
Seusai makan siang keduanya memilih untuk langsung pulang ke rumah. Karena memang Rava sudah berasa lelah dan enggak mau kalau Renata juga lelah, kenapa seperti itu? karena Rava tidak mau melewatkan momen kikuk kikuk pengantin barunya bersama Renata.
"Agh... apa sudah bisa di lanjut tadi?" tanya Renata membuka suara.
"Belum sayang... Aku kekenyangan, Kau memintaku untuk banyak makan, sementara Kau tidak. Jangan membuatku membuncit sayang, jika kau tidak mau kehilangan tubuh kekar nan tegap serta dada ayam empuk kepunyaanku."
Renata menoleh ke Rava yang berceloteh sambilan memegang setir mobilnya. Ia hanya menatap dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa cuma menatapku saja?" tanya Rava.
"Au agh... gelap." balas Renata dengan menyandarkan tubuhnya dan menatap jalanan..
"Ciluuukkk... Bahhhhh!!" ledek Rava saat mobil terhenti karena lampu merah.
Renata mengarahkan kepalanya ke Rava dan menatapnya nanar.
"Sepertinya sedang bahagia banget ya?" sindir Renata.
Rava tertawa, "Pasti dong... kan lagi sama Istri sendiri. Siapa yang gak senang di dekat Istri tercintanya, kau ini mengigau sayang." ledek Rava.
"Aku mengantuk" balas Renata lagi.
Rava membelai lembut kepala Renata, "Tidurlah sayang... sampai di rumah akan Aku bangunkan."
"Tidak.. Sangat tanggung, di ruma sajalah." jawab Renata dengan malasnya.
“Baiklah… “ balas Rava tanpa memaksa.
Mobil kembali berjalan setelah pertanda lampu hijau tampak di depan mata, Rava kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Renata di buat bingung dengan Rava, Karena Ia membawanya bukan pada jalur di mana tempat kediaman rumah keluarganya.
“Loh ini kita mau ke mana sayang?” tanya Renata menoleh kaget.
“Agh.. Apa aku salah jalan?” tanya Rava.
“Iya kali.. kan ini sepertinya menuju ke rumahku , kediaman keluargaku,” ujar Renata bingung.
“Benarkah? kenapa Aku salah jalur ya tadi? Ya coba kita muter-muter dulu, siapa tahu aja ada jalan keluar,” ucap Rava.
Tak lama suara notif dari pesan Rava berbunyi, langsung saja Rava mengambil ponselnya dan langsung membaca pesannya.
Vara
√ Kak… Semuanya sudah siap, kalian sudah di mana?
Rava.
√10 menit lagi akan tiba.
Renata menoleh ke Rava, “Jangan membalas pesan selagi mengemudi sayang itu berbahaya… Tidakkah kau lihat, kita sudah salah jalan? Kenapa malahan masuk ke sini? pastilah tidak ada jalan yang tembus ke sini.” tunjuk Renata ke arah depan jalan.
“Iya.. Salah muluh aku ini, maafi aku ya sayang, jadinya lama tiba di rumah deh,” celetuk Rava dengan melihat area rumah sekitar.
Tak lama tampak mata Rava menangkap salah satu rumah yang Ia terima dari Harsen. Ia pun langsung saja memasukan mobilnya yang memang pintu gerbang rumah besar itu sudah terbuka, semakin bingunglah Renata saat mobil yang terparkir di sana sangat familiar untuknya.
“Bukankah ini mobil Papi, Papa Raka, Harsen, Defan, paman Leo, paman Jimmy? kenapa mereka di sini? ada apa sebenarnya?” tanya Renata dengan terburu-buru.
Rava tersenyum melihat reaksi dari Renata yang kaget dan histeris, “Turunlah dulu, kita lihat apa yang mereka lakukan di sini, karena Aku juga dapat pesan dari mereka,” ujar Rava dengan suara pelan.
Renata menarik nafasnya dan dengan cepat membuka seatbeltnya, Ia langsung turun dari mobil Rava dan berjalan mengarah ke pintu masuk rumah itu tanpa menunggu Rava yang masih di dalam mobilnya. Perasaan Renata gusar, sedangkan Rava yang melihat kepergian Renata dengan berjalan cepat membuatnya tersenyum dan menggeelengkan kepalanya.
“Kena dech… Kau masuk dalam perangkapku,.” gumam Rava.
Rava melepas seatbeltnya dan langsung membuka pintu mobilnya. Renata yang sudah di depan pintu rumah mewah itu menarik ke dua sisi handle pintu dan langsung membuka pintu itu dengan lebar. Tampak seluruh keluarga dengan memegang bunga, balon, bunting flag bertuliskan Happy birthday dan Welcome home, tampak Defan dan James yang sedang memakai bando mickey mouse dengan balon-balon di tangan keduanya.
“HAPPY BIRTHDAY” seru semuanya dengan bersamaan.
Raka, Eva, Jimmy, Anna, Leo, Rere, Casandra, Varel, Anet dan juga Alice turut dalam suasana pemberian surprise ulang tahun Renata, yang sama sekali Renata tidak mengingatnya, rasanya sangat bahagia, mulutnya terngangah dan langsung Ia tutup dengan kedua tangannya, karena ini memang sesuatu yang tidak Renata sadari.
Casandara mendekati Renata seraya menariknya untuk masuk melangkah ke dalam rumah, sebelum berjalan terdengar dari arah belakang kedunya suara nyanyian ulang tahun dari suara Vara, Harsen, Sasa dan juga Rava. Keempatnya berjalan bersama dengan Vara yang membawa kue ulang tahun berbentuk love berwarna merah dengan hiasan bungan mawar merah di atas kuenya. Seluruhnya bersamaan bernyanyi dan mendekati Renata, Rava sendiri membawa dirinya dengan menggenggam sebuket bunga Mawar merah yang sudah di persiapkan Harsen dan Vara.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Suara dari lagu itu melantun dengan akhir yang di tutup dengan buliran air mata haru dan bahagia dari Renata,Rava mendekatinya dan memberikan sebuket bunga mawar merah ke Renata. Renata menatapnya haru dengan air mata yang tiada hentinya menetes dengan leluasanya.
“Selamat ulang tahun istriku tersayang,” ucap Rava lalu mengecup bibir Renata dan memeluknya dengan erat. Renata di buat benar-benar kaget dengannya dan membalas pelukan Rava .
“Jangan menangis,” bisik Rava pada Renata.
“Cuitttt… Cuitttt” siulan Jimmy terdengar di menggema di ruangan lantai bawah itu.
“Kak sudah, nanti dulu peluk-pelukannya pas di kamar aja biar lebih mesra gitu, Ayoo buat permintaan kak Renata, dan tiup lilinnya sebelum lilinnya meninggal,” sambung Defan.
“Meninggal?” tanya James bingung.
“Apaan meninggal? Emangnya manusia, kau ini memang sangat mirip dengan papamu ya Fan?” timpal Jimmy.
“Karena dia papaku dan aku anaknya, wajar dong kami mirip OM,” celetuk Defan.
“Elehhh.. tumben saja Kau mengakui itu bapakmu, biasanya juga enggak,” sambung Vara.
“Terusss.. Mau mu apaan? kenapa kalian jadi membully ku?” Defan menatap dengan kedua mata di bulatkan.
“Eh Bambank! kenapa jadi nyolot amat, merusak acara saja. Sudah Renata, tiup lilinnya sebelum lilinya pingsan,” ucap Jimmy ke Renata.
Raka menarik nafasnya, “Apaan sih kalian ini? Meninggallah, pingsanlah yang benar itu mati, agh… merusak suasana hati anak dan menantuku saja,” Raka ikut protes.
“Iya ni.. Kalian merusak momen di mana Renata mendapatkan surprise pertama dari Rava loh,” ucap Anna dengan lembut.
“Iya sudah.. Ayo sayang tiup lilinya sebelum mati lampu,” kata Eva lagi.
“Mamaaaaaaaa” jerit Vara.
Semuanya menatap ke Eva dengan aneh, membuat Eva menjadi salah tingkah membalas satu persatu tatapan mereka.
“Aku salah ya?” tanya Eva dengan polosnya.
“Salah dong sayang… Masa iya mati Lampu,” jawab Raka dengan tersenyum kecil.
“Hanya perkara lilin semuanya jadi ngawur, bisakah saya yang tiup lilinnya?” tanya Leo tiba-tiba ke mereka.
“Jangan dong Pak Leo, bukan Pak Leo yang ulang tahun kan?” Casandra menjawab.
“Iya nih, aneh kamu O,” Rere menatap ke Leo yang sudah menggaruk kepalanya dengan malu.
Rava dan Renata saling memandang, air mata Renata kembali masuk karena melihat keluarganya yang lucu. Rava menarik tangan Renata dengan lembut seakan berjalan untuk meninggalkan keluarga mereka.
“Dari pada Istriku bingung, bagusan kami pergi dari sini,” kata Rava dengan berjalan purak-purak pergi.
“Kakakkkkkkk....” suara cempreng Vara memanggil.
Rava dan Renata tertawa dan kembali berhenti, “Kalian sih.. Ngerjai Istriku kelewatan,” ucap Rava dengan lucunya.
“Sudah mau meleleh, Ayo kak Rena, mintalah permintaanmu, dan tiup lilinya,” kata Vara.
Renata langsung saja menutup kedua matanya dan siap itu meniup lilinya.
“Horeeeeeee… Selamat ulang Tahun,” seru mereka bersamaan dengan suara terompet yang di tiup oleh Defan dan James.
“Terima kasih semuanya,” kata Renata dengan tertawa dan harunya, Rava mengusap lembut kepalanya sambilan menatap senang ke Renata yang juga tersenyum. Seusai itu, semuanya memberikan salam, doa serta ciuman dan pelukan secara bergantian.
Kemudian Vara mengambil bunga yang di pegang oleh Renata dan meletakkannya di atas meja, Lalu tiba-tiba, tubuh Rava dan Renata di angkat oleh semuanya. Masing-masing pria dan wanita membawa Rava dan Renata menuju pintu keluar dengan suara dan jeritan dari Rava dan Renata yang meminta turun, tapi tetap saja semuanya pada misi mereka masing-masing.
Semuanya berjalan ke arah kolam berenang, lalu mencampakkan Renata dan Rava ke dalam kolam berenang yang ada di samping taman rumah itu. Dengan bertaburan kelopak bunga mawar merah yang sudah menghiasi air kolam.
“Byurrrrrrrrrrrrrrrrr,” suara kedua tubuh mereka yang di campakkan.
Apakah yang terjadi? besok ya di sambung, mata saya sudah enggak kuat ^^. Terima kasih banyak kakak semua yang sudah memberikan dukungannya ke saya dalam bentuk VOTE, kalau kalian suka dengan Novel saya ini jangan lupa vote ya, saya enggak maksa cuma berharap, karena dukungan dari kalian adalah semangat saya.. Terima kasih banyak ^^