
Dorrrrrrrrrrrr…..
Kedua mata Raka membulat penuh, di iringi dengan darah yang menetes. Varel, Leo dan yang lainnya pun turut kaget dengan kejadian yang secepat kilat terjadi, tidak ada yang bisa menolong. Karena posisi Raka tidaklah dekat dengan mereka.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Raka ke petugas keamanan yang tertembak di bagian lengannya, saat melindungi Raka.
“Ada baiknya Kau beralih tugas dengan yang lain-nya.” ucap Raka kemudian ikut yang lainnya mengejar Valdi.
Kejar-kejaran di dalam perkebunan di sekitar jalanan, dengan gusar dan gelisah Valdi terus berlari. Jauh dari sana, tampak Ansel ikut mengejar di belakang yang lainnya. Hingga terdengar suara Varel yang meminta Valdi untuk berhenti.
“Valdiiiii! menyerah lebih baik, sebelum kau benar-benar menjadi korban di kebun ini!” teriak Varel dari arah lain.
Valdi yang gelisah merasa terintimidasi, dia terus berlari agar bisa menjauh dari Raka dan yang lainnya. Hingga perasaannya yang kalut dan takut tertangkap oleh petugas yang sudah tidak kelihatan di belakangnya. Hanya mengambil strategi di lain arah, membuat Valdi terus menerus lari dalam kegelisahan. Hingga sesekali ia melihat ke arah belakang, kiri dan kanan sampai membuatnya terjatuh.
Brugggggg….
Raka yang datang dari sisi kanan, berlari mendekati Valdi yang masih tergeletak di atas tanah, kedua mata Valdi yang semula sempat mengarah ke tanah, kini menyadari ke arah sisi Raka yang mendekatinya, refleks tangannya menarik pelatuknya ke arah Raka.
Dorrrrrrrrrrrr…
“Agghhhhhhhhhhhh….” suara seseorang mengadu kesakitan.
Valdi berusaha untuk bangkit dan mencoba kembali berlari, sebelum dia sadar melihat ke arah Raka.
“Ansel!” suaranya bergetar.
Ansel yang ingin menabrak Raka agar menghindari tembakan sang Papa, malahan mengenai tangan kiri nya sendiri. Sigap Ansel mengambil senjata di tangannya Raka. Raka sama kagetnya, saat Ansel mengarahkan senjata Raka ke Valdi.
“Pa! Ansel mohon, mari kita sudahi ini semua.” ucap Ansel dengan darah yang menetes dari tangan kirinya. Kedua mata Valdi tak lepas dari bekas tembakan yang dia berikan sendiri ke anaknya.
Varel,Leo dan dua team dari keamanan Raka, hendak mendekati Valdi. Memanfaatkan momen Ansel yang berdiri di depannya. Raka memberikan kode, untuk memberikan Ansel waktu ke Papanya. Hingga yang lainnya, berjaga dari sisi yang tidak tampak oleh Valdi.
“Ansel!” teriak Valdi,
“Pa! Jika Papa terus begini, lebih baik Ansel yang mati Pa. Untuk membayar semua kesalahan di masa lalu Papa dan yang lainnya. Ansel lelah Pa, jika terus-terusan kita hidup di masa lalu. Semuanya sudah usai Pa, sekarang Pa, kita hidup di masa sekarang. Masa lalu sudahi saja Pa, kita rajut kembali dari awal, hanya kita berdua . Papa sendiri tau bagaiamana selama ini Ansel menjalani hidup yang berat tanpa papa. Ansel tidak memiliki kasih sayang penuh dari kedua orang tua kandung Ansel sendiri. Ansel juga tidak tau, siapa mama kandung Ansel dan Ansel hanya memiliki Papa seorang, tanpa belaian lembut seorang Ibu, terkcuali Papa dan Mama angkat Ansel. Tapi itu tidak cukup bagi Ansel Pa. Ansel kesepian, Ansel hanya mau ketenangan, ketenangan bersama Papa. Ansel tidak mau, masa tua Papa hidup di penjara. Lebih baik Ansel mati Pa, kalau Papa memilih ambisi Papa dan lagi-lagi Ansel harus hidup sendiri. Jadi lebih baik Ansel Mati!!!. ” Ansel mengarahkan senjata yang direbutnya dari Raka ke arah kepalanya.
“Jangan Ansel!!! Baiklah Nak, baiklah. Papa tidak akan meneruskan permainan ini, mari kita sudahi.” Valdi akhirnya melunak, saat menatap anak semata wayangnya ingin mengorbankan diri-nya untuk menyadarkan kesalahannya dan pembalasan dendamnya.
Valdi mendekati Ansel dan memeluk tubuh Ansel, keduanya terisak haru bersama-sama, hingga senjata mereka dengan cepat di rampas para team ke amanan.
“Siapkan mobil!” teriak Raka.
Raka dan Varel memilih untuk duluan meninggalkan lokasi kejadian. Sedangkan Leo dan sisa dari team keamanan , membantu Valdi dan Ansel untuk berjalan mengikuti Raka dan Varel.
***
Setelah dua jam kemudian, melakukan perjalanan panjang, di mana Raka, Leo dan Varel, membawa Ansel dan Valdi untuk tinggal di Desa terpencil dan di mana tempat tersebut memiliki penduduk yang tidak jarang. Raka bermaksud, membeirkan pelajaran ke Valdi, untuk bisa menjadi manusia yang bersosialisasi bersama orang-orang di sekitarnya. Siapa tau saja, dengan seperti itu, dapat merubah akhlaknya.
“Segera tangani Ansel terlebih dahulu.” perintah Raka ke Leo.
“Baik Besan.” Leo memanggil petugas medis dari team keamana mereka, untuk memberikan Ansel pengobatan lebih lanjut, setelah mendapatkan pertolongan pertama di dalam mobil.
Seluruhnya turun dari mobil, menuju salah satu rumah yang tidak kecil dan tidak besar. Cukup untuk Ansel dan Valdi. Karena Raka sudah bertekad, akan mengkarantina keduanya. Jika pun keluar, meraka akan mendapatkan pengawalan ketat dari orang-orang Raka. Raka memoboikot Valdi dan Ansel, agar tidak bisa masuk ke kampong halaman mereka.
Hukuman yang sangat cocok untuk keduanya, karena sudah menyentuh keluarga mereka. Bukankah masih lebih enak ketimbang di sel tahanan, hanya saja mereka akan selalu di kawal ke manapun mereka nantinya pergi.
Di sini juga Raka memberikan perkerjaan yang baik untuk keduanya. Bercook tanam, mungkin hal yang mudah di lakukan untuk seorang Valdi. Ansel akan mendampinginya, membantu memperluas usaha mereka dari hasil tanaman mereka nantinya, ya sepadanlah pikir Raka. Meskipun begitu, Raka juga masih punya hati, tetap membantu mereka untuk bahan makanan mereka sehari-hari.
“Kau dengar Valdi! Aku tidak akan menghukummu di sel tahanan, karena itu akan membuang waktu yang sia-sia. Aku belajar dari sebelumnya, percuma saja bukan? Di sini, Kau akan lebih nyaman, dan ada pengawal serta penjagaan ketat di kediaman baru-mu. Apa aku terlihat sangat baik bukan? dengan orang sepertimu? Tidak usah berterima kasih. Aku tidak butuh itu. Ini semua juga karena anakmu.”
Raka berkata dengan angkuhnya di depan Valdi yang di dudukkan di salah satu sofa di ruangan tamu yang sudah di penuhi penjagaan. Tempat di mana Raka memberikan Valdi dan Ansel kehidupan baru. Kehidupan yang akan mereka mulai dari awal.
“Aku sudah banyak melakukan dosa. Karena anakku, aku akan mencoba semua yang Kau berikan ke Aku, Raka. Tapi ketahuilah, Aku tidak punya maaf untuk semuanya yang telah terjadi. Karena itu juga akan sia-sia!” balas Valdi dengan membalas tatapan Raka.
Sedangkan Varel mendekati Valdi.
“Semoga kau hidup lebih baik dari sekarang, ingat anakmu! Kau itu sudah menjadi orang tua! jangan pernah mencintai dirimu sendiri atau hanya memikirkan dirimu seorang. Pilihan Pak Raka untuk tidak membunuhmu, sudah sangat manusiawi! Jadi, hargai setiap waktumu, terlebih lagi, masa tuamu. Isi dengan kebahagiaan yang bisa kau petik dari anakmu Ansel!” bisik Varel dengan penuh penekanan, kemudian dia berjalan meninggalkan Valdi.
Setelah Varel, kini Leo yang mendekati Valdi.
Leo tertawa. “Aku tidak menyangka! kau itu manusia yang tidak tau di untung! Kau harusnya sadar, jika saat itu Aku tidak datang untuk mencegah-mu membunuh Ibu tirimu, Kau itu sudah memiliki dosa besar! bukan berterima kasih, Kau malahan menyentuh anakku. Cis… dasar tidak tau malu!” umpat Leo dengan kedua mata yang geram.
Di sisi lain, saat Raka hampir di ambang pintu, Ansel memanggilnya.
“Paman!” panggil Ansel dengan berani.
Raka terhenti dan menoleh ke Ansel. Raka menatapnya tanpa berkedip, tidak menjawab dan hanya menunggu Ansel untuk melanjutkan ucapannya.
“Paman Raka, Izinkan Saya meminta maaf. Semua kesalahan yang sudah saya lakukan, saya benar-benar meminta maaf atas semuanya. Sejujurnya, saya bukan ingin menyakiti mereka, karena memang saya buta. Buta karena cinta, kecemburuan saya terhadap Harsen-lah yang membawa saya mampu melakukan semuanya itu. Anak anda Vara, yang mampu membuka hati dan pikiran Saya. Kasih sayang yang di dapatkan Vara, membuat saya tersadar, betapa bahagianya memiliki cinta dan kasih sayang tulus dari keluarga. Karena itu, saya memohon maaf dan pengampunan dari Paman.” ucap Ansel dengan menundukkan wajahnya.
Raka sedikit tersenyum tanpa Ansel tau. Sebenarnya, ada rasa kasihan dari Raka untuk Ansel, yang memang di peralat oleh Valdi. Tapi, bagi Raka, kesalahan tetaplah kesalahan yang mesti di pertanggung jawabkan sendiri.
“Kau seharusnya, meminta maaf pada papa-nya Harsen.” kata Raka dengan tegas.
“Di belakangmu, Papa-nya Harsen dan juga Renata. Kau bersalah terhadap keduanya, sedangkan putriku, impas. Kau sudah mendapatkan hukuman dari anakku Rava dan diriku.” kata Raka lagi, lalu dia berjalan melanjutkan langkahannya menuju mobil.
Melihat Raka berlalu, Ansel pun memutar tubuhnya mendapati Leo dan Varel.
“Paman, saya meminta maaf untuk semua yang terjadi. Maafkan saya, sudah melukai putra dan putri anda.” Ansel meminta dengan tulus.
Leo berjalan mendekati Ansel dan menepuk pundak Ansel.
“Kau harus belajar mandiri! Karena Papa-mu akan belajar darimu! Saya hanya perlu mengingatkan, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, setidaknya kau bisa belajar dari kesalahanmu dan Papamu, hiduplah lebih baik dari sebelumnya, berfokus ke masa depan.” kata Leo, kemudian berjalan meninggalkan Ansel.
Hanya Varel dan Ansel, keduanya saling berhadapan. Sesungguhnya, berat untuk Varel, tapi dia mengerti, Ansel bukan suatu kesalahan. Dia adalah korban, bagaimanapun ada darah Papanya yang mengalir di tubuh Ansel.
Ansel mengangkat wajahnya, memberanikan dirinya untuk menatap Varel. Paman yang harusnya dia sayangi, dia banggakan. Tampak wajah Varel sedikit di tekuk, kedua manik mata Varel menatap ke Ansel dengan dingin.
Varel yang mendapati wajah Ansel yang ragu untuk memanggilnya, pun mendekatinya.
“Jaga dirimu baik-baik Nak. Sekarang tidaklah mudah bagimu, Kau harus tau, jika keluarga Atmadja sudah turun tangan, itu tandanya, mereka tidak akan melepaskan orang-orang yang mengganggu mereka, hingga kematian mereka yang membebaskan kalian. Tapi, setidaknya kalian masih di berikan kesempatan, untuk hidup bersama penduduk di sini, berbaur bersama mereka. Meskpun nantinya, Kau dan Papamu tetap dalam pengawasan orang-orangnnya Pak Raka. Patuhui saja dan nikmati semuanya, Paman yakin, Kau bisa dan akan terbiasa. Jaga Papamu, berikan perhatian pada dirinya. Begitupun dirimu sendiri, hiduplah untuk masa depan.”
Ansel refleks memeluk tubuh Varel dan menangis di dalam pelukan Varel. Tangan yang di balut dengan perban pun tidak mengurangi semangatnya, untuk memeluk Varel sebagai Paman satu-satunya yang di milikinya dari sang Papa.
Varel membalas pelukan Ansel dengan hangat, tidak ada kebencian lagi yang dia utarakan ke Ansel. Hanya tinggal sebuah harapan untuk Ansel kedepannya, agar menjadi anak muda yang lebih bermanfaat.
“Terima kasih Paman.”
Kata terakhir Ansel, menjadi penutup kisah piluh masa lalu keluarga Varel. Jangan berfokus pada masa lalu, jika masa depan masih perlu di raih. Jangan menatap ke belakang, jika di depanmu saja masih terlihat indah. Begitupun Varel, dia berjalan dengan pasti kedepan, hanya kedepan. Tidak sedikitpun dia ingin menoleh ke belakang. Semuanya telah usai, kini di depannya sedang menanti kedatangannya.
Bersambung.
***
Mana nih LIKE dan VOTE nya :(