My Chosen Wife

My Chosen Wife
Calon Istri



"Kenapa?"


"Aku tidak berselera makan, pergilaah.!" Teriaknya,


"Aku tidak akan pergi sebelum membawamu ikut denganku," jawabnya dengan tatapan satu arah.


"Ayo," ajaknya lagi dengan menadahkan tangannya dan tangan satunya lagi menenteng tas Kinaya,


"Pergilah dulu dan jangan membawa tasku, "


"Aku akan membawa keduanya, tas dan pemiliknya, ayo ikutlah,,, "


^


Tanpa menyadari dirinya, ia mengikuti langkah Rey yang hendak keluar dari ruangan besar tersebut, seperti ia sudah terhipnotis dengan wangian yang melekat pada tubuh lelaki itu, ia berhenti sejenak dan melirik kearah perempuan yang sedang berdiri di ambang pintu dekat ruangannya,


"Marissa aku akan pergi sebentar," ucapnya pada perempuan tersebut,


"Berhati-hatilah jika kau sedang berada di luar bersama tuan Rey, kau akan mendapat banyak perhatian," bisikan Marissa membuat Rey melirik ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.


"Aku akan segera kembali," ucapnya lalu menyusul langkah dari laki-laki tersebut yang sudah memberinya isyarat untuk pergi.


🍂


****


Sepasang manusia tersebut telah berada dalam sebuah restaurant yang sudah menjadi tempat pelarian Rey di kala cacing di perutnya sedang merontah...


Rey memilih meja yang sekiranya bisa di tempati untuk dua pasang manusia di sana.


"Selamat siang tuan," ucap pelayan restauran yang terlihat membukukkan sedikit tubuhnya dan memberinya dua buah daftar menu untuk memilah makanan yang akan menjadi santapannya siang itu,


Rey melirik ke arah Kinaya yang masih belum menyentuh daftar menu tersebut, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada pelayan yang masih berdiri menunggu pesanan mereka dan tatapan Rey sepertinya memberi isyarat kepadanya untuk meninggalkan meja mereka, setelah pelayan tersebut mengangguk dan berlalu pergi dari sana, Rey mencoba bersuara dan memberinya sebuah pertanyaan


"Kenapa masih diam, cepat pesan makananmu" serunya namun tidak ada jawaban yang terdengar di sana,


"Sayang!" katanya lagi sembari menyentuh dengan lembut tangan Kinaya membuat pemiliknya membulatkan kedua bola matanya dan reflek memindahkan tangannya dari sentuhan yang benar-benar membuatnya begitu sensitif...


Rey yang menyaksikan kepolosan tersebut membuat ia tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum,


"Ayo pesan makanannmu aku yang akan membayarnya, jangan takut isi dompetmu akan melorot," ucapan itu membuat Kinaya semakin terkesiap, dirinya merasa di rendahkan akan perkataan Rey yang ingin membayarnya makan...


"Itu tidak perlu Rey, maaf aku harus pergi, aku tidak berselera makan," Kinaya beranjak berdiri setelah ungkapan itu ia lontarkan, kakinya baru saja bergeser dari tempat tersebut.


"Kerciiiiing,,, "suara kerincingan begitu menggelar membuat perhatian semua orang teralihkan, Seorang pelayan berjalan dengan nampan yang terisi begitu banyak makanan tiba-tiba terpeleset akibat tumpahan air mineral dari salah satu pengunjung di sana, keadaan lantai yang licin membuat kaki pelayang tersebut terpeleset dan menumpahi beberapa bagian tubuh seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, dan itu terlihat basah dan beberapa sisa makanan yang melekat pada pada kain yang membalut di tubuhnya,,,


^


"Ma. maaf nona, aku tidak sengaja," ucap pelayan tersebut dengan suara yang terdengar panik, tanpa memberi respon pada seseorang yang sedang berbicara padanya, ia hanya fokus membereskan beberapa tumpahan yang terlihat sangat berantakan di ujung bagian bawah baju dan roknya."


"Sayang, kau tidak apa-apa," ucap seseorang yang terdengar begitu panik, tangannya reflek menyentuh kedua bahu yang sedang sibuk membersihkan kotoran di bajunya, ucapan tersebut seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap lekat wajah lelaki yang berjarak sangat dekat dengannya, sejenak kedua pasang manik mata sedang saling tatap namun dari pihak hawa seketika mengalihkan pandangannya dengan wajah yang bersemu malu di sana,


"aku tidak apa-apa," balasnya dan segera menepis tangan yang membuat kulitnya begitu risih akan sentuhan itu,


"Tu,tuan maaf saya tidak sengaja menabrak nona," perkataan maaf itu kembali terucap dengan suara gemetar saat kedua bola mata menatapya dengan tatapan kesal...


"Maafkan saya tuan," ucapnya kembali dengan wajah menunduk saat di rasa tubuh tegap laki-laki tersebut mendekat ke arahnya,,,


"Aku tidak akan memarahimu, tapi kau harus bekerja dengan hati-hati agar kejadian buruk ini tidak terjadi lagi pada pelangganmu yang lain, andai saja calon istriku terluka aku tidak akan berkata seperti ini di hadapanmu, buang jauh-jauh kata tidak sengajamu dan bekerjalah dengan baik," penuturan tersebut terdengar sangat bijak namun tidak dengan suara demikian, suara yang begitu menggelar di telinga siapapun yang mendengarnya membuat pelayan tersebut semakin merasa katakutan, betisnya bergoyang begitu hebat, seakan cairan kuning keluar dari alat sensitifnya...


"Tuan, nona maafkan teman saya," ucap seseorang yang tak lain rekan kerja dari pelayan tersebut, ia menunduk dan memohon ampun di hadapan laki-laki yang memasang wajah galaknya di sana...


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Kinaya meyakinkan dirinya pada pelayan yang sedari tadi memohon padanya,,,


"Nona, sekali lagi maafkan saya, timpal pelayan yang telah membuat pakaiannya kotor dan bersimpuh di hadapannya karena merasa sangat tidak enak hati hingga membuat laki-laki yang berada di samping wanita tersebut merasa murka.


"Tolong jangan memanggilku nona, aku bukan orang terhormat kalian." Tukas Kinaya,


^^


"Tuan kami akan membayar atas ketidaknyamanan anda berkunjung kemari," ucap seorang wanita yang setengah parubaya yang baru saja menghalang langkah sepasang manusia yang berjalan begitu cepat, sepertinya wanita tersebut alih penanggug jawab dari pemilik restaurant itu.


"Urus pelayanmu dan jangan menghalangi langkah kami," teriak Rey dengan sangat murka saat wanita itu menghentikan langkahnya,


Wanita tersebut mengurung niatnya untuk kembali meminta maaf tatkala kedua tubuh yang ia halang sebelumnya menjauh secepat kilat...


"Rey, kenapa kau tidak tinggal saja makan, kau makanlah dulu aku bisa kembali kekantor sendiri,"


"Aku tidak jadi makan, cepat masuklah!" Serunya setelah membuka pintu mobil di sisi penumpang dan beralih ke pintu bagian kemudi...


"Apa kau merasakan sakit di bagian tubuhmu," ucap Rey dengan suara paniknya,,


"Emm, tidak, aku tidak apa-apa... "


"Tapi nampan dan mangkuk itu membentur begitu keras di bagian tubuhmu," tanya dengan tergesa-gesa...


"Lebih baik kau pulang istirahat, aku akan mengantarmu pulang," imbuhnya sembari menarik gas mobil dan melaju meninggalkan tempat tersebut...


"Tidak Rey, aku masih banyak pekerjaan, aku harus kembali ke kantor,"


"Dengan pakaian seperti ini,?" Tukasnya,


Kinaya melirik kebagian baju yang terlihat basah dan kotor bahkan menyisakan bau makanan yang begitu menyengat di indera penciumannya...


"biar kubersihkan di toilet kantor,"


balasnya setelah melihat kain tersebut di bagian yang penuh dengan sisa makanan...


"Kau bisa mengerjakannya besok, kau pulanglah dulu," perkataan Rey tanpa melihat ke arah Kinaya,


"Tidak, tidak aku tidak bisa seenkanya bekerja begitu saja, perusahaan itu bukan milik keluarga ataupun sahabatku, aku harus segera menyelesaikannya karena dua hari lagi aku akan off karena pekerjaan baruku," penjelasan Kinaya membuat bibir Rey melengkung sempurna.


"Itu memang buka perusahaan keluarga ataupun temanmu, tapi kau akan menjadi istri dan menantu dari pemiliknya," batinya dengan terus tersenyum,,,


"Bukan kah perempuan di kantormu itu adalah asisten ayah, kau bisa menyerahkan pekerjaanmu itu padanya,,, aku akan memberitahu tahu ayah soal itu.." ucap Rey tanpa sadar kalau Kinaya belum mengetahui sosoknya,


"Ayah," Kinaya mengulang kata tersebut dengan kerutan dahi yang dalam.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


🏆🏆🏆🏆