
Matahari kembali terbit di ufuk timur, bias cahayanya yang sama-samar, diam-diam menyelinap masuk ke dalam kamar sepasang kekasih yang barusan memadu kasih, melewati jendela kaca, serta pembatas dinding yang terhubung dengan private pool. Bias cahayanya sangat menyengat di bagian wajah Harsen. Membuat kedua matanya yang mulai berkedut-kedut, karena tidak mampu untuk menahan silaunya.
Harsen tak lama mengerjap, tidak bisa melanjutkan sang pemimpi untuk menenggelamkannya di dalam kalbu. Merasa tidak nyaman, saat sinar matahari, menyentuh langsung ke permukaan wajahnya.
"Sungguh sangat mengganggu." Harsen bangkit dari tidurnya, merasakan lelah dan sakit pada setiap sudut anggota tubuhnya. Karena efek permainan panasnya dengan sang Istri. Kakinya yang berasa sakit pun, membuatnya mengadu sakit.
"Ternyata Vara sangat ahli menyepak bola. Kakiku saja menjadi sasaran sepakannya." keluh Harsen dengan mengusap-usap kakinya.
Bagaimana tidak meninggalkan sakit? Akibat permainan panas Harsen yang menggeluti tubuh Istrinya, menerjang tempat paling terdalam di bagian tubuh Istrinya, menjadi isakan kesakitan Vara. Bukannya memberikan jeda waktu untuk Vara sekedar menarik nafas, Harsen malahan semakin menancapkan semakin dalam. Terjadilah, tekanan pada kaki Vara di atas kedua betis kaki Harsen, untuk menahan kesakitannya.
"Dia sangat lelap sekali?" gumam Harsen dan menatap wajah sang Istri yang masih terbalut dengan selimut putih.
Harsen tersenyum sendiri, mengingat aksi pergelutan keduanya. Ada adegan marah, jeritan, bujukan, ada-ada aja pikir Harsen. Tapi itu lucu bagi Harsen, apa lagi itu Vara, sangat menggemaskan pikirnya. Gadis polos yang di depan matanya kini sudah menjadi gadis yang sepenuhnya milik Harsen.
Lagi enak-enak mengingat momen tadi malam, tiba-tiba Harsen di kejutkan dengan pergerakan tubuh Vara. Cepat-cepat Harsen kembali membaringkan tubuhnya, dan menutup kedua matanya.
"Hoooooaaaaam!" suara Vara terdengar.
"Kenapa seluruh tubuh ini rasanya sakit sekali?" gumam Vara dengan lemah. Harsen masih menutup matanya, karena dia merasa malu, padahal dia yang liar di bandingkan Vara yang banyak pasrahnya.
"ASTAGAAAAA!!!" Vara yang mengerjapkan kedua matanya, merasa kaget. Tubuhnya yang semula dia ingat sudah mengenakan jubah handuk, kini terbuka lagi.
"Apa Kak Harsen melakukannya saat Aku tertidur?" Kedua matanya menoleh ke Harsen yang tidur di sampingnnya. Tampak seluruh tubuhnya tidak di baluti dengan sehelai benangpun.
"Iiiiii Kakak kok mesum banget sih? kok gak di banguni saat ronde kedua?" Vara merengek.
"Kakak!!! Kakak pura-pura tidur kan? ayo bangun, kenapa tidak ada pakaian di tubuh Vara. Kenapa juga ini merah-merah semua." protes Vara saat Ia melihat ke bagian gundukan, lengannya, pahanya, hingga rasa perih di bagian kedua pahanya.
Harsen mau tidak mau membuka kedua matanya.
"Kenapa?"
"Jangan pura-pura! Kenapa Kakak menikmatinya sendiri?" Vara mencebikkan bibirnya.
"Tidak! kan kau yang memintanya." balas Harsen.
"Benarkah?"
Dengan polosnya Harsen mengangguk.
"Hah syukurlah." Vara menghela nafasnya.
Harsen menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa?"
"Karena ini melakukannya berdua! Jadi tidak boleh salah satu dari kita saja yang merasakannya." balas Vara dengan jujur.
Harsen tertawa.
"Kau ada-ada saja! Berikan selimutnya ke Kakak." pinta Harsen.
"Kenapa jadi Kakak? Biarkan Vara yang memakainya, kalau ini Vara buka lagi, bukankah ada ronde ketiga?"
"Ronde kedua itu lebih nikmat. Jadi, tidak ada yang ketiga setelahnya." balas Harsen santai.
"Kakak, jejak yang Kakak buat sangat banyak! Vara kan malu, mengingat permainan Kakak yang sangat ganas." jawab Vara. Harsen di buat ikut mengingat, memang benar yang di katakan Vara. Harsen itu sangat liar tadi malam, apalagi di ronde kedua.
"Apa itu menyakitkanmu?" tanya Harsen memastikan.
"Sakit. Tapi ya nikmat sih, sudahlah jangan di bicarakan lagi. Lihat pipiku ini Kak, Vara kan malu."
Kedua pipi Vara merona, mengingat malam panas pertama di dalam hidupnya. Harsen tersenyum, dan menyentuh kedua pipi Vara.
"Ayo mandilah. Habis ini kita sarapan. Kau mau makan di mana? Di sini atau di restoran? mungkin di jam segini belum ramai, jika Kau mau di restoran." kata Harsen mengelus puncak kepala Vara.
"Hemmm.. di restoran saja ya kak." balas Vara dengan sangat lembut.
"Baiklah... Ayo bersih-bersih. Sebelum Kakak menerkammu lagi untuk ronde ke tiga." ledek Harsen dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Vara.
"Kakak! Iiii.. enggak deh, ini saja masih sangat sakit. Gak liat tadi malam darahnya itu banyak, karena Kakak memaksa? Ini juga masih ada. Sebelum Vara benar-benar menjadi mangsa Kakak, Vara lebih baik membersihkan
diri."
Buru-buru Vara menggeser-geser tubuhnya yang masih di balutnya selimut putih, dia berjalan pelan-pelan hingga menjejakkan kakinya di atas lantai dan berlalu ke dalam kamar mandi.
"Hiii dingin." ucap Harsen pun mengambil bantal dan memeluknya.
***
Sepi, suasana restoran mewah yang di huni Vara, Harsen dan keluarganya masih sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang bisa di hitung dengan jari di ruangan besar itu. Karena memang Hotel mewah itu hanya di sediakan untuk kalangan atas, tempat yang Raka dan Rava pilihkan untuk keduanya. Sengaja bukan di Villa milik keluarga Atmadja, karena Raka dan Rava mau, mereka mendapatkan suasana baru di bulan madunya.
Harsen dan Vara sudah duduk saling berhadap-hadapan, menikmati sarapan yang di hidangkan oleh staaf pelayan resto. Benar-benar keberuntungan bagi Vara. Kenapa beruntung, karena tidak ada satupun wajah keluarganya yang tampak di restoran.
"Kenapa gelisa begitu?" tanya Harsen dengan mengunyah potongan daging yang barusan dia suapkan ke dalam mulutnya.
"Kali aja, ada Papa, Defan dan Paman Jimmy." balas Vara dengan lega.
Harsen mengerngnyitkan keningnya.
"Kalau ada mereka memangnya kenapa?"
"Sangat malu Kak. Lihat leher Vara." Vara menunjukkan bekas ciuman panas Harsen.
Harsen malahan tertawa. "Terus hubungannya dengan mereka apa?"
"Kakak pura-pura bodoh ya?"
"Tidak. Bukankah Kakak sangat pintar?" ucapnya berbangga diri.
"Sial! Aku tidak tau sisi gelapnya Kak Harsen." kata Vara dengan melanjutkan makannya yang tertunda.
Harsen hanya tersenyum, melihat Istri kecilnya itu sangat menggemaskan pikirnya.
"Vara, Harsen?" saut Renata dari belakang Vara.
"Kak Rena, Kak Rava?" Harsen menjawab dengan senang.
Vara memejamkan kedua matanya sebelum menoleh ke belakang menyapa kedua keluarganya.
"Heh... Selamat pagi Kak Rava, Kak Renata." sapa Vara.
"Yeeee... kok bisa ketepatan di sini?" tanya Renata bingung.
"Iya kan di sini mau makan Kak. Sarapan gitu, ngisi lambung yang kelelahan." balas Vara.
"Keberatan gak kalau kita gabung?" tanya Rava tiba-tiba.
"Ya enggaklah Kak. Silahkan duduk Kak." balas Harsen dengan berpinda ke bangku di sampingnya, begitu pun
dengan Vara.
Keempatnya saling duduk berhadap-hadapan. Tampak Rava mengamati wajah sang adik yang seperti gelisah menutupi bagian atas dadanya.
"Jangan sungkan! Kita juga pernah merasakan apa yang kalian rasakan!" kata Rava menenangkan Vara.
Renata yang mengerti maksud Rava, di buat menoleh ke Vara yang di sampingnya.
"Apa Harsen sangat ahli , atau sejenis liar gitu memainkan setiap gaya?"
Harsen batuk dan langsung mengambil gelas yang
berisi air mineral didepannya. Vara terkesiap, dia di buat malu oleh ucapan Renata yang terang-terangan. Sangat memalukan pikirnya. Vara masih membungkam mulutnya, wajahnya sangat memerah karena panas, sepanas permainan Harsen.
"Katakan saja! jangan malu dong. Kan kita sama-sama dewasa." Renata kembali menatap Vara penuh selidik. Raut wajahnya yang bahagia dengan sudut bibir yang terangkat.
"Kenapa jadi Kau yang bernafsu Sayang?" tegur Rava.
"Bukan seperti itu Sayang, aku hanya penasaran dari keduanya yang masih malu-malu. Dan sarapan di awal pagi."
"Duh keponakan Aunty. Maafi Mama kamu ya sayang. Kenapa Mama kamu jadi mesum seperti ini?" Vara mengusap-usap lembut perut Renata.
"Dasarrr kalian! Pelit amat sih!" ledek si Renata pura-pura kecewa.
"Kenapa kalian tidak makan di balkon kamar kalian? panggil layanan kamar gitu?" tanya Rava ke Harsen.
"Vara ingin makan di sini Kak. Biar suasananya lebih indah dengan menatap lautan bebas dari sini." balas Harsen sekenahnya.
"Ouuuu..." Rava membulatkan mulutnya.
"Terus kenapa Kakak dan Kak Renata cepat banget sarapannya?" tanya Vara dengan membulatkan kedua matanya.
"Kakakmu ini sudah sangat laparrr. Tidak bisa menunggu, jadinya kita langsung saja ke sini, gak taunya kalian juga sudah di sini." balas Rava lagi.
"Ouuuu... itu pelayan resto sudah datang Kak. Tepat waktu, karena memang Ibu hamil itu cepat lapar."
"Benar, semoga Vara cepat ketularan ya?" Renata menyentuh perutnya dan kemudian berpinda ke perut Vara.
"Amin....semoga ya Kak." balas Vara senang.
Harsen dan Rava sama-sama tersenyum.
"Apa Kau mengikuti yang Kakak ajarkan waktu itu?" bisik Rava ke Harsen sambil menyantap makanannya.
"Aman Kak... sudah terlaksanakan." gumam Harsen.
"Mantap! Jangan lupa sehari dua kali, jedah beberapa hari biar Vara langsung mengandung. Jangan Kau sakiti dia malahan tiap hari Kau embat." bisik Rava lagi.
"Aku tidak akan melupakan apa yang Kakak ajarkan." bisik Rava lagi.
"Apa kalian menceritakan Aku?" tanya Vara.
"Idih, perasaan banget!" kata Rava.
"Aku mau ke toilet." kata Renata tiba-tiba dan hendak beranjak.
"Aku temani." kata Rava juga beranjak.
"Tidak usah! masa mau buang air kecil pun di temani. Aku kan sudah besar Rava." balas Renata.
"Aku juga mau buang air kecil. Ayo Kak, Vara temani." Vara mengajukan dirinya, yang memang sangat menahan panggilan alamnya.
"Syukurlah ada Vara." ucap Rava lega.
Setelah kedua wanita yang di saynginya berlalu ke kamar mandi. Rava dan Harsen dengan santainya melanjutkan makannya. Dan pembicaraan mereka yang sempat tertunda.
"Kak...Vara di sampingmu." kata Vara.
"Iya Sayang." balas Renata.
Sesaat keduanya usai membuang hajatnya, pintu kamar mandi mereka bersamaan terbuka. Saat hendak berjalan, tiba-tiba tubuh Renata di tarik seseorang dari belakang dan membekap mulutnya dengan paksa. Vara di buat kaget dan di menarik-narik tangan Renata.
"Lepaskan Kakak gua! Lo siapa!!! jangan macam-macam! Dia lagi hamil!"
"Bro ada dua!" kata yang membekap Renata ke beberapa pria yang masih ada diluar kena pukulan Vara, sementara tangan lainnya membekap Renata.
Tak lama tiga pria lainnya datang menarik paksa Vara dan menutup mulutnya dengan sapu tangan yang di berisi cairian bius.
Vara dan Renata akhirnya tidak sadarkan diri, setelah keduanya tidak sanggup melawan dari kekuatan empat pria yang membekap mereka dan menghilangkan kesadaran keduanya.
"Yang mana yang di minta si Bos?"
"Gua lupa bawa fotonya. Ini sudah terlanjur, bawa saja keduanya ke dalam mobil. Kita tidak punya banyak waktu, sebelum tamu lain masuk ke kamar mandi."
Akhirnya tubuh Renata dan Vara yang sudah lemas dan tidak sadarkan diri, di gotong ke luar dari kamar mandi menuju pintu belakang hotel yang menghubungkan parkiran belakang. Di sini, akses boss yang mempekerjakan mereka bisa di bilang cukup berkuasa.
Apakah yang terjadi pada keduanya? jangan lupa bantu VOTE dan Like kalian. 😍😘
Oh ya, karena harusnya ini hari senin sudah TAMAT, banyak yang gak setuju dan DM saya di Instagram, jujur saya jadi sangat berat melepas pembaca saya di sini. Baiklah, saya tidak akan mempersingkatnya. Bahkan meneruskan kisah yang lainnya hanya di sini. Terima kasih 🤗🥰😍