My Chosen Wife

My Chosen Wife
KERICUHAN SESAMA KELUARGA.



Terjadilah kericuhan akibat ulah si Frans, Renata sendiri mendekati Defan dan memeluk tubuh Defan yang sedari tadi menangis.


 


 


"Sudah... jangan menangis, Kau sudah aman. Sekarang, Kau bisa menemui Alice, ajaklah dia kemari berkumpul bersama kita." ucap Renata menepuk bahunya.


 


 


Defan terisak sedih dan ingin membalas pelukan Renata, tiba-tiba tangannya di tarik dari arah samping.


 


 


"Sini... Peluk Kakak saja." kata Rava menariknya masuk ke dalam pelukannya.


 


 


"Kak Rava." serunya dengan terisak.


 


"Sudahlah... jangan menangis lagi. Kau itu Pria... Jangan seperti anak wanita, terus menanggapi sesuatu dengan menangis." kata Rava dengan memeluk tubuh adiknya yang manja.


 


 


"Benar... Kami di sini akan mendukungmu, Jika Papamu itu macam-macam, beritahu padaku, biar Aku yang mengurusnya." Jimmy datang mendekati Rava dan Defan.


 


 


Defan menoleh ke Jimmy dan melepaskan pelukannya dari Rava dan segera berpindah ke Jimmy. Defan memeluk tubuh Jimmy dengan pegangan yang sangat erat, membuat Jimmy terasa sesak untuk bernafas.


 


 


Defan meraung haru dengan memeluk tubuh Jimmy, "Om Jimmy.... Terima kasih untuk bantuanya, Defan enggak tahu, kalau Om itu sangat manis." ucapnya terisak.


 


"Manis?" emangnya aku gula?." gumam Jimmy dalam hatinya.


 


 


"Siapa yang kau katakan manis Defan?" tiba-tiba Frans datang dengan Raka yang sudah puas menampol bapak si Defan.


 


"Om Jimmy, Pa." balas Defan dengan melepaskan pelukannya dari tubuh Jimmy.


"akhirnya... bernafas juga. Anak sama bapak kenapa begitu sangat mirip?"


 


 


"Kau harus ingat, Papamu dengan orang yang kau sebut manis itu adalah musuh bebuyutan. Jadi... Kau tidak boleh dekat-dekat dengannya!." celetuk Frans.


 


 


"Apaan sih Frans? Anakmu tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalumu, kau ini tidak pernah dewasa!." Eva menimpali.


 


"Mba Eva." balasnya sedih.


 


"Kenapa? Mba berkata yang benar Frans. Kamu dan Jimmy harusnya akur, kalian sudah berumur, sebentar lagi kalian berdua juga akan menjadi Opa." celetuk Eva.


 


"Opppa?" tanya Jimmy.


 


"Iya... Jadi Kalian mulai sekarang haruslah akur." balas Eva.


 


"Hahaha... Oppa? Sudah tua kok jadi Oppa sih Va? Bukankah Oppa-Oppa itu masih sangat muda?" tanya Jimmy.


 


 


"Ampun deh Paman Jimmy, Kebanyakan nonton draKor." celetuk Vara.


 


"Salah ya?" tanya Jimmy.


 


"Salah dong Jim, yang di maksud Nyonya Eva itu Opa yang di sebut dengan Kakek. Bukan Oppa-Oppa Korea seperti Lee Min Ho, Ji Chang Wook, Hemmm... Siapa lagi ya?" tanya Leo seraya berpikir.


 


 


Plaakkkk....


 


 


Rere memukul paha Leo, "Kamu ini apaan sih O, malu tahu." ujar Rere sambilan berbisik.


 


Leo menggaruk kepalanya karena respon sang Istri.


 


 


"Kenapa Kau tahu soal itu Leo?" tanya Raka pada Leo.


 


"Iya ni... Pak Leo sangat ahli soal Oppa" Jimmy ikut menimpali.


"Saama saja dengan Istri dan anakku." gumam Varel dalam hatinya.


 


"Siapa yang di sebut bang Leo?" Frans penasaran.


 


"Agh... Ini Loh Pak Raka, Rere suka nonton Drama-dramanya, jadi saya diam-diam mencari nama pemerannya di halaman pencarian." ujar Leo bersemangat.


 


Rere menepuk keningnya, "Kenapa si O membongkarnya, terlalu jujur amat punya suami."


 


"Syukurlah masih di halaman pencarian, enggak sampai ke Negaranya hingga kerumahnya." decak Frans menimpali.


 


 


"Hemmm... ternyata Paman Leo gaul juga bisa tahu para idolaku." kata Vara dengan mata berbinar.


 


 


Harsen menoleh ke arah Vara, saling memandang, lalu Harsen membuang pandangannya dengan wajah kesalnya.


 


"Kenapa dengannya? Apa dia marah?" gumam Vara di dalam hatinya.


 


 


"Jadi... bagaimana ini? Apa masalah si bambank ini sudah selesai?" tanya Casandra menunjuk ke Frans.


 


 


"Sudah dong Mba Kunti, jawabannya kan sudah ada." kata Frans dengan mengedipkan kedua matanya.


 


 


"Dih... Mata Lo biasa aja! Gua kok geli lihatnya." ucap Casandra dengan mata melotot.


 


Varel menatap ke Frans, keningnya terangkat, pertanda melihat Frans aneh, enggak pernah berubah kelakuannya masih tetap sama, rada kurang.


 


"Kalau sudah selesai, Rapat kita tutup." ucap Raka tegas.


 


"Hemmm... Terima kasih para hadirin yang terhormat, atas kerja sama yang baik. Semoga... Kalian tetap seperti ini, kekeluargaan kita tidak akan pernah pudar." kata Frans dengan elegannya.


 


 


"Emangnya kita keluarga?" tanya Jimmy dengan kedua alis terangkat menatap ke Frans.


 


 


"Ya iyalah? Bukankah Marimar dan Ferguso itu sangat dekat?" tanya Frans.


 


"Hahaha... Dasar Kau Fernando Hose! Perkataanmu ngelantur mulu! Sudalah... Saya dan Anna mau pamit untuk pulang ya semuanya." kata Jimmy beranjak berdiri.


 


 


"Aku dan Varel juga, karena bangun sedari awal pagi, rasanya sangat lelah, apa lagi berlama-lama dengan orang-orangan salju, membuat kepalaku pusing saja." ucap Casandra


 


"Heiiii... Mba kunti, sedang mengataiku?" Frans bertanya.


 


 


"Tidak... Aku sedang memujimu." ucap Casandra dengan kedua mata yang melotot.


 


"Mamaku tersayang, Ayo Ma... Defan bawa Mama ke kamar, kalau Mama lama-lama di sini, Mama bisa gila melihat Suamimu yang aneh." celetuk Defan dengan menarik lembut tangan Delia dan membantunya berdiri.


 


 


Semuanya tertawa di buat oleh Defan, anak sendiri aja pusing sama tingkah bapakanya, konon lagi orang di sekeliling Frans.


 


 


 


"Biar Mama beristirahat Pa. Di sini sangat banyak yang tidak menyukaimu Pa , termasuk anakmu." gumamnya kecil.


 


 


"Iya Defan....Bawa saja Mamamu ke kamar, jangan menghiraukan Pria aneh ini!" Jimmy menimpali.


 


 


Frans menarik nafasnya, "Kalian semua ingin mengolokku?"


 


 


"Siapa? aku tidak, sedari tadi aku diam karena aku cantik." jawab Anna.


 


Varel di buat tertawa dengan ucapan Anna barusan.


 


 


"Kau cantik?" tanya Frans.


 


"Barusan Kau mengatainya." balas Anna.


 


Frans menarik nafasnya, "Syukurlah kau tidak berjodoh dengan Kristoff." balas Frans lagi


 


"Maksudnya?" tanya Anna bingung.


 


"Ya... kalau saja kau berjodoh dengan si Kristoff, mungkin saja Sven sudah bergabung bersama kita di sini." jawab Frans ngelantur.


 


 


"Ayo Ma." bisik Defan membawa Delia berjalan seraya berpamitan dengan yang lainnya.


 


"Heiiiii.. Kalian berdua, Kenapa kalian selalu saja meninggalkan Aku." seru Frans pada Delia dan juga Defan.


 


"Karena Kau aneh Frans, dari dulu hingga sekarang, Kau sama sekali tidak pernah berubah! Membuatku bingung saja." ucap Raka seraya menatap Frans.


 


"Iya.. Paman Frans memang aneh." sambung Vara.


 


"Vara." panggil Eva seraya mengedipkan matanya.


 


 


"Pak Raka... Sebelum semakin panjang, ada baiknya saya membawa keluarga saya pamit dari sini, karena saya takut melewati batas tembok dan benteng kesabaran saya." kata Jimmy ke Raka.


 


 


"Baiklah Jim, Terima kasih saya ucapkan pada kalian sekeluarga, sudah mau mampir makan pagi bersama untuk menyambut kedatangan menantu saya. Anna dan juga James, semoga di lain hari kita berkumpul lagi." kata Raka dengan menatap ketiganya.


 


 


"Baiklah Pak Raka, tapi kita kan masih berjumpa di kantor Pak." ujar Jimmy.


 


"Tapi itu berbeda Jim, sudahlah... Hati-hati di jalan." ucap Raka.


 


"Saya juga Besan... Saya juga pamit, karena takut Casandra kelelahan adanya orang-orangan salju di sini. Semoga kita semua dalam keadaan sehat, agar kedepannya bisa berkumpul dengan canda tawa yang sama." ujar Varel ke Raka.


 


 


Frans menaikan alisnya sebelah mendengar ucapan Varel, yang jarang sekali terdengar olehnya.


 


"Baiklah Besanku, kalian juga hati-hati di jalan." jawab Raka.


 


Melangkah mendekati Eva... Jimmy, Varel , Casandra, James , semuanya mendekati Eva, berpamitan untuk kembali pulang. Begitupun dengan Leo dan Rere, di ikuti dengan Harsen. Harsen memilih untuk pulang ke rumahnya, karena memang sedari sampainya dia di Jakarta, Harsen belum juga menginjakkan kakinya ke Rumahnya.


 


 


Renata memeluk erat Varel dan juga Casandra, terobati sejenak rasa rindu yang mendalam pada kedua orang tuanya, meskipun baru satu hari, tetapi kerinduannya sudah berasa bertahun-tahun. Varel memberikan semangat untuk sang anak, agar bisa terbiasa dan dengan cepat membaur.


 


 


Berbeda dengan Vara, Ia tidak tahu, kalau hari ini Harsen memilih untuk pulang ke rumahnya, dengan raut wajah sedih, Vara ikut mengantarkan Harsen, Leo dan Rere setelah kepulangan Keluarga Jimmy dan Varel.


 


 


"Kamu yakin Nak untuk pulang?" tanya Rere seraya melirik ke Vara.


 


"Yakin Ma... Harsen belum kembali ke rumah." ucap Harsen tanpa menoleh ke Vara.


 


"Vara... Harsen cuma sebentar kok, nanti dia juga kembali." ucap Rere dengan lembut.


 


 


"Iya Bi." balas Vara dengan sekuat tenaganya.


 


"Sayang... Kau ini seperti mau di tinggal jauh saja oleh suami kamu, masih juga pacaran bisa ketemuan lagi. Dulu... Mama kamu aja tidak seperti ini, saat Papamu pergi." kata Raka dengan menarik tubuh Vara ke dalam pelukannya.


 


"Papa..." balasnya sedih.


 


 


"Kenapa aku yang jadi kambing hitam? seenaknya saja berkata Aku tidak menangis karena di tinggal olehnya, awas saja nanti." gumam Eva dalam hatinya dengan menatap tajam ke Raka, Raka yang melihat tatapan Istrinya pun tahu dengan pemikiran sang Istri.


 


"Kalau begitu kami jalan sekarang." ucap Rere pada semuanya, "Rava dan Renata, terus semangat." sambung Rere lagi.


 


 


"Hahah... Iya Bi. Kalian berhati-hatilah, Harsen... jangan terlalalu lama liburnya, kasihan adikku yang cengeng ini." ucap Rava.


 


"Baiklah Kak... Paman, Bibi, Kak Renata, Harsen pamit dulu ya." ucap Harsen dengan melambaikan tangannya, sekilas Ia melirik Vara yang sedih tanpa mau melihat ke arahnya.


 


"Sama Vara enggak pamit?" tanya Renata.


 


Vara langsung melepas pelukannya dari Raka dan berjalan masuk ke dalam rumah, dengan menangis sedih. Harsen melihat kepergian Vara tanpa ada kata maupun ucapan.


 


"Sudah tidak apa-apa, pulanglah Harsen, biar Bibi yang urus." kata Eva menenangkan Harsen.


 


"Baiklah Bi...Paman, Harsen pamit " ucap Harsen berjalan ke arah Mobil.


 


 


"Saya Pamit Pak Raka dan Nyonya Eva" ucap Leo permisi dan berjalan bersama Rere untuk masuk ke dalam mobil, Renata dan Rava melambaikan tangannya ke arah mobil.


 


 


Harsen yang sudah berada di kursi kemudi, melajukan mobilnya, meninggalkan area parkiran mobil rumah Raka. Vara yang dari atas kamarnya, melihat kepergian Harsen semakin terisak sedih.


 


 


"Sudalah anak-anak, masuklah ke kamar kalian, beristirahatlah." ucap Raka.


 


"Baik Pa... Ayo sayang." kata Rava menarik lembut tangan Renata.


 


Setelah itu Raka menatap Eva, "Kenapa denganmu?" tanya Raka saat mendapatkan tatapan Eva.


 


"Aku? Apa kau tadi lupa mengatai Aku apa di depan Vara dan yang lainnya? Coba di ingat kembali," kata Eva dengan berjalan meninggalkan Raka.


 


 


Raka sejenak berpikir, lalu Ia menepuk keningnya dan berlari mengejar Eva.


 


"Mama Bearkuuuuuu....!!!" seru Raka mengejar Eva.


 


 


 


 


Bersambung.


....


Ye ketemu lagi, selalu tidak bosan mengingatkan kalian, tolong gambar JEMPOLNYA jangan di angguri, Jangan lupa VOTE, biar saya semakin semangatttt 🥰. TERIMA KASIH 😘