
Keesokan harinya.
Pagi kembali datang dengan waktu semana mestinya, untuk mengajak makhluk hidup yang mendapatkan paginya, untuk beraktivitas seperti hari biasa di mana mereka melakukan kegiatan yang sudah mereka tekuni sehari-hari. Sama halnya dengan Rava dan Vara, yang pagi itu sama-sama keluar dari kamar mereka, dan sama-sama saling terhenti di depan pintu mereka dengan saling memandang.
Ada perbedaan di antara keduanya, mata berbinar dengan senyuman yang terhias di bibir tipis merah ranumnya Vara terlihat di kedua mata Rava yang berubah menjadi tatapan aneh. Vara yang sempat tersenyum mendapati pandangan sang kakak tiba-tiba memudar. Rava sendiri masih berdiri di depan pintu kamarnya mendapati pandangan Vara, refleks memutar kedua bola matanya membuang pandangannya ke arah lain.
Vara masih masih menunggu dalam diam, sedangkan Rava perlahan menutup pintunya dan berjalan mendekati Vara. Tiba di depan Vara, ia terhenti lalu menoleh ke Vara dengan tatapan yang tidak biasa, bisa di katakan salah tingkah jika mengingat sang adik dengan beraninya mencium bibir Harsen. Rava mendekati wajahnya ke arah area kuping Vara serta berbisik.
“Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga.” katanya, lalu menoleh ke Vara dan memberikan senyuman palsu. Rava kemudian berjalan ke arah tangga. Sedang Vara memiringkan kepalanya, lalu menggaruk kepalanya seakan mencerna ucapan Rava barusan. Saat ia tersdar, dengan cepat Vara berlari mengejar Rava yang menuruni anak tangga.
“Kakak.” jerit Vara.
Rava menoleh kebelakang, “Jangan lari-lari! Nanti kau terjatuh!” ucap Rava panik.
“Kakak,” balas Vara saat sudah di depan Rava.
“Kenapa? Apa???” balas Rava dengan mata kesalnya.
“Apa maksud kakak barusan?” tanya Vara penasaran.
Rava memutar kedua bola matanya, mengepit bibirnya menunjukkan ekpsresi berpikir, lalu menoleh ke Vara, tangan kanannya terangkat dan menyentuh kening Vara dengan jari telunjuknya.
“Kau… Jangan… purak-purak bodoh.” ucap Rava dengan perlahan, lalu ia melanjutkan langkahannya hingga keduanya tiba di bawah dan berjalan ke arah meja makan, tampaklah si Harsen dan Defan sudah menatapi keduanya dengan penuh tanda tanya.
Langsung saja si Rava duduk di tempat biasanya dengan menatap ke Harsen salah tingkah, melihat bibir Harsen, lalu berpindah ke Vara, serasa panas pikiran si Rava, Ia melonggarkan dasinya dengan beredehem, “Hemmmmm”
“Kak Rava kenapa sih?” tanya Defan.
“Enggak.. Cuma berasa panas aja!” ucapnya lalu mengambil makanannya.
“Panas??? bukankah udara di sini dingin kak?” tanya Defan lagi.
Harsen dan Vara saling memandang dengan tatapan bingung.
“Sudah.. Yang lagi jatuh cinta dan kasmaran enggak usah saling pandang di depanku, cepat habiskan makanan kalian! Mulai hari ini Sen, tugas kamu mendampingi kekasihmu, kemanapun dia pergi selama ia mempersiapkan ujian akhirnya. Biar urusan di kantor , kakak dan Nadia yang handle, tetapi jika kau bebas, bisa datang membantu.” perintah Rava, dengan mengunyah makanannya.
Defan, Vara mapun Harsen saling menatap aneh, dari mana si Rava bisa mengatakan bahwasan Vara dan Harsen sudah berubah status pikir Defan. Membuat si Defan yang punya sifat keingintahuan yang besar menyala-nyala, jadilah dia duluan yang membuka suaranya.
“Kak.. Dari mana kakak tahu Vara dan Kak Harsen sudah sebagai” ucapnya terhenti dengan memperagakan tangannya, “kekasih kak?” lanjut Defan, matanya menatap Vara dan Harsen yang terdiam dan menunduk,semakin bingunglah si Defan.
“Hemmm.. Kakak sudah siap makan. Pokoknya tugas kalian semua lakukan sesuai yang kakak katakan. Vara dan Defan selesaikan ujian kalian dengan baik, terutama Vara sebagai mahasiswa akhir, jika kalian sudah libur semester kakak akan langsung menikah, karena itu tidak ada yang boleh tertinggal di rumah ini, termasuk bu Tarni dan bu Marni mereka akan ikut kembali ke Jakarta dan kembali bekerja di rumah Mama ataupun di rumah kakak nantinya. Kalian paham My prince dan My princess?” sindir Rava seraya menatap kesal pada Vara dan Harsen, kemudian ia beranjak dari duduknya meninggalkan mereka semua.
Semakin pusinglah si Defan, Ia menatap pada Harsen dan Vara.
“Apa maksud kak Rava, ,My Princess dan My Prince? Aku semakin bingung saja olehnya.” ucap Defan dengan menggaruk kepalanya.
Harsen menjadi mengerti apa yang di katakan Rava, membuat Harsen berdiam, sedangkan Vara menyentuh wajahnya dengan kedua tangan menutupinya, keduanya sama-sama paham bahwasannya Rava sempat melihat aksi yang mereka lakukan. Defan melihat perubahan keduanya juga mulai curiga.
“Jangan bilang, kalau kalian berdua sudah jadian dan di ketahui oleh kak Rava. Atauuuu Jangan bilang juga, kalau kak Rava lihat kalian berdu-“
Dengan cepat Vara membungkam mulut Defan, “Kau terlalu banyak bicara! membuat kupingku semakin sakit!” katanya dengan berdiri.
“Ayo Kak Harsen, antar Vara langsung, karena hari ini ujian pertama, tidak mungkin telat gegara ucapan si Defan,” ucapnya dengan kesal. Harsen langsung saja berdiri saat mendapati perintah Vara tanpa menggubris si Defan.
“Dasar pasangan aneh! dua-duanya sama-sama aneh! Hah.. bikin aku kesal saja pagi-pagi,” celetuk Defan dengan merapikan dirinya.
***
Rava yang mengemudikan mobilnya sendiri, dengan menggunakan kaca mata hitam, memandang pagi yang ramai, hati dan pikirannya saat itu hanya mengingat Renata. Ia belum bisa menghubungi Renata, karena memang ponselnya belum aktif, Ia ingin memberikan kabar akan pilihannya, sama dengan keluarga lainnya. Ia memutuskan untuk langsung menggelar pernikahan dengan Renata, agar tidak membuang waktu.
Tak lama ponselnya berdering, dengan cepat ia menerima panggilannya dengan menerima panggilan pakai earphone Bluetooth, dan yang tak lain dan tak bukan adalah Renata. Dengan bersemangatnya dia menjawab panggilan sang kekasih.
[Halo juga sayangnya aku, aku dan yang lainnya sudah sampai di rumah. aku benaran sangat lelah]~ Renata.
[Tidurlah… jangan lupa mandi, jangan lupa dengan makanmu, jika kau sudah siap dan tidak merasa lelah lagi, teleponlah aku, aku akan menunggumu]~Rava.
[Baiklah.. selamat bekerja sayang]~ Renata.
[Terima kasih, calon Istriku.]~Rava.
Sambungan pun terputus, Rava mulai bersemangat menjalani harinya, Ia tersenyum, bergairah, berbedah dari sebelumnya, Rasanya seperti ada daya tarik untuknya, atau juga vitamin penambah semangat, jika ia mendengar suara Renata, Bukan Vitamin penambah kesuburan seperti yang di kirimkan Renata untu Rava, buat geger si Rava saja. Ia menunggu masa-masa saat jumpa nanti, membuat perhitungan pada Renata.
Sesampainya di perusahan, langsung saja Ia menuju ruangannya, meskipun dia sendiri, dia tetap bersemangat mengerjakan seluruh tugas yang sudah dia minta ke Nadia untuk mempersiapkan seluruhnya, sisa di mana Ia menjabat langsung di perusahaannya.
***
Selama di perjalanan di dalam mobil yang di kemudikan Harsen, pasangan baru itu hanya berdiam, entah kenapa ketahuan Rava berciuman itu merupakan hal memalukan yang pernah di rasakan oleh Vara, berbedah dengan Harsen, dia mah santai saja bawaannya, kenapa harus takut? bukankah itu kemaun Rava juga.
“Kak Sen?” panggilnya dengan rengekan.
“Iya?” jawab Harsen singkat.
“Bagaimana itu Kak? Kak Rava sepertinya melihat saat-,” ucapnya menggantung.
“Saat apa?” tanya Harsen dengan menoleh sekilas ke Vara, sambilan menatap jalanan.
“Isss.. Kak Harsen kok tenang banget sih?” Vara kesal.
“Apaan sih? seharusnya senang dong, kan kak Rava pengen kitanya jadian sayang.” ucap Harsen keterusan.
Vara menoleh ke Harsen yang sudah salah tingkah sendiri dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
“Agh… kok kek ada yang lewat gitu ya?” ledek Vara tanpa malu.
“Hahahah.. Iya ya.. lewat apa ya? kok kek nya gak permisi dulu ya, asal lewat aja.” balas Harsen dengan gugup.
“Huh.. Kak Harsen malu-malu tapi mau.” ledek Vara lagi.
“Siapa yang malu-malu? Tidak.. kakak hanya mau Vara, tetap focus dengan semua kegiatan Vara saat ini, jangan sampai mengganggu aktivitas Vara, untuk hubungan kita biarlah berjalan seperti hari-hari biasa. Vara mengertikan maksud kakak?”
Vara tersenyum, “Tenang saja kak, Vara paham kok. Semoga kakak memang menjadi pria masa depan Vara.” ucap Vara dengan bersemangat.
“Doa yang sama buat Vara, Baiklah… Hari ini semoga ujian kamu bisa terselesaikan dengan baik dan sesuai harapan kita. Kakak akan jemput Vara saat Vara sudah selesai ujian, karena kakak akan kembali ke kantor membantu pekerjaan kak Rava juga, Kak Rava akan meninggalkan perusahaan yang sudah Ia bangun sendiri, demi tinggal di Jakarta bersama kak Renata, jadi kita harus berbagi dan saling memberikan dukungan untuk kak Rava.” katanya panjang lebar.
“Tidak usah di jelasakan secara rinci kak, apapun yang kak Harsen dan kak Rava lakukan, Vara yakin semuanya yang kalian lakukan itu baik. Vara akan membuka bisnis di Jakarta, seperti yang di minta kak Rava, karena kak Rava pasti sudah memikirkan secara matang untuk kedepannya.
“Baguslah.. Vara sangat pengertian,” balas Harsen dengan tersenyum.
Vara juga tersenyum dan menatap jalanan yang mengantarkan mereka tiba di halaman parkiran kampus Vara, Vara bersemangat melepas seatbeltnya, saat ia berbalik untuk pamit, Harsen sudah mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan pada bibir Vara. Vara terkesiap di buatnya, saat kecupannya terlepas, Vara masih berdiam karena kaget, Harsen tersenyum.
“Penyemangat untukmu.” ucap Harsen.
Vara tersenyum, “Baiklah.. Terima kasih kak.” balas Vara salah tingkah, dengan cepat ia membuka pintu mobil dan segerah turun sebelum ia mati karena gugup dengan yang di lakukan Harsen barusan.
Harsen menatapi Vara yang berjalan menuju kelasnya, membuat Harsen terus tersenyum seraya melajukan mobilnya meniggalkan lokasi kampus. Vara sendiri berjalan dengan detak jantung yang masih menggebu-gebu, tidak berdetak secara normal.
Vara menyentuh dadanya, “Apa kau sama dengan pikiranku? Kenapa kak Harsen jadi seperti itu, membuat aku merasa gugup saja, sangat berbedah dari biasanya., Aghhh… tapi aku senang,” ucapnya dengan menyentuh kedua pipinya.
Bruggggggggggggggggg…..
“Awwwww” Vara menyentuh keningnya karena menabarak tubuh seorang.
***
Tekan like dan jangan lupa bantu VOTE :)
Oh ya.. Bab selanjutnya akan saya percepat ceritanya, mohon di maklumi, biar cepat tamatnya :D