
Bridal Erico Alrico.
"Ayo turunlah." ajak Rava.
Rava dan Renata tiba di mana tempat Lusi pernah mengajak Raka dan Eva, tempat di mana gaun pengantin Eva di desain oleh orang kepercayaan Lusi. Begitu juga dengan Rava, Ia ingin mempercayai dengan pilihan Buyutnya.
Dengan santainya Rava menggenggam tangan Renata bersama keduanya melangkah masuk ke Bridal yang langsung di sambut oleh staff yang bertugas.
"Selamat datang Tuan dan Nona, Saya Micel, Ada yang bisa saya bantu?" tanya staff wanita tersebut.
"Agh Iya Micel, saya mau berjumpa langsung dengan Tuan Alrico, anak dari pemilik Bridal ini. Saya sudah buat janji dengannya." kata Rava dengan elegannya.
"Atas nama tuan Rava?" tanya Micel.
"Ya benar."
"Baiklah Tuan dan Nona, mari ikut saya." balas Micel.
Rava menoleh ke Renata dengan genit dan tersenyum ke arahnya. Renata sendiri menjadi geli dan ikut tersenyum.
Keduanya memasuki lift dan menuju langsung ke ruangan pribadi anak dari Endrico. Ya benar saja, Endrico mewarisi seluruh aset ke anaknya Alrico, karena keadaan yang tidak memungkin untuknya, jadilah Erico mengundurkan diri sendiri.
Tinggggg....
Suara bunyi lift yang menandakan mereka tiba di tempat yang mereka tuju. Renata langsung saja menarik tangan Rava, Ia menggenggamnya dengan mendapatkan tatapan manja Rava. Dengan sangat erat, Rava membalas genggaman lembut dari tangan sang calon Istri.
"Silahkan Tuan dan Nona." kata Micel menahan pintu lift mempersilahkan keduanya untuk keluar dari dalam lift.
Keduanya dengan bersemangat berjalan, lalu kembali mengikuti Micel yang membawa mereka ke ruangan kerja Alrico. Tiba di depan pintu ruangan Alrico, Micel mengetuk pintu dan menginfokan kedatangan Rava. Tak lama pintu terbuka, tampak Alrico yang sangat senang itu memberikan salam dan pelukannya ke Rava. Renata di buat bingung oleh keduanya, merasa aneh, ternyata Rava mengenal designer yang terkenal tersebut.
Renata sendiri mengenal Alrico yang memang memiliki Brand ternama. Siapa yang Renata enggak tahu, apa lagi Renata merupakan wanita yang mengikuti trend fashionable, wajar dia mengenalnya. Hanya saja yang Renata bingungkan, bukankah Alrico itu berada di USA pikirnya.
"Senang Bro... Akhirnya... Lo menepati janji sama gua." kata Alrico menupuk-nepuk bahu Rava dengan senang.
"Janji adalah hutang Bro, apa lagi, Nenekku sudah mempercayai kelugar Lo , Bro. Oh Iya... Ini kenalkan calon Istri gua." kata Rava menunjuk ke Renata.
Alrico berpindah menatap Renata dengan bersemangat dan tersenyum ramah.
"Hallo Nona Renata, selamat berjumpa dan salam kenal dari saya." kata Alrico dengan mengulurkan tangannya ke Renata.
Renata menatap kaget, lalu dengan perlahan tangannya membalasa uluran tangan Alrico.
"Ha—i Tuan Alrico, ba—bagaimana anda tahu nama saya?" tanya Renata dengan menunjuk menatap Alrico dan berpindah ke Rava.
Rava tertawa , begitupun dengan Alrico.
"Kenapa anda bingung Nona? Bukankah anda sering menggunakan fashion brand punya saya. Nama anda juga selalu masuk di dunia fashions dan keuangan, halah... Anda merendah Nona. Walaupun tidak seperti selebritas yang selalu bermunculan di layar televisi, nama anda sering muncul di majalah bisnis memakai brand dari saya. Saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat, anda selalu setia dengan setiap karya saya." kata Alrico dengan setengah menunduk memberikan penghormatan.
"Ouuuu Iya... sampai kelupaan mempersilahkan masuk. Ayo bro dan Nona Renata tolong duduk dulu." kata Alrico dengan semangatnya.
Renata yang masih terkaget itu menatap Rava, Rava sendiri tersenyum dengan ekspresi wajah dari Renata , kemudian dengan lembut Ia menarik tangan Renata dan mengajaknya berjalan masuk. Rava takut, Renata yang masih kaget itu pingsan tiba-tiba.
"Micel... Tolong buatkan minuman untuk tamu saya." perintah Alrico dengan menutup pintunya.
Alrico kemudian berjalan ke arah mejanya dan mengambil perlatan yang Ia perlukan. Sedangkan Renata masih menatap gerak-gerik Alrico dengan seksama. Rava menyentuh kepala Renata agar dia tersadar, "Jangan tegang begitu, biasa saja. Kau ini..." bisik Rava.
Renata membalas bisikan Rava dengan mata yang masih menatap ke Alrico, "Kau tahu? dia sangat terkenal, aku baru tahu kalau dia ini temanmu! dan yang sering aku baca tentang artikelnya, dia jarang mau menerima tamu langsung di luar tempat dia tinggal. Bukankah dia di USA?"
"Tapi karena diriku, dia mau ke Jakarta, tempat di mana Ia di besarkan." balas Rava dengan berbisik.
"Hemmm... Baiklah Bro... Apa tema dari pernikahan kalian?" tanya Alrico dengan duduk di depan keduanya dengan alat-alat perangnya.
"Apa sayang?" tanya Rava ke Renata.
"Wah... Kenapa? Bukankah kalian berdua pengusaha ternama? kenapa di adakan secara sederhana. Jarang-jarang ini terjadi selama saya mendesain gaun pengantin." kata Alrico penasaran.
"Ya gimana ya... Saya hanya mau simple dan gak ribet aja Tuan." balas Renata.
"Benar Bro.... Gua sih mengikuti kemauan calon bini aja Bro. Walaupun acara sederhana, saya mau gaun pengantin atau pun jas yang akan kami kenakan di momen penting itu tetap memberikan kemewahan yang tidak berlebihan. Lo ngertilah maksud Gua, Bro." kata Rava menimpali.
"Iya... Tapi bagaimana untuk tema yang sebenarnya, biar gua bisa menyesuaikan sih Bro."
"Hemm.. buatlah seperti di mini garden yang berada di cafe. Pokoknya kesannya sih, sederhana tetapi mewah." kata Rava.
"Baiklah... Ayo Nona Renata, berdirilah, staff saya akan mengukur tubuh anda." Alrico beranjak dari dudukanya, lalu ia berjalan ke arah luar mendapati Micel yang membawa minuman.
"Ayo Micel buruan... Kamu yang mengukur tubuh Nona ini, biar untuk Pria saya langsung yang tangani." Perintah Alrico.
"Baik Tuan" balas Micel dengan berjalan ke arah meja dan meletakkan minuman untuk Renata dan Rava.
"Ayo Nona... Biar saya bantu." ajak Micel berjalan ke arah ruangan untuk mengukur.
Renata mengikuti Micel berjalan masuk, sekilas Renata melirik ke Rava yang mendapati senyumnya Rava.
Segera Alrico memerintahkan Rava untuk berdiri dan mengikuti segala perintah Alrico selama pengukuran tubuhnya untuk membuat Jas yang akan di gunakannya di momen pentingnya.
Tak lama Renata pun keluar dari ruangan ukur, mendapati Rava yang berwajah masam dengan segala permintaan Alrico yang tidak siap sedari tadi pikirnya.
"Sabar Bro.... sedikit lagi." ucap Alrico saat tubuh Rava sudah kek cacing kepanasan.
"Risih gua di pegang-pegang sama Lo, Bro." ketus Rava.
"Astaga... Kan memang begini. Bagaimana sih Lo, mau bagus enggak?" tanya Alrico dengan nada setengah jadi.
"Ya iyalah.... Percuma gua panggil lo ke sini , membiayai Lo mahal. Masa iya... hasilnya jelek." ketus Rava.
"Nah... Loh tahu juga kan? karena itu ikuti perintah gua, songong amat sih Lo!."
Renata menatap kedua orang pria itu, jika di hadapan orang-orang dalam dunia usaha mereka, tegasnya mereka akan masing-masing profesi mereka, sangat jauh berbedah dengan dunia nyata keduanya.
"Okey Sudah... Duduklah. Nona Renata, minum jusnya." perintah Alrico dengan semangatnya yang berjalan menuju mejanya.
"Iya Tuan... Terima Kasih." balas Renata.
"Okey... semuanya sudah selesai Bro. Tinggal tunggu jadi sesuai jadwal yang Lo katakan kemarin ke gua. Tolong bayarannya ke rekening gua. Jangan lupa di lebihkan, gua sesekali malak dari bos seperti kalian." kata Alrico dengan tatapan serius.
"Hahahaha.... Okey Bro. Tenang saja , gua tambahi bagian buntutnya, Okey??? Sekian dan terima kasih buat waktu Lo bro. Salam sama Papa dan Mama Lo. Kita izin." kata Rava dengan santainya.
"Dasarrr... Baiklah. Hati-hati calon pengantin, Terima kasih sudah memakai jasa saya." ucap Alrico seraya mengantarkan keduanya ke depan pintu.
"Bye." Rava hanya melambaikan tangan.
Sedangkan Renata berpamitan secara sopan ke Alrico, kemudian mengikuti Rava, berjalan ke arah lift. Sesampainya di bawah, keduanya bersamaan berjalan dengan bergandengan tangan mesra menuju parkiran Mobil.
"Kita mau ke mana lagi sayang?" tanya Renata.
"Kita akan mengambil cincin pernikahan kita." balas Rava bersemangat.
BERSAMBUNG.
.....
WAH NAIK RANKING, SAYA PRIBADI MENGUCAPKAN TERIMA KASIH UNTUK PEMBACA SAYA YANG BENAR-BENAR MAU BEKERJA SAMA DENGAN SAYA, UNTUK MEMBUAT KARYA SAYA MASUK KE 10 BESAR. SAYA DOAKAN SEMOGA KALIAN TETAP DI BERIKAN KESEHATAN, BERKAT YANG BAIK. SAYA BERSYUKUR ATAS USAHA KALIAN 🥰🙏😇