
Terima kasih atas bantuan dan dukungan kalian dalam bentuk Vote, sekiranya kalian tidak bosan dan terus mendukung karya saya ^^, oh ya, jika ada kekurangan atau kelebihan kata, mohon dapat di maklumi, karena saya mengetiknya di jam 23:34 ^^
****
“Langsung saja! Tidak usah basa basi, Apa kau tidak melihat kulitku yang mulus ini tersengat Matahari?” tanyanya ke Pria tampan itu.
Pria itu tertawa geli mendengarkan ucapan Vara barusan, “Kau memang tidak pernah berubah dari dulu, karena itu Aku sangat menyukai type wanita seperti dirimu Vara,” katanya dengan angkuh.
“Kau!!!” kata Vara terkesiap.
Pria tampan itu melepaskan kacamata hitamnya, “Masih ingatkan denganku?” tanyanya dengan tampang kerennya.
Vara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, “Fernando Hose!” sebutnya dengan kedua mata membulat dengan sempurna.
Pria itu tertawa, “Jangan lagi memanggilku dengan nama itu Vara, Aku tidak sepolos dulu, panggil Aku Gail Alvonzo.” serunya dengan keren.
Vara pun sejenak menatap ketampananya, “Kenapa si Fernando Hose bisa setampan ini? kenapa sangat berbeda saat di Sekolah dulu di juluki si berandalan tengik?” gumam Vara dalam hatinya.
Tiiiiiiinnnn… Tiinnnn…. Suara klakson kendaraan di belakang mereka terdengar saut menyaut. Di ujung dari keurumanan kemacetan kendaraan roda empat itu tampak sosok Harsen yang baru menyadari posisi Vara lalu ia menoleh pada Pria di depannya, dengan sigap tanpa berpikir panjang Harsen turun dari mobilnya, sedangkan Vara hendak melangkah masuk ke mobilnya, karena merasa sudah cukup. Sebelum masuk ke mobil, Vara berkata, “Terserah Kau! Aku tidak perduli,” kata Vara dengan cepat masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya sebelum Harsen tiba di depan Gail.
Harsen merasa jengkel menatapi kepergian mobil Vara, lalu Ia menoleh pada Gail yang menatap Harsen dengan tajam.
“Kau!” kata Harsen dengan datar.
“Selamat pagi menjelang siang Tuan Harsen, silahkan kembali ke mobil anda! sebelum di protes pengemudi lainnya,” katanya dengan berjalan ke mobilnya.
Harsen dengan wajah yang memerah berjalan cepat ke mobilnya dan segera melajukannya mengerja kepergian Vara. Tidak lama, Harsen kembali terkena lampu merah, Ia kembali menghentikan mobilnya dan menunggu sambilan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Dia sudah kembali? Apa maksud dan tujuannya kembali ke Jakarta di saat Vara juga kembali. Bukankah perusahaanya di Meksiko? Keluarganya juga ikut pindah dengannya? Apa yang di lakukannya di sini?” Harsen merasa tidak tenang, karena Ia tahu, Gail merupakan salah satu teman yang berada di kelas yang sama dengan Vara.
Gail anak pencampuran antara dua Negara,alias bule, Pria pertama yang Harsen garis bawahi semenjak mereka Sekolah dulu di bangku SMP. Saat Vara lulus dan masuk ke jenjang SMA, Gail di boyong oleh keluarganya untuk pindah ke Meksiko. Vara sangat sering bercerita pada Rava tentang Gail, karena Gail sangat usil pada dirinya membuat Vara sangat geram jika berhadapan dengan Gail. Gail sendiri sangat berbeda, ketika hanya berduaan dengan Vara,Gail akan bersikap ramah, jika di depan teman-temannya, Gail akan berubah usil ke Vara. Mendengarkan aduan Vara ke Rava, terkadang membuat Harsen ingin mendatangi Gail, tetapi Harsen menahan diri, karena dia juga bukan di tunjuk oleh keluarga Atmadja sebagai pengawalnya Vara, tetapi untuk pendamping Rava di masa yang akan datang.
Untuk pertama kalinya bagi Harsen, setelah menjadi kekasihnya Vara, Ia berhadapan langsung dengan Gail, bukan sebagai pengawalnya Vara apa lagi ajudannya, tetapi lebih kerennya calon suaminya Vara. Harsen menatap kesal pada mobil ke dua dari depannya, ingin sekali Harsen menabrakkan mobilnya ke Gail, agar perlakuannya ke Vara selama ini yang Ia pendam bisa tersampaikan.
“Agh.., Aku sungguh tidak percaya, jika orang-orang dari masa lalu Ku dan Vara bisa bersamaan datang dalam hitungan menit,” Harsen mengepalkan tangannya.
Lampu hijau pun tampak memberikan tanda untuk melajukan kembali kendaraan mereka. Saat melewati perempatan jalan dan kemacetan terhindar, dengan kecepatan di atas sedang Harsen mendahului dua mobil di depannya, hingga menyalip mobil Gail dengan perasaan jengkel. Gail pun merasa kaget, membuatnya menekan klakson panjang mengarah pada mobil Harsen.
Harsen tertawa senang akan balasan dari Gail, “Resek sih lo” ketus Harsen masih melajukan mobilnya.
***
Mobil Vara terhenti diarea parkiran Hotel, bukanya Ia pulang, karena Ia tahu kalau Harsen akan menyusulnya ke rumahnya, Ia memilih untuk ke Hotel, di mana Defan, Alice dan Anet berada. Sebelum Ia memilih untuk ke Hotel, Vara menghubungi Defan terlebih dulu. Vara menuruni mobilnya dengan elegannya, Dari Ia berjalan, berpakaian, bahkan dari Vara berbicara, siapa yang tidak bisa menebah wanita anggun dari anak Atmadja itu.
Vara berjalan memasuki loby Hotel milik warisan sang buyut untuk Raka yang di wariskannya untuk Eva, Vara dan Rava. Barusan saja Ia melangkah masuk, Vara sudah di berikan penghormatan dari para Staff hotel di depan pintu Loby hingga di dalam. Vara pun menghentikan kakinya, dan menoleh pada seluruh staff yang merasa kaget akan kehadiran anak sang pemilik Hotel.
“Kalian semuanya,” ucap Vara dengan menarik sejenak nafasnya.
Manager Hotel pun datang mendekati Vara, “Maaf Nona Vara, ada yang bisa saya bantu?’ tanyanya dengan sopan.
“Agh.. Nona Park, tolong saya untuk menyampaikan pada mereka semua di sini, jika saya datang, jangan ada yang memberikan penghormatan pada saya! saya tidak suka di perlakukan special di sini, anggap saya tamu , sama seperti mereka yang datang dan pergi, apa kamu paham Nona Park?” tanya Vara dengan anggunnya.
“Saya mengerti Nona,” jawabnya dengan sopan.
“Baiklah.. Terima kasih,” Vara kembali berjalan dengan langkahannya yang gemulai.
Tiba-tiba, “Varaaaaaaaaa!!” teriak Defan.
“Vara di sini, di atas lantai 5!” teriak Defan dengan bersemangat.
Vara menutup kedua matanya, saat orang-orang melihatnya karena suara Defan yang cempreng memanggilnya, bukannya berhenti memanggil, Defan semakin membuat malu Vara.
“Varaaaaaaaaaaaaaaaaa!!! I love you my Baby gosong!” teriak Defan lagi.
Vara mengepalkan kedua tangannya, “Awas saja kau Defan!!!” gumamnya dengan cepat berjalan ke arah lift dengan terburu-buru, hingga Vara hampir terjatuh saat di depan lift karena kakinya saling bertabrakan, dengan cepat tangan seorang Pria dari belakang menariknya untuk menahan tubuh Vara. Vara terdiam sejenak, dengan nafas yang memburu, lalu Ia mencoba meoleh pada Pria yang membantunya.
Vara menajamkan kedua matanya, “Kau!!!” ketus Vara.
“Kita berjumpa lagi Vara,” ucap Gail dengan melepaskan tangan Vara dengan lembut.
“Apa Kau menguntitkuuuu!!!” cetus Vara kesal.
“Menguntitmu??? Kau menuduhku? Kenapa kau masih saja galak seperti waktu itu?” tanya Gail ke Vara.
Vara masih tidak habis pikir dengan kedatangan Gail tiba-tiba, di mana Ia kembali berjumpa dengan Gail di Hotel milik keluarganya. Tidak menjawab, Vara dengan cepat masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Gail malahan tersenyum dan juga melangkah masuk ke dalam lift yang sama dengan Vara. Vara ingin menekan tombil angka 5 sesuai yang di katakan Defan tadi, bersamaan juga Gail ingin memilih tombol angka 5, kedua jari mereka bersentuhan, dengan cepat Vara menarik nya seraya menatap Gail yang juga menatap Vara.
Vara menggigit bibir bawahnya dan menyentuh keningnya, merasa pusing dengan hari yang aneh ini pikirnya.
“Mungkin saja kita berjodoh,” ucap Gail.
Vara mengangkat wajahnya dan menatap pada kedua mata Gail dengan tajam, “Helehhh… Anda Jangan sembarangan berbicara! “ ketus Vara.
“Var-“
Tingggggg… Pintu lift terbuka, dengan cepat Vara melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke Gail. Gail mengikutinya dengan langkahan kaki yang lebar, hampir mendekati Vara, tiba-tba Defan sudah yang berlari ke arah Vara dan memeluknya dengan angat mesra.
“Vara ku sayang, my baby honey, kenapa kau lama sekali?” tanya dengan sekilas menatap ke Gail dan mengedipkan matanya ke Vara, memberikan kode tentang dramanya Defan.
“Def-“ ucapan Vara terpotong.
“Berpurak-puraklah mesra denganku, Kau tahu sendirikan? Pria di belakangmu itu adalah si pria usil yang dulu kau maksud?” bisik Defan dengan tawa sendiri.
“Agh…sayang, Kau tahu? aku sudah menunggumu sangat lama? Ayolah, Anak kita sudah menunggumu di kamar, kau ini menyusahkan saja,” celetuk Defan tanpa bergetar.
Mata Vara membulat sempurna menatap ke Defan, pikirnya Defan sangatlah keterlaluan dengan kebohongannya.
“Anak?” gumam Gail dalam hatinya.
“Hahahah.. iya sayang, ayo,” kata Vara dengan menarik pinggang Defan dengan kasar, membuat kedua maata Defan menegang dan sudah berjalan kaku dengan Defan yang merangkul pundak Vara. Gail sendiri, masih berdiri menatap kepergian Vara dan Defan, yang menurutnya sangat janggal.
“Apa benar itu suaminya? Bukankah rumor di sekolah dulu, Vara dekat dengan sahabat kak Rava si Harsen?” tanya Gail semakin penasaran.
“Jika itu tadi suaminya? Kenapa masih sangat muda???” gumamnya lagi dengan menggaruk kepalanya.
Bersambung.
………
Jika ada kesalahan kata atau lebih, akan di perbaiki besok pagi, karena ini selesai saya ketik di jam 23:34 mohon dimaklumi ^^