
"Kakakkkkkkkkkk." suara cempreng Vara terdengar sangat menggelegar di ruangan tamu.
Vara berlari dengan lincahnya menghampiri Renata. Renata yang mendengar suara Vara di buat senang bukan kepalang. Rasanya, sangat bersyukur adanya Vara di rumahnya. Vara yang melihat Renata, langsung memeluk tubuh Renata.
"Vara sayang, kok sudah pulang?" Renata membalas pelukan Vara dengan seulas senyuman yang menghiasi wajah pucat Renata.
"Demi Kakak iparku, Vara ke sini." Vara memejamkan matanya menikmati kehangatan pelukan Renata.
"Apa yang membuat kamu begitu senang?" Rava menyaut dari samping.
Vara melonggarkan pelukannya dan menatap sinis ke Rava.
"Semuanya karena kak Rava! Kakak gak tau apa! Vara sanga susah menghubungi kak Renata. Keterlaluan banget sih Kak, sampai ponsel juga gak bisa pegang. Vara sangat marah, saat tau dari mama. Kakak pikir itu enak?" Vara berkacak pinggang.
"Maaf, saya permisi kembali ke perusahaan, Pak Rava, Bu Renata." Momo menyelah pembicaraan mereka.
"Oiya, kamu naik apa Mo?" tanya Rava.
"Saya naik taxi Pak Rava." balas Momo sungkan.
"Ouuu... Baiklah, hati-hati." balas Rava dengan seulas senyum.
Setelah Momo pamit dari ketiganya, Rava melirik ke Renata.
"Kenapa?" tanya Rava mendapatkan lirikan dingin dari Renata.
"Kenapa di liatin mulu? Mau di anteri?" sindir Renata.
"Emangnya di izini kalau Aku mengantarkan Momo?" Rava membalikan pertanyaan Renata.
Renata menatapa sinis.
"Awas saja kalau kamu berani! Aku gak bakalan tinggal diam gitu aja!" ketus Renata.
"Benar! Awas aja Kak Rava, macam-macam di belakang kak Renata, akan berhadapan dengan Vara!" ancam Vara.
"Dih, kenapa kalian berdua kompak banget, kan jadi takut mau macam-macam." sindir Rava dengan tawanya.
Kedua mata Renata masih melotot.
"Ayo Kak ke atas, suamimu kumat gilanya Kak." ajak Vara.
"Woi... enak aja kamu. Kamu ke sini sama siapa Vara?" Rava mencoba mengikuti Isrtri dan Adiknya yang akan berjalan menuju anak tangga.
"Kakakkakakakakak." suara Defan menghentikan langkahan mereka.
Rava memutar tubuhnya ke arah suara. Dan langsung mendapatkan pelukan dari Defan dengan mesra.
"Kakakku sayang, Aku sangat merindukan dirimu. Jauh sebelum Aku berada di sini." Pelukan Defan seakan menyiksa perut Rava. Mana kepala Defan, sengaja di tempel di atas perut Rava.
"LEPASKAN! Kau ini sangat menyusahkan!" ketus Rava.
"Peluk terus Fan! Kakakmu ini Resek." Renata menambah hasrat keinginan Defan menggebu-gebu.
"Kamu kok gitu sih sama Aku , sayang?" wajah ketidak nyamanan dari pelukan Defan, tampak di raut wajah Rava.
"Habisnya sih, kamu ngeselin. Sudah ngeselin, bau lagi." Renata menatap dingin.
"Astaga, kenapa istri sendiri-pun tidak berpihak padaku." rengek Rava.
"Ada Defan kok Kak, tenang aja. Defan akan setia dengan kak Rava. Kak Renata lewat..."
"Dih, Kakak masih normal! lepaskan!" ketus si Rava.
"Astaga Fan! Lo keterlaluan ya, tinggali bebeb gue. Sendiri lagi bawa semua belanjaannya." Vara berjalan menghampiri Harsen yang berjalan membawa beberapa kantung jajanan.
Plukkkkkk...
"Lepasan gak!" mata Rava melotot.
"Astaga, galak amat sih! Gak tau apa, ini datang dari jauh-jauh. Malahan tidak di layani, di tindas lagi sama pemilik rumah." rengen Defan sambil melepas pelukannya.
"Habisnya sih kamu! Datang sama Harsen malahan di tinggali" kata Rava ke Defan.
"Habisnya, Defan kangen banget loh sama Kakak. Segitunya banget sih sama Defan kak." Defan merunduk sedih.
"Jangan drama deh, Fan. Kalian bertiga, sebenarnya mau apa ke sini! ganggu ketenangan kakak kalian aja." Rava menunjuk satu persatu dari ketiganya.
"Kakaku sayang, kami nih ke sini mau menghibur Kak Renata. Lihat ini," Vara menunjukan barang belanjaan yang di bawa Harsen dan sudah berpindah sebagian di tangan Vara. Harsen mengikuti Vara yang menjukkan belanjaannya.
"Benar Kak..., bukan mau ketemu sama Kakak. Tapi Kak Renata. Habisnya sih Kakak , kejam banget sama Kak Rena." Defan mencebikkan bibirnya.
"Kejam gimana? Kalian gak tau rasanya jadi Kakak. Kakak kalian kandungannya lemah! Wajar, Kakak seperti ini, kenapa dari kalian satu-pun gak ada yang mau mengerti sama Kakak." ketus si Rava.
"Dih, kok jadi galak sih?" Renata menatap Rava kesal.
"Hahahaha... ciut nih." ledek Defan.
"Ayo Kak, kita mau menonton di mana?" Harsen membuka suara.
"Kalian mau nonton?" Rava terkaget.
"Iya Kak, Defan yang punya ide." balas Harsen.
"Pasti konyol!" kata Rava dengan sudut mata yang mengerut.
"Tenang saja Kak Rava! selama Defan ada di sini, Defan akan menjaga Kak Renata dengan setulus hati Defan." Defan berkata dengan gaya yang bisa di andalkan.
"Maksud kamu?" Rava mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya Defan tuh Kak, Defan selama tiga bulan akan tinggal di rumah ini, untuk menemani Kak Renata." balas Defan.
"Apaaaaaa!" jerit Rava seakan tidak percaya.
"Dih, biasa aja gak usah lebay Kak." Vara menimpali.
"Kenapa jadi mau tinggal di sini selama 3 bulan?" tanya Rava bingung.
"Mama yang suruh Kak..." balas Vara lagi.
"Mama? untuk apa?"
"Untuk jadi baby sitternya kak Renata! Ya untuk menemani kak Ranata dong." balas Vara lagi.
"Astaga, mau jadi apa dia kalau di sini selama tiga bulan? mama kenapa gak tempatkan Defan di rumah sana sih? hitung-hitung bantui mba Kiky." Rava merasa keberatan.
"Kak Rava, Defan bela- belain cuti dari kampus selama tiga bulan lamanya dan Ldr dari Alice. Kenapa gitu banget sih?" rengen Defan.
"Sudalah, nanti saja di bicarakan. Kakak sudah gak sabaran nonton bareng kalian, makan friend fries, ayam crispy dan minum jus jeruk." Renata mengajak Defan dengan merangkul Defan sambil berjalan menuju anak tangga.
Vara dan Harsen yang saling merangkul pinggang, berjalan menuju anak tangga. Sedangkan Rava, ngenes melihat ke arah keempatnya yang tidak sepemahaman dan sepemikiran dengan dirinya.
Di ruangan keluarga, di mana Renata menggiring seluruhnya untuk bersantai dan menonton film yang sudah di persiapkan oleh Defan. Dengan makanan, minuman seperti di bioskop-bioskop, Defan menyulap ruangan keluarga itu menjadi bioksop. Seluruh jendela di tutupi dengan kain jendela, sehingga tidak ada cela untuk cahaya masuk ke ruangan mereka.
"Jangan berdiri saja, ayo duduk di sini." Renata menepuk-nepuk sofa yang kosong di sampingnnya untuk Rava.
Rava yang semulanya hanya berdiri dari depan pintu, menatap seluruh adik-adiknya yang berusaha memberikan hiburan untuk sang Istri, sebenarnya sangat terharu. Mau menangis malu, entar di kata sebelas dua belas dengan si Defan.
Mau tidak mau, Rava berjalan mendekati Renata. Ia duduk di samping Renata yang tengah asik menyantap popcorn.
"Ini punya kamu, jangan bersedih. Mereka semua ke sini juga menghibur Aku. Jadi, kamu harus berterima kasih ke adik-adik kamu, karena menggantikan kamu memberikanku penghiburan." kata Renata dengan menyodorkan kotak popcornnya.
"Iya deh, Iya. Aku jadi di nomor duakan ini ceritanya."
Rava menatap dalam ke wajah Renata yang memang lebih bahagia dari sebelum mereka datang.
"Ayooo semuanya , pegangan. Film-nya mau di mulai ini," seru Defan.
"Film apaan Fan?" tanya Vara penasaran.
"Liat aja sendiri." balas Defan acuh.
Defan mulai mengutak atik tombol dari remot tv layar datar di depannya. Dia lebih memilih untuk duduk di bawah, karena dia sadar, dia itu jomlo di antara keempatnya.
"Awas aja film horor! Gua campak lo ke rumah tetangga!" ancam Rava.
"Enak tuh, karena rumah tetangga lebih hijau." sambung Defan.
Plaaaakkkkk...
"Itu rumput dodol!." Vara melempat bantal sofa ke arah Defan.
"Sibuk amat sih Lo, Vara. Mau nonton gak! uda mau mulai nih." ketus si Defan ke Vara.
"Mauuu lah.. ngancam pula lo!"
"Sssstttt... sudah mau mulai." kata Renata.
Harsen, Vara, Renata, Rava, menatap layar TV dengan kedua mata yang serius. Sampai pembukaan film, keempatnya di buat terperangah oleh Defan.
"Film apaaaaaan ini Defaaaaaaaaan."
Bersambung.
.....
Jangan lupa Tekan Like dan VOTE ya. Kalau ramai, mom usahakan 2 bab hari ini...🥰 Terima kasih semuanya kesayangan Mom 😘