
Beberapa Hari Kemudian.
Setelah pulang dari rumah sakit, Renata menjadi seperti tahanan rumahan di buat oleh Rava. Rasa nya, Rava menjadi sangat overprotektif terhadap Renata. Kenapa seperti itu? Dokter sempat mengatakan, kandungan Renata lemah di karenakan adanya efek dari kecelakaan Renata sebelumnya. Jadilah, Rava yang baru beberapa bulan menduduki perusahaan di Jakarta, menjadi bekerja dari rumah sambil menemani sang istri yang sedang hamil muda, selama waktu yang tidak di tentukan.
Di sini Renata duduk berselonjor, di ranjang kamarnya dengan satu buku tentang kehamilan di genggaman tangannya. Sekilas melirik ke Rava, yang masih sibuk dengan kerjaannya melalui laptop yang berada di meja kecil, tidak jauh dari ranjang. Rava memang sengaja tidak bekerja di ruangan kerjanya, agar Renata tetap di dalam pantauannya. Melirik sekilas, kedua mata mereka tidak sengaja beradu pandang, membuat Renata gugup dan kembali membaca bukunya.
Rava sendiri tersenyum kecil dan beranjak dari duduknya mendekati sang Istri.
“Kamu ngeten ya?” tanya Rava dengan naik ke atas ranjang, duduk di samping Renata.
Renata meletakkan bukunya, menarik nafasnya kasar dan menoleh ke Rava.
“Rava… Istrimu rasanya bosan amat begini mulu di kamar!”
“Dih, kok jadi nakal? kan lagi ada adik bayi di sini,” Rava manja dengan mengusap-ngusap perut Renata.
“Iya, tapi kan gak gini juga Papa Rava,” ejek si Renata.
“Mama Renata yang sangat baik, Aku begini, karena Aku tidak ingin sesuatu hal terjadi pada dirimu dan anak kita. Kalau saja, kamu bekerja, terus, ada apa-apa dengan kamu dan kandungan kamu gimana? saat aku tidak di samping kamu? kan aku bisa jadi gila, memikirkannya saja aku takut. Buatlah seperti ini untuk beberapa bulan saja, sampai kandungan kamu benar-benar aman sayang. Tolong ngertiin aku sayang,” Rava menatap kedua manik mata sang istri yang sedang sedih.
“Baiklah, Aku gak usah bekerja lagi selamanya, biar aja papi yang urus semuanya sendiri.” Renata menundukkan wajahnya.
“Wah, ada yang ngambek ini ceritanya. Kalau kamu gak bekerja lagi, aku juga senang, Itu pilihan yang sangat baik. Karena aku masih mampu memberikanmu nafkah sayang, Apa ini serius?” tanya Rava menatap ke Renata.
“Buatlah seperti yang kamu mau, sudah sana! kamu bau banget!” Renata menolak tubuh Rava.
“Astaga, kamu gak ngerjai aku kan? gini wanginya, masa iya bau sih?” Rava mengangkat kedua lengannya seraya mencium bau tubuhnya sendiri.
“Gak tau! sudah sana, aku mau tidur. Malas meladeni kamu, Aku seperti tahanan di sini.” Renata menutup wajahnya dengan selimut.
“Sayang.. Tolong jangan bersedih, ini untuk kebaikan kita bertiga. Kamu, Aku dan anak kita. Jadi, Aku mohon jangan seperti ini.” ucap Rava lagi membujuk Renata.
Tidak ada jawaban dari Renata, Renata sudah bersembunyi di balik selimutnya dan tidak ada pergerakan dari tubuhnya. Rava di buat pusing sendiri, dengan cepat ia beranjak turun dari ranjangnya dan kembali ke meja kecil untuk melanjutkan kerjaannya.Suara nada dering Rava terdengar, membuat Renata menarik perlahan selimutnya, menatap sang suami yang menjawab teleponnya.
“Baiklah, bisa suru antarkan saja ke rumah saya.” suara Rava yang bisa di tangkap oleh Renata yang mencoba menguping.
Rava menutup pembicaraannya dengan sang sekretaris, tak sadar kedua matanya menangkap pandangan Renata yang cemberut ke arahnya.
“Duh, jangan gitu dong. Kan aku jadinya gak semangat, kalau kamu terus-terusan cemberut.” Rava menggoda dengan suara manjanya.
“Kamu bisa tuh pakai ponsel, aku juga gak boleh pegang ponsel. Kan jadi boring banget rasanya Rava?”
“Sayang.. Aku mau kamu focus ke kandungan kamu. Kandungan kamu lemah loh, masa iya aku tega nyuru kamu kerja dari rumah. Sudah-lah, jangan membantah lagi, nanti aku benaran marah loh sama kamu.” ucapan Rava kali ini di selingkan dengan tatapan serius.
Renata mencebikkan bibirnya, ia kemudian beranjak berdiri, dan menjejakkan kakinya di atas lantai. Tidak menjawab Rava, Renata berjalan hendak keluar kamar. Rava teruse memperhatikan tubuh istrinya yang sudah memunggunginya.
“Sayang, mau ke mana?” pertanyaan Rava pun tidak di gubris oleh Renata, iya terus berjalan keluar kamarnya.
Perasaan Rava tidak enakan, dia dengan cepat beranjak dari duduknya dan menyusul Renata keluar dari kamar, mencari Renata yang sudah tidak kelihatan dari pandangannya. Rava memilih untuk turun dari atas, sesampainya di bawah, tidak kelihatan sosok Renata, tampak Mba Titin yang sedang bersih-bersih ruangan tamu.
“Di mana Renata Mba Tin?” tanya Rava dengan buru-buru.
“Oh ibu tadi ke taman samping Pak,”
Setelah mendapatkan jawaban dari Mba Titin, Rava mencari keberadaan Renata yang sudah duduk di pendopo kecil taman samping rumah mereka. Wajahnya yang sedikit pucat, rambut panjangnya yang tergerai kedepan dan mengenakan drees bunga-bungan berwarna kuning, membuat pandangan taman rumah itu semakin bertambah berwarna bagi Rava. Jauh di dasar hatinya, Rava tidak berniat, untuk membuat Renata tertekan, rasa kekhawatirannya-lah yang membuat Rava bertindak seperti itu.
“Sayang,” panggil Rava sambil berjalan menuju pendopo.
“Kenapa mengikutiku? apa duduk di sini juga aku tidak boleh?” kedua matanya berkilat.
“Tidak, Aku juga mau duduk di sini, menemani Istriku yang cantik. Boleh tidak?’
“Tidak boleh, teruskan saja pekerjaanmu, kau ini sangat bau Rava.” ketus Renata membuang pandangannya.
“Bau dari mana? kenapa satu hari ini, kau terus saja mengatakan aku bau? Aku kan sudah mandi sayang.”
“Entahlah, perasaanku seperti itu, dan rasanya aku sangat membencimu,’ Renata membuang pandangannya.
Kedua mata Rava terekesiap. “Segitunya banget sih sama suami sendiri.” suara memelas Rava terdengar sedih.
“Bukan mauku, tapi kemauan anak kamu,” balas Renata.
“Pak Rava, ada yang mencari anda.” tiba-tibaMba Cika datang ke arah mereka berdua.
“Ouuu iya Mba Terima kasih,” balas Rava.
“Sayang, Aku temui karyawan ku, mau ikut?” ajak Rava.
“Tidak usah, Aku masih butuh udara segar.’ balas Renata acuh.
Sesampainya di ruangan tamu, terlihat si Momo, ketua dari team humas, dengan segala dokumen di tangannya. Momo memperhatikan kedatangan Rava yang sangatlah berkharisma di matanya, memakai kaos polos berwarna putih dengan celana pendek berwarna hitam, sangat rumahan pikirnya.
“Maaf mengganggu Pak,” Momo berdiri menyambut kedatangan Rava.
“Silahkan duduk, mana yang harus saya tanda tangani?” Rava langsung ke intinya.
“Ini Pak,” balasnya dengan menyodorkan beberapa dokumen penting.
Sekilas Rava melirik ke Momo dengan menerima dokomennya. Lansung saja, Rava mengambil pena dari mejanya dan membuka lembaran dokumen, membaca satu persatu, hingga kedatangan Mba Titin memberikan minuman untuk Momo. Setelah memahami isi yang di ajukan team humas, Rava membubuhkan tanda tangan, saat matanya membaca nama Momo. Rava terhenti dan menatap ke Momo.
“Kamu Momoriana?” tanya Rava tiba-tiba.
Kedua mata Momo membulat sempurna membalas tatapan Rava pada dirinya.
“I-Iya Pak,” balas Momo pelan.
“Astaga, jadi kamu kerja di perusahaan papa ku Mo? kenapa gak bilang, kalau kamu itu si Momo yang satu sekolah denganku di taman kanak-kanak dan sempat beberapa tahun di sekolah dasar. Benar tidak?” kedua mata Rava bebinar dan seulas senyuman ia berikan untuk menunggu jawaban Momo.
“Iya Pak Rava, akhirnya bapak mengingat saya juga,” ucap Momo sungkan.
“Jangan panggil saya bapak Mo, kalau di luar perusahaan, panggil Rava aja. Sorry ya, selama saya sebulan menjabat, gak kenal sama kamu. Bisa jumpa lagi sih, bingung jadinya.” balas Rava dengan melanjutkan kerjaannya.
Momo merasa sedikit bahagia, pria yang sempat menjadi teman sebangkunya di waktu taman kanak-kanak dan sekolah dasar hingga emapat tahun, sebelum Rava pindah sekolah, membuat perasaanya begitu senang. Kenapa seperti itu? Momo sempat menaruh perasaan ke Rava, rasa sayang antara pertemanan mereka saat kecil. Hingga beranjak dewasa, Momo mencoba mencari data diri Rava serta social media nya, membuatnya ingin mencoba masuk ke salah satu perusahaan keluarga Atmadja. Momo juga tau,Rava sudah memiliki Renata, saat dari social medianya Rava, tampak ke akaraban Raava dan Renata.
“Okey, ini semua sudah saya setujui, harusnya ini pekerjaan Eliana, karena Eliana menggantikan saya untuk pertemuan, jadinya kamu repot-repot ke sini ya. “
“Tidak masalah Rava, ini juga sudah kerjaan saya.”
“Oh ya Rava, soal pertemuan dengan konsumen, apa itu perlu di lakukan secepat mungkin? karena di samping itu,perusahaan cabang akan melakukan seminar dan juga riset yang di butuhkan. Apa menurut kamu, dalam sekaligus nantinya akan di tindak lanjut oleh kami.”
“Menurut saya boleh juga di adakan secepat mungkin, karena saya ingin seluruh pekerjaan di kantor cabang papa saya, bisa rampung tepat waktu, ini bisa kamu bicarkaan ke manager kamu, mana baiknya, sisanya kamu bisa minta tolong Mario dan Eliana selama saya tidak di perusahaan,” balas Rava seadanya dan seulas senyuman.
“Baiklah Rava.” kedua mata Momo,menatap dalam ke Rava.
“Rava,” dari posisi yang tidak jauh, Renata berjalan ke arah Rava.
Kedua ekor mata Momo,mengikuti gerak tatapan Rava yang menatap ke Renata.
Rava beranjak berdiri, “Ada apa sayang?” tanya Rava mendekati Renata dan merangkul pinggangnya.
Renata menatap sekilas ke Momo, dan membalas senyuman Momo dengan lembut.
“Ouw maaf, kau masih ada tamu. Nanti saja, Aku naik ke atas saja.” balas Renata hendak berjalan.
“Sini dulu, kita barengan aja nanti ke atas sayang. Aku kenalkan sama teman sekolah ku dulu,semasa aku kecil sayang” Rava menarik lembut tangan Renata dan berjalan menuju sofa.
“Mo,kenalkan ini Istri saya.” ucap Rava .
“Salam kenal Bu, saya Momo’ Momo mengulurkan tangannya ke arah Renata yang berdiri di hadapannya.
“Saya Renata, tidak di sangkah dunia bisa sesempit ini, bisa ketemu di satu perusahaan.” Renata tersenyum.
“Iya kan sayang? Aku juga baru tau, sekarang kalau kita dulu satu sekolah.” balas Rava dengan tersenyum kecil.
Momo menjadi sungkan, dengan adanya Renata di tengah-tengah mereka.
“Wah, selama kamu di perusahaan, kamu lupa dengan teman sendiri? jathat itu namanya,” balas Renata.
“Tidak kok Bu, Pak Rava saja yang lupa.” balas Momo dengan melirik sekilas ke Rava.
Ketiganya tertawa.
“Kakakkkkkkkkkkkkkkkkk”
Nah, siapakah itu? Jangan lupa tolong di bantu VOTE dan LIKE serta komentar yang membangun untuk saya. Dan yuk kita kerja sama bawa mereka untuk masuk ke 10 besar ^^. Terima kasih kakak semua, sepertinya saya akan update di jam siang ke sore, mohon maaf sebelumnya ya. Jangan lupa ikuti Instagram saya di @putrtritrii_