
“Ravaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” teriakan Kunti seketika membelah alam.
Sontak Rava dan Renata berdiri mendengar jeritan sang mami.
"Iya Bi," jawab Rava gugup.
Casandra yang sudah di depan mereka berdiri dengan berkacak pinggang serta dengan nafas yang membuuru.
"Berani Kamu ya membuka aib, Bibi."
"Apaan sih Sayang... Kok jerit-jerit enggak jelas gitu?" Varel keluar dari kamar menghampiri mereka.
"Yaa... Papi sih enggak dengar apa yang di katakan Rava. Aku kan malu Pi," ucap Casandra dengan sedih.
"Agh.. Bi, bukan begitu. Saya tidak bermaksud Bi." Rava melambaikan tangannya dengan rasa takut melihat tatapan Casandra.
"Sudahlah Mi... Yang di katakan Rava kan memang benar. Kenapa Mami marah-marah?" Renata menenangkan.
"Iya.. Kenapa marah? kan cuman kalian yang mendengar pembicaraan Rava " Varel menimpali, "Emang apa yang kalian bicarakan?" Varel menatap ke Rava.
Dengan semangat Rava ingin mengulangnya, "Ou itu Pam—"
"Rava..." panggil Casandra dengan pelan dan menatap tajam pada Rava.
Bagaimana tidak kesal, sudah di jerit masih ingin di ulang lagi. Agh.... Rava ini terlalu polos atau bodoh sih pikir si Casandra.
"Ya sudah... lanjutlah. Mami jangan jerit-jerit lagi, kalau tidak mau kita keluar sebelum waktunya." ucap Varel dengan berjalan kembali ke kamar.
"Iya ni Mami... Yang di bilang Paman Frans ada benar juga ya?" sepontan Renata menatap sang mami.
Casandra menatap pada Renata dengan alis terangkat sebelah, "Apa yang di katakan si Ferguso itu Renata?"
"Ya itu Mi.... Suara Mami seperti Kunti." celetuk Renata dengan tidak bergetar.
Barusan ingin membenarkan perkataan Paman Jimmy waktu itu. Gumam Rava dalam hatinuya.
Casandra yang masiih berkacak pinggang, membuang nafasnya kasar dan menatap ke atas seperti tidak percaya dengan yang barusan di dengarnya.
"Kau percaya dengan yang di katakannya?" tanya Casandra kesal.
"Iya dong Mi... Renata sudah mendengarnya sendiri."
"Ya sudahlah Rena, Kau sedang kasmaran. Pasti Kau tidak akan berpihak pada Mamimu." Casandra yang kesal, hendak berjalan.
"Bibi... Maafkan Rava." Rava menundukkan setengah tubuhnya.
Casandra terhenti dan menatap pada Rava.
"Sudah... Jangan di ambil hati, Bibimu memang seperti yang di bilang Mamamu. Hah.. Bibi bangga sih... Mamamu memang tidak berubah." balasnya dengan senyum sendiri.
Rava dan Renata saling memandang bingung. Dengan cepat Renata menarik tangan Rava dan menggenggamnya.
" Mi.... Rena bawa Rava jalan-jalan ke bawah dulu ya Mi." ucap Rena dengan menarik tangannya Rava untuk berjalan.
"Ya .. Pergilah Nak... Mami mu juga pernah muda." teriak Casandra.
Sesampainya di luar Renata hendak melepaskan tangan Rava. Rava mencegahnya, Ia menggenggam erat tangan Renata, keduanya saling memandang.
"Tetap genggam erat tanganku." Rava terseyum menatap Renata.
Renata sebaliknya, dengan saling berpegangan keduanya berjalan menyusuri koridor Apartemen menuju Lift.
Sesampainya di luar Apartemen, dengan saling berpegangan menyusuri jalanan kota New York. Menembus lalu lalang orang yang berjalan di pinggiran Apartemen.
"Apa Kau senang?" tanya Rava menatap Renata.
"Tentu... Aku sangat senang." ucapnya tanpa menoleh ke Rava dan tersenyum.
"Aku lebih dari senang, bisa menggandeng tanganmu menyusuri Kota ini." Rava menatap jalanan dengan menarik sedikit nafasnya.
"Aku akan kembali ke Jakarta lusa. Bagaimana denganmu?" tiba-tiba Renata menatapnya.
Rava membalas tatapan Renata, "Tidak masalah, Aku akan mengambil cuti, untuk mengatur pernikahan kita." balasnya dengan senyum manisnya.
"Bagaimana dengan Vara, Rava? Kau akan meninggalkannya sendiri di sini?" Renata khawatir.
"Tidak... Vara tidak sendiri. Apa Kau meragukan kekuasaanku?"
"Agh... Tidak. Aku hanya takut, Vara kesepian." ucap Renata menatap ke depan jalanan.
"Wuahhh... Kau memang Kakak yang sangat bertanggung jawab." Renata memuji.
"Aku juga Pria yang bertanggung jawab untuk Kau jadikan sebagai suamimu" Rava tersenyum.
"Eah.... Ada yang memuji dirinya sendiri." sindir Renata.
"Tidak... Itu kenyataan. Kau tidak akan menyesali keputusanku. Aku memili menerima perjodohan orang tua kita sebagai pilihan terbaikku untuk menjadikanmu Isriku, setelah Aku pahami perbandingan Cinta dari wanita lain. Apa itu tidak di sebut sebagai tanggung jawab?" Rava menatap pada Renata.
"Hemmmmm... Tanggung jawab enggak ya? Setelah melarikan diri dariku, berselingkuh di belakangku, mengabaikanku selamat tiga tahun lebih, tanggung jawabnya sekarang. Aku sih masih rada bingung, itu tanggung jawab apa bukan." ujar Renata dengan menatap ke langit seakan berpikir.
"Cih... Kau memang wanita pendendam." celetuk Rava.
"Tidak... Aku hanya mengingat Pria yang di depanku ini betapa hebat dalam urusan wanita. Kau tahu... Selama Aku menunggumu, berapa Pria yang Aku tolak?" Renata menatap tajam ke Rava.
Rava terhenti, lalu menoleh ke Renata.
"Apa ada Pria lain selama ini yang menyatakan cinta pada dirimu?" tanya Rava dengan wajah polosnya.
Renata tertawa seakan ada yang lucu.
"Kau yang benar saja! Kau sepeleh denganku! Kau berhadapan dengan wanita tercantik dan terpopuler di sekolah kita. Kau meragukan Aku? Hah... Aku tidak percaya itu." Renata melapaskan genggaman tangan Rava dan berkacak pinggang menatap kesal Rava.
"Siapa tahu saja... Karena pria lain takut mendekat denganmu, karena Kau itu...."
"Apaaaa! Aku kenapa!" mulai emosi dia.
"Kau ituuu... Cerewet." ucap Rava tanpa takut.
"Cih... Kau sama saja denganku! Kau itu lebih cerewet dari pada Aku Rava." bantah Renata.
"Iya...Iya... Wanita terpopuler di masanya." ledek Rava dengan menahan tawanya.
"Kau jangan menertawaiku! Kau tidak ingat Pria yang menyatakan cintanya di depan banyak orang? Aku menolaknya demi Kau, Rava. Apa kau tidak menyadari pesonaku?"
Rava terdiam, seakan Ia mengingat Pria yang dulu menyatakan Cinta ke Renata. Karena merasa malu di tolak mentah-mentah oleh Renata, Pria itu memilih pindah dari sekolah mereka.
"Iya... Aku mengingatnya. Apa Kau pernah bertemu dengannya lagi?" Rava penasaran.
"Tidak... Kau kan tahu sendiri." balasnya dengan berjalan duluan.
Rava mengejar Renata, dan kembali menarik tangan Renata dan menggenggamnya.
"Jangan menghilang dari pandanganku, saat Kau berada di sini." ucap Rava.
"Hemmm... Aku bersamamu." jawab Renata.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya, dengan membawa keranjang rotan berisi bunga Mawar merah mendekati keduanya, penampilannya yang tidak di bilang kusam tetapi unik dengan rambut yang di cocang ke atas melingkari kepalanya, penampilannya membuat Rava dan Renata saling memandang.
"Berikanlah untuk kekasihmu." ucapnya ke Rava.
Rava dan Renata kembali berpandangan, dengan refleks Rava mengambil dompetnya dan memberikan selembar uang ke wanita itu.
"Kalian berjodoh, dengan cinta yang besar di dalam kehidupan kalian, kalian mampu mengatasi seluruh masalah yang kalian hadapi di masa yang akan datang. Kau beruntung Nona, kekasihmu ini sangat mecintaimu melebihi dirinya. Jangan pernah saling menyakiti, tetapi saling membutuhkan satu sama lain. Karena kehidupan kalian kelak, tidak serumit dunia ini." ucap si Wanita paruh baya itu.
"Ini... Berikanlah pada Kekasihmu." kembali mengarahkan bunga ke Rava.
"Terima kasih." ucap Rava dengan mengangguk pelan.
Seusai memberikan bunga dan menerima uang Rava, Wanita itu meninggalkan keduanya. Rava dan Renata sama-sama menoleh ke belakang, masih menatap kepergian wanita itu dengan rasa bingung dan penasaran.
"Ini... Terimalah." Rava memecahkan kebingungan Renata.
"Agh... Terima kasih." katanya sambil tersenyum dan mengambil bunga mawar merah.
"Apa dia seorang peramal cinta?"
"Jangan katakan padaku, Kau mempercayai kata-katanya."
Rava tersenyum dan menarik nafas, "Entahlah... Aku pikir yang dia katakan ada benarnya. Bukankah Kau dengar kata-katanya tadi?"
"Yang mana?" Renata menatap acuh.
"Kau beruntung Nona, Kekasihmu ini mencintaimu melebihi dirinya. Apa yang di katakannya itu sangat benar?"
"Cih... Kau terlalu percaya diri Rava." Renata berjalan meninggalkannya.
"Heyyy Baby.... Kau tidak percaya dengan yang dia katakan? Yang dia katakan memang benar, kenapa Kau ragu?" ucap Rava yang sudah di samping Renata.
"Tidak usah di pikirkan, Ayo kita kembali. Hari sudah mau gelap." ajak Renata.
Rava kembali menarik tangannya, dengan bergandengan tangan, keduanya berjalan kembali ke Apartemennya Renata. Dengan perasaan yang amat sangat senang, keduanya menyusuri keramaian hingga tiba di Apartemen.
Bersambung.
........
.
Tekan Like dan bantu VOTE ya sayangnnya Mommy, lihat dong rankingnya enggak naik-naik :( . Sedih banget yang KOMENTAR belum tentu mau VOTE, semoga di berikan kesadaran agar tidak menjadi Silent reader ya. Tolong dong hargai setiap penulis, uda memberikan waktu untuk cepat update, tetapi kalian malahan enggak mau berpartisipasi. Ya.. Ya.. ya... kalian kan pembaca yang baik Hehehe... Terima Kasih semua yang uda mau baca, vote dan like... 🥰😘