
Semakin hening, hanya ada Defan seorang di perlintasan jalan yang sepi, rasa bingung mulai berkecamuk di hati dan pikiran Defan. Kedua manik mata Defan mengitari setiap sudut jalanan. Ke Kiri dan ke kanan, tak juga di temukan di mana titik Harsen menghentikan tujuannya.
"Gue liat tadi ke arah sini." tunjuknya ke sisi kiri.
Tiba-tiba, Defan menghentikan mobilnya. Dia berpikir sejenak, dan langsung mematikan mesin mobilnya hingga suasana benar-benar gelap dan mencekam.
Defan langsung saja mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Whatsapp Rava.
Defan.
✔ Kak... ini lokasinya. Tolong segera datang bersama team ke amanan. Karena perasaan Defan benar-benar tidak enak. Sekaligus, bawa team medis Kak, kali aja ada apa-apa dengan Vara dan Kak Rena.
Tidak beberapa lama, pesan itu terbaca.
✔Baik Fan, Kakak tidak jauh dari lokasi yang kamu berikan.
Defan menyimpan ponselnya dan menyalakan mobilnya hingga menepikannya di pinggiran jalan yang sepi. Saat hendak turun, kaki Defan melempar jatuh sesuatu, Defan memungutnya.
"Siapa tau aja berguna." gumamnya pelan.
Defan bergegas turun dari mobil, kemudian berjalan sedikit tanpa menimbulkan suara, hingga dia tiba di depan mobil Harsen. Mengendap-endap masuk ke dalam halaman rumah tanpa gerbang itu.
Suara samar-samar terdengar dari dalam.
"Lepaskan Harsen, Ansel. Lo gak punya hati sama sekali!" teriak Vara ke arah Ansel.
Kini tubuh Harsen sudah di gantung dengan tangan ke atas. Tubuhnya lemas, tapi kedua matanya menatap Vara yang sudah menangis hingga wajahnya memucat.
"Ayooo.. bagaimana Sen? Lo sudi gak kiranya menceraikan Vara buat gua?"
"Gilaaaa! Sampai gua mati juga gak akan mau sama Lo!" teriak Vara.
"Sabar Vara, gua masih tanya pendapat Suami lo yang tercinta. Bagaimana Harsen?"
Harsen tertawa kecil dan mengangkat wajahnya ke arah Ansel.
"Sampai gua mati, pun gua gak akan rela Vara hidup sama Lo!" teriak Harsen.
"Hahaha... gua kagum sama lo, Sen! Kesetiaan lo berdua memang sangat di acungi jempol. Baiklah, kalau begitu turunkan dia, buat dia tersungkur di hadapan gua." perintah Ansel dengan marah.
Seluruh pekerja Ansel, menurunkan Harsen sesuai perintah Ansel. Vara semakin takut, dua orang yang di sayanginya sama-sama terbujur kaku di depannya. Vara berpikir apa lagi yang akan di lakukan Ansel terhadap suaminya.
Setelah ikatan terlepas, Harsen di giring ke depan Ansel daan di buat berlutut di hadapannya. Vara benar-benar mengutuk perbuatan Ansel terhadap suaminya.
"Gimana? lo mau gak memohon ampun ke gua? Atau iklaskan Istri lo buat gua. Atau, kalau lo mau nyawa lo melayang, gua kabulkan buat lo."
Darah yang menetes dari setiap wajah Harsen mengiringi wajahnya yang terangkat ke arah Ansel. Walaupun rasa sakit menimpa seluruh tubuhnya, Harsen tidak akan menyerah begitu aja.
"Walaupun nyawa gua melayang, gua gak akan pernah memohon sama orang brengsek seperti lo! Apa lagi mengiklaskan orang yang terpenting dalam hidup gua! dan gua gak akan memberikan yang bukan menjadi hak lo! " teriak Harsen di sisa lelahnya.
Ansel menggeram, beranjak berdiri dan menginjak badan Harsen.
"Masih punya nyali lo!"
"Pria brengsek! Kalau saja lo sendiri! sudah habis lo di tangan Kak Harsen. Beraninya main kroyokan lo!" teriak Vara.
"Berisik lo! Buat dia berdiri!" perintah Ansel lagi.
Harsen pun di angkat oleh kedua pekerja di Ansel, dengan berdiri di depan Ansel, kedua mata Harsen menatap penuh kebencian, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.
Ansel menarik kera kemeja Harsen dan menatap dalam ke arahnya.
"Sekali lagi gua tanya sama Lo! lo mau memohon ampun sama gua apa enggak!"
Harsen tertawa dalam lemahnya.
"Gua gak akan memohon sama lo! Meskipun gua mati di tangan lo!"
Ansel melepaskan kasar kera baju Harsen, tangannya bersiap untuk memberikan bogeman mentah ke arah Harsen hingga satu pukulan mengenai wajah Vara yang sebelumnya berlari cepat untuk melindungi Harsen.
Brugggggggggg...
"Vara." gumam Ansel melihat Vara yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Harsen.
Ada cairan darah yang keluar dari sudut bibir Vara jelas terlihat di kedua manik mata Ansel hingga membuatnya merasa bersalah, tangan Ansel ingin menyentuh bibir Vara.
"Jauhkan tangan kotormu!" teriak Vara dengan kedua mata melotot, "Kau itu kotor! kau bukan manusiaaaaaaa!" teriak Vara dengan kuat.
Harsen menyentuh lengan Vara dari arah belakangnya. Harsen yang tau, Vara melindunginya, merasa bersalah akan diri Istrinya.
"Vara, jangan mer-"
Brrrrrraaaaag....
Semua mata melihat ke arah pintu yang di sepak dari luar, hingga pintu itu terhempas ke atas lantai.
"Angkat tangan kalian semua!" satu pistol di arahkan ke arah seluruh pesuruh Ansel hingga ke Ansel. Dengan perlahan, Defan mulai melangkah ke arah mereka.
"Anak ingusan! kau datang juga! Bernyali juga Kau ini!"
"Tutup mulutmu! atau ku tembak mulutmu yang bau itu!" ketus Defan dengan mengarahkan senjatanya ke Ansel.
"Habisi dia! kenapa kalian cuma diam!" Ansel memerintahkan keenam pria tadi.
"Tapi Bos! dia punya senjata." kata salah satu dari mereka.
"Kau punya broti!"
"Jangan ada yang bicara! Kalian masih bisa menggosip! Angkat tangan kalian, kalau benar-benar mau aman!" perintah Defan lagi.
Keenam pria tadi benar-benar mengangkat tangan mereka.
"Kau juga cebol! kenapa kau diam! Kau pikir ini senjata main-mainan! Apa mau gua tes, langsung gua tembak ke jantung lo?"
Ansel merasa takut, kenapa sebelumnya tidak kepikiran membawa senjata pikirnya.
"Fan, tolongi Kak Renata sama Kak Harsen. Mereka benar-benar butuh pertolongan medis Fan." rengek Vara.
"Lepaskan ikatan Vara dan Kakak gua! cepattttt!" teriak Defan dengan geram.
"Lo anggar jago sama gua! sementang lo punya senjata! kalau lo mau, lawan gua pakai tangan kosong!"
Defan tertawa.
"Sebentar! jangan marah dulu, lo itu sama kek adik lo. MURAHAN! Ya wajar sih, satu pabrik!" sambung Defan lagi.
"Jangan bawa-bawa adik guaaaaa!" teriaknya.
"Lo, emang benar kok! Vara juga mau di perkosa karena adik lo pekok! Jadi, liat aja kelakukan keluarga lo."
Defan menatap Ansel penuh tawa kemenangan, kedua matanya berkedip-kedip seakan mengejek Ansel dan berjongkok dengan bertopang dagu menatap Ansel. Sebenarnya Defan sedang mengulur waktu, karena menunggu kedatangan Rava yang hampir sampai, sesaat Defan mendapatkan pintu masuk.
"Cepat hajar dia!" teriak Ansel lagi.
Keenam orang tadi pun hendak mendekati Defan. Refleks Defan berdiri dan mengarahkan senjatanya lagi dan menghentikan keenam pria tadi.
"Gue kasi tau sama lo ya, bapak-bapak berbadan gendut! Ada baiknya lo pada itu diet, biar kurus. Sebelum kita pukul-pukulan, temani gue joget yok. Pakai lagu india gitu."
Semua mata keenam pria itu saling memandang dan hendak berjalan ke arah Defan.
"Sebentaarrr! gua kan belum putar musiknya!" ucap Defan dengan mengambil ponselnya dan menyentuh-nyentuh layar ponselnya.
"Kak Ravaaaa... masuk sekarang Kak!" teriak Defan ke ponselnya yang sebenarnya sedang melakukan panggilan ke Rava, dengan menangis.
"Sial!" Ansel bergegas untuk melarikan diri, karena dia yakin di luar sana sudah ada orang lain.
"Bos! gimana kami bos?"
"Pergi dari sini!" ucap Ansel hendak berlari, sedangkan pekerjanya sudah berlari duluan.
Defan menarik lengan Ansel dan menangkap tubuh Ansel hingga menindihnya.
"Mau lari ke mana lo!" kata Defan dengan mencekik leher Ansel.
"Lepaskan gua!" Ansel meronta.
Defan yang sedang bergelut dengan Ansel, terlepas hingga Rava yang barusan datang medapatkan Ansel langsung melayangkan bogeman mentah, saat kedua matanya melihat Renata dan Harsen.
Rava yang tersulut emosi menindih tubuh Ansel yang tersungkur karena satu pukulan Rava. Dengan bertubi-tubi Rava memberikan bogeman demi bogeman ke arah wajah Ansel.
"Mati aja lo!" kata Rava dengan bringas.
Defan ketakutan sendiri melihat Rava yang bernafsu memukuli Ansel dengan emosinya. Sedangkan di luar, para team keamanan berhasil meringkus para pesuruh Ansel, sesaat setelah mereka keluar dari pintu. Di bantu Varel, Leo dan Jimmy yang barusan tiba.
Harsen dengan sisa kekuatannya, membuka ikatan tangan Vara. Susai ikatan tali Vara terlepas, Vara menoleh ke Harsen yang menatap wajah Vara dengan rasa beryukur.Tangan Harsen yang penuh luka terangkat dan mengusap darah dari sudut bibirnya.
"Kak... bertahanlah sedikit lagi. Kak Rava sudah datang. Vara lihat keadaan Kak Renata dulu Kak" Vara menggengam tangan Harsen dengan buliran air matanya yang terus mengalir.
Harsen tersenyum. Kemudian dengan cepat Vara berlari ke arah Renata. Dan melepas ikatan tangan Renata.
"Kak Rena. Bangun Kak.... Kak Rava sudah datang." ucap Vara menyemangati Renata. Kedua mata Renata yang tertutup akhirnya terbuka.
"Rava." gumamnya di sisa kekuatannya.
"Iya Kak... Ayo Vara bantu." Vara mencoba membantu tubuh Renata, tak lama James datang dan membantu Vara.
"James? Kau datang?"
"Maaf Vara, kami sangat telat. Kami juga baru dapat lokasi kalian dari Defan. Nanti saja kita bicarakan, Kau bantulah Kak Harsen. Team medis sudah hampir sampai."
James dan Vara sama-sama membantu tubuh keduanya untuk berjalan keluar. Tidak lama berjalan, team medis sudah datang dengan membawa brankar dorong untuk Harsen dan Renata, hingga membawa keduanya keluar dari ruangan.
"Kakkkk! Sudah Kak!" teriak Vara saat wajah Ansel sudah babak belur hingga mengeluarkan darah.
"Dia harus mati di tangan gua! lo melukai semua orang yang gua sayang!" teriak Rava.
"Kak... ingat kak Renata. Ingat bayi Kakak, kalau Kakak di penjara! kasihan kak Renata, Kak." Defan berjongkok sambil merengek ke Rava.
"Rava!" teriak Varel.
"Sudah Nak...Sudah!" Varel menarik tubuh Rava dan mendekapnya.
Rava meneteskan air matanya. "Rava bodoh Pi! Tidak mampu bertindak cepat!"
"Jangan seperti itu Nak. Kita semua sudah berusaha, sekarang Kau pergilah temani Renata ke Rumah sakit, biar Papi yang urus di sini semua. Papamu yang menemani Renata di dalam Ambulance, Paman Leo juga ikut menemani Harsen. Kau bawalah, Vara, James dan Defan. Biar Defan yang mengemudikan untukmu." perintah Varel.
"Bagaiamana keadaan Renata, Pi?" sesaat setelah sadar dari emosinya akhirnya Rava mencari Renata.
"Tidak bisa di pastikan Nak, Renata pingsan saat sudah masuk Ambulance. Ikut perintah Papi."
"Kalian semua, bawa Rava. Defan kamu yang mengemudi, langsung ke Rumah sakit dan obati luka-luka kalian. Ansel biar Paman yang urus, team keamanan sebentar lagi akan membawanya."
"Baiklah Paman." ucap Defan.
"Ayo Kak." ajak Vara dan Defan.
Setelah semuanya meninggalkan Varel beserta Ansel yang sudah setengah mati, bersama para team keamanan, Varel menatap Ansel dan perlahan berjongkok di depan Ansel. Kedua mata Ansel menatap Varel minta di kasihani.
"Apa kau puas!"
"To-to-long saya. Biarkan saya bertemu dengan keluarga saya." ucapnya dengan pelan.
Varel tertawa.
"Kau terlalu naif Nak. Umurmu masih muda, tapi perbuatanmu tidak mencerimkan jiwa mudamu. Saya jadi teringat dengan abang tiri saya! Seperti dirimu ini! Apa kau punya hubungan dengan mereka?"
Bersambung.
****
Mana VOTE nya anak-anak.... jangan bully Harsen dong. Namanya juga kalut, mom aja kalau ada berita gak baik panik dan bisa jadi linglung. Kasihan Harsenku di katai bodoh🤧
.
Yang kencang ya VOTE nya. Terima kasih semuanya kalian memang baik banget uda bantu mam naik ranking 🙏, jika ada salah kata dan kekurangan huruf akan di perbaiki.