My Chosen Wife

My Chosen Wife
ADINDA.



"James?" seru Rava.


Renata mengikuti ke mana arah mata Rava memandang. Betapa kagetnya Renata, yang Ia lihat adiknya si James tengah makan siang dengan seorang gadis.


"Benaran itu dia kan Sayang?" tanya Rava ke Renata, kedua mata Rava membulat sempurna. Dia merasa kaget dengan si James yang biasanya tidak pernah menunjukkan pacarnya ke mereka.


"Iya sayang.. Benar. Aku juga baru tau dia sudah memiliki kekasih, hebat benar itu anak bisa menyembunyikannya dari kita." Renata berdecak kagum dengan menatapi adiknya sambil tersenyum.


Rava bangkit dari duduknya, Ia ingin menghampiri James untu meminta perhitungan ke James selama ini. Renata yang melihat pergerakan suaminya, menarik tubuhnya dan menahannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Renata kaget.


"Tentu saja kita harus menghampiri James." tunjuk Rava ke meja James.


"Jangan...kenapa jadi Kamu yang kepo?" tanya Renata dengan mengerutkan keningnya.


"Bukan kepo sayang... Selama ini dia membohongi kita soal ini bukan?" tanya Rava dengan kembali mendudukkan tubuhnya di samping Renata.


"Itu kan haknya dia sayang, sudah jangan di ganggu. Biarkan saja." Renata menatap wajah suaminya yang kesal, tapi lucu juga. Kenapa malahan Rava yang marah, seperti cemburu saja.


"Kenapa Kau senyum-senyum sendiri? apa yang Kau pikirkan?" Rava menaikan sebelah alisnya.


"Apa Ya?"


 


"Kenapa malahan bertanya balik? cepat katakan, apa yang Kau pikirkan?" tanya Rava dengan menopang dagunya dan menatap manja ke Renata.


 


 


"Aku berpikir, kenapa malahan kamu yang cemburu kalau James punya kekasih?"


 


 


Rava melototkan kedua matanya, "Enak saja cemburu. James itu sama seperti Defan, aneh menurutku. Sudah aneh, hidup lagi."


 


Renata tertawa kecil, "Kamu juga aneh tau gak? Masa iya gitu aja bisa marah-marah."


 


 


"Ya karena di— loh.. mana James dan wanita simpanannya?" Rava terkesiap, dengan cepat Ia mengedarkan pandangannya mencari di segala arah.


 


 


"Sudah pergi... Tuh." kata Renata menunjuk ke arah area parkiran. Mobil James telihat melaju meninggalkan area parkiran.


 


 


"Wah... Kenapa Aku tidak peracaya dengan sikapnya James? apa dia melihat kita sayang? apa kau sama berpikir denganku? aku yakin dia pergi diam-diam karena di melihat keberadaan kita." Rava gusar, merasa James tidak ingin mereka tau tentang hubungannya dengan wanita yang bersama dengannya.


 


 


"Tenang.. Aku akan bertanya ke James nanti. Sekarang mari kita makan. Itu pelayan sudah membawa pesanan kita." balas Renata menunjuk kedepannya.


 


 


"Aku sangat yakin itu anak sudah pacaran, akan Aku beritahu dia ke paman Jimmy. Seenaknya sam orang tua seperti itu. Ngah... kenapa jadi orang tua? kan gua belum punya anak." katanya di dalam hatinya, lamunan Rava buyar setelah pelayan meletakkan pesanannya tepat di atas meja Rava atas perintah sang istri.


 


*Sebelum kepergian James.


 


Saat di mana James sedang berbincang mesra dengan sang kekasih, James tidak sengaja melirik ke arah meja Renata dan Rava.


 


 


"Rasa-rasanya kedua orang itu tidak asing." gumam James di dalam hatinya. Sebelumnya James tidak bisa melihat dengan jelas, karena tubuh Renata membelakangi James dan menutup wajah Rava saat keduanya sedang ngobrol menggosipi James.


 


 


Saat Renata mengubah posisi duduknya, akhirnya James berhasil menatap jelas wajah keduanya. Seperti kena sengatan listrik, James pun melompat kecil membuat sang adinda ikut melirik ke arah pandangannya. Saat sedang melirik ke arah Rava dan Renata, James menarik wajah sang kekasih agar melirik ke arahnya.


 


"Jangan melihat ke arah Noona dan Kakaku. Bisa bahaya jika mereka melihat Kau dan Aku." bisik James ke Jenny.


 


 


 


James melihat Jenny yang saa itu masih bersekolah kelas tiga SMP sama dengannya tetapi berbeda sekolah, sudah merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. James hanya mampu menatap dari kejauhan, gadis penarik hati James itu berjalan sangat anggun. Melihatnya saja James sudah sangat jatuh hati.


 


 


Seusai acara ulang tahun berakhir, semua tamu dan teman Vara sudah pulang, James meminta nomor ponsel Jenny. Karena Vara tidak berpikir aneh, dia pun memberikan dengan mudahnya. Dari nomor yang di minta menjadi dekat. Kedekatan Jenny dan James akhirnya berujung di sekolah yang sama. James memilih pindah ke sekolah yang sama dengan Jenny. Karena Jenny juga pindah sekolah, James akhirnya juga pindah.


 


 


Jalinan cinta mereka bertahan hanya sampai di sekolah. Setelah lulus dari sekolah, Jenny memilih berkulia di luar negeri. Karena dia mendapatkan beasiswa. James memilih berhenti menjadi kekasi Jenny, karena memang James mau Jenny fokus ke pendidikannya. Dan James tidak mau membuang waktunya untuk mencintai kekasihnya dalam jalinan jarak jauh.


 


Dan sekarang, kepulangan Jenny di sambut indah oleh James. Karena memang, James menanti masa di mana Jenny bisa kembali ke dalam pelukannya.Hanya saja, James baru menyadari, Jenny sangat penting di dalam hidupnya. Asal Jenny mau meminta balikan saja, James akan menurutinya. Benar saja, sebelum tiba di Jakarta, kepulangan Jenny sementara langsung terdengar oleh Rava. Di karenakan Jenny menghubunginya dan memberitahukannya untuk datang ke Jakarta. Di saat mereka bertemu, keduanya saling terbuka dengan perasaan mereka, di sanalah mereka memutuskan untuk lanjut kembali.


 


"Emangnya kenapa sih? kalau kak Rava dan kak Renata tau soal kita. Kenapa kamu jadi takut James?" tanya Jenny.


 


"Duh...Aku bukan takut adinda... kau tidak tau betapa comelnya noona Renata jika dia tau aku berpacaran dengan kamu."


 


"Bagus dong kan artinya enggak marah dengan hubungan kita." ucap Jenny polos.


 


"Sudah jangan banyak omong, Aku malas kalau harus berhadapan dengan Noona Renata dan Kak Rava soal pacar. Karena selama ini Aku tidak mengatakan apapun tentang kau. Karena mereka bisa memberikanku banyak pertanyaan. Ayo...habiskan tehmu, kita pindah lapak." ajak James.


 


Keduanya mengambil minuman mereka dan meneguk habis. James bukan mau menghindar dari Rava dan Renata, hanya saja Ia malas berdebat. Jadila keduanya mengendap-endap menuju meja kasir, seusai mereka membayar, mereka berjalan ke arah pintu dan kabur secepat mingkin.


 


"Lain kali aku tidak mau menghindar James." ucap Jenny saat keduanya di dalam mobil yang di lajukan oleh James.


 


James tersenyum dan melirik sekilas ke adindanya, "Terus kalau gak mau menghindar, entar kena lempar loh." ledek James.


 


"Dih... Aku serius James. Masa iya sih, jumpa keluarga sendiri kabur? Kan kak Rava dan kak Renata sangat baik." ucap Jenny lagi, Ia merasa kesal.


 


"Sebenarnya... Aku bohong!"


"Maksudmu?"


"Ya Aku bohong, kalau Aku menghindar karena takut banyak pertanyaan dari mereka" James memberikan senyuman ke arah Jenny yang memandanya kesal.


 


"Terusss... kenapa? Jangan berbohong kepadaku James. Aku enggak suka seperti itu." ungkap Jeny.


 


"Karena Aku mau, Kau bertemu dulu dengan mama dan papaku." balas James bangga.


 


"Kamu serius?"


 


"Dua rius sayang."


 


"Terus kapan?"


 


"Sekarang..."


 


"Sekarang? kamu tidak bercanda kan James?" tanya Jenny merasa tegang.


 


"Tidak.... Aku benaran serius. Ini jalanan menuju ke rumahku. Tepatnya ke rumah kedua orang tuaku, Aku akan mengenalimu ke mereka terlebih dahulu."


 


Kedua manik mata Jenny terlihat sangat kaget, Ia tercengang ke arah James yang masih tersenyum melihat ekpresi wajah kagetnya Jenny. Karena dari itu, Jenny meminta dukuangan VOTE dan Likenya. Apa kalian masih mau di lanjut?