My Chosen Wife

My Chosen Wife
MANGGA MUDA.



[Ya Fan?]~ Rava.


[Kak Rava, Kak Renata kepengen sesuatu.]~Defan.


Sejenak hati Rava legah.


[Ouuu... Kepengan di bawain apa Fan?]~ Rava.


[Kata Kak Renata, Kak Rena mau makan mangga muda, yang kakak petik dari pohonnya sendiri.]~Defan.


[Apaaaaaaaaaa!!!]~ Rava.


"Ada apa Rava?" Raka cemas.


 


[Kak Renata ingin makan mangga muda yang langsung kakak petik dari pohonnya. Kalau Kakak membelinya. Kak Renata bisa tau loh katanya. Itu aja kak, di tunggu Kakak pulang. Byeeeee....]~Defan.


 


Ucapan Defan menjadi pemutus pembicaraan keduanya. Raut wajah Rava berubah menjadi sedih, membuat yang lainnya bingung.


"Ada apa sih Kak?" Vara penasaran.


"Mama." rengek Rava ke Eva dengan wajahnya yang sedih.


"Ada apa Nak?" Eva menatap ke Rava.


"Iya, ada apa sih?" saut Raka.


"Apa salahku? Kok Renata ngidamnya aneh?" Rava terpiar sedih.


"Ngidamnya apaan Nak?" tanya Eva penasaran.


"Masakan Rava di suru petik mangga muda dan harus manjat sendiri?" ujar Rava.


Eva dan Raka sama-sama saling pandang. Vara tertawa dengan senang. Harsen menahan tawanya.


"Kok kamu gitu sih Vara? Senang banget." ini wajah, mirip seperti Defan di kala bersedih.


"Lucu aja loh Kak, ini kan sudah malam. Baru berhenti juga. Di mana kita mencari mangga yang masih muda di malam hari?" Vara menahan tawanya.


"Ini seperti mengulang kisah kita sayang." kata Raka menyikut Eva.


Eva tertawa kecil dan menganggukan kepalanya.


"Kisah apaan Pa?" tanya Rava ke Raka.


 


"Waktu Mamamu mengandung kamu, Papa juga di suru manjat pohon, buat metik langsung mangga muda dari pohon warga di pinggir jalan. Dan harus punya orang, bukan beli. Waktu itu, Mama dan Papa saat berkunjung ke Bandung Nak." ujar Raka dengan bersemangat bernostalgia.


 


"Wah, masih hidup gak yang punya ya Pa? Ini namanya pembalasan buat Rava ya pa?" tanya Rava dengan bersedih.


 


"Sudah, makanlah dulu. Nanti kita cari sama-sama." Eva menenangkan.


"Lah, bukannya kebun Mama ada pohon mangga?" sambung Raka, "Banyak tuh, karena Papa takut, Vara juga seperti itu ngidamnya. Jadinya Papa beli aja pohon mangga dengan beberapa jenis mangga sekaligus." Raka menunjuk ke arah luar.


 


Wajah Rava berubah penuh harap.


 


"Lagi gak berbuah Pa." saut Eva.


 


"Astaga, apes benar." Rava kembali bersedih, sekilas menoleh ke Harsen.


 


"Kalau mau tertawa, tertawa aja Sen. Gak usah di tahan-tahan! Lo bantui Kakak buat nyarinya." perintah Rava dengan membulatkan matanya.


 


Refleks Harsen benar-benar melepas tawanya. Semua mata menatap bingung ke Harsen yang sedang tertawa senang. Karena bagi Harsen, untuk pertama kalinya melihat Rava merengek sedih mirip dengan si Defan.


 


"Hemmm... Maaf Bibi, Paman, Kak Rava. Keceplosan." ucap Harsen sedikit menunduk.


 


"Sepertinya senang banget kan?" bisik Vara ke Harsen.


 


Harsen mengangguk polos.


 


"Sudah makan dulu, nanti kita cari. Kalau ada niat, semua pasti dapat. Kamu menghadapi yang pertama saja sudah mengeluh. Bagaimana nanti yang kedua, ketiga dan ke yang lainnya? ayo-ayo di makan." perintah Eva.


 


Akhirnya dengan berat hati, Rava menyendok nasi ke dalam piringnya. Seluruhnya menyantap makan malam mereka dengan tenang.


 


Setelah usai makan malam, Rava hanya meminta Raka dan Harsen yang bertugas menenemaninya, mencari mangga muda dari pepohonan warga komplek perumahan Raka.


 


Di malam yang sunyi, dingin dengan di temani lampu jalan yang temaram, mengiringi pencarian mereka. Suara jangkrik yang bersaut-sautan, menemani Raka, Rava dan Harsen, melihati satu persatu rumah yang ada di komplek.


 


Hawa dingin yang menusuk kulit, membuat rasa gusar dalam diri Rava menyala-nyala.


 


'Jika gak dapat juga, bagaimana dengan anakku?'


 


Mata Rava bergantian melirik ke kanan dan ke kiri rumah tetangganya.


 


"Itu ada pohon mangga, sebentar Harsen tanya ya Kak, Paman."


 


Harsen berjalan menuju salah satu rumah warga.


 


"Buuuk... Pakkkk.." jerit Harsen dari luar.


 


"Apa ada orangnya? gelap sepertinya." Rava menelusuri rumah di depannya.


 


"Ada tuh, baru keluar." Raka menunjuk ke arah pintu yang terbuka.


 


"Siapa ya?" tanya si asisten rumah tangga, mendekati pagar rumah.


 


"Mba... Mangganya ada? Kalau ada boleh minta gak ya? yang masih muda, untuk Istri Kakak saya ini, sedang ngidam." kata Harsen bersemangat.


 


"Ouuu ada Dik... tapi buahnya jauh. Gak ada yang dekat. Gimana itu?" tanya si Mba.


 


"Gak apa-apa, kita panjat aja boleh ya Mba?" tanya Harsen.


 


"Ouuu... silahkan Dik." kata Mba, dengan membuka pintu pagarnya.


 


Jadilah, si Rava yang berusaha untuk manjat pohon mangga yang tidak pendek dan tidak terlalu tinggi. Tapi, dia mengingat perkataan Eva. Jika ada niat, pasti akan mendapatkannya. Menarik kedua lengan panjang kemejanya, dan mulai mengambil ancang-ancang.


 


Dengan di bantu Harsen mendorong bokongnya, Rava memulai aksinya untuk memanjat dan memetik buah yang duluan tampak di kedua matanya.


 


"Wah, Pak Raka ternyata." kata si empunya rumah yang keluar dan sempat bertanya pada asisten rumah tangganya.


 


 


"Tidak apa-apa Pak Raka. Semoga, setelah mendapatkan keinginannya, menantu dan calon cucu anda sehat-sehat."


 


"Terima kasih banyak Pak." balas Raka.


 


"Tapi, kenapa harus manjat Pak? Di bagian sini kan ada yang bisa di ambil pakai alat pemetik buah." si pemilik menunjuk ke arah dahan pohon di atasnya.


 


Hati Rava yang sudah memetik mangga yang tidak jauh dari bawah, serasa teriris mendengarnya.


 


'Kenapa juga si Mba tadi, gak bilang begitu.'


 


"Rava, turun Nak. Di bagian sini, ada yang bisa di petik pakai alat pemetik buah Nak." Raka mendongak ke atas.


 


"Sudah dapat kok Pa." ucapnya, lalu menjatuhkan satu rentengan mangga muda ke arah Harsen.


 


Rava pun turun dengan sempurna.


"Sudah Pa. Itu cukup sepertinya." kata Rava dengan menunjuk ke mangga yang di dalam pelukan Harsen.


"Baiklah, Terima kasih banyak Pak Karto. Semoga mangga anda terus berbuah lebat. Saya permisi Pak Karto, sekali lagi mohon maaf mengganggu waktu istirahat anda."


Si pemilik pohon tersenyum.


"Sama-sama Pak Raka. Semoga sehat-sehat untuk mantu dan cucu anda."


"Amin, terima kasih Om." Rava menimpali.


"Sama-sama nak."


Ketiganya berjalan meninggalkan kediaman tetangga mereka. Raka jadi teringat juga, saat itu Leo yang membantunya. Di saat sekarang, Harsenlah yang menolong sang anak. Lucu saja baginya, semesta tidak tanggung-tanggung mengulang cerita mereka.


Ketiganya berjalan kaki, untuk kembali ke kediaman Raka. Tiba-tiba, Harsen mengingat sesuatu.


"Kak, tapi Harsen baru teringat loh." ucap Harsen tiba-tiba.


Raka dan Rava menoleh bersamaan.


"Teringat apa Sen?" tanya Rava penasaran.


"Hemmmm di rumah Harsen, ada kok pohon mangga yang lagi berbuah." katanya dengan polos.


Rava terhenti di ikuti oleh Raka. Keduanya saling memandang, dan berpindah ke Harsen yang masih santai berjalan, tanpa di sadari, orang di kiri kanannya sudah berhenti dengan menatapnya dingin.


"Sen." panggil Rava menghentikan langkahnya.


"Ya Kak?" Harsen menoleh ke belakang.


"Kamu gak lagi ngerjai Kakak kan?" tanya Rava dengan kedua matanya yang dingin.


"Kerjai bagaimana Kak? Harsen memang lupa Kak. Baru teringat saat memeluk mangga ini." mangganya di angkat ke arah Rava.


"Agh.. sudalah. Sepertinya, ini memang sudah harus terjadi pada diriku." kata Rava melanjutkan jalannya.


Harsen menatap wajah Rava yang mendahuluinya.


"Ayo... kenapa diam?" Raka menarik dan merangkul pundak Harsen dengan lembut.


"Apa Harsen melakukan kesalahan Paman?" tanya Harsen ke Raka.


"Ouuu tidak, itu hanya kesalahan teknis saja. Tidak usah di tanggapi. Begitulah, kalau baru merasakan pertama kalinya, istri yang sedang mengandung. Nanti Kau rasakan sendiri Nak, jika waktunya tiba." sambil berjalan, Raka menatap Harsen dan tersenyum.


'Semoga saja, tidak yang aneh-aneh'


***


Kediaman Rava Atmadja.


Suara mobil Rava terdengar dari dalam. Dengan bersemangat, Defan berjalan menuju pintu, menyambut Rava yang tampak sangat lelah.


 


"Selamat datang di kerajaan Tuan Rava." sapa Defan ke Rava.


 


"Ini mangganya! Jangan becanda! lagi gak mood." Rava memberikan mangga muda ke arah Defan. Refleks ia mengambil mangganya.


 


"Wah, akhirnya dapat." kata Defan dengan berjalan mengikuti Rava.


 


"Tapi, kenapa kemeja Kakak sangat jorok?"


 


"Kakak memanjat pohonnya tadi." balas Rava malas dengan membuka kancing kemejanya.


 


"Sungguh suami idaman ini." kata Defan, "Hanya saja Kak, Kak Renata sudah tertidur di sofa." kata Defan dengan meletakkan mangga muda di salah satu meja di ruangan tamu.


 


"Di mana dia tertidur?" tanya Rava menoleh ke Defan.


 


"Di ruangan santai Kak. Defan dan Kak Renata menunggu Kakak pulang. Jadi, Defan menemani kak Renata nonton, egh siap Defan tadi telepon Kakak, gak lama malahan bobok."


 


Rava berjalan cepat ke arah ruangan santai. Tampak sang Istri yang terlelap dalam tidurnya.


 


"Apakah hari ini Renata ada mengeluh Fan?"


 


"Tidak Kak. Tidak ada keluhan, kak Renata senang-senang aja tuh. Defan juga sudah membuatkan susu untuk kak Renata Kak. Karena kakak yang biasa membuatnya, jadi Defan menggantikan Kakak."


 


"Terima kasih Fan, ternyata Kau bisa di andalkan." kata Rava melepas kemejanya.


 


Kedua mata Defan terpanah menatap tubuh kekar Rava. Kedua matanya membulat penuh, gila ini namanya.


 


"Defan gitu loh! itu roti sobek atau roti tawar kak?"


"Sssttt... Istirahatlah." kata Rava dengan mengangkat tubuh Renata dengan sangat hati-hati. Berjalan menuju tangga rumahnya.


 


Rava menatap dalam pada wajah Renata. Rasanya sangat tenang, sesudah sampai di rumah, mendapati sang Istri meskipun sudah terlelap.


 


Karena bagi Rava, rumah adalah tempat teduh favoritnya, di mana istana kecilnya di huni oleh yang namanya keluarga.


 


 


Sesampainya di kamar, Rava membaringkan tubuh Renata. Perlahan dan hati-hati, sehingga tidak membuat Renata terganggu.


 


"Selamat malam Istriku. Terima kasih untuk hari ini, permintaan pertamamu sudah aku turuti, meskipun Kau sudah tertidur." Rava menyingkap rambut Renata yang menutup sebagian wajahnya. Kemudian, mendaratkan kecupan di kening Renata.


 


 


 


Bersambung.


.....


Yeee... mon maaf kalau ada yang bilang kebanyakan ngobrol jadi BT. Saya gak pandai mendongeng, jadi ngobrol aja gak apa-apa ya... hihi... Eh jangan lupa VOTE ya kakaku sayang. VOTE di tutup jam 22:59:59.


Terima kasih, selamat malam 🤗🥰