
Merasa menang, Harsen yang mengikuti Rava dari belakang, ada senyum di bibir Harsen. Ia sangat bangga dengan Rava, Harsen selalu mendengar dari papanya Leo, kalau papanya Rava juga sangat tangguh dan tidak tertandingi dalam urusan bisnis. Apa lagi adanya oma Lusi, yang memang sangat berkuasa itu.
Sampai di Loby Hotel, Rava menoleh ke Harsen.
"Sen.. Apa tidak bisa kita kembali langsung malam ini juga?" tanya Rava serius.
Harsen tersenyum, "Apa kak Rava merindukan Kak Rena?" tanya Harsen dengan berani.
Rava menatap tajam ke Harsen, "Apa kau mau aku menggetok kepalamu?"
"Heh... Enggak kak. Maaf... Kalau kita kembali malam ini, sangat tidak memungkinkan kak. Butuh waktu 4 jam dari sini ke Rumah Sakit." jawab Harsen dengan posisi siap.
"Hemmm... Berarti harus menginap ya? Terus bukankah aku janjinya tiga hari? karena aku berpikir si Albert somplak itu, enggak bakalan ngaku, dan menguras tenagaku untuk mendapatkan keberadaan si biang kerok itu, jadinya tidak menyangkah secepat ini, hah sial banget!" Rava mencoba berpikir, merenungkan dirinya.
"Iya Kak... Kita harus menginap. Dan perjalanan pagi, bisa kita lakukan. Jika besok hasilnya baik, kakak tidak perlu ke kantor. Biar Harsen yang mengurus semuanya kak."
Banyaknya orang yang berlalu lalang di Hotel itu, membuat rasa rindu yang tiba-tiba Rava rasakan. Rindu menatap wajah Renata, dan mendengar suaranya.
"Baiklah Sen, Kita cari penginapan lain. Aku tidak sudi menginap di sini, memberikan uangku untuk aset si Albert." Rava mulai melangkahkan kakinya, berjalan keluar melewati banyaknya tamu hotel yang silih berganti.
Harsen sendiri memiringkan kepalanya, merasa bingung, dari mana pikirnya Rava tahu soal Hotel yang mereka kunjungi milik si Albert. Harsen sendiri tidak memberitahukannya ke Rava.
"Entahlah... Aku kadang berpikir kak Rava seperti hantu yang tiba-tiba datang." gumam Harsen lalu mengikuti Rava dari arah belakangnya, menuju parkiran mobil.
Keluar dari parkiran Hotel yang pemiliknya tak lain dan tak bukan adalah si Albert, keduanya menyusuri malam yang di hiasi cahaya lampu dari jalanan kota maupun dari rumah di pinggiran kota. Harsen mencari Hotel yang menurutnya sesuai dengan seleranya Rava.
Beberapa menit kemudian, Rava dan Harsen tiba di salah satu Hotel. Harsen memandu Rava untuk mengikutinya masuk ke loby Hotel yang sempat dia pesan di dalam perjalanan mereka pindah, menuju meja resepsionis dan meminta Cardlock pembuka pintu kamar Hotel.
Keduanya membawa kaki mereka untuk melangkah menuju pintu Lift, di depan Lift Rava dan Harsen menunggu dalam diam, tak lama tamu hotel lainnya mendekat ke mereka, tepatnya di belakang Rava dan Harsen, sama-sama menunggu pintu lift terbuka.
Tinggggggg....
Pintu lift terbuka, tamu dari atas silih berganti keluar dari pintu lift, Rava menunggu hingga lift itu kosong, lalu ia melangkah masuk di ikuti oleh Harsen. Saat keduanya hendak menatap kedepan, mata Rava juga Harsen, sama-sama di buat terkaget. Tamu lain yang juga masuk kedalam lift itu pun sama kagetnya.
Sepasang suami istri itu, menatap Rava, dan kembali berpindah saling menatap, lalu mengambil posisi yang baik, wanita itu merangkul tangan suaminya dangan mesra. Rava hanya terdiam yang melihat keduanya dari belakang.
Tak lama lift berhenti tepat di lantai kamar Rava juga Harsen berada. Bukannya minggir, kedua pasangan Suami Istri itu malahan berdiam. Harsen membuka suaranya, "Permisi Tuan dan Nnyonya, kami mau keluar." ucap Harsen.
Keduaanya sigap memberikan jalan, Vanessa menatap pada Rava, begitupun dengan suaminya Vanessa juga menatap Rava. Dengan wajah datar dan beribawa, Rava berjalan keluar tanpa memandang pada pasangan itu. Harsen sendiri, memasang tatapa tajam ke Vanessa, seraya berjalan keluar.
Rava dan Harsen menyusuri koridor mencari nomor kamar keduanya yang terletak bersebelahan. Harsen menemukannya, tepat di depan pintu kamar Rava, Harsen menempelkan Card dan otomatis terbuka.
"Ini, Kak" Harsen memberikan Card kamar Rava, "Selamat beristirahat kak. Jangan memikirkan penampakan gaib tadi kak, merusak keindahan perasaan kakak yang sedang berbunga-bunga." celetuk Harsen dengan tawanya.
Rava mengambil Card kamarnya dari tangan Harsen, dengan tatapannya yang menelusuri mata Harsen.
"Kenapa kau berubah puitis?" Rava menatap datar.
"Hah... Kak, jangan terlalu serius menanggapinya. Aku hanya menghibur kakak." balas Harsen lagi dengan tawanya.
"Kau cerewet sekali, Sen. Sudah sana masuk, beristrihat juga, jangan lupa pesan layanan kamar, untuk makan malam kita. kakak masuk..." Rava meninggalkan Harsen yang masih tersenyum itu.
Harsen merasa bahagia, akhirnya Rava bisa mencintai Renata. Kalau Vanessa, mengingatnya saja, Harsen jijik apa lagi menatap wajahnya, pengen sekali rasanya bagi Harsen menjambak gigi Vanessa, si rubah betina.
^
Di dalam kamar, Rava memilih untuk langsung membersihkan diri, dengan membawa beberapa baju ganti dari tas ranselnya, segerah saja dia membersihkan diri, karena Rava tidak sabaran untuk melakukan panggilan dengan Renata.
Beberapa menit kemudian, Rava usai dari aktivitas mandinya, lalu mengambil lipatan bajunya dan mengenakannya. Selesai semuanya, Rava berjalan ke arah meja , mengambil ponselnya dan mencari nomor kontak Renata dan melakukan panggilan, lalu naik ke atas ranjangnya.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Mati? Apa dia masih memblokir nomorku?" gumam Rava, kembali mencoba membuat panggilan ke Renata, tetapi tetaplah sama.
Rava mencoba menghubungi Vara, dengan cepat ia membuat panggilan ke Vara. Tak lama suara Vara terdengar.
Vara menjawab di ujung ponselnya dengan perasaa sedih.
📲:Rava : Ada apa denganmu sayang, apa sesuatu terjadi?
📲Vara : Iya kak, Maaf enggak kasi tahu kakak. Karena mama dan papa melarangnya. Tapi enggak mungkin kan kak, Vara hanya diam.
📲Rava : Ada apa Vara? kasi tahu kakak yang jelas.
Rava mulai merasa panik, seperti perasaanya mengatakan ada yang tidak beres.
📲Vara : Kak Rava... Kak Rena uda enggak ada.
Vara mulai menangis, tangisan Vara membuat Rava kaget dan beranjak dari ranjangnya.
📲Rava : Maksudnya enggak ada gimana? Coba yang benar Vara.
📲Vara : Kak Rena uda enggak ada di kamarnya kak, sewaktu kami pulang dari belanja bersama mama dan papa. Mama membelikan hadiah untuk kak Rena , karena itu kak kami kembali ke Rumah Sakit. Tapi saat tiba di kamar kak Rena, kak Renta sudah keluar kata Perawat.
📲Rava : Apa kalian sudah menghubungi Bibi Casandra atau Paman Varel?
📲 : Sudah kak... Hanya saja, Bibi enggak mengangkatnya. Hanya mengirimkan pesan ke mama. Katanya Kak Renata ingin sendiri, dan beristirahat. Kalau sudah waktunya Kak Renata akan memberitahukan keberadaannya.
📲Rava : Begitukah? Apa hasil dari pengecekan tadi pagi sudah keluar, Vara?
📲Vara : Sudah kak... Dan hasilnya semua bagus, papa langsung bertanya ke Dokter kak Renata.
📲Rava : Baiklah sayang, tidak perlu bersedih. Ikuti saja keinginannya, Vara enggak boleh nangis.
📲Vara : Maafin Vara ya kak?
📲Rava : Tidak ada yang perlu di maafkan, kamu harus tenangi papa dan mama juga, pasti mereka kaget. Karena itu Vara enggak boleh bersedih, harus jadi penguat, saat kakak gak ada. Vara mau kan?
📲Vara : Baiklah kak, Kakak cepat pulang ya.
📲Rava : Iya sayang... Sudah sana tidur, jangan berpikir yang macam-macam. Kakak sayang sama Vara, kakak tutup ya. Byee.....
Rava terdiam dan berpikir sejenak, mengapa rasanya sangat susah untuk mendapatkan hati Renata. Dan Renata benar-benar menguji perasaan Rava terhadap dirinya. Ucapan Renata kemarin, benar-benar di lakukannya, dia tidak main-main.
Drtttt....Drttttt...
Ponsel Rava bergetar, pertanda pesan masuk. Dengan cepat Rava membuka pesan dari Defan.
[Kak.... Paman dan Bibi semuanya pada pindah. Kak Renata, paman Casandra, paman Varel bahkan Paman Jimmy dan Bibi Anna, juga dengan James. Semuanya sudah tidak ada di sini. Paman Jimmy sempat pamit dan meminta maaf, begitupun dengan bibi Anna kak. Hanya saja mereka menyembunyikan tujuan mereka. James juga enggak mau kasi tahu, semuanya pada tutup mulut kak. Jadi aku harus bagaimana Kak?]~ Defan.
Dengan sigap Rava membalas pesan dari Defan.
*[Tidak usah bersedih, biar semua kakak yang urus, kau jaga Vara, mama, papa juga paman Frans. Tidak perlu takut, semuanya pasti baik-baik saja, Defan. Kau tenangkan saja mereka.] ~ Rava. **
Rava melangkah keluar, menuju kamar Harsen yang hanya berada di samping kamar Rava. Dengan sigap dia menggedor pintu kamar Harsen, dan tak lama Harsen keluar.
"Ada apa kak?" Harsen bingung.
"Cari tahu Sen, keberadaan Renata dan seluruh keluarganya. Vara dan Defan bilang, mereka tidak ada di rumahku Sen, juga Renata sudah tidak ada di Rumah Sakit. Kau cari tahulah seluruh penumpang keberangkatan hari ini dan juga besok."
"Baik, Kak." jawab Harsen dengan posisi siap.
Rava menjadi gusar dengan berjalan kembali ke kamarnya, rasa-rasanya, hatinya merasa sakit. Sakit karena di tinggal pergi, tanpa kata dan ucapan. Apa lagi, perasaan hatinya mulai terbuka untuk mencinta dan di cintai.
"Mungkinkah ini karma untukku? Kenapa dia sangat pendendam?" Rava mengacak rambutnya dengan kasar.
***
TOLONG kalau Uda Komentar berikan Like dan Vote, saya cek dari riwayat VOTE banyak yang komentar tetapi tidak VOTE, TOLONG dong kerja samanya, Rankingnya berada di posisi 15. Jangan menuntut saya terus update, dan ngancam saya dengan komentar pedas yang gak suka Rava dengan Renata karena sama-sama kaya, oya... Siapa yang bilang Eva itu anak orang MISKIN. Coba baca lagi di Terpaksa Menikah ya. Biar enggak memaksa untuk mengikuti keinginan kalian. TERIMA Kasih.