
Sebelum Acara Prank di mulai.
Rava keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang Ia usapkan ke rambutnya, seraya berjalan ke ranjang dan memperhatikan wajah Renata yang memang memucat. Sejenak Ia tatapi wajah Renata yang sendu ketika dia sedang tertidur. Tidak memiliki perasaan apapun tentang dirinya sendiri, mau itu ulang tahun sang papa atau juga dirinya.
Di sinilah, di mana acara pembukaan butik Vara di tentukan jauh hari oleh adik iparnya. Vara meminta pendapat pada sang Kakak ipar untuk memberikan kapan waktu baik dan tepat untuknya memulai suatu usaha dalam bidang fashions, dan di saat itulah Renata yang juga memiliki tanda-tanda awal kehamilannya memberikan masukan serta mengabarkan pada Vara tentang gejala awal kehamilannya.
Betapa senang bukan kepalang Vara saat itu. Meskipun masih di tutupinya dari Rava, tetapi yang lainnya sudah tau, terkecuali Rava dan Raka. Dan dari sini, ide keduanya untuk memberikan surprise ke Raka dan Rava, tepat hari jadi mereka sekaligus acara pembukaan butik Vara tentang kehamilannya
Vara menerima pendapat Renata, yang pada saat itu juga, Defan membuat panggilan Video call ke Renata yang sama halnya dengan Vara, membicarakan ulang tahun Rava yang bersamaan dengan pamannya Raka .Terjadilah kesepakatan antara Renata, Vara dan juga Defan. Semua ide konyol itu berasal dari Defan, yang juga baru menerima kabar kalau Renata sedang mengandung. Kabar ide konyol Defan itu tersiar ke seluruh keluarga mereka, terkecuali Rava dan Raka. Seluruhnya malahan mengagumi ide Defan somplak itu.
Saat di mana acara pembukaan butik Vara tiba, mereka semua memainkan perannya masing-masing, dan hebatnya, Rava dan Raka pun, sama-sama tidak mengingat hari itu adalah ulang tahun mereka. Mungkin saja, karena tidak ada satupun yang memberikan ucapan ke pada keduanya. Entah kenapa, alam juga mendukung idenya si Defan, Renata merasa mual. Dan di sanalah, pra duga antara hamil dan sakit lambung di perankan oleh Eva dan Casandra.
Kembali ke ruangan kamar Rava dan Renata. Setelah memperhatikan wajah Renata yang sangat teduh, Rava memilih untuk berbaring bersama sang Istri. Dia merebahkan tubuhnya dan tak lama, Ia larut dalam indahnya sang mimpi yang menunggunya.
Di sinilah, Renata memainkan perannya bersama kedua asisten rumah tanggannya. Renata meminta bantuan mba Cika dan mba Titin, untuk memberikan polesan make-up ke wajahnya, agar tampak sangat pucat. Dan Renata juga meminta, agar bibirnya di poles seperti membiru.
Renata berusah semaksimal mungkin, untuk bisa kelihatan alami. Tubuhnya yang memang sedikit dingin, membuatnya lebih dingin di depan air conditioner kamar bawah. Setelah semuanya selesai , dan cukup untuk membuat kegilaan di dalam hidupnya di mulai.
Renata berbaring di ruangan tamu , tepatnya tidak jauh dari arah tangga.
"Pak Ravaaaaaa!" suara menggelegar dari mba Titin menggelegar di rumah yang hanya di huni oleh mereka.
"Tolong Pak Rava, Bu Renata pingsan." suara Cika menimpali dengan kencang.
Rava yang mendengar dari atas dengan gontai berlari cepat dengan menuruni anak tangga, saat dia sadar melihat Renata yang sudah terbujur di dekat mba Cika dan mba Titin.
Sampai di hadapan Renata, Rava menarik kepala Renata dan membaringkannya di atas pahanya.
"Sayang... bangun," Rava menepuk pelan pipi Renata.
"Renata, ada apa denganmu?" Rava semakin takut, saat tubuh Renata sangat dingin.
"Ada apa dengan Renata, Mba?" Rava mencoba menggali apa yang sebelumnya terjadi.
"Tadi sih Bu Renata katanya haus Pak. Sesudah minum, Bu Renata tiba-tiba sudah tergeletak." blas Mba Cika dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Astaga... tolong ambilkan kunci mobil saya Mba." ucap Rava dengan segera membawa tubuh Renata di dalam gendongan.
"Tapi Pak, Mba Titin sudah memanggil Ambulance. Kita sangat takut Pak, jadinya langsung memanggil Ambulance, dan sebentar lagi bakalan sampai."
Suara sirine Ambulance pun terdengar masuk ke kawasan halaman kediaman Rava. Rava tidak bisa berpikir jernih lagi, air matanya malahan mengalir dari kedua pelupuk matanya. Perasaannya teringat saat kejadian Renata yang di tabrak mobil dengan bersimbah darah. Rasanya, bercampur aduk untuk mengulang kejadian seperti waktu itu.
"Tolong bantu buka pintu Mba." Rava terisak sambil membawa tubuh Renata keluar dari rumah.
Jangan di ragukan lagi, kalau Leo yang sudah turun tangan soal ini, semuanya pun beres. Saat tubuh Renata sudah di masukan ke dalam Ambulance, berjalan meninggalkan kediaman Rava dan Renata, jadilah tangisan haru Rava pecah. Membuat orang yang berada di dalam Ambulance, merasa tidak enakan.
Sampai di Rumah Sakit, peran keluarga Atmadja dan para sahabat di mulai. Hingga semuanya terjadi dengan sangat apik dan sangat membuat Rava dan Raka seperti ingin mati berdiri.
"Kenapa kalian sangat jahat kepadaku dan Rava?" tanya Raka saat seluruhnya berada di luar ruangan Renata.
"Itu namanya bukan jahat Pak Raka, tapi surprise." balas Leo dengan cengengesan.
"Pasti kamu juga ikut andil kan Leo?" Raka memicingkan kedua matanya, yang lainnnya sudah tertawa.
"Iya dong Pak, kalau gak ikut saya, mana bisa seperti ini hasilnya." Leo dengan polosnya mengakuinya, dengan bangga pula.
"Pantesan saja, Kali—"
"Karena itu, jangan ulang tahun, kalau kamu marah di berikan surprise." Eva memotong ucapan Raka.
Raka berjalan mendekati Eva.
"Sayang, surprisenya kelewatan loh! kalau enggak kelewatan seperti ini, mana mungkin aku marah." balas Raka.
"Tapi, kalau gak gini juga Pak, bukan surprise namanya." Jimmy menimpali.
Kedua mata Raka menatap dingin ke Jimmy, sontak Jimmy menelan salivanya, takut dengan mata burung hantunya Raka.
"Sabar Besan, sesekali kan gak masalah. Malahan kita semua setuju, karena idenya Defan sangat unik loh, menurut saya." Varel berucap dengan tangan yang merangkul pinggang Casandra.
"Iya Besan, ambil sisi positifnya. Renata mau kasi kado terindah dengan cara seperti ini, sekaligus memeriksakan kandungannya untuk pertama kalinya, dengan adanya kita semuanya di sini. Itulah maksud Renata, menerima ide Defan. Agar seluruh keluarga, bisa bersama-sama menyaksikan momen pertama dalam hidupnya." saut Casandra dengan senyuman.
"Terus kalau sisi negatifnya, jantung saya copot! Siapa yang akan tanggung jawab?" Raka memperhatikan mereka satu persatu.
"Pisang Kak Raka." sambung Anna.
"Pisang?" tanya Raka.
Anna menganggukan kepalanya.
"Bisa di ganti pakai jantung pisang, kalau gak ada yang mau tanggung jawab." balas Anna dengan santainya, tertawa pula itu.
Panaslah si Raka , "Andai Saya bisa membawa kalian ke laut."
"Wah... enak itu paman." balas James.
Raka tertawa palsu, "Enak ya, ayo kapan mau? sekarang bisa?"
"Sekarang? Mepet banget waktunya," Eva membalas.
"Kamu gak usah ikut! biar mereka aja! Biar Aku tenggelamkan mereka semua!" ucap Raka dengan menggebu-gebu dan emosi yang membuncah.
"Astaga, Papa galak amat sih!" Vara membalas.
"Kamu juga! Gak kasihan apa sama kakak dan Papa kamu? Malahan kamu ikut-ikutan sama Mama kamu ini."
"Duh Pak Raka tersayang dan terhormat, suamiku yang paling tampan, dari tadi ngomel muluuuu... Kupingku sakit tau! kan semuanya sudah usai, sekarang hadiahnya kamu bakalan memiliki cucu. Bukankah itu sudah membalas semuanya?" Eva menyalakan pandangannya.
"Bibi, yang sabar. Paman kan hanya kaget Bi," Harsen menenangkan Eva yang sudah menyala-nyala.
"Iya.. Paman mu ini, sangat menggemaskan Haresen." adu Eva.
"Kalau aku menggemaskan, kamu sangat menggiyurkan." Raka tidak berani melawan Eva yang sudah melototkan matanya.
"Sudah jangan marah-marah, kamu kalau marah-marah uda gak cantik lagi. Jelek, kaya mamak-mamak." Raka menarik lengan Istrinya.
"Pamaaan....Tiup lilinnya dong." Defan akhirnya kembali dengan cake di tangannya seakan tertawa mengejek ke Raka yang tidak mampu mengejarnya.
"Awas kamu Defan! Paman kembalikan Kamu ke pabrik kamu!" Jangan lagi melakukan seperti ini, ini tidak baik untuk di tiru." Raka membulatkan kedua matanya.
"Dih segitunya sama keponakan, sudah dong jangan marah lagi, Defan minta maaf, gak akan ngulangi lagi kok Paman. Ya uda, Sekarang tiup lilin dulu, baru ke Kak Rava. Mau ya?" bujuk Defan dari sebrang Raka. Dia tidak berani mendekati Raka sebelum ada bendera perdamaiaan dari Raka.
"Baiklah... Mana sini!." tangan Raka meminta Defan untuk mendekatinya.
Defan mendekati Raka dan kembali menyalakan lilin. Yang lain mendekati Raka dan Defan dan mengambil momen indah Raka.
"Silahkan di tiup paman." perintah Defan.
Raka pun mengikuti perintah keponakannya, meniup lilin di atas cake yang sangat keren menurut Raka. Setelah lilin di tiup oleh Raka, seluruhnya bertepuk tangan. Defan tersenyum senang, sebelum Raka menarik cake dari tangan Defan dan melemparkan cake ke wajah Defan yang sempat tertawa senang.
"SURPRISE." seru Raka dengan tawa dari kedua sudut mulutnya.
Seluruhnya terperangah dengan ulah Raka di luar dari akal pikiran mereka. Benar-benar Raka ini memiliki dendam kesumat. Karena dari itu, Defan minta dukungan Like dan VOTE nya 🤣🤗🤗🤗🙏