My Chosen Wife

My Chosen Wife
MENEGANGKAN.



Sesampainya di Rumah sakit, Renata langsung di bawa ke ruangan IGD untuk mendapatkan pertolongan. Semua para medis buru-buru melakukan pertolongan ,sebisa mereka menolong Renata yang sudah kritis. Rava di luar mondar-mandir menunggu di depan ruangan IGD. Tak lama, Harsen, Defan dan Vara pun tiba. Semuanya habis menangis. Tubuh Rava dan Defan sama-sama bersimbah darah Renata.


"Kak... Bagaimana, kak Renata?" tanya Defan sedih.


"Kakak, Enggak tahu, dari tadi masih di dalam. Masih di tangani." ucap Rava seraya gusar.


Vara sendiri tidak berani mendekat pada kakaknya, ia berdiri di belakang tubuh Harsen. Lalu Rava tersadar, tidak melihat sang Adik.


"Di mana, Vara?" tanya Rava dengan panik, refleks Vara terkaget.


"Ini Kak," balas Harsen tak kalah takutnya dengan Vara, yang menggeser tubuhnya agar Vara kelihatan.


Dengan cepat Rava mendekati Vara yang masih menangis dengan tubuh yang gemetar. Rava menyentuh tangan sang Adik.


"Apa kau terluka?" tanyanya dengan mengecek seluruh tubuh Vara, hingga setengah duduk melihat kaki Vara.


"Kakak." seru Vara seraya terisak, menatap pada Rava yang barusan berdiri.


Dengan cepat Rava memeluk tubuh sang Adik.


"Jangan menangis lagi, sudah." ucap Rava menepuk bahu Vara dengan lembut, lalu ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Vara, "Kita obatin luka di kakimu, jika ada apa-apa denganmu, kakak yang akan di salahkan." ucap Rava mencoba menenangkan sang Adik.


"Tapi... Kak. Kak Rena—"


"Biar kakak yang urus semuanya, kamu pokoknya jangan menangis. Jika kalian semua menangis, seperti Rena sudah mati saja. Dokter juga belum keluar, belum ada yang memberikan informasi tentang Rena, jadi kita harus tetap tenang." ucap Rava dengan frustasi dan yang sebenarnya panik serta takut.


"Kakkk... Bagaimana ini? Apa yang harus kita katakan pada bibi Casandra dan juga paman Varel?" tanya Defan dengan terisak.


"Biar kakak saja yang berbicara ke mereka, kau temanilah Vara. Minta di obati luka-luka yang di kakinya." perintah Rava pada Defan.


"Ayo Vara," ajak Defan dengan meringis.


Beberpa menit kemudian, Dokter pun keluar mencari keluarga pasien.


"Keluarga pasien Renata." panggil sang Dokter.


Dengan cepat Rava dan Harsen menghampiri.


"Saya, Dok. Saya keluarganya Renata." ucap Rava dengan cepat.


"Pasien yang bernama Renata mengalami kritis karena pendarahan yang membuat pasien tidak sadarkan diri. Dan kita akan melakukan tindakan operasi, di sini pasien membutuhkan pendonor darah, karena persediaan kantong darah untuk pasien tidak banyak." ujar Dokter yang menangani Renata.


"Berikan darah saya saja, Dok." ucap Rava dengan tegas menawarkan dirinya.


"Golongan darah pasien adalah B negatif, termasuk golongan darah langkah, Tuan."


"Sama Dok, itu golongan darah saya. Mari kita lakukan pemeriksaan." ajak Rava dengan paksa.


"Baiklah... Tolong ikuti team medis kami." ucap Dokter dengan berjalan masuk kembali ke ruangan IGD.


Sedangkan Rava langsung saja mengikuti para Medis yang akan melakukan transfusi darah. Harsen sendiri, masih seperti orang ling lung menunggu informasi selanjutnya.


****


Kediaman Varel, Jakarta.


Pranggggg.....


"Kau tidak apa-apa sayang?"


Varel langsung mendekati Casandra yang tengah mengambil minum, tiba-tiba gelas kacanya terjatuh dan membuat Casandra mematung.


"Aku tidak apa-apa pi, cuma rasanya sangat sesak di dadaku. Dan itu barusan, terlepas dari tanganku. Padahal itu tidak licin, Pi." ucap Casandra dengan memeluk tubuh Varel.


"Apa kau sakit?" tanya Varel menyentuh kening Casandra.


"Tidak... Aku baik-baik saja, cuma perasaanku sangat tidak enak. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Renata?"


"Sayang... Jangan pikirkan yang macam-macam. Mungkin kau kecapekan." ucap Varel memeluk erat snag Istri.


"Tuan.. Nyonya, ada tamu Nyonya Eva dan Tuan Raka." ucap Juli pembantu Varel, memotong pembicaraan mereka.


Keduanya saling memandang.


"Kenapa mereka datang tanpa menelepon? Enggak biasanya, Pi." ucap Casandra menatap pada Varel.


"Sudah... Ayo kita samperin." ajak Varel.


Casandra dan Varel berjalan menuju ruang tamu. Sampai di ruang tamu, tampak wajah Raka ketat begitu pun dengan Eva. Wajah keduanya terlihat jelas seperti kebingungan.


"Eva..." panggil Casandra.


"Pak Raka.." sambung Varel.


"Kenapa enggak bilang-bilang mau datang?" tanya Casandra seraya duduk.


Eva menatap ke Raka, dengan cepat Raka menggenggam tangan Eva yang sudah gemetar dan dingin.


"Apa maksud dari perkataan ,pak Raka?" tanya Varel mulai tidak enakan.


"Kak Varel, " ucap Eva, lalu Raka menyentuh pundak Eva.


"Biar aku aja sayang, kau yang tenanglah." kemudian Raka menoleh ke Varel, "Varel... Casandra, Renata mengalami kecelakaan." ucap Raka dengan cepat.


"Astaga...." ucap Casandra berdiri dengan panik, "Kalian enggak salah kan, mana mungkin bisa dia kecelakaan. Aku sudah meminta Rava untuk menjaga Renata selama di sana. Kenapa ini bisa terjadi?"Casandra terisak.


Varel menarik tubuh Casandra, "Sayang... tenang dulu. kita deng—."


"Gimana aku bisa tenang! Anakku, anakku kecelakaan, kau menyuruhku tenang, aku tidak bisa tenang! ayo kita lihat Renata." ucapnya dengan keras.


Eva berdiri dan mendekati Casandra, menyentuh lengannya, "San... Aku harap kamu tidak menyalahkan anak-anak. Aku mohon tenanglah, kita sama-sama kesana untuk melihat Renata." bujuk Eva pada Casandra, dengan air mata yang sudah mengalir.


"Va.... Tapi anakku, anakku di sana kecelakaan." ucapnya lalu memeluk tubuh Eva.


"Bagaimana keadaan Renata, Pak?" tanya Varel yang sebenarnya sangat takut, tetapi dia tetap tenang. Tidak ingin tersulut emosi.


"Renata kritis Varel, tetapi Dokter meminta Renata untuk segerah melakukan tindakan operasi dan butuh pendonor darah. Rava sudah menanganinya, untuk perkembangan selanjutnya, Rava belum mengabarin ke Saya." ucap Raka dengan pelan.


Varel meremas rambutnya, seakan pikirannya menolak.


"Baiklah.. Kita.. Berangkat penerbangan malam, Nanti." ucap Varel seraya beranjak dengan cepat ke kamarnya.


"San... Maafin anak-anakku," ucap Eva yang juga sudah terisak.


"Aku tidak mencari siapa yang salah dan benar, Va. Walau aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi. Yang aku mau, Renata tidak dalam keadaan serius." balas Casandra.


Varel langsung meneteskan air matanya saat di kamar. Sebelumnya, ia memang sangat berat melepas kepergian sang anak. Karena dia memang khawatir membebaskan Renata sendiri tanpa pengawalan. Karena Renata bersikeras memohon pada Varel, ia pun mengizinkan sang anak untuk berangkat ke New York.


****


Rumah Sakit New York.


Beberapa jam kemudian, tampak semuanya lesu,lelah habis menangis, berharap pada yang Maha Kuas, atas kelancaran operasi Renata. Begitu pun Vara, tiada hentinya dia berdoa agar Renata selamat. Vara menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. Yang sedari tadi tidak bisa berhenti untuk menoleh ke arah ruang operasi. Tak lama Dokter keluar dari ruangan operasi. Dengan cepat , Rava dan lainnya berdiri mendekat ke Dokter.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rava dengan tegangnya.


Dokter sejenak menarik nafasnya, "Tuan... operasinya berjalan dengan baik, pasien selamat." ucap Dokter dengan bangga.


Semuanya menjadi lega dan berucap syukur dalam hati dan mulut mereka.


"Tetapi... Pasien belum sadarkan diri. Tunggulah, sampai otaknya kembali merespon. Dan di saat sadar nanti, semoga semuanya dalam keadaan baik." ucap Dokter.


"Terima kasih, Dok." Rava menggenggam erat tangan sang Dokter.


"Sama-sama, Tuan. Usai dari ruangan pemulihan, pasien akan di pindahkan di kamar inapnya. Kalau begitu saya permisi."


Dengan bersujud Rava bersyukur, sempat seperti orang gila, dia menahan rasa takutnya. Takut kehilangan Renata yang ceriwis dan usil.


"Kakak..." ucap Vara mendekati kakaknya.


Rava pun berdiri, "Kau pulanglah bersama Harsen dan Defan. Biar kakak yang menjaga Renata, sampai mama dan papa datang."


"Enggak Kak, Vara mau di sini, sampai kak Renata sadar." Vara memohon.


"Jangan... Kalau mau datang, besok kau bisa kembali. Saat mama dan papa sudah tiba, apa kau paham?"


"Ikuti saja, perkataan kak Rava. Ayo kita pulang." ajak Defan.


"Baiklah, Kak." ucap Vara bersungut dan sedih.


"Adik penurut," ucap Rava seraya memeluk tubuh Vara.


"Harsen... Nanti kau tolong antarkan pakaianku. Tidurlah di rumahku, temani Defan dan Vara."


"Baik, kak." jawab Harsen.


"Dan kau Defan, bajumu langsung minta Bi Tarni langsung mencucinya." ucap Rava yang sangat takut melihat baju Defan penuh darah renata, yang sama halnya dengan dirinya.


"Baik, Kak." jawab Defan dengan sedih.


"Kalian hati-hati, tetap tenang. Jangan banyak pikiran, semuanya akan baik-baik saja. Jangan lupakan makan malam kalian, kalau saja kakak tahu kalian enggak makan, kakak enggak akan memaafkan kalian." ancam Rava.


Iya, Kak." jawab mereka bersamaan.


"Okey... Ayo Sen, bawa mereka." ucap Rava lagi.


Semuanya berjalan meninggalkan Rava, sesekali Vara menoleh kebelakang melihat kakaknya, yang kembali duduk menunggu Renata di pindahkan. Raut wajah Rava tergambar jelas kesedihan yang mendalam dari dirinya. Bagaiman tidak? untuk pertama kalinya, Vara melihat Rava menangis, Defan menangis, bahkan Harsen pun menangis. Semuanya sangat menyayangi Renata.


"Kenapa aku sangat kejam, kakak benar-benar menyayangi kak Renata, begitupun yang lainnya, kenapa aku harus sedih. Bukankah Kak Rena sangat menyayangiku juga?" batin Vara mulai protes terhadap dirinya.


Bersambung


..........