
MOHON DI BANTU VOTE 😍.
.
.
Matahari terbit di ufuk timur, menyapa sang penikmat cahayanya dengan belaian lembut kehangatan yang menusuk ke dalam kulit. Pagi, itu Renata mengerjap dengan perasaan berat. Seberat mata yang membuatnya malas untuk memulai pagi.
Renata mulai bergerak, merasakan ada yang menimpa bagian pinggangnya. Saat membuka kedua matanya, tampak wajah Rava yang masih dengan lelapnya tertidur.
Ini angan-angan Renata selama ini. Menatap wajah Pria yang sangat dia cintai selain papinya, saat ia membuka kedua matanya menyapa hari baru.
Tangan Rava yang melingkar di atas pinggang Renata, membuat Renata tersenyum sendiri. Semenjak Renata mengandung, Rava semakin manja. Bahkan terbilang semakin memanjakan sang Istri.
Kedua sudut bibir Renata tertarik membentuk senyuman. Memandangi hingga mengagumi. Tiba-tiba hasrat gemasnya Renata meronta.
Rava yang sedang tidur, di kagetkan dengan Renata yang menenggelamkan wajahnya ke dalam keteknya.
"Sayang." suara berat khas bangun tidurnya Rava membuat Renata menoleh.
"Selamat pagi Papa Rava." sapa Renata bersemangat.
"Kamu sedang apa sih Sayang?" Rava masih menutup kedua matanya dengan malas menarik pinggang Renata dan mendekapnya.
Kepala Renata yang kini pindah di atas dada Rava, merasakan detak jantung sang suami. Dan merasakan sentuhan dagunya yang bersandar di atas kepala Renata.
"Aku sedang menikati aroma bau yang enak di bagian itu Sayang." balas Renata.
"Apakah itu kebiasaan baru? apa jangan-jangan?" Rava membuka kedua matanya seakan kaget. Kini matanya memandang wajah Renata.
"Apa kamu ngidam yang kedua?" tanya Rava dengan mata yang di bulatkan.
Renata tersenyum.
"Apa yang pertama sudah dapat?" ucap Renata sangat pelan.
"Sudah, ada di bawah Sayang. Terusss... bagaimana yang kedua?" tanya Rava.
"Ini, Aku suka bau tubuhmu bagian ini." tunjuk Renata ke ketek Rava, refleks Rava menutup bagian keteknya.
"Kok aneh sih sayang?"
"Karena gak biasa. Duh... biarin deh, boleh ya Aku cium Sayang. Aku pengeeeeen banget, boleh ya boleh." rengekan Renata membuat Rava terenyuh.
"Maunya apaan sih Nak? segitunya banget kerjain Papa." ucap Rava dengan perlahan melepas tangannya dari keteknya.
Renata langsung menenggelamkan wajahnya kedalam ketek Rava. Rava di buat menggeliat geli sendiri. Mengusap lembut kepala Renata dengan penuh perasaan aneh.
"Kenapa keinginan kamu aneh-aneh sih Baby?"
"Anak kamu yang mau."
"Sudah ya, udah cukup. Nanti siang lagi, sekarang kita mandi yuk. Sarapan dan siap tuh kamu mau ke mana? biar Aku temani."
"Hemmm.. Aku ingin main ke rumah Paman Jimmy dan Bibi Anna. Aku ingin sekali, memakan masakan James dan Defan." kata Renata dengan mata yang berbinar.
Rava mengubah posisinya.
"Kau ingin apa Sayang?"
"Aku ingin, bermain ke rumah Paman Jimmy dan Bibi Anna. Karena Aku ingin makan, masakan James dan Defan. Kolaborasi gitu mereka berdua, seru gak itu? apa lagi James kan pintar masak. Dan Defan tidak kalah dari James."
Rava tercengang mencoba memikirkan dan membayangkan Defan dan James mengenakan apron berwarna pink sambil mengulek cabe atau pun mengaduk masakannya dengan bokong yang berlenggok, khas jogetnya James dan Defan.
Rava menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pikiran macam apa coba ini? Terlalu!"
"Apa yang sedang Kau pikirkan Sayang?"
"Entah, pikiranku terlalu mesum. Sudah, ayo kita mandi. Habis itu kita akan sarapan, dan ada sesuatu yang ingin Aku bicarakan pada kalian berdua." Rava membantu Renata bangkit dari tidurnya.
***
Setelah bersiap mandi, Renata di buat bingung. Karena Rava mengenakan pakaian rumahnya. Tanpa Renata sadari, setelah mengetahui Renata mengandung, Rava memilih untuk mengambil cuti selama satu bulan penuh. Pekerjaannya dia limpahkan ke Harsen dan asisten pribadi barunya. Bersama dengan sekretaris yang di pekerjaan Raka untuk Rava.
Bagi Rava, momen penting dalam hidupnya sebagai seoarang suami adalah, tumbuh kembang sang janin yang sempat di kabarkan Dokter kandungan lemah. Karena adanya gangguan di rahim Renata yang di sebabkan oleh kecelekaan yang pernah menimpa Renata. Bukan mudah untuk Rava, bisa bekerja meninggalkan Renata di rumah, meskipun ada Defan bersamanya, tidaklah mampu mengurangi pikiran Rava akan sang Istri.
Di karenakan ingin melihat langsung tumbuh kembang sang janin dari diri sang Istri, Rava rela mengorbankan pekerjaannya. Menurut Rava, di sinilah, saat seorang suami dapat di uji kesetiaannya terhadap Istri yang sedang membutuhkan semangat dari pasangannya.
"Kamu benaran gak kerja?" Renata memastikan.
"Gak loh Sayang. Aku mengambil cuti selama sebulan penuh. Untuk menjagamu, melindungi kamu, bahkan menjadi pengasuhmu." Rava menarik lembut punggung tangan Renata.
"Sudah ada Defan, tidak perlu begitu Sayang." katanya membujuk.
"Jangan membantah. Ayo keluar, kasihan Defan menunggu."
Renata membuang nafasnya, Rava itu tidak bisa di bantah. Kalau keinginannya sudah membulat dan penuh keyakinan tinggi. Keduanya pun akhirnya berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu, Rava dan Renata kaget, melihat Defan yang sedang merebahkan tubuhnya di atas lantai di depan pintu dengan posisi telungkup, membenamkan wajahnya di atas lantai.
Keduanya saling memandang, gila si Defan pikir Rava. Semanjak di Jakarta, ada saja ulahnya yang aneh-aneh. Kadang Rava di buat bingung oleh tingkah dan sifatnya Defan.
"Defan." panggil Renata dengan lembut.
Defan mendongak dengan wajah yang di buat berat seakan mabuk.
"Iya Kak? Akhirnya kalian keluar juga." katanya lemas.
"Ada apa dengan kamu Fan?" Renata berjongkok dan menyentuh lengan Defan, membantunya untuk duduk.
"Kau kenapa? apa Kau sakit? kenapa malahan tiduran di depan kamar?" Rava menatap wajah Defan yang pucat.
"Defan hanya takut Kak, mengganggu cinta-cintanya Kakak berdua. Jadinya, Defan menunggu di sini. Lagian, Defan rasanya lemassss banget." celetuk Defan dengan raut wajah sedih.
"Ada apa denganmu? kau sakit?" tangan Rava menyentuh kening Defan.
"Apaaaaaaa!" Rava kaget.
"Hamil? siapa yang menghamili kamu Fan? kamu ini ada-ada saja." Renata menggeleng-gelengkan kepalanya, di buat sangat bingung dengan si Defan.
"Kau kenapa! jangan becanda!" ketus Rava.
"Perut Defan mulas Kak, terus sudah beberapa kali ke kamar mandi. Rasanya sangat tidak enak, tidak nayaman dan sangat lemas. Bukankah ini mirip gejala kehamilan?" tanyanya dengan wajah yang sedih.
"Duh...konyol banget! itu diare namanya! Apa yang kau makan sebelumnya?" Rava memperhatikan sudut wajah Defan yang mencoba mengingat-ingat.
"Nahhhhh... Defan tadi malam, makan mangga muda yang Kakak bawakan. Limaaaaaa..."jari-jarinya membentuk angka lima ke arah wajah Rava.
"Gilaaaa Kau ini! Kakak capek-capek manjat buat Istri dan anak, Kakak, Fan. Kenapa kau yang menyantapnya. Apa kau benaran hamil?"
"Astagaaaa.... kalian berdua ini ngomongi apa sih? ayo turun ke bawah, Kita obati." ajak Renata ke Defan.
Renata merangkul lengan Defan, karena takut Defan pingsan, jadilah Renata memberikan pegangan. Rava menggelengkan kepalanya. Ada saja pikirnya si Defan, mangga muda juga di tekan olehnya. Bagaimana bisa, sebegitu asamnya bisa membuatnya berselera.
Sesampainya di bawah, Renata mendudukan tubuh Defan di bangku ruangan makan. Bersamaan dengan itu, Rava yang kesal memperhatikan wajah Defan yang berubah manja. Renata segerah mencari obat yang membuat perut Defan yang berasa tidak enakan agar pulih dengan cepat.
"Lain kali Fan, kalau mau makan itu izin dulu. Biar lo gak kesakitan seperti ini." ketus Rava.
"Jangan di marahin. Namanya juga kepengen." Renata meletakkan obat perut di depan Defan, "Setelah sarapan, minumlah obat ini. Kau harus pulih, karena Kakak mempunyi tugas untuk kamu Fan." kata Renata tertawa dan merasa bersemangat sekali dia.
"Apaan Kak?" tanya Defan penasaran.
"Makanlah dulu." Renata menyendokan nasi ke piring dan memberikannya ke Rava.
"Terima kasih Sayang." ucap Rava dengan mengambil piring yang diberikan Renata.
Defan masih merasa penasaran. Apa tugas yang di maksudkan Renata untuknya. Seperti mau sekolah saja pikirnya. Ketiganya menyantap makan pagi mereka. Seperti hari biasanya, rumah tidak akan pernah sepi bila ada Defan. Rava sering sekali tidak bisa menahan kesal melihat ulahnya Defan. Jadilah keributan sering melanda rumah Rava setelah ada Defan.
Seusai makan pagi, Rava mengajak Defan dan Renata ke ruangan santai. Sambil menikmati segelas teh hangat, jus dan mangga mudanya, Renata dan Defan terfokus ke Rava yang mulai membuka ceritanya.
"Vara dan Harsen akan menikah." ucap Rava singkat menunggu reksi dari Istri dan adiknya.
Renata yang sedang menikmati mangga muda hasil panennya si Rava dengan garam yang berada di piring kecil. Dengan potongan-potongan mangga yang tersusun rapi di atas di piring, sejenak membuat Rava dan Defan mengedip-ngedip ngilu.
Renata yang menyantap dengan sangat bernafsu, hanya memberikan tanggapan ucapan Rava dengan meanggukan kepalanya dan mengunyah makanannya.
"Apa itu tidak asam Kak?"
"Tidak, ini enak banget." Renata kembali mencocol potongan mangga muda dengan garam dan memasukkannya ke dalam mulut.
Rava merinding. Defan menyentuh perutnya dan mengusap-usap dengan lembut.
"Kalian kenapa jadi membicarakan hal lain. Vara dan Harsen akan menikah minggu depan." Rava kembali mengulang ucapannya.
"Sudah tau!" bersamaan Renata dan Defan menjawab ucapan Rava.
Mata Defan tidak berpinda dari wajah Renata dan mangga mudanya.
Rava terkesiap.
"Dari mana kalian bisa tau?"
"Vara!" sama-sama lagi di ucapkan.
"Ouuu.... kenapa aku gak berpikiran ke sana. Pastilah, Vara sudah memberitahukannya ke kalian." Rava menggaruk kepalanya seakan gatal.
Defan beranjak dan mendekati Rava.
"Kak... nanti saja kita bicarakan. Ini kenapa dengan kak Renata? Kenapa sangat lahap? Defan aja sudah encesan, kenapa dia sangat tenang. Apa kak Renata baik-baik saja?" Defan merasa panik.
"Tidak masalah Fan, Renata akan baik-baik saja. Itu karena bawaan hamil. Jadi Kau harus maklum, apapun yang di minta olehnya, masih di batas wajar, sebisa mungkin kita penuhi" ucap Rava dengan pelan.
"Hemmm... baiklah. Defan tidak pernah melihat kak Renata senafsu dan seliar ini memakan mangga." kata Defan masih menatap aneh ke Renata.
Rava menelan salivanya, sambil menatap ke Defan.
"Tapi kakakmu sering Fan, melihat Renata yang bernafsu dan liarnya lebih dari ini di atas ranjang. Bahkan Sampai mengaung, hahahaah." gumam Rava dalam hatinya.
Bersambung.
....
Duh mana nih VOTEnya.. terjun bebas 😂