My Chosen Wife

My Chosen Wife
KEPULANGAN RENATA.



Keesokan Hari.


Pagi itu, Rava terbangun di jam 06:00 pagi waktu setempat. Di  mana Rava memang sengaja mengatur Alarmnya, agar cepat dan tepat waktu untuk sarapan bersama dengan keluarga Renata dan juga mengantar sekeluarga itu ke Bandara. Seusai di rasa siap, walaupun penghuni rumah hanya asisten rumah tangganya yang baru kelihatan di dalam rumah itu, Rava hanya izin untuk keluar dan sekalian berangkat ke perusahaannya. Tetapi Harsen dan yang lainnya sudah tahu, arah tujuan sang kakak hendak ke mana.


 


 


Tampak wajah Rava yang masih tampak mengantuk mengemudikan mobilnya dan meninggalkan  kediamannya. Seusai Rava sudah tidak kelihatan di area rumahnya, Defan yang melihat kepergian Rava dari dalam kamarnya, buru-buru keluar dan langsung saja membangunkan Vara dan juga Harsen. Dalam rencana mereka, meskipun Rava tidak mengajak  mereka untuk ikut mengantarkan Renata, Defan dan yang lainnya memiliki rencana untuk mengikuti Rava mengantarkan Renata ke Bandara.


 


 


***


Beberapa menit kemudian, Rava tiba di  basement apartemen Renata. Dengan gayanya yang keren itu, dia berjalan menuju pintu lift. Sesampainya di tempat kamar Renata berada, Rava berjalan menyusuri koridor Apartemen hingga tiba di depan pintu kamar Renata dan keluarganya. Tanpa pikir panjang, Rava langsung menekan tombol bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampak wajah Casandra.


“Wah.. Selamat pagi Rava? Ayo masuk Nak,” ajak Casandra.


 


 


“Selamat pagi Bi, maaf mengganggu pagi-pagi,” balasnya dengan rasa sungkan.


 


 


“Agh tidaklah, Renata sudah cerita kok. Naiklah ke atas, Renata masih tidur. Bibi sedang masak untuk sarapan kita, bangunkan saja Renata.” ucap Casandra seraya berjalan ke arah dapur.


 


 


“Baik Bi,” balas Rava sambilan berjalan ke arah anak tangga.


 


 


Sesampainya di depan pintu kamar Renata, Rava membuka pelan pintu kamar dan masuk dengan langkahan yang tidak terdengar. Tampak wajah Renata yang tertidur sangat nyenyak, membuat Rava tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Rava berjalan  mendekati ranjang, duduk di pinggir ranjang, lalu dengan isengnya dia mengambil ponselnya, dan mengambil gambar Renata yang masih tertidur. Rava tersenyum lagi, rasanya sangat menggemaskan lihat wajah Renata yang sangat teduh saat dia tertidur, berbedah saat dia  bangun. Bias-bisa dia terus mengoceh seakan tidak ada ujungnya.


 


 


Rava mencoba menyingkapkan rambut yang menutupi sedikit wajahanya, lalu membelai pipinya masih dengan senyuman lembut yang menatap mesra Renata. Perasaan Rava sangatlah bersyukur, Renata bisa ada bersamanya. Rava yang sedari tadi gemas melihat Renata yang masih nyenyak dalam alam tidurnya itu, mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan pada bibirnya.


Renata bergerak dengan mata yang  masih terpejam, Rava yang melihat wajahnya mengkerut karena terganggu membuat Rava tersenyum. Masih dalam di ambang kesadaran, Renata yang tidak tahu ada Rava di dekatnya, meregangkan otot kedua tangannya, hingga membuat Rava terjatuh dari tepi ranjang.


 


 


Brugggggg…


“Awwwww…” Rava meringis seraya mengusap bokongnya.


Sedangkan Renata, kembali meneruskan tidurnya. Rava di buat bingung dengan Renata yang tidak terbangun mendengar suara tubuh Rava yang terjatuh dan suara nya yang menahan sakit.


 


 


“Cih… Kau itu seperti kebo saja.” Ucap Rava yang menahan tawanya dengan duduk di atas lantai menatap wajah Renata.


Kembali Rava bangkit dan duduk di tepi ranjang, kali ini dia mencoba lagi dengan mengecup bibir Renata dan melahapnya. Renata yang kaget, merasakan sesuatu di bibirnya, mengerjapkan matanya dan melotot, hingga dia menolak tubuh Rava sampai Rava kembali terjatuh.


Renata yang belum sadar itu panik, berdiri di atas ranjangnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut, saat Rava mencoba duduk,Renata kaget melihat wajah Rava yang meringis sakit itu.


 


 


“Rava,” serunya dan dengan cepat turun dari ranjangnya membantu Rava untuk berdiri.


 


 


“Kok kamu enggak bangunkan Aku sih? Pakai cium-cium segala, kan Aku pikir siapa gitu yang berani-berani mencium bibirku.” Renata membela dirinya.


 


 


Rava kembali mengusap bokongnya yang berasa bergetar untuk kedua kalinya. Dengan di bantu Renata duduk di tepi ranjang, lalu Ia melihat ke Renata dengan wajah kesalnya.


 


 


“Kau itu tidur seperti kebo tahu! Aku sudah membelai pipimu, mengecup bibirmu, kau bergerak dan aku kena tolakan dari tanganmu. Aku kembali berdiri dan langsung melahap bibirmu, Kau melotot ke arah ku dan aku kembali di tolok sampai jatuh ke lantai, sudah dua kali, dua kali Renata!” ujarnya dengan kesal.


 


 


Renata tertunduk dengan malu, serba salah rasanya mendapatkan tatapan kesal dari Rava.


“Kau baru tahu, aku tidur kayak kebo? Agh Rava… kenapa Kau datang ke kamarku di saat aku tidur?” gumam Renata dalam hatinya dengan memejamkan matanya sejenak.


 


 


“Kenapa diam? Tahu salahnya? Biasa juga di jawabin?” sindir Rava.


 


 


Renata mengangkat wajahnya dengan bibir yang di majukan, “Sudah dong, jangan kesal lagi. Maafin Aku ya, Aku enggak sengaja.” balas Renata merasa bersalah.


“Hemmm…Ada hukumannya.”


“Apa???” jawab Renata cepat.


 


 


“Cium.” Jawab Rava tanpa menoleh Renata.


Renata terkesiap, lalu dengan cepat Renata mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Rava.


“Muachhhhhh.” Renata tersenyum, “sudah.”


 


 


Rava menggelengkan kepalanya, “Tidak terasa, ulangi!”


Renata menajamkan pandangannya, “Dasar ini cowok ngerjain kali ya!” gumam Renata dalam hatinya.


 


 


Rava menoleh ke Renata yang menatapnya kesal, “Kenapa diam! Kau itu menolakku dua kali! Jadi harus mencium Aku dua kali. Buruan di ulang!”  Rava menoleh ke arah depan, dan bagian pipi mengarah pada Renata.


 


 


Renata yang kesal kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Rava, dengan cepat Rava membalikan wajahnya hingga Renata mengecup bibirnya, dengan kagetnya Renata hendak melepaskan bibirnya, Rava menariknya dan memberikan ciuman lembut pada bibirnya. Rava tersenyum, Renata sendiri memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat dari bibir Rava. Serasa sudah cukup bagi Rava, perlahan dia melepaskan bibirnya di ikuti dengan mata Renata yang terbuka.


 


 


“Kau mengambil kesempatan dari ku?” Tanya Renata dengan mata yang di tajamkan.


Rava tersenyum dan menarik kedua pipi Renata, “Kau.... itu  menggemaskan, mana mungkin aku mengambil kesempatan dengan kekasihku sendiri? Sudah sana mandi, ini hari terakhir mu. Aku tunggu kau di bawah,” ucap Rava seraya beranjak.


 


 


“Baiklah… “ ucap Renata bersemangat dan berjalan menuju kamar mandi.


 


 


Rava sendiri turun ke bawah dan menyapa Varel yang duduk di balkon ruangan tengah dengan secangkir kopi dan Koran di tangannya.


 


 


“Selamat pagi Paman,” sapanya.


 


 


“Hah.. Selamat pagi Nak. Ternyata Kau sudah datang, Apa Kau mau secangkir kopi?” tanya Varel.


 


 


“Tidak Paman, Rava tidak bisa minum kopi.”


“Wah.. jarang-jarang seorang pembisnis tidak bisa minum kopi, Kau memang anak yang langkah seperti papamu,” celetuk Varel bersemangat.


 


 


“Hah.. Paman bisa aja.” balas Rava sungkan.


 


 


“Ini nak, Minumlah segelas Teh hangat selagi menunggu Renata.” ucap Casandra, meletakkan teh di atas meja.


“Iya Bi, Terima kasih.” balas Rava.


 


 


“Bagaimana Rava? apakah mama dan papa kamu sudah tahu tentang hubungan mu dengan Renata?” tanya Varel dengan serius menatap Rava.


 


 


“Hah sudah Paman, tentang lamaran yang akan di langsungkan pun sudah Rava beritahukan pada Mama dan Papa.Mereka setuju Paman, tunggulah waktu dekat ini, usai Vara dan Defan libur semester, Rava akan membawa mereka juga ke Jakarta , Paman. Pernikahan akan di  laksakan, usai Vara di wisuda. Jadi.. Rava berencana untuk menetap di Jakarta setelah menikah , Paman.” tutur Rava dengan gugup.


Varel yang mendengar perkataan Rava barusan mengernyitkan keningnya, “Bagaimana dengan perusahaanmu, Nak? Apa kau sengaja, untuk menetap di Jakarta , agar Renata tidak jauh dari kami?” tanya Varel.


 


 


“Hah.. iya itu salah satunya , Paman. Dan yang lainnya, Rava berpikir jika Rava membawa Renata menetap di sini, bagaimana dengan perusahaan Paman, Rava tidak mungkin egois Paman, karena Rava tidak mungkin juga mengekang Renata agar tidak bekerja. Biarlah Rava yang mengikut Renata, mengelola perusahaan Papa di Jakarta, atau  perusahaan cabang lainnya yang di Jakarta.” ujar si Rava.


 


 


 


 


“Baiklah Paman,” ucap Rava lagi.


 


 


“Mi.. tolong panggilkan Renata, ini sudah waktunya sarapan pagi, dan kita harus segerah ke bandara.” Varel sedikit berteriak ke Casandra yang masih di dapur.


 


 


“Itu orangnya sedari tadi di situ, Pi.” balas Casandra yang mendekati mereka.


Rava dan Varel sama-sama berdiri dan melihat ke arah yang di tunjuk oleh Casandra. Tampak Renata yang berdiri dengan melipat kedua tanganya di dada dan bersandar pada dinding. Renata berjalan mendekati dua pria kesayangannya itu.


 


 


“Wah… Pembicaraan yang serius antara calon menantu dan calon mertua,” ledek Renata.


Varel, Rava dan Casandra tersenyum mendengarnya, Varel sendiri datang mendekati sang  putri semata wayangnya, merangkul Renata dan membawanya bersama-sama berjalan ke arah meja makan. Rava dan Casandra bersamaan mengkuti keduanya dari belakang.


 


 


Seluruhnya mengambil tempat masing-masing, Rava duduk di samping Renata, Casandra di samping Varel. Sesuai dengan yang pernah di ucapkan Casandra dengan Renata, kali ini Renata langsung saja menyendokkan nasi dan lauk ke piring Rava, begitu juga dengan Casandra. Seluruhnya tersenyum sendiri, hingga mereka makan dengan hening. Seusai makan, keempatnya begegas untuk berangkat ke bandara, dengan di temani Rava, Renata mengucapkan selamat tinggal dengan kamar yang ia tempati sebelum menutup pintu. Ada kesedihan di wajah Renata, Rava menarik tangannya dan berbisik.


“Kau akan kembali ke sini, jangan bersedih,” katanya dengan tersenyum.


“Agh.. Iya benar.” balas Renata lalu menutup pintunya dan mengunci pintu Apartemen itu.


 


 


Dengan memeluk boneka yang di berikan oleh Rava, Renata berjalan dengan genggaman tangan Rava, seakan tidak ingin lepas dari Renata. Casandra dan Varel duluan menuju basement. Rava yang membawakan koper Renata menuju lobby bawah dengan tangan kiri yang masih menggenggam tangan Renata, membuat yang lihat ke arah mereka sangat iri. Sesampainya di loby, Renata mengingat sesuatu yang belum ia lakukan.


 


 


“Rava… “ panggilnya.


“Iya, ada apa?”


“Bagaimana dengan Vara, Defan dan Harsen. Aku belum sempat berpamitan dengan mereka.”


 


 


“Tidak masalah, mereka akan ke Bandara menemuimu.” ucap Rava dengan santainya.


“Apa Kau yakin?”


Rava mengganggukan kepalanya, “Sangat yakin,” balasnya.


“Kenapa Kau bisa seyakin itu?”


“Kenapa Kau ini sangat cerewet sekali? Hah… Kau mau tahu? Saat sampai di rumah tadi malam, ketiganya berkumpul di kamar Harsen, Aku mendengar yang mereka bicarakan. Jadi Kau tidak usah takut, mereka akan datang. Sudah masuklah ke mobil, biar Aku simpan kopermu, kemarikan boneka itu,” ucapnya dengan  menarik boneka yang di peluk Renata, Renata menahannya.


“Biarkan dia bersamaku, jangan bilang Kau cemburu dengan boneka ini. Ini kan pemberian darimu,” balas Renata dengan bibir cemberut, lalu berjalan masuk ke mobil saat mata Rava menatapnya.


 


 


Rava tertawa, “Cih… kenapa boneka itu lebih beruntung dari aku.” ucapnya lalu memasukan koper Renata ke bagasi.


 


 


Rava melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara. Perasaan yang sedih di satu sisi dan di sisi lain ya dia berbahagia, mengantarkan kepulangan Renata dengan selamat. Beberapa jam kemudian tibalah mereka di Bandara. Langsung saja,  mereka menuju tempat di mana mereka mengurusi keberangkatan sebelum bisa masuk ke ruangan tunggu terminal keberangkatan luar negeri.


 


 


Tak lama tampak Defan, Vara dan Harsen mendekati mereka.


“Kak Renata,” seru Defan yang berlari ke arah Renata, dan hendak memeluk Renata. Buru-buru Rava memasang badan di depan Renata,jadilah Defan memeluk tubuh Rava. Rava menatap tajam pada Defan sedangkan Vara, Harsen, Casandra dan Varel tertawa  melihat tingkah kedua anak muda itu.


 


 


“Kok jadi Kak Rava sih?” Defan melepas pelukannya seraya menatap pada Rava yang tersenyum palsu. Lalu Rava setengah menunduk ke Defan mendekati wajah Defan seraya berbisik, “Dia itu kekasihku, jangan suka-suka memeluknya,” ucap Rava.


 


 


Renata malahan menggeser kasar tubuh Rava, membuat Rava kaget menatap pada Renata yang langsung memeluk Defan.


“Adikku yang sangat baik, jagalah Kakakmu yang aneh ini, selama Kakak enggak ada di sisinya. Apa kau mau?” ucap Renata seraya memeleuk Defan dengan penuh kasih.


 


 


Defan yang dalam pelukan Renata menatap wajah Rava yang kesal, mengulurkan lidahnya ke arah Rava, semakin kesallah si Rava.


 


 


“Defan mau kak,” jawab Defan dengan melepaskan pelukan Renata.


“Kau memang anak yang baik,. sudah pamitan sama Mami dan Papi.” ucapnya dengan Defan.


 


 


Lalu Vara mendekati Renata yang sudah tersenyum padanya dan membuka kedua tangannya untuk memeluk Vara, dengan cepat Vara mendekati Renata dan membalas hangat pelukannya.


“Selamat jalan ya Kak, semoga tiba dengan selamat di Jakarta, Vara dan yang lainnya menunggu kabar baik.” ucap Vara.


“Terima kasih calon Adik iparku, Semoga kami juga mendapatkan kabar baik dari kamu,” ucap Renata dengan melonggarkan pelukannya.


 


 


“Siap kak,” balas Vara bersemangat.


 


 


Semuanya menatap pada Vara dan Renata yang mesra dari sebelumnya sangat bersyukur dengan pemandangan yang barusan mereka perlihatkan. Rava sendiri tersenyum senang, adiknya itu bisa akur dengan calon kakak iparanya. Pandangan Renata berpindah pada Harsen, kembali dia membuka tangannya mengarah ke Harsen, mata Rava kembali tajam, membuat Harsen yang sempat tersenyum itu memudarkan senyumnya saat mendapatkan tatapan Rava. Renata yang tahu itu, mendekat ke Harsen dan memeluk tubuh Harsen, Harsen menjadi kakuh membalas pelukan hangat dari Renata.


“Jangan lama-lama membalas perasaan kalian masing-masing, kakak tahu Harsen sangat menyayangi Vara. Jangan sampai lepas ke lain hati, Kau pasti bisa” bisik Renata pada Harsen.


 


 


Harsen tersenyum, “Baik Kak, Terima kasih. Penerbangan aman ya kak, sampai dengan selamat di Jakarta. Harsen juga menyayangi Kak Rena.” balas Harsen dengan senyuman dan menunduk ke bawah, takut melihat tatapan tajam Rava.


 


 


“Sudah-sudah,” ucap Rava menarik tangan Harsen agar pelukan mereka terlepas, “Kasihan Bibi dan Paman, masuklah,” perintahnya ke Renata.


 


 


Semuanya tertawa kecil melihat si Rava yang cemburu itu, sedangkan Renata menatap aneh pada Rava.


“Baiklah.. Aku masuk sekarang,” celetuk Renata kesal.


 


 


Vara, Harsen dan Defan mendekati Rava, seakan berbaris menatap Renata yang hendak melangkah itu.


“Kenapa di sangat kejam kepadaku?” gumam Rava pelan.


 


 


Semua adiknya menatap bingung ke Rava, lalu semua mereka saling pandang saat Rava masih menatap kepergian Renata. Wajahnya sangat sedih, siapapun tahu apa yang di rasakan Rava sehingga membuat adik-adiknya tersenyum.


 


 


Renata tiba-tiba terhenti dan berbalik menatap ke Rava dengan bibir bawah yang di gigitnya. Kemudian Renata berlari menuju Rava dan memeluknya sangat erat.


 


 


“Hah.. Kau memang sangat usil! Aku pikir, Aku tidak mendapatkan pelukanmu,” ucapnya dengan memeluk erat tubuh Renata.


 


 


“Kau sangat cemburuan membuat Aku kesal, jaga dirimu baik-baik. Aku menunggumu di Jakarta,” kata Renata.


 


 


Renata melepaskan pelukannya, lalu mengecup bibir Rava di depan adik-adiknya. Semuanya kaget dengan mata yang melotot. Seusai melepas kecupannya, Renata memberikan sentuhan lembut pada kepala Rava dan tesenyum.


 


 


“Sampai jumpa di Jakarta semuanya, Aku sangat mencintai kalian semua.” ucapnya dengan melambaikan tangannya, menahan air mata bahagianya, lalu kembali memutar tubuhnya dan kembali melanjutkan langkahnya.


 


 


Rava menatap kepergian Renata, membuat hatinya merasa sedih. Sedih karena hari-harinya akan kembali seperti biasa. Tanpa Renata, hanya untuk sementara. Hampir masuk ke dalam , Renata kembali memutar tubuhnya menatap pada Rava dan yang lainnya, serta melambaikan tangannya ke Rava. Rava mencoba tegar, dengan perpisahan sementara.