
Keenam orang itu sudah berkumpul di tengah-tengah keramaian pengunjung di restaurant, di mana bangku itu sudah tersususun tiga banding tiga. Sederetan para pria bersama-sama saling berhadapan dengan sederetan para wanita.
"Pesanlah!." ucap Rava menatap Renata.
"Ayo kita pesan... Kalian harus makan yang banyak. Selagi ada Presdir dingin di sini." celetuk Renata seraya membuka menu makanan.
Vara tersenyum lalu dia bersemangat seraya menatap ke Harsen, "Bukankah tiga di antara kita, adalah orang-orang hebat. Ada dua presdir dan Asisiten Presdir. Jadi... Malam ini kita harus benar-benar kenyang." ujarnya dengan mata berbinar.
Harsen mengernyitkan keningnya dengan menatap Vara aneh. Pikirnya si Vara itu memang unik, di mana dia memiliki mood yang berubah-ubah. Sedangkan Rava yang mendengar ucapan kedua orang yang di sayangnya itu sempat melipat kedua tangannya di atas dada, melepas tangan kanannya dan menyentuh keningnya seraya menyandarkan tubuhnya ke bangku. Rava menatap bergantian pada Vara dan juga Renata, menarik nafasnya sejenak.
"Buatlah seperti yang kalian mau." balasnya dengan suara terendahnya.
"Yeeeeee...." sorak Vara di ikuti oleh Defan.
"Kali ini Aku akan menuruti kemauan kalian. Karena memang ini acara untuk mengantarkan kakak kalian kembali ke Jakarta." ucap Rava dengan wajah yang di buat santai.
"Apa Kakak tidak akan ikut ke Jakarta?" sambung Defan.
"Tidak.... Kemungkinan di saat Kau dan Vara libur, kakak akan kembali ke Jakarta dan melangsungkan lamaran, dan Usai Vara di wisuda, kami akan menikah." ucap Rava seraya menatap mesra pada Renata yang juga menatapnya dengan kelembutan.
"Agh.... Kok romantis banget ya? Vara iri kak..." celetuk Vara.
"Kenapa Kau iri?" tanya Rava padanya.
"Iya irilah... Kakak sudah mau menikah dengan kak Renata, Defan pacaran dengan Alice. Sedangkan Vara?Agh sudahlah... Tidak usah di lanjutkan." balas Vara dengan tertunduk sedih.
Renata tersenyum menatap Rava yang menatap adiknya seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan Vara barusan, Alice menjadi malu-malu, Defan geli sendiri menahan tawa akan cinta terpendemnya Vara pada Harsen. Harsen sendiri sedang menatap dalam-dalam pada Vara yang sedang tertunduk sedih itu.
"Bukankah Kau menyukai Pria yang berada di depanmu!" Rava menatap pada Harsen dan Vara.
Semuanya di buat kaget oleh ucapan Rava, termasuk Vara yang menatap kaget pada kakaknya.
"Ka... Kakak... kenapa berbicara seperi itu?" tanya Vara dengan pelan.
astaga... Apa ini mimpi?
Gumam Harsen memukul wajahnya.
Rava menoleh ke Harsen yang menampar pipinya sendiri, "Kau tidak sedang bermimpi, bukankah yang kakak katakan ada benarnya?"
"Hah... I...Iya kak Rava." ucap Harsen gugup menatap Rava, tetapi Ia mempertegas pertanyaan Rava, selagi ada kesempatan pikirnya.
"Hahaha... Santai aja Sen.. Kenapa Kau jadi takut menatapku." balas Rava lalu menoleh pada Vara, "Kakak tahu Kau mencintai siapa dan menyukai siapa, temanmu, bahkan musuhmu juga kakak tahu, walaupun Kau tidak bercerita dengan kakak." ucap Rava , lalu ia berpindah menoleh ke Harsen, "Jadi Sen... Jangan berani-beraninya Kau menggantung adikku satu-satunya. APA KAU PAHAM!!!" ucapan Rava di pertegasnya.
"Hah... Harsen paham kak!." balas Harsen dengan posisi siap.
Rava tertawa, "Sudah jangan bersedih, Kakak sudah membantu mu untuk mengutarakan perasaanmu. Kau harus bersabar dengan Pria kakuh seperti Harsen. Tapi ketahuilah, hatinya Harsen hanya ada Vara seorang terkecuali Bibi Rere." balas Rava dengan menatap sang adik.
"Wuaaahhh....Lampu hijau dari Kak Rava." sambung Defan senang.
"Iya... Tinggal paman Raka dan Bibi Eva nih. Tenang Vara dan Harsen, Kakak akan bantu kalian membicarakan ini." Renata menyentuh lembut pundak Vara, secara bergantian menatap Harsen.
Harsen dan Vara sama-sama malu, keduanya hanya tersenyum, tanpa membuka suara. Benaran sangat malu pikir mereka berdua.
"Hah... Sudah buruan pesan. Kau Alice... sedari tadi hanya berdiam, pesanlah. Ini sudah malam, Apa kau sudah kabari bibi Anet?" Rava bertanya dengan dingin.
"Hah iya Kak... Terima kasih. Alice sudah mengirimkan pesan pada mama." ucapnya dengan gugup.
"Tenang saja kak Rava, ada Defan." balasnya Defan dengan bangganya.
"Okey... Pesanlah." ucap Rava lagi.
Semuanya melihat pada buku menu masing-masing. Harsen sesekali melirik ke Vara yang juga melirik bersamaan hingga membuat mereka malu sendiri. Sedangkan Rava menatap pada Renata , menunggu menu yang hendak dia pesan, hingga Rava mengikuti menu yang sama dengan Renata. Sesudah semuanya memilih makanan mereka masing-masing, jadilah semua pesanan mereka di catat oleh staff pelayan. Seusai pelayan pergi,semuanya kembali berbincang, Vara masih sangat malu jika ketemu pandang dengan Harsen, langsung saja keduanya membuang pandangannya.
Tiba-tiba Rava menatap Alice yang hanya tersenyum menatap pada mereka, hingga pada sesuatu yang terlintas di pikirannya membuat dia terus menatapi Alice hingga Alice tersadar dengan tatapan Rava. Rava pun tersadar dan menjadi salah tingkah karena ketahuan sebelum niatannya tersampaikan.
"Alice." panggil Rava, dengan sepontan membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Iya Kak Rava." balas Alice dengan tatapan bingung.
"Ada baiknya Kau untuk berkuliah." ucapnya dengan pelan.
"Kenapa Kak?" Alice menatap tidak suka.
"Hah... Maaf jangan tersinggung. Bukankah Kau masih muda, ada baiknya Kau itu menyelesaikan pendidikanmu di saat seperti sekarang. Bukankah Mama mu juga memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Ada baiknya Kau mengikuti jejak mamau mu." ujar Rava.
Renata menatap ke Rava, lalu Ia berpindah ke Alice dan menyentuh pundak Alice.
"Yang di katakan kak Rava ada benarnya, Alice. Selagi Alice masih muda, bakat dan kepintaran Alice bisa di kembangkan, bahkan jika Alice berjodoh dengan Defan, bukankah sangat baik, kalian sama-sama memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi." tutur Renata dengan sangat lembut.
"Benar juga Alice, Apa kau tidak ingin mencobanya?" sambung Defan mencoba membujuk.
"Iya Alice... Ayolah... Tidak masalah dengan umurmu sekarang, belajar kan tidak memandang umur saat Kau memiliki niat." Vara menimpali.
Alice menatap ke semuanya yang berharap pada dirinya. Rava sendiri menunggu jawabannya sangat penasaran.
"Tidak perlu takut soal biaya, Kau sudah kakak anggap seperti Defan. Jadi semua biaya hidup dan kuliahmu biar kakak yang tanggung." kata Rava dengan tegas.
"Kak Rava." ucap Defan terharu.
"Iya Defan biar kakak yang tanggung semuanya, kau belum menghasilkan uang dengan tanganmu sendiri. Jangan Kau pakai uang dari Papa dan mamamu."
"Baik Kakak." balasnya dengan malu.
"Bagaimana Alice?" tanya Rava lagi.
Alice menatap perlahan ke Rava dan berpindah pada yang lain, sebenarnya Alice sangatlah malu. Tetapi orang - orang yang di sekitarnya sangatlah baik pikirnya.
"Apakah boleh Alice ceritakan dulu ke Mama, Kak?" tanya Alice dengan menatap Rava.
"Hah... Baiklah... Katakan padaku atau Defan jika Kau bersedia." jawab Rava tanpa menatap Alice, Rava menatap Renata yang menatap Alice penuh kasih.
Tak lama perbincangan mereka terhenti saat makanan datang dan terhidang di masing-masing tempat. Keenamnya menyantap dengan rasa senang sambil berbincang hangat. Seusai makan malam bersama, Renata yang hendak di antar oleh Rava meminta pada Harsen, Vara , Defan dan Alice untuk langsung pulang tanpa harus mengantarnya ke Apartemennya. Mereka semua berpisah di parkiran, seperti semula, semuanya berada di masing-masing mobil seperti sebelumnya.
***
Suasana di dalam mobil Rava dan Renata.
"Aku sangat kenyang." ucap Renata dengan mengelus perutnya.
Rava sekilas menatapnya, "Baguslah... Kalau begitu kan Aku tidak membayar sia-sia." ucap Rava dengan tersenyum.
"Agh... Benar juga sih." jawab Renata sama dengan Rava senangnya.
"Besok... Kita sudah berada di tempat yang berbedah. Tetapi hatiku, masih sama di tempat yang ternyaman ada pada dirimu. Aku minta, Kau baik-baik di sana, jaga dirimu dan tidak boleh kelelahan, terlambat makan, terlambat tidur, bahkan terlambat mandi sekalipun. Selama Aku tidak di sisimu, Aku mohon jaga dirimu baik-baik, sampai Aku datang untuk melamarmu. Apa Kau mau berjanji padaku, Nona Renata?" tanya Rava sekilas menoleh ke Renata yang sudah senyum-senyum mendengarnya.
Renata menoleh ke Rava, "Aku sangat terharu dengan perubahan Tuan Rava. Tenang saja, Aku berjanji padamu untuk menjaga diriku sampai Kau datang kembali ke sisiku. Dan Aku juga memintamu, untuk menjaga hatimu dan juga matamu. Kau tahu bukan? Di sini banyak pemandangan indah yang menggoda iman, apa lagi mantanmu juga ada di sini bukan? nah... jadi kau harus menjaga dirimu lebih baik dari aku." ujar Renata dengan raut wajah serius.
Kening Rava mengkerut, "Kenapa saat pembicaraan serius kita, Kau malahan mengungkit soal mantan? Aku sungguh tidak percaya padamu Nona Renata." Rava purak-purak merasa tidak terima.
"Biar Kau bisa mengingatnya," balas Renata singkat.
"Ya... Ya...Ya... Wanita memang harus di mengerti." jawab Rava membuat Renata tersenyum tanpa menoleh.
****
Semakin hening saja dari sebelumnya, tidak ada satupun yang berani membuka cerita selama di perjalanan. Vara merasa gugup dan kehabisan kata-kata, sedangkan Harsen sama dengan Vara. Akhirnya terungkap juga perasaan terpendam dari keduanya ke atas permukaan. Apa lagi di sadari oleh kakak mereka sendiri. Bukankah itu sesuatu yang sulit di percaya?
Harsen merasa tidak enakan dengan suasana seperti itu sangat canggung. Akhirnya Harsen memilih memutar musik dari audio mobilinya, langsung saja lagu dari Jessie Ware yang berjudul Say You Love Me, terdengar sangat tenang di dalam mobil Harsen.
Say you love me to my face
I need it more than your embrace
Just say you want me, that's all it takes
Heart's getting torn from your mistakes
Cause I don't wanna fall in love
If you don't wanna try
But all that I've been thinking of
Is maybe that you might
And babe, it looks as though we're running out of words to say
And love's floating away
Harsen dan Vara saling berpandangan, seperti keadaan yang mereka rasakan. Harsen yang semakin salah tingkah cepat-cepat mematikan audionya.
"Sudahlah Kak... Jangan di ambil hati omongan Kak Rava, membuat suasana kita jadi tidak enakan saja. sangat merepotkan" celetuk Vara.
Harsen melirik ke Vara, "Jika yang di katakan kak Rava benar adanya bagaimana?" Harsen tidak terima ucapan Vara barusan.
"Hemmm mau bagaimana ya? Tergantung dengan kak Harsen sendiri sih." jawab Vara malas.
"Tunggu saja waktunya." ucap Harsen dengan percaya diri.
"Baiklah... Tunggu sampai Aku melabuhkan cintaku pada pria idamanku." gumam Vara dengan pelan.
Harsen tertawa, "Kita lihat saja." jawab Harsen menantang.
"Cih." Vara membuang pandangannya.
****
Suasana di Mobil Defan dan Alice.
"Apa kau tersinggung dengan ucapan Kak Rava tadi?" tanya Defan.
Alice menoleh ke Defan dan tersenyum, "Tidak... Kak Rava ternyata sangat baik." balas Alice.
"Kan sudah aku katakan, tampangnya saja yang dingin, hatinya sangat baik. Ada baiknya Kau pertimbangkan perkataannya tadi , dia tidak main-main Alice." balas Defan.
"Iya Defan... Tenang saja, tapi Aku kan harus membicarakannya ke mama ku dulu." balas Alice.
"Baiklah... katakan padaku kalau sudah ada jawabannya." balas Defan.
Alice hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum.
****
Sesampainya di Apartemen Renata, karena tahu sifat Rava, Renata tidak memintanya hanya menurunkannya di depan pintu masuk Apartemen. Rava mengantar Renata tepat di depan pintu kamarnya.
"Sudah... pulanglah. Tidak usah mampir, pasti mami dan papi aku sudah tidur." ucap Renata.
"Benarkah? Jadi apa Aku tidak usah singgah ke dalam dahulu?" Rava menunjuk pada Apartemen Renata.
"Tidak usah. Aku yakin, Kau juga sangat lelah. Pulanglah... "
"Wuah... Aku benaran di usir ini namanya." jawab Rava.
"Tidak... Aku bukan mengusirmu. Ini sudah malam, dan Kau besok harus bekerja bukan?"
"Iya... sehabis mengantarkanmu ke bandara."
"Hah....Tidak perlu Rava. Biarkan kami saja, Aku tidak ingin merepotkan kamu." ucap Renata menolak.
"Apa kepalamu minta di toyor! Kau itu calon Istriku biar Aku mengantarkanmu, dan melepas kepulanganmu. Jangan membantah ,besok Aku akan menjemput kalian." balas Rava.
"Hah... Baiklah. Kau memang susah untuk di bantah." celetuknya.
"Ya... Kau sudah sangat mengerti bukan? lalu Aku akan pulang." ucap Rava.
"Baiklah... Kalau begitu berhati-hatilah di jalan. Sampai di rumah, kabarkan padaku." perintah Renata pada Rava.
"Okey... begitu saja?" tanya Rava dengan menatap wajah Renata.
"Huum... Emangnya apa lagi?" tanya Renata dengan wajah penasaran.
"Hemmm... Ya sudah aku pamit. Kau masuklah..." balas Rava dengan berjalan hendak pulang.
.Renata melambaikan tangannya dan tersenyum, Rava melirik lagi ke Renata dan kembali memandang kedepan dan berjalan.
Kenapa dia tidak pekah... Masa iya... hanya seperti itu saja? Tidak ada pelukan , apa lagi ciuman.
Rava curhat dengan batin dan perasaannya.
"Rava." panggil Renata.
Rava terhenti dan menoleh ke belakang, tampak si Renata yang berlari ke arah Rava, sampai di depan Rava, Renata memeluk tubuh Rava dengan sangat erat.
Rava tersenyum dan membalas pelukan Renata seraya mencium puncak kepalanya.
"Aku pikir tidak ada pelukan." ucap Rava.
Renata menengadah ke arah wajah Rava, "Aku sangat mencintaimu, terima kasih buat hari ini memberikan Aku akhir yang indah di sini." ucap Renata lalu Ia berjinjit dan mengecup bibir Rava.
Keduanya menikmati keromantisan itu sesaat. Renata melepas ciumannya dan kembali menatap Rava yang sudah tersenyum padanya.
"Aku sangat bersyukur dengan caramu memberikan kenangan Indah di sini untukku. Berhati-hatilah untukku, Aku menunggumu " ucap Renata.
Rava masih tersenyum, "Baiklah... Sudah sana masuk. Terima kasih juga sudah mau memberikan aku kesempatan untu membahagiakan dirimu. Sampai jumpa besok. Masuklah." kata Rava dengan mendorong lembut tubuhnya.
"Baiklah." Renata kembali berjalan ke arah kamarnya dan segerah masuk.
Rava terus tersenyum seraya kembali berjalan menuju lift. Jangan di tanya perasaan Rava, dia sedang berbunga-bunga tentunya.
Bersambung.
.........
Mohon bantu Like dan Vote ya. Oh ya.. Jika ada kata yang lebih dan kurang mohon di maklumi, karena saya ngetiknya di jam dua belas malam. Akan di perbaiki besok. Terima kasih...🙏❤**