
^^^
Matanya kembali terjaga menatap kearah tubuh yang berjalan begitu cepat menuju rumah yang ada bagian dalam dari halamn tersebut, saat manik matanya melihat pintu itu menutupi tubuh wanita yang baru saja bersamanya, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum.
.
Ya Tuhan, emosiku tidak bisa ku bendung karena laki-laki penganggu itu, aku benar-benar akan gila jika harus setiap hari bertemu dengannya, racau Kinaya dengan tubuh yang terbaring begitu bebas diatas kasur miliknya,
tasnya ia lemparkan sembarang arah karena merasa kesal..
Ia memejamkan matanya berusaha menenangkan kemarahannya, tiba-tiba ia teringat akan pelukan yang begitu dekat kepada tangan Rendy, apa yang ia saksikan sore tadi membuat pikirannya benar-benar berat,
Ahhhhh,,,,, teriaknya dengan suara begitu menggema memecah keheningan di sore menjelang malam dalam rumah yang begitu sepi.
Setelah merasa puas, ia bangkit dari tidurnya dan meraih handuk lalu beralih langkah menuju ke kamar mandi.
Ia menyiram seluruh anggota tubuhnya dengan shower dan itu bisa meredahkan emosinya, setelah kurang lebih 30 menit bergelut dengan air dan bahan pembasmi kuman yang sedari tadi memicu ketidaknyamanan tubuhnya akhirnya ia meraih handuk dan segera membalut tubuhnya dan handuk kecil yang ia lilitkan di kepala untuk menyerap air yang menetes dari rambutnya tersebut.
Langkahnya mengajak tubuhnya untuk menghampiri lemari yang menyimpan kain yang selalu ia gunakan untuk balutan tubuhnya.
Ia meraih sepasang piyama berbahan katun dan segera ia kenakan, handuk di kepalanya masih ia eratkan karena air rambut yang masih menetes deras...
Langkahnya beralih ke meja yang memiliki kaca bundar yang selalu memantulkan cahaya tubuhnya untuk membuatnya ia semakin percaya diri dengan wajahnya...
Wajahku tidak terlalu buruk, ucapnya dengan tatapan lekat pada bayangannya yang terlihat sempurna pada kaca ajaib tersebut, tapi kenapa si penganggu itu mengatakan kalau aku jelek, lanjutnya dengan wajah sedikit kecewa, ia meruncingkan bibir tipisnya dan berkerut kesal, tapi kalau seperti ini aku memang terlihat sangat jelek, apa wajahku lebih buruk lagi saat memaki si penganggu itu, ah aku tidak peduli, tapi bukannya tadi dia mengatakan hanya bercanda, aku terlihat sangat cantik, bukan, lihatlah tanpa senyuman pun aku masih terlihat menarik, racaunya dengan begitu percaya diri, ia memandangi wajahnya dengan sangat lekat,
Astaga, kenapa aku sebegitu berharap, ini adalah musibah, dia memujiku? Astagaa aku tidak bisa menerima pujian itu, ya Tuhan hamba tidak bermaksud menyombongkan diri, aku harus lebih berhati-hati dengannya, aku telah menerima banyak dosa hari ini, astaga ini semua gara-gara si penganggu itu huhh, astagaa aku memakinya lagii, aku khilaf, Tuhan aku mohon ampuni kesalahanku hari ini, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi...
Aku mohon, aku mohon, ucapnya dengan mata terpejam, kata-kata itu terus saja terlontar dengan suara rendahnya memohon, tiba-tiba perhatiannya teralihkan tatkala nada dering yang berbunyi begitu nyaring,
Tanpa menerka siapa yang si pembuat alat canggih itu berdering, ia seketika bangkit dan mencari asal sumber deringan tersebut, rupanya handphone miliknya belum keluar dari dalam tas yang ia kenakakan dari kantor tadi,
Tangannya dengan segera mencari benda tersebut dari dalam tas dan meraihnya dengan sangat cepat, matanya menajam saat melihat nama yang tertera di layar itu,
Ada apa? Tanya nya lemah setelah alat itu melekat sempurna di daun telinganya,
Apa harus menjelaskan alasanku lagi, balas si penelfon seberang
Hmm,,, helaan nafas yang terdengar begitu kasar, aku sangat lelah, aku ingin beristirahat, ada apa lagi kau mengangguku, tanyanya kemudian
Apa kau masih marah?
Untuk apa marah, aku tidak marah, jawabnya berkilah
Benar sudah tidak marah lagi? Tanya seberang memastikan,
Kalau aku marah, kau mau membujukku? Katanya dengan nada sedikit melotot,
Kau butuh bujukan, berupa apa, uang, pakaian, atau tas mahal.? Tanyanya kembali dengan penuh semangat,
Aku bukan perempuan yang gila harta, aku tidak membutuhkan apapun, selain'...
Siapa yang mengataimu matre, aku tidak mengatakan itu, aku hanya menawarkan bujukan supaya kau tidak marah lagi padaku.
Kalau aku yang meminta kau serius mau menurutinya? Tanya Kinaya dengan suara memaksa
Selagi aku bisa, aku akan melakukannya, jawabnya tidak sabar,
Rey yang menjadi lawan bicara Kinaya seketika tertawa dengan suara yang di tahan, aku tidak bisa melakukan itu, biarkan saja kau marah,
Baiklah, kalau kau tidak mau aku tidak akan melanjutkan kontrak itu, ancamannya tidak membuat ketakutan Rey menciut,
Lakukan saja, kalau kau bisa,
Aku akan benar-benar kembali marah padamu, teriaknya dengan emosi yang tidak tertahankan lagi, seketika melupakan janjinya untuk tidak marah pada Tuhan.
Jangan seperti itu, aku tidak bisa tidur karena aku memikirkanmu yang sebegitu marahnya padaku,
Aku tidak peduli, teriaknya segera memencet tombol merah dan melemparkan benda tersebut di atas tempat tidur, handphone itu kembali berdering dan Kinaya tidak akan pernah memperdulikannya lagi. Ia merasa benar-benar gila jika berbicara dengan laki-laki yang ia anggap pengganggu tersebut...
Aku tidak akan mengampuninya, aku benar-benar membecinya, teriaknya lagi dengan tangan yang meremas kesal selimut yang ada di jangkauannya...
Ia merebahkan tubuhnya dan memijat kedua pelipisnya karena kepalanya terasa begitu berat, handphone yang sedari tadi berbunyi membuat kepalanya semakin sakit, ia menarik paksa benda yang sedari tadi berdering tanpa memastikan kembali penyebab dering tersebut,,,
Aku mengatakan jangan mengangguku lagi karena sekarang aku sudah sangat membencimu, ucapnya dengan kesal.
Lawan bicara tersebut merasa kebingunan atas racauan dari seberang,
Astaga, sebegitu aku menganggumu sampai kau membenciku? Tanya seberang dengan kening berkerut heran
Marissa.? Ucapnya sembari menutup bibirnya yang sedari tadi mengoceh dengan satu tangannya,
Ma.maaf Marissa aku pikir kau penganggu itu, lanjutnya dengan terbata-bata
Siapa penganggu yang kau maksud,
Itu, mm, temanku, sangkalnya
Sudahlah aku tidak peduli lagi siapa yang kau maksud,
Kau memang tidak perlu mengetahuniya,, emm ada apa menelfonku malam begini?
Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu saja, sautan dari seberang dengan senyum terkekeh
Kau sebegitu merindukan ku,
Iya, rasanya tidak bertemu denganmu membuatku sangat kesepian,
Sejak kapan kau pandai berbicara seperti ini,
Sejak aku mengenalmu, aku tidak pernah menemukan teman yang baik dari pada mu,
Jangan menambah cerita Marissa, besok kita akan kembali bertemu, sudahlah aku mau istirahat, sampai bertemu besok.
Hmmm, baiklah sampai bertemu, jawabnya dengan suara melemas.
^
*Mohon dukunganya,ππ
Jangan lupa tinggalkan like dan berikan voteπ
ππππππ*