
2Bab " Jangan lupa tekan like dan VOTE"
***
Dengan terburu-buru, Rava masuk ke dalam kamarnya. Tampak Renata sedang duduk bersandar di ranjangnya dengan menggenggam buku di tangannya, menoleh pada kedatangan Rava. Dahi Renata mengkerut, karena Ia merasa aneh dengan raut wajah Rava.
“Ada apa denganmu?” Renata menutup bukunya dan meletakannya.
“Agh… apa kau baik-baik saja my bunny?” tanya Rava seraya mendudukkan tubuhnya di samping Renata.
Renata memiringkan kepalanya dengan menatap aneh ke Rava, perasaannya ada yang tidak biasa dari Rava yang tiba-tiba memanggilnya pakai kata lain, Renata mengangkat tangan kananya dan menempelkannya ke kening Rava.
“Ssst.. Tidak sakit? Ada apa denganmu?” tanya Renata sendiri.
Rava menarik tangan Renata dan menggenggamnya, “Aku? Baik-baik saja, seperti yang kau katakan barusan. Apa aku terlihat sakit???” Rava menatapnya dengan senyuman menggoda.
“Kenapa kau panggil aku seeokor kelinci?” Renata mendekatkan wajahnya ke wajah Rava, menatap dengan menelusuri setiap gerak gerik mata Rava.
Rava tidak tahan dengan tatapan Renata, Ia pun memundurkan wajahnya, dan menjadi salah tingkah.
“Tidak… Aku hanya mau seperti mama dan papa, Vara dan juga Harsen. Kenapa mereka memiliki nama panggilan sayang, sedangkan kita tidak?” tanya Rava seakan malu.
Renata tersenyum, “Kau benaran ingin memilikinya?”
“Yah… Karena itu hal kecil yang membuat pasangan kita tersenyum, atau juga tertawa, apa aku salah Istriku?” Rava mengubah posisinya dengan duduk mendekatkan tubuhnya ke Renata serta merangkul pinggangnya
Renata menarik nafasnya, “Aku tidak menyangkah, Suamiku yang dingin ini, mendambakan nama panggilan untuk Istrinya. Kau itu dulu tidak peduli dengan hal-hal kecil semacam ini sayang. kenapa kau malahan menjadi sensitif? Bukankah kita juga tidak memiliki waktu yang lama dalam hubungan pacaran? Tidak pernah melakukan hal-hal yang di lakukan oleh sepasang kekasih pada umumnya, jangan memaksakan dirimu, Aku tidak mau kau menjadi risih” tutur Renata tanpa menoleh ke Rava, Ia kembali mengambil bukunya dan mencoba melanjutkan membacanya, meskipun Rava mendekap mesra tubuhnya.
Rava menggigit bibir bawahnya, “Kenapa kau malahan menjadi cerewet? Apa aku begitu payahnya dalam menjalin hubungan? Agh… Menyusahkan saja, rasanya aku tidak mengerti akan diriku sendiri.” Rava mencoba mengerti perasaan Renata.
Renata menoleh ke arahnya, “Jangan memaksakan dirimu, Aku suka kau apa adanya. Jangan merubah dirimu karena Kau melihat orang lain. Jangan menjadi orang lain, cukup jadilah dirimu, Rava yang aku kenal selama ini. Apa kau paham hah?” tanya Renata dengan serius.
Rava menatap kedua mata Istrinya yang menyiratkan kejujuran dalam dirinya, Ya… Renata tidak pernah komplin tentang apapun yang Rava berikan untuknya. Hanya saja, Rava seperti pria bodoh yang membuat sang Istri tidak pernah merasakan seperti kaum muda mengekspresikan perasaannya. Mama dan Papanya saja mengalami itu, kenapa dia dan Istrinya tidak? Itu membuat Rava terganggu.
“Kenapa kau diam? Haruskah aku memberikan nama panggilan sayang untukmu?” tanya Renata yang melihat Rava terdiam dengan wajah yang tegang.
Rava menggigit bibir bawahnya dan menganggukan kepalanya, “Ya.. harus ada, aku mau” kata Rava tanpa malu.
“Baiklah… Aku membuat nama panggilan sayangku untukmu Yeobo. Apa kau mau?” Renata tersenyum ke arah Rava yang wajahnya berubah bingung.
“Apaan itu Yeobo? kenapa aku barusan mendengarnya?”
“Itu panggilan seperti di Drama Korea yang sering aku tonton, untuk suami atau istrinya, apa kau keberatan?” Renata mencoba mengetahuinya,
“Hemmm... yang lain sayang,” Rava semakin memeluk erat tubuh Renata dengan mencium tengkuk leher Renata.
“Apa ya? Hemmm.. Coba aku berpikir dulu,” Renata menatap ke arah atas dan berpikir panggilan apa yang keren untuk suami dinginnya. Rava malahan asik manja ke tubuh Renata yang masih mencoba berpikir.
“Hah.. mungkin saja aku bisa memanggilmu My Sugar? My Romeo? Atau My Sweety?bagaimana? mungkin di antara itu cocok untuk dirimu?" tanya Renata dengan menyunggingkan senyumannya.
Rava berpikir, “Hemmm… panggil saja aku My sugar, dan Kau my Candy. Apa itu cocok untuk kita? apa itu baik?” Rava menatap wajah Renata dengan penuh harap.
“Terserah saja.. Kau boleh memanggilku dengan keinginanmu, asal itu suamiku, aku akan sangat senang.” Renata tersenyum dengan menggenggam erat tangan suaminya.
Rava malahan tertawa, “Baiklah.. my sugar dan my candy, itu panggilan sayang untuk kita berdua. Aku tidak tahu, kalau ini sangat menyenangkan. Maafi Aku, tidak bisa memberikan masa pacaran yang baik untukmu.” Rava mencium puncak kepala Renata.
“Tidak masalah Suamiku, Kau di sisiku saja rasanya Aku sudah bersyukur, Kau adalah penyemangatku,” kata Renata menyandarkan kepalanya di atas dada Rava.
Rava tertawa, “Kau hidupku, pelengkap hidupku. Aku akan memberikan cerita baru dalam Rumah tangga kita, setelah kita berbulan madu, Aku mau melakukan hal-hal yang di lakukan oleh orang-orang yang berpacaran. Apa kau tidak keberatan?” Rava merasa sangat bahagia bisa memeluk erat tubuh Renata.
Renata tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Ya.. Aku mau,” gumamnya pelan.
“Terima kasih… mau memberikan ku kesempatan.” bisiknya ke Renata.
*Di atas di depan kamar Vara.
“Bersi-bersilah,” ucap Harsen singkat dan hendak berjalan ke arah kamarnya.
“Kak Harsen,” panggil Vara lagi.
Harsen menoleh ke arahnya, “Ada apa?”
“Kakak… kenapa menyalahkan dirimu di depan Mama?” Vara kembali mendekati Harsen.
Harsen tersenyum dan menyentuh puncak kepala Vara, “Karena Kakak sangat menyayangimu bahakan mencintaimu,” kata Harsen dengan sangat lembut.
Vara memerah mendengar ucapan Harsen barusan, merasa bersalah dengan kemarahan dan kecemburuannya, karena itu membuat Harsen menjadi tidak enakan dengan keluarga Vara. Harsen berpikir, apapun yang Vara lakukan, merupakan tanggung jawabnya selama Vara berada di dekatnya.
“Kakak,” panggil Vara lagi.
Harsen kembali tersenyum, “Kenapa? ada apa? apa ada yang salah? Apa kau mau di cium?” ledek Harsen bersemangat.
Vara menjadi gugup dan salah tingkah, “Ti-Tidak, kenapa kakak terus menanyakan seperti itu? kalau kakak mau mencium Vara ya cium saja, kenapa harus di tanyakan, sangat aneh,” uajar Vara dan dengan cepat Harsen memberikan ciuman di bibir Vara.
Cupppppp….
Kedua mata Vara sigap tertutup, saat sentuhan bibir Harsen sangat lembut terasa di bibirnya, rasanya sangat menikmati arti dari hal kecil yang bisa memberikan tawa pada setiap pasangan, seperti itukah yang di katakan oleh Eva untuk mereka?
Harsen melepas ciumannya dan menatap ke Vara, “Apa Kakak sudah terlihat romantis?” tanya Harsen dengan senyuman mesra dengan kedua tangan di lipat di dadanya menatap pada Vara.
Kedua pipi Vara memanas, sepertinya memerah menahan malunya, Vara menjadi salah tingkah dan tidak tahu mau menjawab apa ke Harsen. Ia sesekali melirik ke wajah Harsen yang masih menunggu jawabannya, hingga tubuh Vara tak mampu diam, asik bergerak ke kiri dan kekanan menutupi malunya. Vara tersipu malu dan Harsen tahu itu, sehingga membuat Harsen tertawa.
“Sudah masuk sana ke kamar kamu, mandilah, kita akan makan malam menyambut Alice dan Bibi Anet, mungkin saja ini makan malam terakhir kita sebelum kembali ke New York,” gumam Harsen masih menatapi wajah cantik Vara.
“Hah.. Baiklah Kak. Vara ke kamar dulu,” kata Vara gugup dan segera berlalu dari Harsen dengan berjalan cepat ke kamarnya. Harsen masih tersenyum melihat kepergian Vara yang salah tingkah itu.
“Kau memang gadis yang sangat menggemaskan.” ujar Harsen pelan dan berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Vara di dalam kamar tepat di depan pintu, menyentuh dadanya dan bersandar di pintu serta menarik nafasnya yang sedari tadi Ia tahan.
“Kenapa jadi Aku yang merasa gugup? bukankah aku yang harusnya agresif? biasanya juga Kak Harsen yang sangat kaku, kenapa dengannya hari ini? sungguh membuatku malu saja,” ujar Vara dengan nafas yang memburu.
“Hah.. Dia bisa saja membuat jantungku berdebar,” katanya lalu Ia tersenyum, “Tapi Aku suka,”seru Vara dengan berlari ke arah ranjangnya dan berjingkrak girang.
Harsen menatap ke Vara yang sedang berjingkrak girang di atas ranjangnya, Ia kembali menghampiri Vara di depan pintu kamarnya yang Ia buka perlahan, Tidak menyangka melihat pemandangan yang membuatnya kembali tersenyum,
“Kakak,” panggil Vara pelan saat Ia tersadar Harsen menatapnya dan bersandar pada pintunya.
Vara pun turun dengan perlahan dan menunduk malu.
“Kau memang sangat unik, Maaf kakak mengganggumu, Kakak cuma mau bilang, malam ini Kakak akan menginap di sini. Itu saja, silahkan di lanjut lagi Nona Vara, Kau terlihat sangat ahli dalam hal menari atau sejenisnya,” Harsen menarik pintu kamar Vara dan menutupnya lalu berjalan lagi ke kamarnya sambil tertawa kecil dan menggelaengkan kapalanya.
“Sialllll…. Aku ketahuan,” gumam Vara malu.
.
Tolong yang komplin terus menerus, mau cepat update dan up cuma 1 bab akhir-akhir ini, tolong kalian juga memberikan kerja samanya untuk bantu karya saya naik ranking dalam bentuk VOTE, masa iya hanya menuntut saya up cepat, sampai komentarnya bilang karena saya lama update turun rankingnya, apa kaitannya? saya ibu beranak satu kak, jadi saya harus mengetik sesuai keadaan anak saya, tolong di pahami dan di mengerti, apa lagi yang pakai bilang enggak ada Rava dan Rena gak mau VOTE, hadeh…. saya bisa cek riwayat vote kalian, berkomentar tapi enggak mau vote, dan anehnya itu yang like sampai ribuan, tapi yang VOTE enggak sampai segitu, kalian berikan 20-30poin/harinya saja sudah membantu karya saya. Jangan terus menyalahankan penulis, Saya setiap hari update buat kalian pembaca setia saya, masa iya enggak mau bantu dalam bentuk Vote juga, jadi curhat saya aih…Buat yang sering VOTE saya ucapkan Terima kasih banyak ya ^^.