
"Apaan sih? Jangan teriak-teriak, enggak malu apa sama kekasih pujaan hatimu ini?" ledek si Rava dengan menunjuk ke Harsen.
Vara yang memasang wajah cemberut menoleh ke Harsen.
"Agh... Biarinlah... Kakak sama Kak Harsen sama aja. Sama-sama nyebelin!." omel Vara kesal.
Rava dan Harsen bersamaan tertawa, melihat wajah manja si Vara yang ngambek rasanya menggemaskan sekali. Kalau saja enggak ada orang, mungkin Harsen sudah mengecup bibir tipisnya.
"Defan... Ayo sayang, ajak Alice ketemuan sama Paman dan Bibi semua." kata Renata dengan sangat lembut.
"Agh... Baiklah Kak. Ayo Alice." kata Defan bersemangat.
"Kak... Vara, Alice menyapa Paman dan Bibi dulu ya." izin Alice pada semuanya.
"Baiklah Alice... Kau di temani Defan saja ya." kata Vara.
"Iya.... Vara." balas Alice beranjak dari bangkunya.
"Semoga sajaIa di terima." gumam Rava dengan pelan.
"Kenapa sih Kak?" tanya Vara.
"Kau tidak tahu? paman Frans itu sangat membenci mamanya Alice, mama dan papa mertua, juga Paman Jimmy , sangat jelas mengingat perbuatan mamanya Alice. Katanya waktu mama mengandung Kakak berapa bulan saat menuju lahiran, Bibi Anet hampir mencelakai mama dan Kakak." ujar Rava dengan pelan.
"Tapi kan Kak... itu dulu. Apa mungkin mamanya Alice tidak berubah?" tanya James.
"Ya itu juga sih pikiran Kakak. Tapi ya kalau pun seperti itu, itu hak paman Frans sih. Kita juga enggak bisa melarangnya." cetus Rava.
"Tapi kan Kak.. Alice sangat baik. Juga tidak mempunyai hubungan masa lalu mamanya." sambung Vara.
"Kakak setuju sama Vara." Renata menimpali.
"Ya sudalah... kita lihat saja. Sudah beres-bereslah... acara sudah selesai kan? Kita segerah pulang." ucap Rava bersemangat.
"Yeee... ada yang mau belah durian ini tar malam." celetuk James.
"Huekkkkk." Harsen tiba-tiba mual.
Mata Renata dan Rava sudah di buat melotot karena ucapan si James, mana si Harsen mual-mual,Bingung si Rava jadinya.
"Kakak enggak apa-apa? ini minum dulu kak." Vara memberikan segelas air putih, langsung saja Harsen meneguknya sampai habis.
"James sih... nyebut kata Durian, kan Harsen alergi dan takut sama Durian." kata Renata.
"Maaf Noona... James enggak tahu. Maaf Kak Harsen." James memasang tampang bersalah.
Karena Renata menyebutkan lagi, jadilah Harsen mual-mual lagi.
"Sen... Enggak hamil kan?" tanya Rava.
Mata Harsen di buat terkesiap, di ikuti James dan Renata. Mendengar ucapan Rava rasanya mau
tertawa, tapi enggak tegaan sama Harsen.
"Astaga Kak Ravaaaaaa.!." kata Vara protes.
"Hehehe... cuma bercanda. Kalau begitu, kakak dan Renata mau bersiap dulu mengambil barang-barang. Ayo sayang." ajak Rava dengan menarik tangan Renata.
***
"Ma... Ini yang namanya Alice." kata Defan tiba-tiba datang dari arah belakang Delia.
"Nah.. Ini anakku yang namanya Alice." kata Anet saat tahu Alice datang, memberitahukan ke Rere , Casandra dan Anna.
Semuanya menatap ke Alice, sedangkan Alice memberikan salam pada Delia duluan. Delia menyambut baik dan membalas salam dari Alice dengan tersenyum.
"Kamu sangat cantik Nak."kata Delia.
"Siapa dulu yang pilih, anak Mama." bisik Defan.
"Terima kasih tante." balas Alice dengan tersenyum.
Defan berpindah ke posisi Frans.
"Pa....ini Namanya Alice." katanya dengan gemetaran.
"Sudah tahu... Kan kamu barusan bilang." ucap Frans dengan melirik si Defan.
Jimmy mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan si Frans.
"Dasar somplak." gumam Jimmy sambilan tertawa, mendapatkan pelototan dari Raka. Terdiamlah si Jimmy karena takut dengan tatapan si Raka.
Alice memberikan salam ke Frans, mau tidak mau Frans berlagak dengan santainya membalas salam Alice dengan tampangnya yang ramah.
"Semoga.. Kamu betah dengan anak saya yang ada aneh-anehnya." kata Frans dengan kecil.
"Tidak Om... Defan unik." balas Alice bersemangat.
"Pas yang anda katakan Pak Leo." Varel menimpali.
"Asal si Alice tetap waras ya Rel, enggak ketularan dari anak dan bapak itu." bisik Jimmy ke Varel.
"Buktinya Delia masih waras Jim." bisik Varel.
"Heyyyyy!!! Jangan menggosipi rumah tangga saya ya." sindir Frans.
"Du...du... du...du." Leo purak-purak bernyanyi menatap ke awan-awan.
Jadilah Leo , Varel dan Jimmy di buat salah tingkah, membuang pandangan mereka ke sembarangan arah. Sementara Defan memperkenalkan Alice dengan para Ibu lainnya. Alice mendapatkan pujian atas kecantikannya. Serasa Raka sudah selesai, Ia mengajak semuanya untuk pulang dan bubar dari acara.
"Okey... Kalau begitu, Renata sudah menjadi menantu sah Keluarga Atmadja. Saya sebagai papa nya Rava, meminta izin pada kedua besanku, Casandra dan juga Varel, untuk membawa Renata tinggal di rumah kami sementara waktu, sampai mereka pindah ke kediaman mereka sendiri." ucap Raka dengan tegas.
Casandra langsung menangis dan mendekati sang putri.
"Sayang... Baik-baiklah... selama kau tinggal di rumah mertuamu. Mami yakin, Renata bisa tidur di kamar yang bukan kamarmu, karena ada Rava di sisimu. Mami dan Papi pasti kesepian di rumah enggak ada kamu." ucap Casandra dengan menyentuh pipi Renata.
"Mami kok nangis sih? Kan rumah kita enggak jauh Mi. Dan Renata bakalan ke rumah mami juga kan?" kata Renata dengan mengusap air mata Casandra dan memeluknya
Varel mendekati keduanya dan memeluk kedua wanita yang teramat Ia sayangi, memberikan kecupan di puncak kepala Renata. Varel tidak ingin berkata apapun lagi, karena sebelum Renata menikah, Varel sudah banyak memberikan nasihat pada Renata.
"Sudahlah sayang... Ikut dengan yang lainnya. Mereka sudah menunggu kamu." kata Varel.
"Terima Kasih ya Pi, Untuk semua yang Papi dan Mami berikan pada Renata, hingga Renata bisa sampai di sini." ucap Renata sebelum melepas pelukannya.
Varel hanya tersenyum dan mengusap lembut kepala Reanta. Rava pun mendekati keluarga kecil itu dan izin ke Casandra dengan memberikan salim pada Casandra dan memeluknya, lalu berpindah ke Varel, memberikan pelukan padanya.
"Ingat pesan Papa padamu Nak. Jaga Renata seperti engkau menjaga dirimu sendiri, jangan pernah menyakitinya sedikitpun." bisik Varel dengan menepuk bahunya.
"Siap Pa... Rava akan mengingat setiap pesan Papa pada Rava." kata Rava dengan penuh percaya.
"Baiklah Nak... Hati-hati dalam perjalanan." ucap Varel.
Rava menggenggam tangan Renata dan membawanya ke mobil di mana Harsen dan Vara sudah menunggu keduanya. Raka, Eva memberikan pelukan pada besan mereka dan izin untuk meninggalkan lokasi, dan menuju Mobil yang di kemudikan Leo dan Rere.
"Noona." James meringis sedih menatap kepergian mobil Rava dan Renata.
"Sudahlah.. Jangan menangis." kata Jimmy pada anaknya dengan merangkul pundak James, kemudian Jimmy ikut terpiar.
"Keponakankuuuuuu." jerit Jimmy.
James memeluk Papanya dengan erat, keduanya pun saling menangis dengan berpelukan. Tampak wajah Frans, Delia, Alice dan Anet, menatap dengan bingung. Varel sendiri memberikan ketenangan pada Casandra yang masih menangis sedih.
"Astaga... Anak sudah senang menikah, malahan di tangisi. Eh nyonya kunti, harusnya bahagia dong , Renata itu sudah bahagia, harusnya bertepuk tangan bukannya di tangisi. Bersalahan saja kalian ini semua," kata Frans dengan menatap tajam.
"Eh Ferguso! Kau itu belum merasakan anakmu menikah meninggalkan rumah, tempat di mana Ia di besarkan. Dasar kau itu enggak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang." kata Casandra dengan kesal.
"Ssst... Frans benar sayang." kata Varel.
"Papi apaan sih! bela-bela si Frans.. agh.. sudalah, kamu ikut saja tuh sama si Frans."
"Lo kok belain si orang-orangan salju sih Rel, Casandra itu yang benar. Orang sesat begini lo percaya." ketus Jimmy sambilan meringis.
"Paaa... kalau masih debat lagi silahkan. Mama, ayo ikut Defan , kita pulang ke rumah paman Raka." ajak si Defan, "Alice dan Bibi Anet, ikulah dengan kita, Defan yang akan mengangantarkan kalian ke Hotel." ucap Defan sambil berjalan.
"Iya sayang... Baiklah. Maaf Mba Casandra dan Kak Varel, saya pamit dulu." ucap Delia izin.
Varel dan Casandra menjawab seraya menganggukan kepala. Delia berjalan bersama Anet dan Alice.
"Ya elah... Anak dan Istri sama aja. Woiiiii... tunggui papa kalian ini! Kok di tinggal sama kumpulan macan sih!." kata Frans menatap takut pada Jimmy dan Casandra yang menatap tajam ke Frans. Frans pun memilih berlari meninggalkan mereka.
Anna yang hanya menyimak mendekati kakaknya.
"Sudalah Kak... Yang di katakan Frans itu ada benarnya. Renata juga enggak di bawa Rava ke New York. Harusnya senang dong, masih bisa sering ke rumahnya. Sudah Kak varel, bawa kak Casandra pulang, mungkin kakak kelelahan." kata Anna.
"Baiklah Anna... Kakak pulang, James, Jimmy, kita duluan ya." kata Varel dengan memeluk Casandra.
Anna mendekati Jimmy dan memukul lengan Jimmy.
"Kamu tuh ya Bang, harusnya memberikan semangat untuk Kak Sandra, malahan ikut menangis. James juga, kalian malahan menambah sedihnya kak Sandra." kata Anna dengan mata tajam menatap pada anak dan suaminya.
"Mamaaaa... Kok cerewet banget sih?"
"Habisnya kalian nakal sih. Ya sudah... ayolah pulang. Sudah gelap, keburu tubuh mamamu ini keluar Api!" kata Anna dengan berjalan.
"Kau ini... Kalau mamamu marah, jangan di lawani, entar sampai di rumah enggak berhenti marahnya, apa bisa kau tanggung?" tanya Jimmy pada James.
"Lupa Pa... Kalau lupa enggak ingat. Ayo kita pulang Pa." ajak James dengan berlari menuju Anna.
"Enggak ku sangkah, anakku mirip banget denganku," kata Jimmy dengan menatap James yang berjalan mengikuti Anna.
Bersambung.
...
Jangan lupa bantu Vote ya... di tunggu up selanjutnya di jam 19:00 kalau banyak yg bantu VOTE heheeh.. semoga bisa 2 bab ya All... 🙏 gambar jempolnya jangan di angguri ya. 🥰