
Setelah beberapa jam, mobil yang sedari tadi Rey kendarai kini berhenti do sebuah parkiran yang terlihat sangat luas dan asri, di sekitarnya terdapat sebuah bagunan modern dengan ukiran batu bata yang tertata sangat rapi, mungkin sebagian orang yang melihatnya sebagai bata asli, namun itu merupakan sebuah desain canggih masa kini...
"kita sudah sampai"?
"Menurutmu,? "
Kinaya mendesah, " laki-laki menyebalkan" umpatnya dengan kesal.
Perempuan bertudung tersebut membuka jendela mobil dan menghirup udara segar, ia beranjak meninggalkan kursi kemudi dan merentangkan tubuhnya yang terasa begitu kaku, "Aku serasa merindukan kampung halamanku, suasananya persis saat di rumah," ucapnya menghirup udara segar seakan membuat tubuh lelahnya terlupakan.
"Ayo masuk,"
Mereka kini, memasuki ressort tersebut, penjaga ressort di sana sudah mengetahui sebelumnya bahwa anak dari tuan besar akan datang dengan seseorang perempuan, maka tak heran semuanya sudah di persiapkan kamar yang terskhusus untuk Kinaya.
Mereka berdua d sambut dengan hangat oleh penjaga ressot yang sudah puluhan bekerja di sana....
Kinaya di antar oleh bi Nia ke kamarnya sementara Rey langsung menuju ke kamar yang biasa ia tempati selama berkunjung ke tempat ini,
"Terima kasih bi’ ucap Kinaya pada wanita paruh baya yang baru saja bertemu dengannya..."
"Sama-sama nona, kalau butuh apa-apa panggil saya di bawah."
langkahnya menghampiri ruang berukuran minimalis tersebut dan segera menjatuhkan tubuhnya yang sedari tadi membutuhkan penyangga.
.
"Tadi Rey ada di kamar mana,?" ucapnya sadar setelah beberap menit,
Ia meraih benda pipih miliknya, bermaksud ingin mengirim pesan pada laki-laki tersebut namun sinyal yang error membuat pesannya tertunda.
Sinyalnya sangat error, pasti akan membosankan, decaknya meletakkan benda pipih miliknya kesembarang tempat.
^
"Tuan, makan malam sudah siap," ucap bi Nia yang berada di ambang pintu kamar milik Rey..
"Tolong panggilkan Kinaya bi'," pintanya pada Bi Nia membuat perempuan tersebut mengangguk dan segera pergi menuruti perintah itu.
Kinaya terlihat baru saja membersihkan diri dan berganti pakaian, ketukan pintu yang terdengar samar\-samar membuatnya beranjak dan membuka pintu kamar tersebut
"Bibi," ucapnya ramah setelah melihat perempuan itu berdiri di depannya,
"Nona, tuan sedang menunggu anda di meja makan," balasnya
"Emm, baiklah bi’ "saya akan segera ke sana, ucapnya lagi dan penjaga ressort tersebut mengangguk pelan,
"Bi’ tunggu," teriaknya membuat perempuan tersebut segera menghentikan langkhanya dan berbalik menyauti Kinaya,
"Ia nona, ada apa?" Tanyanya kemudian,
"Hmm,, bisakah bibi jangan memanggilku nona, aku bukan orang terhormat bibi," pintanya dengan senyum
"Tapi, bukannya \-\-\-"
"Sudahlah bi’ aku hanya berasal dari keluarga sederhana, tidak pantas di panggil nona, posisi kita sama hanya sebagai karyawan," tukasnya membuat perempuan itu merasa tidak enak hati, bukankan Kinaya akan menjadi majikannya juga, pikirnya seperti itu karena ia begitu tau Rey tidak sembarang memilih perempuan apalagi sedang dalam perjalanan jauh bersama perempuan seperti Kinaya,,,
"Nona, kau juga akan menjadi maj\-\-\-" jawabnya menggantung tatkala Kinaya menyentuh lembut tangannya dengan tatapan penuh permohonan,
"Baiklah nak, balasnya membuat Kinaya sejenak terdiam dan sangat terharu akan panggilan baru bi Nia padanya,,,"
"Apa aku bisa memanggil bibi ibu, aku sangat merasa memiliki kedekatan tersendiri dengan bibi menyebutku sebagai anak dan akan lebih cocok kalau aku juga memanggilmu ibu,,,"
"dengan senang hati ibu sangat senang nak, kau mengingatkanku dengan anak perempuanku, aku jadi merindukan putriku," ucapnya dengan cairan benih yang berusaha ia bendung di pelupuk matanya yang terlihat sudah mulai keriput..."
"Boleh aku memelukmu nak," pintanya dengan penuh harap,
"Tentu saja boleh, kau sudah menjadi ibuku dan aku sudah menjadi anakmu, ayok peluklah aku ibu," balas Kinaya sembari merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari perempuan yang baru saja bertemu dengannya,
Pelukan itu terasa begitu dalam, semakin di pererat semakin menciptakan sebuah kedekatan, hingga mereka melepaskan pelukan itu dan saling bertatap satu sama lain,
"Nak, ayo kemeja makan, tuan Rey akan marah karena terlalu lama menunggu," ajaknya dan Kinaya mengangguk menuruti permintaan wanita parubaya tersebut
"Kenapa kau lama sekali, aku sudah lapar," ucap Rey setelah Kinaya berada di sana
"Kenapa tidak makan saja, kenapa harus menungguku."
"Aku bukan orang egois, cepat makanlah." ketus Rey
"Bu’ ayo makanlah bersama kami, makanan ini sangat banyak sekali jika kami hanya memakannya berdua saja," ajaknya pada perempuan yang sedang berada tidak jauh dari meja makan yang sedang mereka padati .
"Hm, makanlah nak, biar ibu makan nanti saja," jawabnya merasa canggung karena Rey tidak mengubris ajakan Kinaya untuk makan bersama dengannya,
"Rey, apa ibu Nia bisa makan bersama kita ?"tanyanya pada laki\-laki yang sedang menyantap makannya dengan lahap,
"Rey,," teriaknya kembali setelah tidak mendapat jawaban
"Kenapa, cepat makanlah, apa kau mau aku suapi?" tanyanya menggoda tanpa menyadari kalau bi Nia berada di tengah\-tengah mereka, wajah Kinaya kembali kesal
"Kenapa kau mendadak tuli, lain yang aku tanyakan kau menjawabnya lain pula, dasar,"
"Memang apa yang kau tanyakan?" Tanyanya karena memang ia tidak mendengar pertanyaan Kinaya sebelumnya, ia mengikuti arah pandang wanita berkerudung tersebut dan ia menemukan bi Nia yang memunggungi mereka di sana,
"Kalian makanlah," jawabnya
"Bu’ ayo makan bersama kami, akan sangat menyenangkan jika ibu ada di tengah\-tengah kami," panggilnya dengan antusias membuat perempuan tersebut tidak bisa menolak,
Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang telah Kinaya bukakan untuknya, melihat itu Rey menerawang sebuah pertanyaan pada sikap Kinaya yang sangat memperlakukan pekerja keluarganya tersebut, meskipun ia tahu bahwa Kinaya memang memiliki karakter ramah dan simpati itu tapi matanya melihat ada kedekatan tersendiri di sana...
"Karena ibu telah aku anggap sebagai ibuku maka sebagai anak yang baik bairkan saya mengabdi untukmu," ucapnya seraya menyendokkan nasi untuk perempuan yang dia anggap sebagai ibunya, mendengar itu kening Rey berkerut penuh tanya,
"Ibu, hubungan apa yang kalian miliki?"
"Hm,, kami sudah menjadi keluarga, anak dan ibu sangat cocok untuk kami berdua, apa kau ingin menjadi saudara angkatku juga," tanyanya dengan suara meledek,
"Ooo,,, bibirnya membulat dan kembali menyendokkan nasi ke dalam mulutnya,,"
"Mereka sedang menikmati makannya dan hanya suara dentingan sendok dan keramik yang memecah kesunyian malam tersebut,"
"Oh iya bi’ apa aku boleh menjadi menantumu?"Tanya Rey mencelah kesenyapan,
"Menantu, maksud tuan?" Balasnya dan sejenak menurunkan sendoknya yang sudah hampir mendarat ke mulutnya,
"Hm, bukankah Kinaya sudah menjadi anakmu, jadi aku meminta restu untuk menikah dengannya, apa boleh bi’ aku menikah anak perempuannmu?"
tanyanya tersenyum pada Kinaya, membuat perempuan itu melototkan kedua bola mata hitamnya pada laki\-laki tersebut,
"Jangan menghiraukannya bi’ " ucapnya kesal tanpa melihat kesiapa pun,
"Tentu saja boleh tuan, aku sangat merestui kalian, hanya saja aku bukan ibu kandung darinya aku tidak berhak memberi keputusan," jawabnya tersenyum pada Kinaya,
"Aku sudah tidak memiliki ibu kandung," gumamnya namun terdengar begitu piluh di telinga kedua manusia yang bersamanya saat itu,
"Memang ibumu kemana nak," tanya Bi Nia lirih
"Ibu sedang di surga," ucapnya tersenyum getir bahkan sangat memilukan hatinya menyebut kata itu,
"Nak, maafkan ibu, aku tidak mengetahuinya," ucap perempuan tersebut dengan penuh haru sembari menyentuh lembut bahu yang sedang berdampingan dengannya,
"Tidak apa\-apa, sekarang aku sudah memilikimu sebagai ibu," ujarnya sembari membalas usapan tangan tersebut,,,
Rey hanya menyimak percakapan dari dua perempuan tersebut namun matanya tidak beralih dari jangkauan raut wajah Kinaya yang senduh, "meski tersenyum tapi kau sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaanmu," batinya...
.
\#
Masakanmu sangat enak sekali bu’ pujinya membuat perempuan tersebut tersenyum,
"Tapi sayangnya aku tidak bisa menikmati makanan yang satu ini," lanjutnya sambil menunjuk pada mangkuk yang berisi tumis udang dan berbagai campuran sayuran,
"kenapa?" timpal Rey tiba\-tiba,
"Aku alergi udang," jawabnya melemah sambil menelan salivanya
Rey seketika menghentikan makanannya, seleranya tiba\-tiba berkurang karena makanan yang ia request ternyata tidak cocok di tubuh perempuan ini..
"Lalu kau hanya makan apa.?"
"Aku hanya memakan ini," balasnya menyendok mie dengan campuran kacang polong dan cumi\-cumi goreng
"Bi’ besok tidak usah memasak udang,"
"Kenapa?" Timpal Kinaya dengan dahi yang berkerut
"Karena kau tidak menyukainya," ucapnya sambil menyendok makannya yang masih tersisa,
"Kalau kau menyukainya, tidak apa\-apa biarkan bu Nia memasak untukmu, "
"Tidak, masak saja apa yang Kinaya sukai bi’ "
"Baiklah tuan, "
"Tapi......."
"Sudahlah nak, turuti apa maunya," potong bi Nia pada kinaya dengan suara yang lebih rendah..
.
\#have fun📚