
Kediaman Raka Atmadja.
Dari kediaman Anna dan Jimmy, kini ketiganya berpinda ke kediaman Raka dan Eva. Jarak rumah memang tidak terlalu jauh, hanya saja Raka di buat kebingungan oleh perimantaan-perimintaan Renata. Setelah tiba di rumah Raka, Renata menyapa kedua mertuanya. Dan memberikan potongan-potongan Cheese Cake yang di masak oleh James, Rava dan Defan. Itu bagian Rava ,yang sudah di potong dan di bagi-bagikan ke mereka.
Satu loyang lagi, khusus di berikan Renata kepada Vara, adik ipar yang sangat di sayanginya..Entah kenapa, Renata ingin memberikan satu loyang penuh untuk Vara seorang. Membuat kecemburuan antara yang lainnya. Yang lain pakai di jatah sepotong-sepotong, berbeda dengan Vara. Membuat Defan mengadu ke Raka dan Eva.
Renata kini sudah berada di dalam kamar Vara. Dengan bahagianya, Renata membangunkan Vara yang tertidur di awal, tepatnya sepulang Ia bekerja dari butiknya.
"Vara." panggil Renata dengan mengguncang lembut tubuh Vara.
"Varaaaa." Renata masih berusaha untuk membangunkan Vara.
Vara bergerak, tubuhnya bergerak dan berpindah ke arah Renata. Kedua matanya terbuka secara perlahan. Tampak, Renata dia tersenyum menyambut kedua mata Vara.
"Kakak. Ada apa Kak?" tanyanya dengan suara berat. Dia menguap.
"Ini." Renata mengangkat bungkusan Cakenya ke arah Vara. Kedua matanya berbinar dan menatap penuh senang.
"Apaan itu Kak?" tanya Vara dengan bangkit dari rebahannya.
"Ini cheese cake Vara. Kesukaan kamu." balas Renata dengan memberikannya ke Vara.
"Benarkah? Kakak membuatnya?" Vara langsung sadar dan membuka penutup Cake. Langsung saja, Vara mengambil potongan pertamanya.
"Enak tidak?" tanya Renata menunggu reaksi Vara yang sedang mengunyah.
Vara tersenyum dan memejamkan kedua matanya sambil mengunyah nikmat dari cheese cake-nya.
"Sangat enak Kak. Apakah ini home made?"
"Benar Sayang. Ini buatan sendiri, buatan Kak Rava, Defan dan James." balas Renata bersemangat.
"Benarkah Kak?" kedua mata Vara membulat sempurna, "Wow, ini sangat menakjubkan. Tiga pria itu mampu mengkreasikan rasa dari cheese-nya. Sungguh sangat nikmat ini Kak. Lain kali, suruh lagi buatkan untuk Vara ya Kak?"
"Ini khusus buat kamu, Vara. Keponakan kamu ini, yang minta di buatkan ini Sayang. Dan dia mau, satunya di berikan khsusus untuk Aunty kesayangannya yang bakalan melepas masa lajangnya." balas Renata terharu dan langsung memeluk tubuh Vara.
"Terima kasih Kakak ipar dan keponakan Aunty Vara. Semoga kalian berdua sehat terus. Dan sering-sering suru Papa dan para Uncle, untuk memasakan lagi kue keju kesukaan Aunty cantik." balas Vara dengan memeluk erat tubuh Renata.
"Baiklah Aunty. Oh ya? bagaimana persiapan kamu untuk menikah Vara?" tanya Renata ke ke Vara dengan saling beradu pandang.
"Tidak rumit Kak. Pernikahan Vara dan Kak Harsen hanya di gelar di ruangan VVIP hotelnya buyut. Vara tidak mau menyusahkan. Vara maunya, sudah sah saja, itu yang terpenting bagi Vara dan Kak Harsen. Lagian, Kakak juga kandungannya lemah. Jadi, Vara meminta hanya akan ada keluarga terdekat kita sajaz dan kerabat dekat. Biar acaranya juga tidak lama Kak." kata Vara dengan serius.
"Sangat sederhana sekali. Tapi Kakak sih setuju, itu hak kalian berdua. Hemmm.. cuma, bukan mau cepat-cepat???" Renata melirik mata Vara dengan penuh terselubung.
"Kakak Ighh... gak la kak." balas Vara cepat, dia tau ke arah mana maksud Renata.
Renata tertawa lucu.
"Dih Ibu hamil senang banget kayaknya."
"Sungguh senang. Akhirnya, Kakak juga punya teman, yang sudah sama-sama menikah." ujar Renata.
"Benar juga ya Kak? Semoga saja, Vara langsung isi, biar bisa temani Kakak sama-sama mengandung. Bukankah itu sangat menggemaskan?" Vara memejamkan kedua matanya dan mulai membayangkannya.
"Pastilah sangat menyenangkan. Jadi, Kakak tidak sendirian, menjadi Ibu di antara keluarga kita."
"Bukankah di keluarga kita hanya Kakak dan Vara anak perempuan mereka?" Vara membuka kedua matanya.
Renata sejenak berpikir.
"Oiya.... benar juga. Kakak hampir lupa, semoga aja bisa melahirkan anak yang banyak. Agar keluarga kita semakin ramai." Renata membuka kedua tangannya.
"Dih... ogah kak! Kakak sama Kak Rava aja ya. Kan waktu itu janjinya seperti itu."
"Enak aja! Bukannya itu perimintaan kamu?"
"Iya juga ya? Vara lupa Kak." dia terkikik.
"Terus.... ada gak yang Vara butuhkan? Apa yang bisa kakak bantu untuk Vara?" tanya Renata ke Vara.
Vara mencoba berpikir, lalu matanya kembali fokus ke Renata.
"Sepertinya tidak ada Kak. Vara dan Kak Harsen sudah mempersiapkan semuanya sendiri. Sisanya, gaun, dekorasi, catering dan lain sebagainya, sudah di urus kak Harsen melalui WO." balas Vara bersemangat.
"Wah... sungguh sangat bersiap ini namanya." puji Renata.
"Kak Harsen sangat bersemangat sekali Kak." kata Vara memuji.
"Iya. Karena Harsen menantikan momen indah ini Sayang." balas Renata menyentuh punggung tangan Vara, "Vara pantes mendapatkan cintanya Harsen. Kalian berdua sangat cocok." kata Renata memuji.
"Halo para Mama-mama." Rava tiba-tiba datang membuka pintu kamar Vara dan memotong pembicaraan istri dan adiknya.
"Mama-mama siapa? Vara kan belum nikah Kak?" protes Vara ke Rava.
Rava nyengir, “Jangan galak-galak, entar anak Kakak yang di sini, dengar jadi ketakutan loh. Terus dia tau, kalau Auntynya itu sangat galak.” balas Rava yang sudah duduk di samping Renata dan menyentuh perut Renata.
“Dih, anak Aunty pasti tau, kalau Aunty nya cantik, penyayang dan sangat menggemaskan.” Vara gak mau kalah dari Rava.
“Kak HARSEN!!!” ucapnya dengan kedua mata berbinar dan segera beranjak dari ranjangnya, meninggalkan Renata dan Rava yang masih melihat kepergian Vara. Tak lupa juga keu kejunya yang di berikan Renata untuk dirinya.
“Kenapa dia sangat bernafsu sekali?” tanya Rava ke Renata.
“Seperti itulah aku dulu. Saat kau datang ke rumahku, dan Mami mengatakan kalau kau datang, saat aku sedang tiduran di kamar, Aku langsung bangkit dari tidurku. seperti Vara tadi. Itu namanya, hasrat dari yang namanya cinta.” balas Renata dengan tersenyum.
“Bernarkah seperti itu?”
“Iya, meskipun kedatangan kamu saat itu cuma mampir, mengantarkan atau menjemput Mama Eva.’” kata Renata mengingatkan.
“Duh, dulu aku kok jahat banget ya?”
“Jangan mengungkit kisah lama. Ayo kita turun.” ajak Renata dan beranjak dari duduknya.
**
Seluruhnya sudah berkumpul di ruangan keluarga. Maksud kedatangan Harsen yang tidak sendiri, dia bersama dengan Leo dan Rere, yang akan membicarakan pernikahan mereka yang terbilang teramat sederhana, tapi tidak menimbulkan pro dan kontra antara kedua keluarga mereka. Kini, mereka sangat serius, karena memang gak ada Defan. Defan yang sangat lelah seharian pamit untuk menidurkan tubuhnya di kamarnya. Jadilah, semua pembicaraan mereka mendapatkan keputusan, atas acara yang akan meraka sajikan, kebudayaan atau tradisi kedua keluarga,tempat tinggal keduanya setelah menikah, serta pekerjaan dari Vara dan Harsen. Semuanya di bicarakan bersama, agar tidak terjadi sesuatu hal yang di luar ekpektasi. Bukan hanya itu, kedua orang tua mereka, memberikan nasihat-nasihat, sebelum acara pernikahan mereka benar-benar di gelar. Terkhususnya bagi Raka dan Eva, memberikan nasihat ke Vara, karena memang Vara anak yang di manja oleh keduanya, hanya saja Raka dan Eva, memberikan manja yang mendidik sang putri kecilnya.
Membicarakan pernikahan sang putri, tentu bagi Raka adalah hal yang sangat sulit, apa lagi baginya, Vara adalah putri kecil satu-satunya yang ia miliki. Karena dari itu, pembicaraan mereka, terkadang membuat kedua sudut matanya, kelihatan mengeluarkan cairan bening yang sempat ia hapus sebelum yang lainnya melihat kesedihannya.
“Baiklah, kesepakatan kita sudah terbentuk sesuai kemauan anak-anak. Segala urusan pernikahan, mereka sendiri yang menghandlenya. Jadi, kita semua hanya menanti waktunya. Tapi sedikit aneh, pernikahan ini cuma di hadiri kita-kita saja. Jadinya,acara tidak akan lama. Dan setelahnya, Harsen dan Vara langsung berangkat bulan madu. Mereka sudah mengatakan ke Saya, kalau usai acara pernikahan, mereka berangkat terbang ke Bali. Mereka mau menghindar dari isengnya si Defan.” ujar Raka dengan sedikit tersenyum.
“Kenapa kalian berdua sangat pintar sekali?” tanya Rava cepat-cepat ke Harsen dan Vara.
Harsen dan Vara sama-sama beradu pandang, lalu keduanya menoleh ke Rava.
“Bukankah kita harus belajar dari pengalaman Kak?” tanya Harsen tanpa gugup.
Kedua mata Rava membulat sempurna.
“Gilaaaaa.. Ini benar-benar Gila. Kau benaran Harsen kan?” tanya Rava dengan kedua mata yang melotot.
“Ya benarlah Kak, emangnya siapa yang ada di hadapan Kakak?” saut Vara.
Raka, Eva , Leo dan Rere sama-sama tertawa.
“Tapi, Yang di katakan Harsen itu memang benar sih Sayang. Kamu ingat? saat malam pertama kita? Kau benar-benar sangat frustasi karena ulah Defan. Jadi yang di katakan Harsen, sangat benar. Mereka harusnya memang langsung berangkat untuk berbulan madu, agar tidak ada yang namanya gangguan dan segala ranjau.” ceplos Renata mengundang gelak tawa seluruhnya.
“Kau memang benar sih.” kata Rava dengan jujur.
“Sudah-sudah, kalau sudah mendapatkan keputusan seperti ini, hati-hati, kalau-kalau si Defan muncul dan mendengar apa yang kalian rencanakan.”sambung Eva.
“Kenapa sih nama Defan di sebut-sebut Bi?” Defan datang dengan menggaruk-garuk kepalanya.
Semua mata terpaku, barusan di bilang sudah datang orangnya.
“Panjang umur,pendek orangnya.” ucap Leo keceplosan.
“Tidak ada Defan, semuanya aman terkendali. Kau kenapa cepat sekali bangunnya?” tanya Raka mengalikan pembicaraan.
Defan melempar tubuhnya di atas sofa, tepatnya di samping Leo. Dia bersandar di atas pundak Leo. Leo melihatnya dengan kedua mata yang takut.
“Defan bermpimpi buruk Paman.” katanya dengan menuup kedua matanya.
Rere yang melihat si Defan manja di pundaknya Leo merasa geli.
“Kau bermimpi apaan?” tanya Rava.
“Iya, Kau bermimpi apaan? bukannya kau tidur itu sangat susah di bangunkan. Apa kau bermimpi horror? “tanya Vara.
“Hemmm.. Sangat Horor.” balas Defan.
“Bisakah Kau katakan, horornya gimana Defan?” tanya Eva penasaran. Kenapa penasaran? selama Defan tidur di rumahnya, tidak pernah ia bermimpi horror seperti yang dia katakan.
Kedua mata Defan mengerjap. Matanya menatap ke semua keluarganya yang menunggu jawabannya.
“Kalian benaran mau tau?” tanya Defan meyakinkan.
Dengan lambat semuanya menganggukan kepalanya dengan menatap serius ke Defan.
“Baiklah\, jaga kuping kalian masing-masing. Defan tadi itu\, *MIMPI BASAH* “ jawabanya sambil terikik.
Plaakkkkkkkk….
Rava melemparkan bantal sofa ke arah dEfan.
“Pantesan saja bau pesing!” kata Leo menutup hidung dan mulutnya dan beranjak dari duduknya di ikuti Rere.
“Kau sangat jorok Defan!” kata Raka kemudian berhamburan keluar.
“Celana kamu basah itu!” Harsen menunjuk.
“Karena Defan mimpi basah Kak.”dia terkekeh lagi.
Jadilah keributan dan kerusuhan di antara semuanya, kalau ada Defan, semua acara penutupnya jadi rusak. Dan berakhir dengan kekesalan dari Rava, yang sangat menggemaskan bagi dirinya. Rava dengan cepat mengamankan sang Istri dan Defan yang mulai kumat. Karena itu, saya berharap di bantu VOTE sama kalian ^^. Terima kasih.