My Chosen Wife

My Chosen Wife
VARA&HARSEN.



Jakarta siang itu sangat panas, sengatan sinarnya terasa membakar di kulit Vara. Ya, siang itu Vara sedang meninjau langsung pabrik di mana kain-kain yang ia gunakan untuk membuat rancangan yang sudah dia desain agar menjadi nyata.


Seusai dari pabrik, Vara melakukan pertemuan dengan mitra bisnisnya, untuk melakukan kerja sama di beberapa tempat atau outlet yang bisa menjual hasil rancangan Vara. Karena Vara tidak mau mengandalkan Kakak dan Papanya.


Setelah beberapa jam melakukan semua tugasnya yang sudah di jadwalkan Rani untuknya, siang itu sudah berganti sore. Rasanya Vara merasa lemah, hanya saja dia menguati dirinya, untuk mengendari mobilnya kembali ke butik.


Suara nada dering ponsel Vara berbunyi, sedari tadi dia melupakan ponselnya yang tinggal di jok mobil depan. Karena rasa semangatnya akan bisnisnya pun membuatnya melupakan segalanya, tapi tidak dengan Harsen.


"Yaa Suamiku." ~ Vara.


Suara Vara terdengar menjawab panggilan dari Harsen.


"Kenapa tidak mengabari Aku sedari tadi siang? Apa kau mau membuatku gila?"~Harsen.


Nadanya bukan membentak, hanya sedikit kesal.


"Maafkan Istrimu. Vara tadi melupakan ponsel Vara, Kak. Dia tertinggal di jok mobil, dan sekarang Vara sedang menuju kembali ke butik." ~ Vara.


"Apa kau sakit?"~ Harsen.


"Tidak tau Kak, rasanya kepala Vara pusing."~ Vara.


"Apa kau melewati makan siangmu?"~Harsen.


"Iya Kak... kok tau sih?" ~ Vara.


"Karena Kakak ini suami kamu. Jadi, Kakak paham betul bagaimana kamu kalau sudah bekerja.Tadi kakak sudah mengirim pesan untuk mengingatkan kamu makan siang. Sudah, hati-hati di jalan, kakak akan ke butik dua puluh menit dari sekarang." ~ Harsen.


"Gak usah Kak, ketemuan di rumah saja"~ Vara.


"Sudah dulu, kamu hati-hati di jalan."~ Harsen.


Harsen pun memutus panggilannya dengan sang Istri. Vara menghela nafasnya, semakin merasa sakit di bagian kepalanya. Rasa lelah dan kantuk pun mulai menghinggapi dirinya.


Dua puluh menit kemudian, mobil Range Rover gang di kemudikan Vara memasuki halaman depan butiknya. Betapa kagetnya Vara, sang suami sudah berdiri di depan pintu seperti penjaga keamanan. Badannya yang tegap dan kekar itu, di lapisi kemeja panjang dengan kedua lengan yang di gulung hingga menampakkan otot-otot yang menggembul. Tampak sangat menggemaskan di kedua manik mata Vara.


Harsen dari perusahaan langsung menuju butik Vara, karena sebelumnya dia merasa aneh, sang Istri tidak membalas pesan dan panggilannya, Harsen takut kalau Vara itu di culik lagi. Karena rasa trauma akibat tragedi kemarin menyisahkan luka di hatinya. Meskipun Leo sang papa sudah menjelaskan Ansel dan papanya sudah tidak bisa lagi mengganggu keluarga mereka.


Harsen hanya takut, takut kalau tidak bisa melihat Istrinya atau tidak bisa mendengarkan suara sang Istri. Itu hal yang paling dia takutkan sekarang, karena Vara adalah tanggung jawab di dalam hidupnya.


"Kan Vara sudah bilang tadi, gak usah ke sini Kak. Sebentar lagi butik juga mau tutup." ucap Vara sesaat setelah dia turun dari mobilnya.


Harsen hanya diam dan memandangi sang Istri. Ada sesuatu yang membuat keningnya mengerut.


"Apa kau sakit?" tanya Harsen seraya mendekat ke Vara dan langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Vara.


"Hanya pusing, tapi rasanya lemas banget Kak." kata Vara dengan kedua matanya yang menyipit.


"Tunggu sebentar di sini." balas Harsen sambil berjalan ke mobilnya.


Vara memperhatikan suaminya yang mengambil bungkusan dari jok belakang mobilnya.


"Kakak bawa apa?"


"Ayo kita masuk dulu." ajak Harsen sambil menautkan jemarinya di sela-sela jemari Vara.


Keduanya pun berjalan masuk dan di sambut para staff, hari ini tidak ada Rani, karena Vara menugaskan Rani ke lapangan untuk menemani anak-anak staff lain mengaudit barang mereka di tempat-tempat usaha lainnya.


Langsung saja, Harsen memboyong sang Istri ke ruangan kerja Vara. Lalu mendudukan Vara di atas sofa, kemudian Harsen mengambil segelas teh putih hangat dari dispenser yang ada di ruangan kerja Vara.


"Ini... minumlah. Wajah kamu sangat pucat." Harsen menyodorkan gelasnya ke arah Vara.


Setelah Vara mengambil gelas dari tangan Harsen, Harsen beralih ke meja kecil di depan Vara, membuka bungkusan yang sempat di bawanya dan mengeluarkan isinya.


"Bubur Ayam?" tanya Vara.


Harsen tersenyum ke arah Vara.


"Iya... Kau sedari siang belum makan , ada baiknya makan bubur dulu. Kalau masih kurang, nanti kita beli yang lain." ujar Harsen, dengan mengambil sendok dan memberikan suapan pertama ke Vara.


"Kakak.. duduklah di sampingku. Vara bisa makan sendiri." gumam Vara.


"Baiklah." Harsen beranjak dan duduk di samping Vara, sambil memberikan kotak bubur ayam ke Vara.


"Apa kakak mau?"


"Tidak usah... Kau saja yang makan." balas Harsen sambil memperhatikan wajah Vara yang memucat.


Vara hanya tersenyum, kemudian dia mengambil sendok dan mulai menyuapkan bubur itu kedalam mulutnya. Entah sudah sendok ke berapa, tiba-tiba perutnya sakit.


"Kau kenapa?" saat Harsen melihat wajah Vara berkucur peluh dan di barengi sakit di perutnya.


"Gak tau Kak... ini sakit banget." ucap Vara dengan menyentuh perutnya lalu dia tiba-tiba berjalan menuju toilet.


Harsen semakin panik, dengan cepat dia mengikuti Vara menuju toilet.


Hueeeeekkkkk..... Hueeeekkkk....


"Kau kenapa Vara? apa perutmu tidak enakan?" Harsen mencoba membantu dengan mengusap-usap punggung Vara.


"Sana Kak...ini sangat menjijikkan." ucap Vara di sela-sela dia memuntahkan semua isi perutnya.


Hueeekkkkk... Huekkkk....


Lagi-lagi Vara mengeluarkan isi perutnya dan cairan-cairan yang sempat dia isi di saat melakukan pekerjaannya.


"Tidak usah Kak... sebentar juga akan enakan." balas Vara dengan lemas.


"Tapi... lenganmu saja sudah dingin, wajah kamu pucat Vara. Kakak takut ada apa-apa dengan kamu." kata Harsen membujuk.


Tiba-tiba Vara berjongkok.


"Tidak apa-apa Kak... Vara hanya pusing." balas Vara lagi dengan membenam wajahnya di sela-sela pahanya.


Suara seseorang datang dari depan pintu.


"Vara."


Harsen dan Vara sama-sama menoleh ke arah suara.


"Kak Renata," serus Harsen merasa sedikit legah.


"Ada apa dengan Vara, Sen?" Renata menjadi panik.


"Harsen juga gak tau Kak... Tiba-tiba aja, usai makan Vara muntah-muntah." raut wajah Harsen menggambarkan kekhawatiran dan ketakutan.


"Angkat Vara berbaring ke atas sofa." perintah Renata.


Harsen pun mengikuti perintah Renata sebelumnya dia membersihkan muntahan sang Istri. Seusai keluar dari kamar mandi dan membawa Vara di dalam gendongan, Harsen hendak menuruni Vara di atas sofa, tak lama Rava pun datang.


"Loh...kenapa Vara, Sen?" Rava cepat-cepat mendekati sang adik.


"Kak... Vara hanya pusing saja." kata Vara menenangkan semuanya saat dia sudah berbaring di atas sofa.


"Apa Vara hamil?" tanya Renata senang.


"Apa mungkin Kak?" tanya Vara. Harsen menatap Renata dengan kedua mata membulat. Serius amat dia.


"Kenapa tidak mungkin? Vara sudah bersuami, pastinya kalian melakukannya hampir setiap hari bukan?" Renata menatap Vara dan Harsen secara bergantian.


Harsen salah tingkah, kena sasaran pikirnya. Rava pun ikut menatap Harsen intens.


"Sial banget." dalam hati Harsen.


"Duh, Kak Rena ngomong begitu bikin perut Vara semakin sakit." kata Vara menyentuh perutnya.


"Apa mau ke rumah sakit aja?" tanya Rava takut.


"Tidak usah Kak." balas Vara.


"Sedari tadi, Harsen mengajak Vara ke rumah sakit Kak, tapi Vara tidak mau." ucap Harsen lagi.


"Apa Vara sudah datang tamu bulan ini?" tanya Renata lagi.


"Belum Kak... Tapi perasaan Vara cuma masuk angin doang kok. Vara mau pulang aja, baju kak Rena belum selesai, kalau sudah selesai Vara kabari ya."


"Baiklah... jangan terlalu di pikirkan. Belilah testpack Harsen, supaya kalian bisa tau juga, perkembangan dari hubungan pergulatan kalian setiap malam." Rava ngomong seenaknya saja, gak tau dia Harsen sudah sangat malu.


Renata tersenyum kecil.


"Kau membuat mereka malu." bisik Renata ke Rava yang duduk di sampingnya.


"Aku sudah berpengalaman untuk ini sayang." bisik Rava lagi.


"Ehemmmm... baiklah Kak... nanti Harsen beli sebelum pulang. Kalau begitu, Harsen bawa Vara pulang saja ya kak. Kalau memang tidak membaik, atau tidak ada perubahan, Harsen akan membawa Vara ke rumah sakit." ucap Harsen ke Rava.


Rava pun beranjak dari duduknya sambil menarik nafasnya.


"Baiklah." balas Rava.


Harsen pun mengangkat tubuh Vara di dalam gendongannya. Sebelum mereka berpisah, Rava meyakinkan lagi sang Adik.


"Vara, benar-benar masih kuat kan?" tanya Rava sambil menyentuh puncak kepala sang adik yang sudah berada di gendongan suaminya.


"Iya Kakakku yang tampan... Adikmu masih kuat. Kalau tidak kuat, Vara nyerah Kak."


"Masih bisa meledek, berarti masih aman Sen. Kalian hati-hati di jalan, mobil Vara suru sopir saja yang bawa pulang." ujar Rava ke Harsen.


"Baiklah Kak, kami jalan dulu." balas Harsen.


Setelah mendapatkan jawaban, keempatnya bersama-sama berjalan keluar dari ruangan Vara dan berpisah di area parkiran.


"Semoga saja Vara benaran hamil." gumam Renata ke Rava yang sedang mengendarai mobil.


Rava tersenyum.


"Biar ada teman untuk membesarkan tubuh."


"Iyaaa... seperti diriku."


Keduanya sama-sama tertawa, membuat suasana ruangan mobil menjadi tidak sunyi. Saling berbincang seru dengan menatap jalanan yang sudah di kehilangan awan biru. Kalau begitu VOTE nya dong, dan Likenya sampai hari minggu aja. Terima kasih ^^