My Chosen Wife

My Chosen Wife
RENCANA AWAL.



"Mba Evaaaaaaa..."


 


Suara seseorang yang berada di depan pintu, menghentikan tawa mereka karena kaget. Seluruh tawa itu, pun pudar. Berganti dengan keterkejutan yang susah di gambarkan. Kedua mata mereka membulat, dan keheningan seketika itu pun meliputi ruang lingkup kamar yang mereka tempati.


 


"Astagaaaaa! Dua batu somplak datang." gumam Jimmy.


 


Frans dengan cepat berlari ke arah Eva yang sudah tersenyum dan kaget dengan kehadiran Frans yang tiba-tiba. Sedikit lagi, Frans hampir memeluka Eva, akhirnya tubuh Rava-lah yang menjadi sasaran pelukan Frans.


 


"Duh Mba Eva.. Frans kangen berat sama Mba." gumam Frans sambil menutup kedua matanya.


 


"Tapi, kenaba Mba gendutan ya?" tanya Frans, padahal Rava cepat-cepat menghalangi Mamanya dari si Frans.


 


Rava yang di peluk Frans masih diam mematung.


 


"Dasar orang-orangan salju! Bukan Eva yang gendutan! tapi mata lo yang karatan. Buka mata lo sampai lebar!" Jimmy kesal liat tingkah si Frans.


 


"Asataga! Rava." kedua mata Rava menatap Frans, lalu tersenyum.


 


"Selamat datang Paman." Rava menyapa dengan menatap Frans dari atas.


 


Frans yang menengadah ke Rava, refleks melepas kedua tanganya.


 


"Papa itu datang langsung meluknya Bibi Eva. Anakmu di sini Pa!" protes Defan ke Frans.


 


"Oiya ya... sampai lupa. Siniii biar Papa peluk." Frans menarik tubuh Defan.


 


"Gitu baru betul! Dasar Bapak aneh lo! Da tua gak tau tua!" sindir Jimmy.


 


Refleks Frans melepaskan pelukannya dari Defan dan langsung menoleh ke Jimmy. Frans berjalan ke arah Jimmy dengan tatapan dingin.


 


"Mau apa lo!" Jimmy mundur dan memasang kuda-kuda.


 


Frans dengan langkahan cepat menarik tubuh Jimmy dan memeluknya dengan erat.


 


"Apa kabar lo Ferguso! Lo makin tua makin cerewet aja!"


 


Jimmy langsung menolak tubuh si Frans.


 


"Jangan peluk-peluk gue. Keknya gue gak sedekat itu juga sama lo!" Jimmy menatap dingin.


 


"Dih... gue juga bukan meluk lo buat kita temanan! Geer banget lo Jimbrot!"


 


"Dih sembarangan aja lo kalau nyanyi! gue gak gembrot! Tapi seksi, ingat seksi! Lo kan barusan yang meluk-meluk gue, maksud lo apaan?"


 


"Kenapa sih kalau yang dua ini ketemuan gak bisa akur? setidaknya tenang giu?" tanya Rava.


 


"Karena itu memang pemanis alami antara Frans dan Jimmy." timpal Casandra.


 


"Woooow... gue baru sadar ada Mba kunti..Hehehe...Mba kun.. Apa kabar ini? rindua gak sama gue?" tanya Frans sombong.


 


"Gueee? rindu ama luuuu...?" Casandra tertawa. Frans takut. Dengan cepat Frans memeluk Defan, karena memang dia sangat takut sekali mendengar suara tawanya Casandra, "Mimpi kali lo ya?"


 


"Kagak! gue sadar kok, ini gak mimpi!"


 


"Sudah-sudah, liat kak Harsen dan Kak Renata itu sedang sakit Papa." ucap Defan menunjuk ke ranjang Renata dan Harsen.


 


Frans langsung menatap keduanya.


 


"Astaga! sampai lupa, tujuan ke sini untuk apa. Biasa.. Maklumlah, sudah tua. Tugas perusahaan sangat banyak, mengatur seluruh perkebunan, minyak bumi, dan masih banyak lagi. Jadi suka lupa gitu deh." kata Frans dengan berjalan mendekati ranjang Harsen.


 


"Ueweeeekkkkk. Mau muntah gue." sambung Jimmy.


 


"Papa hamil?" saut James.


 


Plakkkkk....


 


Jimmy menatap tajam.


 


"Pertanyaanmu James." James menyentuh kepalanya yang sakit.


 


"Apa kabar Sen?" tanya Frans ke Harsen yang sudah berdiri di samping Rere dan ranjang Harsen.


 


"Seperti yang Paman lihat." jawab Harsen dengan suara pelan.


 


"Ini sangat mengerikan!" balas Frans dengan kedua matanya yang dingin.


 


"Lebih mengerikan Paman, nikahan kita gak datang." ucap Vara dengan mencebikkan bibirnya membuat amarah Frans seketika itu juga luntur.


 


"Maaf Vara, Harsen. Kerjaan di sana sangat tidak kondusif untuk Paman tinggal. Karena, saat ini perusahaan sedang meluncurkan prodak terbaru. Jadi, Paman di hari itu tidak bisa berpulang."


 


"Datang Paman! Kok jadi berpulang? kek mauuu M aja." sambar Renata dengan suara pelan.


 


"Ehg iya, salah-salah lagi." balas Frans yang barusan sadar juga melihat Renata yang berbaring di atas ranjang dan kedua matanya melihat perut Renata.


 


"Kamu? kenapa juga tiduran di ranjang itu? apa kehamilan kamu bermasalah? Apa yang kau lakukan ke Renata, Rava!" Frans melototkan matanya ke arah Rava dan menggigit bibir bawahnya.


 


"Bukaaaaan! Bukan Rava, Paman. Kan Renata juga jadi korban penculikan!" balas Rava dengan cepat.


 


"Iyakah... aduh... jadi bagaimana dengan keturunan Atmadja kita? apakah mama dan janinnya baik-baik saja?" tanya Frans lagi.


 


"Baik kok Frans... Semuanya sudah baik-baik saja. Yang gak baik itu kakinya Mba! Kenapa dari tadi kamu injak!" Rere menoleh ke Frans.


 


Refleks Frans melompat.


 


"Astaga Mba Re... Maafi Frans ya. Duh, kaki ini suka kelewatan deh! entah kenapa sih, kepala sama kaki gak sejalan begini?" ucap Frans membuat semuanya menggelengkan kepalanya.


 


"Duh...tarik nafasss... lebih baik gue keluar dari sini. Dari pada terus-terusan liat kelakuan lo! Gak pernah berubah! Masa Iya kepala dan kaki bisa sejalan?" Jimmy berucap dengan menyentuh dadanya sambil jalan keluar.


 


"Iya ni Papa.. kok aneh ya?" tanya Defan lagi.


 


"Apanya yang aneh?" tanya Frans


 


"Itu... orang tak kasat mata." saut James dengan menunjuk Frans.


 


"Yeeee anak orang-orangan sawah! Jangan mau murip sama bapak mu tu! Ikuti aja Mama kamu ya Nak. Kan cantik, manis, tapi gak tau kenapa bisa mau sama bapak mu yang kek roti gandum!"


 


"Guueeee dengar dari sini!" teriak Jimmy dari depan pintu.


 


"Sudah-sudah! dari tadi debat muluh deh kalian. kamu ke sini dalam rangka apa Frans? Terusss dari mana juga kamu tau, kami semua berada di sini?" tanya Eva ke Frans.


 


"Sebelum Frans menjawab. Ada baiknya dong Mba, kasi Frans minum dulu. Jauh lo penerbangan ke sini, mana belum mandi juga."


 


 


"Ini nah." Eva memberikan segelas air putih ke Frans..


 


Dengan cepat Frans meneguk hingga habis.


 


"Gilaaaa... masih kuat aja." gumam Harsen ke Vara.


 


"Siapa dulu! Pamannya Vara." bisik Vara ke Harsen.


 


Keduanya tersenyum.


 


Frans kemudia mengusap sisa air di mulutnya. Lalu bersiap untuk memberikan jawabannya.


"Jadi begini nih Mba... Frans dapat kabar dari Tuan muda Raka kalau Renata dan Vara awalnya di culik, Ya da Frans langsung terbang ke sini. Baru mau terbang, Frans mendapatkan telepon penting lagi dari atasan Raka. Katanya membutuhkan bantuan Frans, untuk menjaga keluarga besar, selama atasan tidak berada bersama kalian." ucap Frans panjang lebar.


 


"Maksud Paman?" tanya Vara bingung.


 


"Hadeh... Maksudnya, selama Papa kalian gak ada, Paman yang akan megang kendali bersama kalian."


 


"Emangnya Papa ke mana Paman?" tanya Rava.


 


"Papa kalian sedang mengadakan rapat tersembunyi." balas Frans seadanya.


***


Saat pagi tadi sebelum berangkat ke rumah sakit, para Istri Raka, Leo dan Varel, tidak ada yang menaruh curiga. Karena ketiganya pura-pura tidur dan tidak membuka matanya saat sang Istri membangunkan mereka.


 


Atas perintah Raka, Jimmy yang di tugaskan untuk mengantarkan Eva dan yang lainnya ke Rumah sakit pun berhasil tanpa kecurigaan dari Istri mereka.


 


Hari ini, adalah hari di mana strategi Raka dan Varel akan di jalani. Dengan di damping Leo yang juga di rasa butuh untuk ikut bersama mereka, untuk menindak lanjuti kasus Ansel tanpa membawa mereka ke penjara. Ini adalah bagian dari Raka, karena penjara tidak membuat Valdi jerah akan perbuatannya.


 


Di sinilah mereka tiba, di gudang tua yang sudah di penuhi oleh team keamanan bersenjata dari Raka. Ketiganya masuk, dan mendapati Ansel yang setengah mati dengan luka-lukanya.


 


Ansel yang mendapatkan sinar cahaya dari pintu yang barusan terbuka mengangkat wajahnya. Silau, kedua matanya masih butuh penyesuaian. Benar saja, Ansel di ikat di atas bangku, di gudang tua yang gelap. Tanpa sinar cahaya, akan tetapi Raka masih punya hati, memberikannya makan dan minum.


 


Saat lampu menyala, memenuhi ruangan gudang itu, akhirnya Ansel tersadar. Ketiga orang tua dari orang-orang yang di celakainya.


 


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Raka dengan menarik salah satu bangku dan duduk di depan Ansel. Hanya meja panjang, sebagai pemisah mereka.


 


Ansel menatap Raka, kemudian berpindah ke Varel. Baru kali ini, dia bisa menatap pamannya dengan benar.


 


"Jawab!" suara kebencian dari Leo mengubah pandangan Ansel.


 


"Izinkan saya menelepon Papa saya Edward." balas Ansel dengan gemetar.


 


Varel tertawa.


"Masih anggap dia itu Papa, kamu?"


 


Ansel tidak menanggapi.


 


"Tolong, berikan saya waktu, untuk mengabarkan semuanya ke Papa Saya."


 


"Baiklah! Lebih baik Kau harus jujur Nak, sebelum Aku yang bertindak!" Raka mengambil ponselnya, dengan cepat mencari nomer ponsel Edward.


 


 


Kini tatapan tajam dia berikan ke Ansel seraya mencampakkan ponselnya ke depan Ansel.


 


 


"Bicaralah sesukamu! Itu sudah Aku buat mode speaker." Raka melipat kedua tangannya di atas dada.


 


Terdengar suara nada panggilan yang menggema di ruangan gudang tua itu, sebanyak tiga kali hingga suara Edward terdengar.


 


"Tuan Raka."~ Edward.


 


 


Buru-buru dan dengan perasaan yang takut Ansel menjawab suara Edward.


 


 


"Pa... tolongi Ansel Pa." ~ Ansel.


 


 


"Apa maksud kamu Sel?"~ Edward.


 


 


"Paaa... maafi Ansel. Ansel sudah melakukan kesalahan besar. Tolongi Ansel, bebaskan Ansel dari sini Pa." ~ Ansel.


 


 


"Tolong berkata yang benar. Apa mungkin maksudmu?" ~ Edward.


 


 


"Yaaa benar Tuan Edward! anak anda menculi anak saya dan menantu perempuan saya! Dan lebih kejinya lagi, anak anda hampir membunuh menantu laki-laki saya! Apa ini layak di beri pengampunan untuk keluarga kalian?"~ Raka.


 


 


"Astaga...Maafkan saya Tuan Raka. Saya tidak ada sangkut pautnya dengan Ansel. Tolong jangan bawa-bawa saya dan keluarga saya ke dalam masalahnya Ansel. Jangan menghancurkan keluarga saya. Saya mohon, karena Ansel itu bukan anak kandung saya! Jadi, tolong selesaikan saja dengan orang tua kandungnya!"~ Edward.


 


 


"Wahhhh.... jadi begitu?"~ Raka.


 


 


"Iya Tuan Raka, Ansel hanya anak yang di titipkan ke saya. Tolong tanyakan langsung saja dengan Ansel!" ~ Edward.


 


 


"Paaaaa!" ~ Ansel.


 


"Jangan berteriak! Kau anak yang tidak berguna! melakukan hal-hal di luar batas, tidak sesuai dengan yang sudah aku ajarkan selama ini untukmu! Jadi, kau langsung saja, adukan semuanya ke Papamu sendiri Ansel. Papa tidak mau terlibat dengan keluarga Atmadja!"~ Edward.


 


 


 


Tutttt.... Tuuuuttt.. Tuutttt...


 


Ansel terisak sedih dengan pernyataan papa angkatnya.


 


"Akhirnya, kita mendapatkan jawaban pasti Besan." kata Varel ke Raka.


 


"Baiklah.. Rencana berikutnya, jauh lebih cepat dari dugaan kita." Raka menatap dengan kedua mata penuh kebencian.


 


 


 


Bersambung.


.....


 


Mana Like dan VOTE nya... huhuhuhu...