
Renata menatap Rava yang masih saja berdiam dengan tindakan Renata yang di luar dugaannya, membuat Rava tertegun sejenak, memandang wajah renata yang cantik dan mempesona, menurut penilaian Rava dan Author. Keduanya saling memandang, "Bukankah seperti itu yang kau maksud?" tanya Renata lagi.
"Renat—" ucapnya terputus.
"Agh... Aku tahu, itu tidak ada artinya bagimu. Tidak usah merasa tidak enakan, anggap aja aku sudah melewati batasku. Sudahlah, santai saja tidak perlu menatap kasihan kepadaku!." ucap Renata lalu berbalik ke depan, dan hendak berjalan. Terhenti lagi , dan berbalik menatap Rava.
"Jangan mengikutiku! aku mau pulang!" perintah Renata, lalu ia berjalan kembali ke arah depan, memanggil taxy yang lewat dan segerah naik.
Rava seolah menjadi pria ******** di depan Renata. Merasa frustasi akan apa yang di perlakukan Renata untuk dirinya. Dengan berjalan kembali ke depan Cafe, Rava kembali mengambil mobilnya, dan langsung saja masuk ke dalam mobil.
"Kenapa denganku!" ucap Rava merasa kesal sama dirinya sendiri.
Rava Melajukan mobilnya kembali ke kantornya. Awal pertemuan Rava dan Renata sebelumnya, saat Rava keluar dari perusahaanya memang bertujuan ingin makan siang sejenak, tidak di temani Harsen, karena Harsen sendiri sedang ada urusan. Sewaktu melewati Cafe tempat Alice bekerja, Rava melihat, Renata turun dari taxy dan berjalan masuk ke Cafe, dengan cepat Rava kembali memutar mobilnya, menghampiri Renata ke dalam Cafe.
***
Sore itu sesudah kelas Vara selesai, ia menunggu Defan yang masih belum selesai kelas. Ia duduk di depan taman kampus mereka, dan tak lama orang yang paling Vara benci pun datang.
"Kasihan... Anak manja kok menunggu!" Zahra, meledek Vara.
"Hadehhh.... Pengen banget gue remas mulut lo , Ra. Suka ya, ngeganggu orang yang lagi santai kek di pantai. Lo datang bikin merusak suasana gua aja!." ketus Vara seraya berdiri, membawa tasnya, berjalan meninggilkan Zahra.
"Heh... Anak manja, kenapa buru-buru?" teriaknya ke Vara dengan tertawa sendiri.
"Gilaaa!" ketus Vara.
Tak lama tampak Defan, yang melihat Vara tergesa-gesa mendekati Defan.
"Ada apa denganmu?" tanya Defan aneh.
"Itu... Si Zahraa, Fan. Resek bener, pengen aku pites kutu di rambutnya." ucap Vara dengan kesal
"Dari mana kau tahu, di rambutnya ada kutu?" tanya Defan, seraya keduanya berjalan, ke arah parkiran.
"Perumpamaan, maksudnya loh, kau ini sama saja." Ketusnya lagi.
"Dih... Lo itu kek nenek - nenek , kalau lagi marah. Dasarrr aneh! sudah buruan, aku mau mejemput Alice." ucap Defan bejalan cepat.
“Alice pulang jam delapan malam fan, “ seru Vara, tanpa mendapatkan sautan dari Defan dan berjalan cepat ke arah mobilnya.
Sesampainya di Mobil, buru-buru Vara masuk ke dalam mobil. Sebelum Defan usil, meninggalkannya sampai di depan pintu gerbang. Kemudian Defan, melajukan mobilnya ke arah kediaman Rava. Di dalam mobil , seperti biasanya Vara itu tidak bisa diam, terkecuali Rava sedang benaran marah besar.
"Fan..." panggil Vara.
"Hemmm..." jawab Defan tanpa menoleh ke Vara
"Kau itu... sebenarnya suka ya, Sama Alice?"
Defan tersenyum dan sekilas menatap Alice, "Tumben kau tahu?"
"Eleh....Tahulah. Sejak kapan kau pernah jatuh cinta, baru untuk pertama kalinya, aku melihat kau tertarik pada seorang gadis."
"Teruss.... yang kau lihat selama ini, apa?"
"Suka sama laki-laki, sejenis gitu." jawab Vara dengan lempang tanpa tanjakan.
Dengan kagetnya si Defan menginjak remnya dan langsung menepikan mobilnya.
"Loh.. Kenapa berhenti?" tanya Vara.
"Turun!." perintah Defan.
"Apaan sih Fan!."
"Ku bilang turun!" teriak Defan.
"Kau berani menurunkan aku! Mau aku kasi tahu sama kak Rava!" ancam Vara.
"Kalau sudah seperti itu, Manalah aku berani! Dasar kau! tahunya mengancam terus, awas saja kau mengatakan aku menyukai sesama jenis. Ku adukan kau, sama papa dan mama ku!” ancam Defan lalu, melajukan mobilnya.
“Adukan saja. Aku kaburr!” ucapnya dengan tawa garing.
Tiba di kediaman Rava, pintu pagar otomatis itu terbuka, kemudian Defan memarkirkan mobilnya di belakang mobil Harsem.
“Loh… Ada kak Harsen,” ucap Defan saat turun dari mobil.
“Mungkin saja mereka sedang sibuk” ucap Vara. Sekalian keduanya berjalan memasuki pintu rumah depan, dan di sambut dengan Bi Tarni, dengan dua gelas jus jeruk dingin.
“Bi Tarni, maaci ya.. bibik emang sangat baik, tahu aja kita haus.” Ucap Defan seraya meletakkan gelas kosongnya di atas nampan yang di pegang bi Tarni.
“Huahhh… iya bi, Terima kasih ya, Vara jadi seger gimana gitu.” Timpal Vara, membuat gelak tawa di antara ketiganya.
“Nona muda dan tuan muda, bisa aja, bibi jadi malu. Kan ini sudah tugas bibi,” balas Bi Tarni senang.
“Iya Bi, ada Bibi sampai rumah membuat kita bersemangat, dari lelahnya di luaran. Semangat terus bibiku yang cantik. Muaaacchhh,” Defan memeluk bi Tarni dan mencium pipinya langsung saja ia berjalan menuju tangga dan langsung ke kamarnya. Sedangkan Bi Tarni merasa senang, karena anak-anak majikannya, sangat menyanyanginya.
“Bi… Defan lagi jatuh cinta. Jadi bibi, hati-hati, entar jadi pelampiasan loh,” Vara merasuki bi Tarni.
“Hahaha.. Non bisa aja nih.”
“Heheheh.. oya Bi, kak Rava mana?”
“Ou.. Tuan muda ada di ruang kerjanya di atas non, ada tuan Harsen juga.” Balas bibi seadanya.
“Hemmm… Baiklah bi, Vara ke atas dulu ya.”
Saat hendak berjalan ke arah tangga, tampak Harsen turun ke bawah seraya menatap Vara. Dengan cepat Vara menghindar tatapan Harsen yang tidak berkedip. Dan pura-pura berjalan ke arah ruang keluarga. Harsen hanya menatap Vara dengan diam dan berjalan ke arah dapurm karena memang Harsen sedang haus. Vara kembali mengintip ke Harsen, “Sudah tidak ada, kenapa aku sangat gugup dengan pandangan mata, Kak Harsen?” gumam Vara .
Kemudian dengan cepat, Vara berjalan ke arah tangga, untuk menju kamarnya.
“Sudah pulang, Nona?” seru Harsen di belakang Vara.
Vara menoleh ke belakang, “Kenapa, kak Harsen mengikutiku?”
Harsen mencoba mencerna perkataan Vara, dan menoleh kembali ke Vara, “Bukankah tangga di rumah ini hanya satu , Nona? Saya mau ke atas, bukan mengikuti Nona Vara.” ucap Harsen dengan sopan.
Vara memutar kedua bola matanya, mencari alasan tepat. Karena ia salah memberi alasan karena sangkin gugupnya.
“Agh… Sudahlah, Vara mau ke kamar.” Ucapnya tidak bisa memberi alasan yang tepat lagi, dan dengan cepat menaiki anak tangga.
“Kenapa kau tersenyum sendiri,Sen?” tanya Rava tiba-tiba di tepi tangga atas.
Harsen terdiam, memutar kedua bola matanya, dan mencoba membalas pandangan Rava.
“Agh… tadi mulut saya selip, kak.”
“Ouw.. benarkah?”
Harsen dengan cepat berlari ke atas mendekati Rava, “Benar kak, ada apa kak? Kenapa kakak keluar? “ tanya Harsen.
“Apa kau mala mini ada janji?”tanya Rava serius.
Harsen mencoba berpikir dan mengingat, “Sepertinya tidak ada, Kak. Ada apa kak?”
“Nanti malam, bisakah kau menginap di sini, atau kalau kakak, pulang cepat. Kau bisa kembali ke rumah, kakak mau ke tempat Renata, kakak mau kau menemani Vara dan Defan.”
Harsen tersenyum, “katanya kakak enggak suka dengan, kak Renata. Tapi sepertinya kakak sangat mengkhawatirkan kak Renata, tuh.” ledek Harsen, karena Harsen tahu, kapan harus serius dengan kakaknya, dan kapan bisa bercanda.
“Hahaha.. Entahlah, Sen. Kakak hanya tidak mau, dia di sini kesepian. Di sana dia sendiri, sementara kita semua ada di sini. Kau tahu kan, bagaimana Renata?” Rava tersenyum kecil.
“Baiklah kak, Harsen di sini.” jawab Harsen dengan tidak keberatan.
Tiba-tiba, mata keduanya menatap ke arah Defan yang sudah sangat rapi, membuat Rava menatapnya dari atas kepala hingga keujung kaki Defan, merasa bingung dengan perubahan sang adik, Sedangkan Harsen tersenyum melihat Defan yang ketampananya di atas rata-rata.
“Kakkk Rava…” panggil Defan, karena merasa aneh dengan tatapan Rava pada dirinya.
“Apa!!” jawab Rava ketus.
Defan merengek, “kenapa kakak menatap Defan seperti itu sih? Defan kan jadi grogi.”
“Kenapa denganmu?” tanya Rava menatap tajam.
“Kak… Defan mau minta izin ke kakak, Defan mau jemput Alice, karena tadi pagi vara dan Defan mengajaknya untuk berangakat bareng, sekalian mengembalikan sepedanya.” Ujar Defan.
“Apa kau sedang jatuh cinta, Fan?” tanya Rava penasaran.
Harsen kembali menyunggingkan senyumanya, di rasanya Rava itu sudah seperti papanya Defan, ketimbang Frans.
“Iya Kak, dari mana kakak tahu?” ucap Defan dengan jujur.
Rava tersenyum dengan melipatkan kedua tanganya diatas dada, dan melirik ke Defan dengan sepeleh, “Ternyata kau normal juga, Fan.”ucap Rava.
Refleks Harsen kelepasan, ngakak dengan bebasnya, membuat Defan wajahnya berubah becut, sedangkan Rava menoleh ke Harsen, yang ngakak dengan puasnya. Hingga Harsen berhenti, karena sadar dengan pandangan Rava pada dirinya.
“Kakak.. kok kaka tega sih, ngomong gitu sama Defan,” rengek Defan mendekati Rava dan hendak memeluknya.
“Jangan, mendekat!” ucap Rava seraya mundur satu langkah.
“Kak Harsen,” rengek Defan malahan memeluk tubuh Harsen.
Harsen hanya pasrah, menepuk bahu Defan, “cup..cup.. sudah jangan menangis, kau kan sudah tampan, kenapa harus menangis?” hibur Harsen pada Defan.
“Habisnya sih kak, hari ini.. Abang beradik ini telah mengina ku secara fisik kak, aku kan sedih.” rengek si Defen lagi.
“Jangan pura-pura kamu, Fan. Kalau mau pergi,sudah sana pergi. Jangan meluk-meluk nggak jelas kamu! Kak Harsen masih normal, Tahu!” Vara keluar dari kamarnya, dan ikut menindas Defan.
Harsen dengan cepat melepaskan pelukan Defan, hingga membuat Rava tertawa kecil dengan ulah si Harsen itu.
“Sudah sana, pergilah. Merepotkan saja! Awas kalau pulang malam, tidur diluar!” ucap Rava seraya berbalik hendak ke ruangan kerjanya.
“Kak Rava,” teriak Defan, menghentikan langkah Rava dan menoleh ke arahnya.
“Apa lagi!”
“Duit jajan, kak” ucapnya mengulurkan tangannya.
“Yeee. Percuma aja lu itu anak pengusaha terbesar, di Irlandia.Masaan minta-minta, enggak tahu malu adikmu kak.”Vara menimpali, dan mendapatkan pelototan mata Defan.
“Ke mana duitmu?” tanya Rava penasaran.
“Bulanan Defan , habis kak. Papa enggak mau mengirimkan ke Defan lagi, katanya Defan anak Durhaka. Enggak mau mengikuti kemauan papa.”ucapnya dengan sesedihnya.
“Astaga.. Paman Frans ternyata, pelit juga. Alasan nya sangat klasik, ya sudah bawa ATM mu, nanti kakak transfer. Sudah sana,jangan mengebut dan jangan pulang malam.” ucap Rava lagi.
Spontan si Defan berlari, dan memeluk Rava dari belakang, lalu mencium pipi Rava.
“Terima kasih, kak.” Lalu berlari secepat mungkin.
“Defaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!” teriak Rava mencoba mengejar defan yang sudah di depan pintu samping garasi. Dengan berlari masuk ke dalam mobi, defan menjerit ke satpam untuk di bukakan, Alhasil Rava kalah cepat, ia mengusap pipinya dengan perasan kesal dan jijik.
Sedangkan Vara dan Harsen saling menatap, menatap kaku. Vara memilih, untuk masuk ke dalam kamarnya, karena sangat grogi. Harsen berjalan ke ruangan kerja Rava, melanjutkan sisa pekerjaan Rava.
***
Rava keluar dari kamarnya, dengan memakai pakaian santainya, celana jeans pendek, kaos putih polos, jam tangan hitam bermerk melingkar di lengan tangannya, tak lupa sandal jepit kesayangannya. Dari kamarnya, ia menuju kamar Vara, dengan pelan ia membuka pintu kamar Vara dan masuk dengan sangat hati-hati, karena Rava melihat Vara yang sedang tertidur.
Rava mendekati ranjang sang adik, mengusap lembut kepalanya dan mencium puncak kepalanya.
“kakak pergi sebentar ya sayang,ada Harsen yang menemani kamu.” ucap Rava, lalu menarik kain selimut Vara. Lalu ia beranjak keluar dari kamar Vara dan berjalan ke ruangan kerjanya,menghampiri Harsen.
“Sen.. lanjut saja besok, kakak mau pergi. Jagalah Vara untukku, kau lebih baik makan malam di bawah,”
“Baik kak, tidak masalah. Nanti Harsen akan turun, jika sudah lapar.”
“Okey.. kalau begitu kakak, tinggal.”
Kemudian Rava berjalan menuruni anak tangga, dan segerah menuju mobilnya. Keluar dari gerbang pagarnya, dan melaju ke apartemen Renata. Dengan di iringi music jazz dari audio mobilnya, dengan perasaan mantap ia mengemudikan mobilnya. Beberapa menit kemudian, Rava tiba di parkiran Apartemen Renata, dan langsung saja ia berjalan ke arah lift dan menuju Apartemen Renata.
Tinggggg….
Pintu Lift terbuka, Rava terkaget, “Renata.”ucapnya.
Bersambung.
........
LIKE DAN VOTE. TERIMA KASIH.