
"Bagaimana Alice? apa Paman bisa menanyakan pertanyaan tadi padamu Nak?" Frans duduk dengan santai seraya memandang Alice.
Alice gugup, Ia menoleh ke Defan dan kembali menatap Frans.
"Agh... It—Itu Paman... Bag—i Alice, Defan... Pria yang sangat baik, Agh... Alice yakin dengan Defan, Paman." balas Alice masih gugup.
"Baiklah... Kalau begituuuuu.... Bisakah Alice tidak usah melanjutkan kuliahnya? Usai Defan di wisuda, Aku dan Delia mau, mereka berdua langsung MENIKAH." tutur Defan.
Mata Raka terkesiap, "Kau serius Frans?" gumam Raka duluan.
Frans menoleh ke Raka dan tertawa, "Kapan Frans bisa serius di mata Bang Raka?"
"Astaga... Kenapa Aku menjadi rada merinding mendengarkan suaramu." kata Raka sejenak berpikir dan beralih melihat ke Eva, "Sayang... Apa aku sudah mabuk? Bisakah Kau memeriksa Aku?" tanya Raka menjadi salah tingkah.
Eva tersenyum dan menyentuh tangan Raka, "Sayang... Kamu baik-baik saja, yang di katakan Frans itu serius Sayang. Apa ada yang salah menurutmu?" Eva mencoba merespon raut wajah Raka yang tidak menerima ucapan Frans.
"Iya bang Raka... Apakah Frans melakukan kesalahan? Frans mencoba mengikuti jejak bang Raka." tutur Frans sambil mendudukkan tubuhnya.
"Jejak apa yang Kau maksud? Jejak bokongku? Aku rasa... Kau sedang gila, bukan serius. Masa iya, anak sudah lelah mengejar ilmu di kampusnya, malahan langsung Kau suruh Nikah. Berikan Anakmu kebebesan, biarkan dia memilih. Jangan Kau paksa sesuka hatimu! Apa kau senang? kau bahagia? Emangnya Kau yang nikah? haisss.. Aku sungguh salah mendidik anak ingusan ini. Bukankah Kau itu di berikan kesempatan pada Nenek Lusi, menyelesaikan pendidikanmu dan mendapatkan kedudukan baru Kau menikah? Hah... Ku rasa Kau semakin tua bukan semakin jadi, tetapi semakin gila!" Raka merasa frustasi terhadap pilihan Frans itu.
Seluruh pasang mata melihat Raka yang mengomel panjang lebar hanya menyimak, tak satupun mengeluarkan suara termasuk Eva. Raka memang berkata tentang Fakta, di mana bisa seorang anak di paksakan menikah, Rava saja menunggu bertahun-tahun setelah Ia menyelesaikan pendidikannya baru meminta Renata menjadi Istrinya.
"Bang Raka." panggil Frans sedih.
"Apaaaa!!! Apa Kau puas membuat si tua ini marah-marah! Kau menjengkelkan Frans, andai saja di sini cuma kita berdua, mungkin kepalamu itu sudah lepas dari batang lehermu!" ujar Raka semakin panas.
Refleks seluruhnya menyentuh leher mereka termasuk si Frans, "Astaga... tega bangset sih Bang Raka." katanya takut.
"Kalau begitu... Tanyakan pendapat Defan dan Alice. Apakah mereka sama sepertimu?" Raka kali ini lebih serius ketimbang Frans.
"Defan... bagaimana pendapatmu?" Delia yang buka suara.
Defan pun bergerak salah tingkah, "Sebenarnya... ruangan ini sangat aneh." kata Defan.
Raka mengernyitkan keningnya, "Fan... Serius Nak, kita bukan lagi stand up comedy. Kenapa Kau malahan membahas ruangan ini? Hah.. Aku bisa gila di buat oleh anak dan bapak ini. Harusnya gen Mamamu lebih banyak di tubuhmu itu, kenapa jadi Papamu?" tanya Raka semakin panas.
"Karena Paman pabriknya Pa." sambung Rava.
"Bukankah Rava juga sama sepertimu Bang" Frans mencoba protes.
"Benar.. Sama sepertiku, karena dia memang anakku. Kau lihat kan... Rava setelah sukses baru melepas masa lajangnya. Aku tidak pernah egois pada anak-anakku Frans. Kau jangan suka mempersulit Defan, dia keponakanku, Aku tahu apa yang kau lakukan terhadapnya. Jadi tolong... Biarkan Defan memilih sendiri sesuai kemauannya" Raka semakin serius akan masa depan Defan.
"Defan juga anakku bang... kenapa Bang Raka semakin tua semakin cerewet?" gumamnya pelan.
"Karena Kau Frans... Kau yang membuatku panassss seperti air mendidi." ujar Raka lagi.
"Papa... tenangkan diri Pa... kalau Papa terus mengomel, kapan Defan akan berbicara." Rava menyentuh lengan sang Papa.
"Aggh...Maaf Nak, Papa sangat gemas sama Pamanmu yang rada gila! Ingin sekali Papa tarik pipinya dan merobeknya." ujar Raka kesal.
Sepontan Frans menutup kedua pipinya dengan kedua tangannya, "Jangan Bang! jangan sampai enggak jadi!" celetuk Frans.
"Sudalah jangan bertengkar lagi," Anet membuka suaranya, "Aku juga setuju yang di katakan Raka. Mungkin terlalu muda di usia mereka untuk menikah. Aku ingin... Alice berkuliah dulu, agar keinginannya selama ini bisa tercapai." Anet menyampaikannya dengan tenang dan anggun.
"Setuju... Rava juga setuju Paman, lebih baik Alice dapat menyelesaikan keinginannya yang tertunda. Soal menikah, biarlah keputusannya di tangan keduanya." ucap Rava dengan menoleh ke Frans yang mulai berdiam.
"Benar... Mba juga sama Frans, lebih baik biarkan keduanya sama-sama memilih dan menyelesaikan tugas mereka. Jadi, tidak ada yang perlu mereka sesalin di kemudian hari, saat mereka sudah menikah." perkatan lembut dari suara Eva mampu membuat Raka kembali tersenyum, Eva sangat berkelas pikirnya.
"Bagaimana dengan Defan?" Rava kembali bertanya.
Defan menatapi satu persatu yang ada di dalam ruangan, baru hendak menjawab, Raka menimpali duluan.
"Jangan bahas ruangan lagi! ruangan ini 100% aman terkendali!" ucapnya tegas.
"Heheheh.. Paman bisa aja" jawab Defan malu.
"Sudah...jangan buang-buang waktu, ini sudah malam, besok Papa dan Mama kamu sudah kembali ke Irlandia." kata Frans dengan menatap tajam ke Defan.
"Baiklah singkat saja Pa, Defan setuju dengan semua yang di katakan orang-orang waras di ruangan ini." katanya dengan santai.
Frans langsung menoleh ke Defan, "Terusss Kau maksud, Papamu enggak waras?"
"Tidak juga sih Pa, hanya sedikit" matanya mengecil memperagakan kode mereka.
"Hah.. ya sudalah... Aku sudah mengerti, pernikahan harus di jaga dengan baik agar kedepannya tidak punya penyesalan dari masa sekarang. Benarkan bang Raka? Apa Aku dan Delia di izinkan menginap di sini malam ini bang, Harsen atau Defan bisa mengantarkan kami besok ke Bandara." Frans mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Baiklah... kenapa Kau sungkan." Raka kembali normal.
"Frans bukan sungkan, Frans hanya malu dan takut merepotkan kalian." Frans mencoba menunduk sedih.
"Bukankah Kau yang mau... Kau tidak peduli dengan anak istrimu, apakah mereka sudah makan atau tidak. Apa pernah kau bertanya pada mereka berdua Frans?" Raka menajamkan pandangannya, Delia sendiri terkaget hingga hampir tersedak.
"Bang Rak-" ucapannya terpotong oleh Rava.
"Kalau begitu keputusannya apa Paman?" Rava penasaran akhir dari cerita Frans barusan.
"Keputusannya....." kata Frans yang tersenyum menoleh ke semuanya satu persatu, lalu dengan perlahan Ia balas pertanyaan Rava.
"Apaaaaaaa!" ketus Raka.
"Nafsu amat sih Bang, sudah tua juga masih nafsu banget!" celetuk Frans dengan terkekeh.
"Sial benar gua punya adik yang tertukar seperti Kau" ketus Raka lagi.
"Tetapi Bang Raka mecintai Frans bukan?" santainya si Frans dengan meneguk Anggur merahnya.
"Paman...cepat katakan, karena Rava sudah mau izin membawa Renata ke kamar, Renata harus beristirahat Paman." ujar Rava dengan tegas.
"Baiklah... Keputusannya sama dengan ruangan ini, sekian dan Terima kasih." balas Frans lalu berdiri meninggalkan ruangan.
Raka dia membuka mulutnya dengan terngangah, seakan masih tidak percaya dengan ucapan Frans. Ia kemudian menyentuh kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Aku benar-benar merasa, Ada yang tidak beres pada isi kepalanya. Harusnya, Frans mesti di bawa ke tukang Service." Raka menghela nafasnya kesal.
Bersambung
.....
Jika ada salah kata atau kelebihan huruf, akan di perbaik segerah. Tekan Like dan jangan lupa untuk bantu VOTE 🙏🥰