
2 bab.. saya usahakan walaupun sudah mengantuk, demi pembaca setiaku, tolong dong VOTE nya ^^.
***
"Astaga... Delia...Defan... Bagaimana kalian hidup dengan anak ingusan seperti si Frans somplak?" Raka menatap keduanya.
Delia tersenyum, "Kak Raka, Frans hanya seperti itu, jika di dekat Kak Raka. Kalau dengan Delia, Kak Raka juga tahu kan bagaimana dengan Frans? dia sangat lembut, hanya perbedaan pendapat saja yang bisa membuatnya ngambek Kak." Delia menyunggingkan senyumannya.
"Kalau dengan Defan, Paman sendiri kan tahu bagaimana dengan papa." ujar Defan dengan bibirnya yang di majukan.
"Jangan menggosipi ku di saat Aku tidak bersama kalian" jerit Frans sebelum naik ke atas tangga.
Semuanya yang mendengarkan suara si Frans terkaget dan menggelengkan kepala mereka.
"Aghhh.. Tahu begini.. Aku lebih baik berbicara pada Vara, ketimbang dengannya." ungkap Raka pada Eva.
Eva tersenyum, "Kamu selalu begitu pada Frans, kalian berdua memang sangat susah di satukan."
"Siapa yang mau di satukan sama Pria seperti dia. Aku hanya mau di satukan dengan wanita yaitu Istriku sendiri Kamu. Aku masih normal sayang, jadi jangan coba-coba menyatukan ku dengan si ingusan." Raka menimpali dengan kesalnya.
"Agh... Sudahlah... Defan, antar Alice dan Mamanya kembali ke Hote. Maaf... Saya duluan pamit." Raka berdiri dan melihat ke Eva sambilan berbisik, "Sayang... Aku mau melihat Vara dulu, sampa jumpa di kamar" bisiknya sangat lembut.
Mendapatkan anggukan dan senyuman Eva, Raka pun berpindah menatap ke Rava dan Renata yang sudah menguap.
"Rava... Bawa Istri mu beristirhat Nak, Kasihan Renata sudah sangat mengantuk."imbuh Raka dan berjalan menoleh ke Delia, "Delia... Kakak duluan" ucapnya dengan lembut.
"Baik Kak..." jawab Delia.
Raka berjalan ke arah pintu keluar, tanpa melirik ke Anet yang sebelumnya hanya berdiam dan melihat pada kemesraan keluarga Raka. Sekejap Anet mengenang Raka, Ia merasa Eva sangat beruntung memiliki Raka di dalam hidupnya. Apalagi Raka sangat perhatian, meskipun usia mereka sudah beranjak tua, kemesraan dan kasih sayang yang terpancar dari Raka dan Eva sangatlah membuat iri. Berebeda dengan Anet, yang menjadi Janda. Rasanya seperti tidak adil bagi dirinya, menghidupi dirinya sendiri dan juga anaknya Alice.
“Bibi.. Ayo Defan antar ke Hotel,” ajak Defan.
Anet menarik nafasnya sejenak, dan tersadar ketika Defan memanggilnya untuk beranjak pulang, “Baik.. Ayo,” katanya dengan tersenyum.
“Mama.. Defan mengantarkan Bibi Anet dan Alice, tidurlah duluan Ma, Defan akan segera pulang setelah selesai mengantar,” kata Defan dengan mendekati Delia.
“Baiklah sayang.. hati-hati berkemudi,” jawab Delia.
Anet langsung saja berpamitan pada Eva yang duluan menghampirinya dan memberikan pelukan dan ciuaman pada kedua pipi Eva. Alice juga memberikan salamnya serta berpamitan pada Eva, Rava dan juga Renata. Rava dan Renata berpamitan untuk tidak mengantarkan mereka ke depan, karena Renata sudah mengantuk.
Hanya Eva seorang yang mengantarkan mereka ke depan pintu.
“Terima kasih untuk jamuan makan malamnya Eva. Semoga di lain hari, kita masih bisa berkumpul dan tertawa bersama,” Anet menyentuh lengan Eva dengan lembut.
“Iya Mba, sama-sama. Aku juga sangat senang, kalau kalian bisa bersama dengan kami menikmati waktu kita yang jarang bisa bertemu. Baiklah.. kalian berhati-hatilah di jalan.” Eva membalas dengan sneyuman yang tulus.
“Baik Bibi, Defan berangkat ya Bi,” kata Defan berpamitan.
“Iya.. jangan ngebut.” kata Eva lagi.
Defan menganggukan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya. Membawa Alice dan Anet di keheningan malam yang di baluti dengan angin yang meringkuk masuk ke cela kulit yang kecil sekalipun.
Eva menatapi kepergian mobil Defan dan berjalan masuk menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Eva melihat Raka yang sedang membaca buku dengan duduk bersandarkan ranjangnya. Ia pun merasa ada yang aneh, Eva mendekatinya dan duduk di samping Raka.
“Kamu bilang… mau berbicara dengan Vara? Kenapa kamu malahan membaca sayang?” Eva bertanya dengan menatapnya lembut.
Raka menutup bukunya dan menarik tubuh Eva serta memeluknya, “Aku bingung sayang,” bisiknya ke Eva.
Eva menatapnya dan mencoba berpikir, “Bingung kenapa sayang?”
“Hemmm… Aku tidak enak mengganggu putriku dan Harsen yang sedang asik di ruangan santai, mereka sedang bermain game, Aku datang saja mereka tidak tahu. Aku terabaikan oleh wanita keduaku, dia sudah memiliki pengganti aku kan sayang?”
Eva pun mengerti maksud dari pernyataan Raka barusan, Ia tersenyum sambilan mengubah posisinya menatap ke Raka, “Sayang… mana mungkin Vara kita bisa mengubah posisi Papanya yang sangat memanjakan ini di hatinya. Vara kita sudah dewasa sayang, dia sudah hampir menyelesaikan kuiliahnya, dan dia akan berumah tangga seperti halnya Rava. Kita harus siap sayang, saat anak-anak sudah tidak bersama kita. Tapi yakinlah… tempatmu tidak akan terganti oleh cinta pertama Vara dan juga aku.” Eva memberikan semangat pada Raka yang merasa cemburu itu.
“Hemmm.. Benarkah, bagaimana jika saatnya tiba? ketika putri kecilku akan menikah, meninggalkan aku dan dirimu, rasanya aku tidak mampu membayangkannya sayang,” ujar Raka masih dengan raut wajahnya yang sedikit di tekuk.
Raka menoleh dan menatap Eva usai mencerna perkataan Eva, “Cucu kita maksud kamu sayang?”
Eva menganggukan kepalanya, “Iya.. Cucu kita dari Rava dan Vara. Bagaimana jika suatu saat, cintamu berpindah pada anak-anak mereka?”
Raka merasa gusar,”Apakah bisa seperti itu? Aghhhh… Aku tidak mau memikirkannya,” kata Raka dengan tidak menatap Eva yang sudah tersenyum.
Tokkkk…. Tokkk….
Raka menoleh ke Eva dan Eva langsung berdiri, “Biar Aku saja sayang,”
Eva beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu, Ia membuka handle pintu kamarnya, tampak wajah Vara yang tersenyum mengarah pada Eva.
“Selamat malam Ratuku,” sapa Vara bahagianya.
“Masuklah anakku,” balas Eva dengan tersenyum.
“Terima kasih Mamaku sayang,” kata Vara sambilan berjalan masuk dan menatap Raka yang terkaget melihat putri kecilnya menghampiri mama dan papanya ke kamar mereka.
“Vara,” panggil Raka dengan mata yang bersinar menatap Vara dan mengulurkan tangannya mengarah ke Vara.
“Maaf mengganggu mesra-mesranya Papa dan Mama ya,” Vara tertawa geli dan menautkan tangannya ke tangan Raka yang terulur ke arahnya serta mendudukkan tubuhnya di samping Raka dan menyenderkan kepalanya pada bahu Raka.
Raka menjadi malu di buat oleh Vara, “Apa-apaan sih Vara, dari mana mesra-mesranya yang di ganggu, Mama sama Papa cuma lagi ngobrol cantik saja kok,” celetuk Raka dengan malu.
Vara mengangkat wajahnya dan menatap ke Raka, “Yeeee… Papa malu ini, ini lihat wajahnya merah-merah kek uang merah,” ledek Vara sambil terkikik menunjuk wajah Raka dengan jari telunjukknya.
“Kalian berdua mengobrollah dulu ya sayangnya Mama,Mama mau bersih-bersih dulu, Temani Papa kamu yang sedang galau itu sayang,” ujar Eva lalu berlalu ke kamar mandi.
Vara menatap ke Eva dan berpindah lagi ke Raka, “Papa galau? Papa bisa galau juga? Kenapa Papa seperti anak muda saja bisa galau?” sindir Vara dengan mata yang di sipitkan.
Raka mengubah posisinya dan menarik Vara merangkul pundaknya dengan mesra, “Sayang.. Papa bukan galau karena yang gimana-gimana, mama cuma bersenandung saja sayang,”
“Bersenandung? atau bercanda sih Pa?” Vara mersa bingung sendiri.
“Terserah Vara saja, yang penting Varanya Papa bahagia, oh ya… kenapa Vara ke sini sayang?” tanya Raka menelusuri wajah Vara.
“Agh… Vara cuma mau tanya, tapiii… Apa Vara enggak boleh ke sini, kalau enggak boleh Vara keluar ini,” ancam Vara sambilan beranjak berdiri dari duduknya.
Raka sigap menarik lengan Vara,”Halah… gitu saja si manja dan cerewetnya Papa sudah ngambekan, sini dulu. Kasi tahu sama Papa, apa yang mau Vara tanyakan?” tanya Raka dengan menatap Vara tidak sabaran.
“Hah.. bukankah Papa bilang, mau berbicara pada Vara?” tanya Vara dengan serius,”Tapi.. kenapa Papa malahan sudah di kamar? Vara menunggu Papa di ruangan santai Pa,” Vara menunjuk kearah ruangan santai itu.
“Ouu.. Tadi Papa sudah ke sana sayang.. tapi kamunya lagi asyik sama Harsen, Papa kan enggak mau menjadi orang ketiga di antara kalian,” kata Raka dengan menatap kedepannya.
“Astagaaa Papa, dari mana bisa Papaku yang sangat ku cinta ini menjadi orang ketiga. Maaf.. Vara enggak tahu kedatangan Papa, gamenya seru sih Pa,” ucap Vara bersedih.
Raka tersenyum dan menarik kedua pipi Vara, “Kenapa jadi cemberut? Papa hanya ingin bilang ke kamu, kalau Vara tidak bersalah soal membawa mobil. Papa saja yang masih sangat trauma kalau Vara pergi sendirian tanpa Kakak kamu, Harsen ataupun Defan. Papa enggak mau terjadi sesuatu sama Vara, tanpa siapapun di sisi Vara, Cuma itu saja kok sayang. Vara sudah dewasa, sudah mampu memilih apa yang menurut Vara baik dan yang jahat., Semuanya sudah bisa Vara pilih kan? Buktinya pacaran saja sudah bisa tanpa papa minta,” ledek Raka.
Vara tersipu malu, lalu ia merangkul pinggang Raka dan berkata, “Terima kasih Papaku sayang,” katanya lalu mencium pipi Raka, “Kamu memang Pria yang sangat Vara kagumi. Vara bersyukur jadi anak Papa dan Mama. Cinta kalian membuat Vara menjadi anak yang tumbuh dengan selalu bersyukur denga semua yang Vara miliki. Papa dan juga Mama, Kak Rava adalah hal yang terbaik yang terjadi pada Vara, Pa.”
Raka kembali tersenyum dan menarik kepala Vara serta mencium puncak kepala Vara dengan rasa cinta dan sayangnya yang terdalam. Eva yang dari belakang tersenyum dengan kemesraan anak dan Papanya itu.
“Kalian berdua sangat mesra, tidak mau kah kalian berdua mencium Mama juga?” sindir Eva kemudia berjalan lalu duduk di samping Raka.
Raka dan Vara bersamaan tertawa melihat kedatangan Eva , Vara berdiri dan membuat Eva duduk di tengah Raka dan Vara, keduanya bersamaan memberikan ciuman pada kedua pipi Eva. Eva pun tersenyum bahagia, menyentuh Pipi Raka dan Vara.
Bersambung.
Tak lupa aku katakan, jangan lupa bantu VOTE nya dan juga Likenya, tetapi untuk menaikan Ranking karya saya, kalian bisa bantu Vote ya, kalau like dan komentar tidak bisa membantu untuk menaikkan ranking karya saya. Di bawah ini saya selipkan caranya, Terima kasih ^^