My Chosen Wife

My Chosen Wife
Kembali Terluka.



"Ayo kita pulang." ajak Renata menarik tubuh Rava, lalu ia menoleh ke Albert, "Terima kasih untuk malam ini, kau bisa sendiri kan? Aku akan mengantarkan dia ke rumahnya." ucap Renata, mendapatkan anggukan dan tawa dari Albert.


 


 


"Rena... Aku masih mau minum. Aku harus mengalahkannya." ujar Rava dengan nada mabuknya.


 


 


"Iya... Kau sudah menang dan mengalahkannya. Jadi tidak usah lagi, meminum-minuman itu." seru Renata dengan memapah tubuh Rava, yang sudah lunglai akibat mabuknya.


 


 


"Renaa... Kau jangan menyepelekan aku. Aku bisa minum dengan sangat cepat. Hahahaa.." tukas Rava seraya mereka berjalan keluar restoran.


 


 


"Sudah... Jangan bicara lagi, kau duduklah." balas Renata saat sudah sampai di mobil Rava dan memakaikan seatbeltnya, "Kau ini, merepotakanku saja!"


 


 


Dengan cepat Renata mengambil kursi kemudi, dan melajukan mobil Rava, menuju kediamannya. Rava yang setengah sadar, menatap ke Renata.


 


 


"Rena....Kenapa kau selalu tersenyum ke Pria bodoh itu. Senyumanmu itu hanya, untukku seorang." ucapnya dengan suara mabuk.


 


 


"Habisnya kau sih! selama ini, kau tidak mencintaiku! kau malahan pacaran dengan Vanessa, dan mencampakkan aku. Jadi biarkan aku mencari penggantimu!." balas Renata secara gamblang.


 


 


"Kau tidak boleh tersenyum seperti itu lagi, hanya aku. Kau harus ingat, hanya aku yang boleh. Pria lain tidak boleh." ucapnya lagi dengan wajah sendunya.


 


 


"Heh.. Enggak mungkin kan aku memasang wajah cemberut di depan pria yang aku lihat. Papiku juga masih butuh senyuman dariku, kenapa hanya kau saja yang boleh? Sesukamu saja!" ketus Renata, masih fokus menatap jalanan.


 


 


Rava terdiam, pertanda dia sudah tertidur. Renata menoleh ke arah Rava. Melihatnya saja, perasaan Renata mulai kembali bersedih. Sekarang rasanya, jadi Renata sangatlah serba salah. Renata masih bingung, dengan sikap Rava yang berubah-ubah terhadap dirinya.


 


 


"Kau itu sebenarnya cinta apa tidak sih denganku, Rava? Kenapa aku, baru mau mencoba mencintai pria lain malahan, kau menghancurkannya? seperti sengaja saja." ucap renata dengan rasa kecewa.


 


 


"Aku sangat mencintaimu." ucap Rava dengan mata terpejam dan nada mabuknya.


 


 


Renata yang mendengarnya, seperti terhipnotis. Matanya hanya memandang ke depan. Renata yakin, itu bukan kata hatinya Rava. Itu hanya, efek mabuk yang membuat kesadarannya terbang ke manapun yang dia mau.


 


 


***


 


 


Kediaman Rava Atmadja.


 


 


Dengan perasaan senang, Defan tiba di rumah. Melihat sekeliling rumah sepi. Ia langsung saja, berjalan melewati ruang tengah. Karena memang biasanya jam defan pulang, adalah jam tidur mereka. Ia langsung saja hendak berjalan ke arah tangga, tetapi suara tv di ruangan keluarga itu, membuatnya melangkah ke arah lain.


 


 


"Kak Harsen," ucap Defan kaget, saat melihat Vara yang tertidur di atas paha Harsen.


 


 


"Sssttt... Kecilkan suaramu." ucap Harsen pelan.


 


 


"Kenapa, dia bisa tertidur di sini?" bisik Defan.


 


 


"Katanya, takut di atas sendirian. Kak Rava juga keluar," balas Harsen.


 


 


"Aghhh... Baiklah, kalau begitu bangunkan dia," Defan hendak menyentuh lengan Vara, kemudian Harsen dengan cepat menepis tangan Defan.


 


 


"Kau ini, dia baru saja tertidur."


 


 


"Ouuu... Baiklah." balas Defan.


 


 


Tak lama keduanya mendengar suara mobil Rava, kira-kira pukul 11:08 waktu setempat, Renata tiba di kediaman Rava. Dengan cepat Renata memapah tubuhnya Rava, masuk ke dalam rumahnya. Satpam yang hendak membantunya, di tolak oleh Renata.


 


 


"Kenapa kau sangat berat sekali?" ucap Renata dengan sekuat tenaga, membawa Rava masuk.


 


 


Defan dengan cepat berlari, saat terdengar suara kericuhan hentakan kaki dan suara Renata.


 


 


"Kak Renata, kak Rava." seru Defan dengan rasa paniknya, kemudian membantu Renata membawa Rava.


 


 


"Fan... Kenapa kau sangat tampan malam ini?" ucap Rava saat tubuhnya sudah di dalam pelukan Defan, yang mulai mencium pipi Defan, "Kau sangat tampan, kau tidak boleh tersenyum dengan wanita lain." ucapnya tanpa sadar.


 


 


Renata malahan tersenyum sendiri, lucu saja pikirnya saat Rava enggak sadar begitu, yang biasanya perkataan serta ucapannya berkelas, hancur dalam sekejap.


 


 


"Kakak... biasanya kakak itu sangat tidak suka aku cium, ini kenapa malahan kakak sangat bernafsu pada diriku?" tanya Defan pada wajah Rava yang setengah sadar itu.


 


 


"Aghhh... Defan, kau harus ingat, kakak sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, benar kan?"


 


 


"Fan.. Bawalah masuk." sambung Renata.


 


 


"Iya kak," jawab Defan membawa Rava ke dalam, dengan suaranya yang menggelegar di dalam ruangan, sampai membuat Vara terbangun.


 


 


 


 


"Kak Rava..." seru Vara kaget di ikuti oleh Harsen.


 


 


Renata menoleh ke Vara yang sangat kaget melihat sang kakak.


 


 


"Hemmm... Vara, kau harus bilang sama Rena, enggak boleh senyum-senyum pada pria bodoh!" ucap Rava pada Vara.


 


 


"Kakak... Kok kakak seperti ini sih?" jawab Vara, lalu menoleh ke Renata yang masih saja berdiam.


 


 


"Semua ini pasti karena kak Rena kan! kenapa sih kak Rena selalu saja membuat kak Rava dalam masalah! Apa kakak senang seperti ini? Apa kakak sengaja! Semenjak kak Rena datang, kak Rava selalu saja dalam masalah. Kemarin sampai masuk Rumah sakit, sekarang kak Rava mabuk-mabukan. Kak Rava sangat jarang minum kak! apa kakak tahu? jangan merusak kak Rava, kak Rena!" teriak Vara.


 


 


"Kau ini... Tidak punya sopan santun, Vara. Jangan mengurusi hubungan kak Rava dengan kak Rena, kau selalu saja menyalahkan kak Rena!" balas Defan dengan kesal.


 


 


"Maaf." jawab Renata pelan.


 


 


"Kenapa kau marah-marah, Vara." ucap Rava di dalam mabuknnya.


 


 


"Karena kakak bodoh!" teriaknya ke Rava.


 


 


"Kau Itu yang bodoh! Sudah sana, aku akan membawa , Kak Rava ke kamarnya. Kau... antarlah kak Rena ke kamarnya." perintah Defan.


 


 


"Tidak boleh! kak Rena enggak boleh tidur di sini! lebih baik kak Rena pulang saja. Sekalian, balik ke Jakarta!" Vara semakin tidak bisa mengontrol emosinya.


 


 


"Ssst... Nona, Anda tidak boleh seperti ini. Lagian, Ka Renata membawa mobil kak Rava. Ini juga sudah sangat malam, tidak baik baginya untuk pulang sendiri." bujuk Harsen pada Vara.


 


 


"Biarin! aku aneh sama kalian semua! kenapa kalian semua membelanya." ketus Vara.


 


 


Renata tersenyum, "Tidak apa-apa. Mungkin aku pantes mendapatkan amarah Vara. Vara yang tenang ya, lusa kakak sudah kembali ke Jakarta. Jadi kamu tidak perlu khawatir, kalau kak Rava bakalan selalu susah ada kakak di sini. Baiklah... semuanya, maaf sudah membuat kalian bertengkar. Saya permisi." Renata pun berbalik, dan hendak berjalan keluar.


 


 


"Kau ini, sangat keterlaluan Vara! Lihat saja, besok kau akan kena marah sama, kak Rava." ucap Defan kesal, Vara pun terdiam.


 


 


"Kak Harsen, bawalah Kak Rava ke atas. Biar Defan yang mengantarkan kak Renata." ucap Defan, lalu mendapatkan jawaban Harsen.


 


 


Dengan cepat Defan berlari mengejar Renata, yang sudah di depan pintu gerbang.


 


 


“Kak Rena, ayo Defan antar.” Ajak Defan dengan menarik tangan Renata.


 


 


Renata menunduk “Tidak usah Fan. Masuklah, kakak bisa pulang sendiri. Kamu masuk saja, ini sudah malam.” tolak Renata dengan lembut.


 


 


“Justru.. karena itu, kak Ren-. Kakak menangis?” ucap Defan menarik wajah Renata.


 


 


Renata menggelengkan kepalanya seraya mengusap air matanya, “Tidak… apa-apa.”


 


 


“Tunggu di sini, Defan keluarkan mobil. “ perintah Defan dengan tegas, seraya berlari masuk menuju mobilnya.


 


 


Seusai mobil di keluarkan, Renata mau tidak mau mengikuti perintah Defan, adik yang paling menyanginya setelah James dan Harsen. Walaupau kedua orang tua mereka, masih suka bertolak belakang asal ketemu, tidak  menyurutkan kasih sayang keduanya.


 


 


Di dalam mobil, Renata hanya berdiam diri dengan menatap ke arah jalanan. Sedangkan Defan yan mengerti keadaannya, sesekali melihat ke arah Renata, yang tampak sangat murung. Defan paling tidak suka, perlakuan Vara terhadap Renata. Air matanya pun kembali mengalir, mengingat perkataan Vara pada dirinya, tidak dapat menahan perasaan, tangisan Renata pun pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seraya meluapkan perasaan sakitnya.


 


 


Sontak Defan terkejut, “Kak Rena, kenapa menangis? Jangan menangis kak, nanti Defan juga menangis kalau kakak seperti ini,” Defan ikut bersedih, Renata tidak pernah menangis di depan siapapun, terkecuali Rava.


 


 


“Apa sih salah kakak, Fan? “ tanyanya ke Defan dengan suara bergetar.


 


 


“Sudah kak.. jangan di ambil hati. Vara memang seperti itu, kenapa kakak harus menangis?”” balas defan lagi.


 


 


“Kakak hanya sedih, Fan. Kamu tahu? kak Rava sendiri yang datang ke Apartemen kakak,saat kakak mau makan di luar bersama teman pria kakak, kak Rava juga yang meminta ikut dengan memaksa, padahal kakak enggak ada mengajaknya, terus kak Rava juga yang mau minum-minuman keras. Tetapi kenapa semuanya di salahkan ke kakak. Waktu Kak Rava sakit juga, kak Rava sendiri yang enggak mau makan sedari pagi saat menjemput kakak di Bandara. Malahan kakak menyembunyikan kedatangan kakak ke sini, dari kak Rava. Salah kakak di mana , Fan? Kenapa Vara, sangat membenci kakak?” tanyanya dengan terisak.


 


 


“Sudahlah kak, jangan di tangisi. Kak Rava sangat menyayangi kakak, karena itu dia sangat mengkhawatirkan kak Rena, saat dia tahu kakak di sini. Kalau Vara, dia anak yang seriusan, susah di becandain kak, jadi kakak jangan menangis. Defan, sedih melihat kakak seperti ini.”


 


 


Renata hanya diam dengan sisa tangisnya, serasa lapang rasanya setelah ia menumpahkan rasa kekesalannya, dengan semua kesalahan yang di berikan Vara terhadap dirinya.


“Kapan kakak balik ke Jakarta?” tanya Defan.


“Lusa kakak balik, Fan. Harusnya besok, tetapi team dari perusahaan papa masih mau melihat perkembangan perusahaan secara efektif. Kakak sudah sangat ingin kembali, di sini rasanya sangat menyakitkan.”


 


 


“Ssssttt… enggak baik, kak. Harusnya kakak bersyukur, masih bisa ketemu sama, Defan dan kak Harsen. Bukankah seperti itu?”


 


 


Renata hanya memberika senyum yang di paksakannya, dia hanya ingin semuanya cepat berlalu dan kembali ke rutinitasnya seperti biasa, tanpa ada masalah yang selalu membuatnya bersedih dan terus merasa di salahkan, semoga saja pikirnya Vara akan bertingkah baik terhadapnya, dan mencoba menerimanya, sebagai keluarga,kalau bukan sebagai iparnya, seperti keinginan Renata selama ini.