
"Kedatangan gue, bakalan jadi surprise buat Alice." seru Defan sambil berjalan menuju kelas Alice.
Setelah tiga bulan menetap di Jakarta, sesuai janji Eva dengan Defan agar Defan bisa menemani hari-hari Renata selama tiga bulan lamanya pun telah usai. Dan benar saja, kandungan Renata sudah menginjak usia tiga bulan, mereka akhirnya bisa melepaskan kepulangan Defan yang entah kapan lagi, bisa datang untuk menemani Renata. Begitupun Vara dan Harsen yang juga sudah pulih dan kembali beraktivitas di masing-masing kegiatan mereka.
Dan di sinilah Defan berada, di New York tempatnya untuk menimba ilmu. Dengan perasaan bersemangat, Defan berjalan di liputi rasa bahagia. Apa lagi, rindu yang meledak-ledak di dalam dirinya. Wah, Defan sudah sangat tidak sabaran untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
Berasa sangat panjang perjalanan Defan menapaki lantai dari lorong di mana kelas Alice berada. Alice tidak tau, tentang kepulangan Defan, karena menang dia ingin memberikan kejutan ke Alice, biar romantis gimana gitu pikir Defan.
Akhirnya kedua kakinya terhenti tepat di depan kelas Alice, kedua manik mata Defan menangkap keanehan, keanehan yang mengoyak perasaannya. Dekat banget pikirnya Alice dengan teman bulenya. Pakai senyum-senyuman segala pula, teriris hati abang kau buat dek.
“Alice.’ gumam Defan pelan.
Meskipun pelan, Alice bisa mendengar dan menyadari keberadaan sang pujaan hatinya.
“Defan.” Alice terkesiap. Defan pun berjalan memutar tubuhnya meninggalkan kelas Alice.
Buru-buru Alice beranjak dari duduknya dan mengejar Defan yang meninggalkan Alice tanpa sepatah katapun.
“Defan! tunggu Aku dong.” seru Alice yang tidak bisa menyamakan langkahnya dengan Defan.
Defan sudah terbakar api cemburu, dia sama sekali tidak menggubris panggilan Alice pada dirinya, malahan semakin mempercepat langkahannya. Alice pun tidak berhenti sampai di situ saja, dia terus mengejar si Defan yang hanya menatap ke depan tanpa mau memberikannya waktu untuk menjelaskannya.
Sampai tiba di lapangan kampus, Alice dengan cepat berlari dan menarik tangan Defan hingga kedua kakinya terhenti. Alice berdiri di depan Defan yang tingginya lebih jauh dari Alice.
“Kamu kenapa sih? kok gak dengari aku? Terus gak bilang-bilang juga mau pulang?” Alice menengadah ke atas, mengarah ke wajah Defan.
Defan menatap dingin.
“Kenapa? kalau Aku bilang mau pulang, kamu jadinya gak bisa dekat-dekat sama bule tadi kan? terus Akunya gak tau, kalau kamu lagi dekat gitu sama pria lain. Sudah bosan ya sama Aku?” tanya Defan dengan suara datar.
Alice tersenyum.
“Kamu cemburuan ternyata ya?”
“Baru tau?”
“Iya… gemesin banget sih lihat kamu cemburuan begini.” ledek Alice.
“Jangan merayuku, aku tidak akan melepaskan masalah ini dengan rayuanmu.” balas Defan dengan membuang wajahnya ke arah langit yang terik.
“Jangan galak-galak dong. Kan aku bukan selingkuh di belakang Kamu.” balas Alice sedih.
Wajah Defan perlahan kembali menatap Alice yang sedang menunduk sedih.
“Kok jadi kamu yang sedih?”Defan menatap dengan intens.
“Habisnya kamu sih.”
“Aku? kenapa denganku Sayang?”
Alice mengangkat wajahnya.
“Kamu marah sama Aku, kan Aku tadi cuma ngomong sama temanku. Bukan pacar aku, bukan selingkuhan aku, cuma kamu kok pria satu-satunya yang ada di hati Aku. Gak ada yang lain kok, percayalah sama Ak, Fan.”
Kedua manik mata Defan di buat serius.
“Kok jadi sedih lagi?”
Kedua mata Alice berkilat.
“Kamu sih! aku kan rindu banget loh sama Kamu. Terus kamu pulang tau-tau salah lihat gitu, kan Aku jadi benaran sedih. Aku jadi mau nangis ini, benaran. Harusnya kan ya aku dapat pelukan gitu. Ini malahan di diami, terus di cueki lagi. Kan rasanya seperti nano-nano, ada asam dan pahitnya.”
“Manis!” sambar Defan.
“Ya kan situasi kita gak ada manisnya ini.” balas Alice.
“Kalau gitu, biar manis cium dong.” kata Defan dengan kedua matanya yang menggoda.
“Di sini?” tanya Alice mengitari pandangannya ke seluruh lapangan.
“Iya. Kenapa? Kan tidak ada orang juga, sudah jam pulang sedari tadi, kamu aja tuh jam segini masih di kelas bareng sama pria bule, lebih tampan ya dari Aku?”
“Bukan begitu! Aku tadi itu sama dia cuma ngerjai tugas sambil ngobrol, kan kita tadi ramai, bukan berduaan. Kamunya aja cepat banget mikirnya kayak gitu. Kan Aku pernah bilang, cintaku itu hanya untuk mu seorang, pastinya di hatiku hanya ada dirimu, yang lain lewat.” ucap Alice lagi.
“Ya udah, buruan deh di kiss, uda lama juga gak di kecup sayang sama pacar sendiri.” goda Defan dengan suara datar.
Alice membawa tubuhnya yang mungil dengan berjinjit dan menyentuh kedua lengan tangan Defan sebagai tumpuhannya. Masih tidak sampai untuk memberikan kecupan di bibir nan seksinya Defan, akhirnya Alice yang jinjit terus berusaha hingga akhirnya dia mampu membenamkan ciuman di bibir Defan.
Defan yang barusan merasakan kecupan dari Alice pun seperti terbang ke surga, hanya sebentar kesenangan yang dia rasakan, hingga di akhiri kecupan itu , tepatnya di bagian kakinya, Alice tidak sengaja menginjak kaki Defan.
“Awwwwwwwwwwwww…” suara Defan mengadu sakit.
“Astaga, maaf-maaf. Aku gak sengaja, benaran kok, kamuanya tinggi banget sih.” Alice melihat ke bawah kakinya Defan dan memperhatikan wajah Defan yang berubah merah menahan sakit. Ibu jari kakinya kena ciuman oleh kaki Alice, sungguh sangat luar biasa cara mereka berdua melepaskan rasa rindu yang sudah lama mereka pendam.
“Ini namanya, abang gak jadi terbang ke surga dek. Nikmat sesaat, gak enaknya lama! Duh seperti di lempar ke neraka ini mah! baru juga sebentar senangnya, sudah di berikan luka yang gak berdarah!”
“Iya maaf ya sayang Aku. Aku benaran gak sengaja kok, kamunya aja yang tinggi pakai banget. Kalau saja tadi kamu agak menyamakan gitu sama tinggi aku kan gak begini juga akhirnya.” balas Alice merasa bukan kesalahan penuh dirinya.
“Ya da, lain kali kita coba lagi. kalau begitu, ayo pulang , Aku antar ya, sekalian mau jumpa sama calon mertua aku. kan sudah lama juga gak liat mamanya kamu.”
“Baiklah, tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil tas dan yang lainnya.” Alice hendak berjalan menuju ke kelasanya.
Defan menarik lengan tangan Alice.
“Bareng aja, aku mau kasi tau sama si bule tadi, kalau kau itu sudah milik Aku. Biar dia gak berharap sesuatu sama kamu.” balas Defan serius, iya serius kalau soal hati.
“Baiklah, ayao.” ajak Alice.
Keduanya pun berjalan menuju lorong kelas Alice, hingga tiba tepat di depan ruangan kelas Alice. Benar saja, si bule menatap sinis dengan kedatangan Defan yang ikut masuk ke kelas Alice. Defan memasang wajahnya yang seram tapi imut ke arah si bule, tak lupa dia mencebikkan bibirnya.
Alice dengan segera mengambil tas dan menyusun bukunya yang ada di atas mejanya dan segera menarik tangan Defan dan berjalan keluar kelas.
“Gila itu matanya yang biru mau main mata sama mataku yang hitam.Gak tau dia, Aku itu punya kekuatan dalam apa!” ketus Defan ke Alice.
“Iya-iya, nanti Aku kasi tau sama dia ya, kalau pacarku itu ada kekutan dalam dan ilmu batin. Sudah, ayo kita pulang.” Alice mencoba meredahkan emosinya Defan yang gak jelas itu.
***
Tiga puluh menit kemudian, Defan dan Alice tiba di depan rumah Alice, terlihat toko kue Anet tampak ramai. Anet yang melihat kedatangan Defan pun dengan bersemangat menyambutnya.
“Halo Bi, apa kabar Bi?” Defan memberikan salim ke Anet.
“Baik Nak, masuk-masuk, akhirnya kamu kembali juga. Alice setiap hari sangat galau gak ada kamu, Fan.”
“Hahaha sebegitnya ya bi?”
“Benar, ayo duduk. Bibi masih banyak pelanggan, kalian ngobrol saja di sini ya. Maaf bibi tinggal dulu.” kata Anet dengan berjalan keluar.
“Mama mertuaku memang sangat rajin dan semangat, sama seperti anaknya di depanku ini.” sindir Defan.
“Gombal deh. ya sudah sebentar, Aku mau ganti pakaian dulu ya.”
Defan menanti di atas sofa, hingga dia tertidur karena memang sangat lelah, dari bandara langsung menuju rumah Rava , bersi-bersi dan langsung berangkat ke kampus cuma mau kasi kejutan ke Alice. Jadi, ini waktu yang sangat pas untuk dirinya mengistirahatkan matanya yang lelah karena tidak bisa tidur nyenyak di dalam pesawat.
Alice yang sudah berganti pakaianpun, melihat Defan tertidur sangat nyenyak. Tidak tegaan untuk membangunkannya agar bisa pinda ke kamar setidaknya meluruskan tubuhnya. Alhasil, Anet yang barusan mau mengantarkan kue untuk Defan, pun meminta Alice untuk mengambil bantal dan merebahkan tubuh Defan dengan posisi sempurna di atas sofa.
.
Tolong di baca sampai habis ^^.
Hello pembaca mom, ini rank 26 loh saya cek di riwayat vote gak semua yang baca mau vote. jadi tolong di bantu VOTE kalau kalian bersedia sampai hari minggu aja. Sampai hari minggu aja, saya pribadi minta tolong buat kalian yang benar-benar baca ya heheh, tolong kerja sama kalian, dan yang belum pernah like juga, tolong di cek dari bab 1 sampai bab ini update, apakah kalian sudah like semuanya. Tolong kerja samanya ya semuanya, jangan lupa follow IG saya @putritritrii_ dan profil NovelToon/Mangatoon saya, biar kalian tau jika saya nantinya ada novel baru lagi yang akan saya bawa. Terima kasih