahan, bila Aku bisa sering berbagi waktu denganmu.” kata Renata merasa bersyukur.


 


 


“Harus dong. Bukankah kita sama-sama membuatnya, jadi itu suatu keharusan untuk kita dalam bersama-sama membesarkannya, memberikan cinta ke bayi kita juga sama-sama. Ini yang di ajarkan papa dan mama ke Aku. Jadi, aku tidak akan membiarkan dirimu sendiri. Aku siap, untuk begadang tengah malam.” Rava berucap dengan semangat, kedua matanya terlihat berbinar.


 


 


Renata dia sudah  tersenyum mendengar dan menatap wajah Rava yang sangat  berbahagia itu.


 


 


“Aku sungguh bersyukur banget, bisa punya suami yang pengertian  kayak kamu.”  kata Renata.


 


 


“Aku yang bersyukur, di cintai dengan wanita kuat seperti kamu.” balas Rava.


 


 


Renata lagi-lagi tersenyum dengan berjalan kaki yang rasanya sudah sesak banget dia rasakan. Tapi adanya Rava di sisinya, semuanya bisa di lalui dan lewati dengan senyuman.


 


 


“Siap satu putaran lagi, kita kembali ke rumah, dan sarapan pagi, lalu kita ke Mall tempat salon langganan kamu.” kata Rava dengan menggandeng tangan Renata.


 


 


“Baiklah, Kamu memang yakin kan, mau nemani Aku ke salon? entar bosan loh?”


 


 


“Apapun maunya kamu, ini adalah hari special untuk kamu. Full, waktu nya Aku hanya untuk kamu. “ kata Rava dengan semangatnya.


 


 


“Yesss… Terima kasih suami terbaikku.” balas Renata dengan menggenggam erat tangan sang suami.


 


 


 


***


 


 


Kini, mereka berada di satu Mall terbesar di Jakarta. Dengan menggunakan stelan berwarna  biru yang sama dengan dress sang Istri, Rava berjalan dan menggandeng hangat tangan sang Istri. Sungguh bersemangat sekali pikirnya Renata, tidak tampak raut kelelahan dari wajahanya, dia terus  bersemangat untuk menikmati momen yang sempat terhenti sejak dia mengandung anak pertama mereka.


 


 


Di sinilah mereka berada, di depan pintu salon, tempat di mana Renata merawat tubuhnya. Kali ini berbeda, ada Rava yang  menjadi pengawalnya. Setelah sang Istri duduk dan mulai di layani oleh salah satu staff kecantikan di salon itu, Rava pun mendudukkan dirinya tidak jauh dari Renata. Tempat tunggu khusus papa muda yang tampan seperti dirinya.


 


Dengan tangan menggenggam satu majalah, kaki satu terangkat bertumpuh dengan kaki lainnya, Rava serius sekali membaca majalah di hadapannya. Renata yang melihat itu, tersenyum bahagia, tak banyak pula yang memberikan pujian ke Renata seperti para staff yang melayaninya, kagum akan sang suami, karena bisa membawa suaminya ke dalam salon dan menunggunya sampai selesai di layani.


 


 


“Sungguh sangat senang sekali dia.” kata Rava, saat mendapati Renata tersenyum ke arahnya, dari pantulan kaca yang memperlihatkan busa-busa putih di kepalanya.


 


 


“Tunggu ya.” kata Renata tanpa bersuara.


 


 


Rava pun membulatkan jari-jarinya membentuk tanda oke.


 


 


 


Satu jam berlalu, meskipun sesekali Rava menguap, tidak ada wajah kebosanan yang terlintas di setiap wajahnya. Dia benar-benar memprioritaskan Renata satu hari itu. Tiba-tiba, Renata berdiri di hadapan Rava. Tampak wajah sang Istri yang sangat segar, dengan rambut panjang yang sudah tertata rapi, membuat kedua manik mata Rava ingin memuji.


 


 


“Kenapa bertambah cantiknya?” kata Rava sambil menarik kedua lengan Renata dan membawanya ke arah Rava dengan manjanya.


 


 


“Ssssttt… Ini di tempat umum loh. Kok kek mau mesum.”


 


 


“Dih, Istri gue ini. Kenapa harus berpikir seperti itu? kan aku cuma mau mengelus perut Istriku saja.” Rava semakin mendekatkan tubuh Renata ke arah dirinya yang sedang duduk.


 


 


“Dek.. kamu di sana gimana? sama gak sama mama kamu? senang gitu? papa temani di sini, di salon, mama kamu di renovasi sayang.” kata Rava ke perut Renata yang sedang di genggamnya.


 


 


Renata refleks memukul pelan tangan Rava.


 


 


“Ngasal ini kamu namanya! masa iya di renovasi.” kata Renata protes.


 


 


“Terus di apai-“


 


 


“Aghhhhhh…. aduh kok sakit banget tiba-tiba?” suara Renata merintih kesakitan.


 


 


Refleks Rava berdiri.


 


 


“Serius ini? ini benaran kan?” suara histeris Rava membuat semua orang yang di dalam salon ikut melihat ke arah mereka.


 


 


“Sepertinya sih iya, kayak kontraksi ini.” kata Renata lagi.


 


 


“Bawa langsung ke rumah sakit Mas, siapa tau Mba Renata menjelang harinya.” ucap salah satu staff salon


 


 


“Oh iya, Terima kasih Mba.” balas Rava.


 


 


“Ayo sayang, kamu masih bisa berjalan kan? sini berikan tas kamu, biar Aku yang pegang.” Rava pun mengambil tas Renata  dan mengalungkannya ke tubuhnya. Kemudian, dengan berhati-hati, menggandeng Renata dan menuntunnya untuk keluar dari Salon menuju lift.


 


 


Bagaiamanakah selanjutnya? apakah Renata akan melahirkan sekarang? hehehehe, lahiran dong. Kan hari ini tamatnya ya, terus anaknya cewek apa cowok ini ^^ Jangan lupa di bantu VOTE untuk detik-detik terakhir ya. Mungkin 1 bab lagi untuk nanti malam, terus sesuai batas VOTE terakhir di jam 23:00, Wedding Ring langsung update. Di tunggu ya, oh ya cuma sekilas aja ini, bab awal dari Wedding Ring itu, kisah nyata dari salah satu teman online yang sudah aku anggap kakak, dan itu di barengi dengan kisah gak nyata juga, tapi tetap ada kisah nyata yang bakalan ikut di ceritakan.  ^^