My Chosen Wife

My Chosen Wife
RAPAT PARA TETUA.



"Bagaimana Kak?" tanya Frans.


 


"Mau bagaiamana lagi Frans, anakmu sudah jatuh cinta. Apakah anakmu tahu sebelumnya Alice itu anak dari orang jaman dulu ku?" tanya Raka dengan menatap pada Frans.


 


"Mantan Pak." jawab Jimmy cepat.


 


Raka menoleh ke Jimmy dengan tatapan tajam.


 


"Apa saya salah?" tanya Jimmy bingung.


 


"Tidak Jim....Kamu benar kok. Memang namanya Mantan, mana ada orang jaman dulu menyebut bekas kekasihnya." Eva menimpali.


 


"Sayang...." kata Raka dengan wajah sedih.


 


 


"Bang Raka... Jadi gimana? kenapa jadi sedih begitu?" tanya Frans ikut sedih.


 


 


"Agh... Gimana ya? Kalau ini sempat terjadi denganku, Aku sih melarang anakku. Tapi ini pada dirimu Frans, yang tidak memiliki masa lalu dengan keluarga Alice. Bagaimana sih kamu? Coba Delia, Apa tanggapan kamu?" Raka berpindah menatap Delia.


 


 


Delia menoleh ke Raka, "Hemmm.... Delia sih sama dengan perkataan kak Raka. Delia berpikir, Defan tidak tahu menahu juga soal masa lalunya kak Raka dan itu juga enggak ada hubungannya dengan Defan. Delia juga melihat ketulusan Mba Anet untuk mendekatkan dirinya pada keluarga kita, Alice juga menurut Delia anak yang sopan, anak yang layak sih buat Defan. Jika Mba Anet tidak mendidiknya dengan baik, bagaimana mungkin Alice memiliki tata krama, Apa lagi kata Defan, Rava dan juga Renata memberikan kesempatan untuk Alice mengecap pendidikannya. Bukankah mata Rava dan Renata selalu tidak pernah salah dalam memilih apapun yang menurut mereka baik. Rava yang selaku kakak bagi Defan, menjaga Defan selama dia di New York, bahkan memberikan izin untuknya dekat dengan Alice. Apa itu sudah lebih dari cukup buat Delia sebagai Mamanya yang juga tahu selama ini Defan belum pernah mengenalkan kekasihnya, baru Alice. Bukankah artinya Alice sangat Istimewa untuknya?" tanya Delia menatap seluruhnya.


 


 


 


"Benar juga yang di katakan Delia, saya sih setuju." ucap Casandra tiba-tiba.


 


 


"Benar... Aku juga setuju dengan yang di katakan Delia." sambung Eva.


 


"Aku juga." Rere buka suara, "Karena alasannya sama dengan Delia. Aku kenal banget sama Mba Anet di masa lalu, dan untuk yang sekarang, Aku pastikan dia sangat berbeda." kata Rere dengan tatapan serius.


 


"Walaupun Aku tidak mengenal Mba Anet, Aku rasa sejauh aku melihatnya sih orangnya baik." Anna menimpali.


 


 


"Benar sih yang di katakan Anna, kalian ingat saat kita bertemu terakhir kalinya di cafe?" tanya Varel ke Casandra , Eva dan Jimmy, "Bukankah ekspresi wajah Anet yang dulu dan sekarang sangat berbeda?" tanya Varel lagi.


 


"Benar sih Rel, Gua setuju sama Lo. Sudahlah orang-orangan salju! Kau tidak pernah bermasalah dengan Anet, buat apa Kau mempersulit anakmu sendiri? Toh yang punya kenangan masa lalu juga sudah melepaskannya dengan damai." sindir Jimmy ke Raka.


 


Raka menoleh dengan cepat ke wajah Jimmy, Jimmy pun langsung membuang pandangannya dari Raka. Ia gemetaran kalau kedua mata Raka sudah membulat dengan sempurna.


 


"Terus... siapa juga yang minta pendapatmu Marimar?" tanya Frans pada Jimmy.


 


 


"Eh bambank!!! bukankah kau sendiri yang meminta kami untuk berkumpul di sini? Malahan pake nanya lagi." Jimmy di buat esmosi dengan ucapan Frans barusan.


 


 


"Sudah... Jangan berteman." balas Varel.


 


"Bertengkar maksud Pak Varel?" tanya Leo ke Varel.


 


"Egh... iya itu maksud saya Pak Leo." ucap Varel hampir kesedak.


 


 


"Jadi keputusan ada di tanganmu Frans." kata Raka dengan tegas.


 


 


 


Renata yang menyusul Rava dan Defan dari depan pintu menuju kolam berenang ikut mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan di dalam ruangan. Tampak Rava menyentuh pundak Defan seakan menguatkan adik ingusannya yang sudah menangis sedih.


 


 


"Ada apa Noona?" tanya James ketika ikut menyusul.


 


 


"Agh... Sudah... biarkan mereka berdua. Kau tetaplah di ruangan tamu," kata Renata seraya berjalan ke arah tempat Rapat para orang tua.


 


 


 


Sesampainya Renata di depan pintu tempat rapat para orang tua, Ia pun membuka pintu dengan perlahan, tampak seluruh mata orang di dalam menoleh ke Renata.


 


 


"Renata." seru Casandra.


 


 


Renata berjalan mendekat ke tengah-tengah para orang tua. Ia pun membuka suaranya dengan penuh keyakinannya.


 


"Maaf Mama Mertua, Papa Mertua, dan seluruh orang tua yang Renata sayangi. Maafi Renata, turut ikut campur atas semua ini, terkhusus untuk Paman Frans dan Bibi Delia. Renata di sini, mau menjelaskan tentang Alice, bagi Renata Alice itu sangat baik kok Paman, anaknya tidak seperti paman bayangkan. Pertama kali Renata bertemu di Cafe tempat Ia bekerja, meskipun bukan anak dari kalangan orang berada, tapi setidaknya Alice bukan anak yang malas, dia giat bekerja untuk menghidupi bibi Anet dan dirinya sendiri. Seharusnya Paman bangga, kalau saja Alice bisa menjadi menantu Paman kan?" tanya Renata dengan berani.


 


 


"Renata." ucap Frans.


 


"Yang di katakan oleh Kak Renata benar adanya Paman." kali ini Vara di ikuti oleh Harsen masuk ke dalam ruangan.


 


 


Jimmy menatapi ketiganya, gawat ini namanya, si orang-orangan salju kena demo ini judulnya.


 


 


"Vara...." ucap Eva.


 


 


Raka menyentuh tangan Eva dan menggelengkan kepalanya.


 


 


"Ia Paman, Harsen juga setuju dengan yang di katakan Vara. Selama Harsen di New York, Alice tidak pernah sedikitpun mempengarui Defan dalam kuliahnya bahkan dalam keuangan Defan. Bukankah Defan selalu saja tidak punya uang? lebih jelasnya lagi, Paman Frans tidak memberikan uang bulanan lebih, malahan kak Rava yang menanggungnya." ucap Harsen tanpa berdosa.


 


 


Frans menepuk keningnya, langsung tahu, pada siapa dia bakalan berhadapan. Ia pun menoleh ke Raka dengan mendapatkan tatapan tajam dari Raka.


 


"Benarkah yang di katakan calon menantuku?" tanya Raka tegas.


 


"Bisa Frans jelaskan Bang Raka." ucap Frans takut.


 


"Benar Kak Raka, Frans memang tidak mau memberikan uang bulanan lebih, karena dia tidak setuju dengan jurusan yang di ambil oleh Defan. Delia saja di ancam untuk tidak memberikan Defan uang lebih, syukur Delia sampaikan ke Rava." kata Delia menatap kesal ke Frans.


 


"Astaga sayang... Kenapa kau jadi ikut cerewet?" kata Frans pada Delia.


 


 


"Katanya aja ya banyak uang, pengusaha terkenal. Tapi sama anak sendiri keterlaluan!" celetuk Jimmy dengan marah ke Frans.


 


 


"Kenapa jadi Kau yang marah!" ucap Frans lagi.


 


"Aku sama denganmu memiliki anak yang usianya gak jauh dari anakmu! Jadi aku bisa merasakan, bagaimana perasaan Defan di perlakukan keji oleh Papanya sendiri." ucap Jimmy lagi.


 


 


"Jim....kamu benaran marah nih?" bisik Leo pada Jimmy.


 


 


"Ya benarlah Pak Leo... Kan saya enggak lagi syuting darama Korea." jawab Jimmy cepat.


 


 


Leo pun tersenyum kecil, "Benar juga, maaf saya salah." bisik Leo lagi.


 


 


"Frans... Jangan mengekang anakmu. Jika Defan nyaman dengan jurusannya ,kenapa Kau memaksanya? bukankah dulu juga kau sama seperti itu? jadi tolong jangan membuatnya terus-terusan bersedih akan hal yang dia pilih. Ingat... Anakmu itu laki-laki, bukan perempuan." ucap Raka dengan tegas .


 


"Benar Paman... Saya setuju dengan semua yang ada di sini." kata Rava tiba-tiba datang dengan menarik tangan Defan yang sudah bersedih.


 


 


"Jika Paman tidak setuju, Paman juga berhadapan dengan Rava. Rava juga berhak, karena Rava Kakaknya Defan. Rava mau, yang terbaik untuk Defan, Paman." ucap Rava tegas.


 


 


"Benar itu Paman." James menimpali.


 


"Apaan itu yang benar James?" tanya Jimmy yang melihat anaknya ikut membuka suaranya.


 


 


"Benar apa ya?Enggak tahu Pa, James cuma ngikut doang." ucap James dengan menggaruk kepalanya yang enggak gatal.


 


"Sudahlah Frans... berikan keputusan kamu. Enggak lihat apa anakmu sudah menangis?" tanya Raka dengan menujuk Defan.


 


 


"Defan enggak menangis Paman." ucap Defan ke Raka.


 


"Terus itu apa? Apa kau lagi bernyanyi?"


 


 


"Tidak juga paman." balas Defan semakin terisak sedih.


 


"Astaga... kenapa dia rewel sekali nangisnya?" tanya Leo.


 


 


"Patah hati Pak Leo." jawab Varel berbisik.


 


 


Leo pun tetap menatap aneh ke Defan yang menangis haru itu.


 


"Mirip sekali sama Papanya." gumam Jimmy kecil.


 


"Teruss? Apa keputusanmu?" Raka kembali berdecak.


 


"Hemmm... Jadi keputusannya.... Ya sama sih, Aku juga terima." ucap Frans dengan santainya.


 


 


Seluruh mata menatap ke arah Frans, dengan tercengang sangkin anehnya.


 


"Sedari tadi sampai begini ramai, Kau secepat itu berganti pendapatmu?" tanya Jimmy.


 


 


"Iya... Aku cuma mau tahu kok pendapat kalian. Keputusanku sama dengan kalian." jawab Frans nyeleneh.


 


 


Dengan cepat semuanya berdiri ingin memberikan pelajaran atas apa yang di perbuat oleh Frans. Membuat semuanya ikut jantungan, hingga Vara dan Harsen di ajak turun oleh si James.


"Dasarrrrr... orang-orangan salju!!!" Jimmy beranjak berdiri ingin menampol si Frans.


 


Frans berlari menghindari dari kerumunan orang yang ingin mencekiknya. Terutama Raka, Kali ini Raka yang mengejar Frans hingga keluar ruangan.


 


 


Bersambung.


....


Hai para pembacaku tolong bantu VOTE ya.. Rank nya turun jauh. Maafkan saya hari ini lama up karena saya ada kendala. Semoga besok bisa kembali cepat update ya. Terima kasih, kalau ada salah kata akan segera di perbaiki 🥰🙏