
Sesampainya di kamar, Rava langsung saja memeluk tubuh Renata dari belakang. Membuat Renata kaget dengan yang di lakukan Rava tiba-tiba, saat Ia berjalan menuju barang-barang yang berserakan di lantai kamar mereka, hadiah dan segala dekorasi ranjau dan tegangan tinggi, serta bunga dan dedaunan yang masih setia mengihiasi kamar pengantin baru.
"Sayang..." ucap Renata.
"Sebentar saja, harum tubuhmu sangat menggoda." jawabnya seraya menciumi tengkuk leher Renata.
"Bukan ada maunya lagi kan?" sindir Renata.
"Kalau ada maunya lagi kenapa?" bisik Rava menggoda dan menarik tubuh Renata berbalik
menghadap Rava. Keduanya saling memandang, Rava menatap wajah Renata dengan senyuman yang terlihat menggoda di bibirnya.
"Apaan sih sayang... Kalau lagi ada maunya lagi aku bisa pingsan loh. Tadi malam sudah, tadi pagi sudah, masa iya siang juga, seperti minum obat, tiga kali sehari." sindir Renata.
"Loh... emangnya kenapa? Istri sendiri, sudah sini peluk. Aku cuma mau bermanjaan doang denganmu." kata Rava memeluk Renata dengan erat.
"Aku mau membereskan kamar ini sayang… di sini sangat banyak sekali barang, terus hadiah di sana juga belum kita buka, tetapi Aku juga mau melihat Vara yang sedang sedih, bagaimana dong ini? Aku bingung yang mana harus aku kerjakan terlebih dahulu.” ucap Renata di dalam pelukan Rava.
“Hemmm.. beres-beres kamar biar Bu Kiki saja, soal hadiah juga nanti kalau kita sudah enakan baru kita buka, jangan pusing, Kau temani saja dulu Vara, Kau tahu kan, anak itu sangat manja dengan si Harsen, sejak kecil mereka sudah bersama, seperti dirimu dan Aku, entahlah… mungkin keterikatan itu sudah membatin, mungkin Aku harus cepat-cepat menikahkah mereka, agar tidak ada jarak yang bisa memisahkan mereka,” celetuk Rava dengan melonggarkan pelukannya.
Raut wajah Renata mengkerut, “Apa semudah itu? papa bagaimana?” tanya Renata.
“Kenapa dengan Papa? Bukankah Papa sudah setuju dengan Harsen? lagi pula papa bilang kalau Vara sudah di Wisuda, dia boleh memilih apapun yang ingin di capainya, bisa saja dia memilih untuk menikah muda.” tutur Rava dengan serius.
“Baguslah… kalau begitu Aku juga setuju.” ujar Renata.
“Oh ya.. kita akan Honeymoon saat Vara, Defan dan Harsen berangkat kembali ke New York, agar tidak ada gangguan di antara kita, apa Kau masih bersabar menunggunya?.” tanya Rava dengan menyentuh rambut Renata.
“Terseralah… Aku sih apapun yang menjadi keputusanmu, akan aku terima dengan senang hati,” jawab Renata dengan tersenyum.
“Okey.. Kau memang Istri yang penurut,” katanya dengan membelai lembut puncak kepala Renata.
“Baiklah sayang… Aku tinggal dulu, jika kau mau tidur, tidurlah.” ucap Renata melapaskan pelukan dari pinggang Rava.
“Tidak… Aku akan bekerja sebentar, bagaimana dengan perusahaanmu?” tanya Rava tiba-tiba.
“Aku serahkan pada Sasa dan Rayen, mereka yang urus, Papi kan juga masih di perusahaan menggantikanku untuk sementara, sudalah tidak usah di pikirkan. Apa nanti kau mau minum kopi? teh?” tanya Renata dengan lembut.
Rava mendekat dan tersenyum pada Renata, kemudian menyentuh pipinya, “Aku tidak salah memilih kamu sebagai Istriku, apa saja yang Kau buat untukku, Aku menyukainya sayang. Apapun yang dari dirimu, Aku selalu menyukainya,” kata Rava dengan suara terendahnya.
Renata di buat tersipu malu, kedua pipinya memanas menahan malu, “Baiklah suamiku, Aku ke kamar Vara terlebih dahulu, usai mengurus Vara, aku akan kembali dengan segelas teh,”
Rava menganggukan kepalanya dan tersenyum, Renata pun pergi meninggalkan Rava menuju ke kamar Vara. Rava yang menatap kepergian Renata tersenyum kecil, “Aku tidak akan senafsu itu menyakiti dirimu, masih ada hari besok, besok dan besok.” kata Rava tertawa kecil lalu ia mengambil ipadnya dan berjalan mengarah ke Balkon.
“Vara… ini Kak Rena, buka pintunya sayang,” panggil Renata seraya mengetuk pintunya.
Tak lama pintunya terbuka perlahan, tampak wajah Vara yang sedang bersedih,
“Apa Kakak boleh masuk sayang?” tanya Renata.
“Masuklah Kak,” jawabnya dengan lirih.
Renata pun berjalan masuk kedalam kamar Vara, langsung saja ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang Vara. Vara pun duduk di samping Renata dengan menatap sendu pada sang Kakak ipar.
Renata menyentuh pipi Vara, “Vara… kenapa kamu bersedih Sayang? Harsen kan cuma sebentar saja sayang,”
“Tapi Kak, Vara enggak tahu sama sekali kalau kak Harsen itu mau pulang hari ini, kan Vara jadi bisa bersiap-siap, enggak sekaget seperti ini, mana sedari tadi juga kak Harsen enggak menghubungi Vara, apa dia sudah tidak cinta lagi sama Vara ya kak?” tanya Vara dengan lirih.
“Mana mungkin Harsen tidak mecintai Vara, dari kecil kalian sudah bersama, dan cuma Vara yang bisa mengisi hati kakakmu Harsen. Ingat sama Sylvia?” tanya Renata.
Vara berpikir sejenak, “Ingat kak.. Adik kelas kakak yang keganjenan itu kan?”
“Hemmm benar… Dia kan menyatakan cintanya ke Harsen, tetapi di tolak oleh Harsen, Karena dia memang memilih Vara. Terus… Kalau kamu pernah dengar, saat Harsen berkuliah ada wanita bernama Rosi, itu juga dia tolak dan membuat keributan dengan teman kuliahnya, nah… cuma sama Vara dan hanya Vara yang bisa merebut hati Harsen, jadi sayang… kamu harus bisa mengerti dengan sikap Harsen yang kaku dan mungkin saja acuh, semoga saja dengan hubungan kalian Harsen akan berubah kedepannya, tapi enggak secepat itu juga kan sayang? Seperti Vara ke kak Rena,” tutur Renata dengan lembut.
Vara menarik nafasnya, “Benar juga sih yang Kakak bilang, Agh… Vara pusing kak, mana Vara juga baru pertama kali pacaran. Vara sama dengan Kakak dan Kak Harsen, untuk pertama kali memiliki kekasih, jadi Vara enggak mengerti dengan keadaan seperti ini,” ucapnya dengan memeluk bantal sebagai tumpuhan wajahnya yang bersedih.
“Sayang… Kamu harus lebih dewasa menyikapi Harsen, Vara juga harus kuat dong, seperti kakak yang dulu di selingkuhin oleh kakak kamu. Sudah… jangan menangis lagi, cucilah wajahmu, jika mama atau papa melihat kamu seperti ini, kasihan mereka sayang, nanti malah jadi kepikiran.” decak Renata seraya beranjak berdiri.
“Baiklah Kakak… Terima kasih ya Kak,”ucap Vara dengan tersenyum kecil.
“Baiklah.. Kalau begitu kakak keluar, mau membuatkan teh untuk kak Rava,” ucap Renata bersemangat.
“Iya Kak.. Oh ya Kak… Jangan lupa… Buatkan Vara juga, keponakan yang manisnya kek Vara ya,” ledek Vara dengan kedua matanya yang berbinar.
“Vara apaan sih,” jawab Renata malu.
“Hahahha.. Kak Renata malu ya, Vara enggak bercanda loh kak,”
“Iya… doakan saja, kalau begitu kakak keluar dulu, Vara bersih-bersih.” kata Renata lagi yang memang sangat malu.
“Iya kakakku sayang.” katanya dengan beranjak berdiri menuju kamar mandi.
Renata pun tersenyum lega melihat Vara yang sudah tidak bersedih seperti sebelumnya, Lalu Ia berjalan keluar menuju anak tangga. Sedangkan Vara, memilih mengikuti perintah Renata. Sejenak Ia berdiam dan menatap dirinya di depan cermin, “Kata-kata kak Renata ada benarnya, mungkin Aku harus agresif di bandingkan dengan kak Harsen , agar kak Harsen tidak kaku, tapi di mulai dari mana sih? Aku sungguh bingung di buat olehnya,” Vara mengacak-ngacak rambutnya.
“Tapiii.. Besok Aku harus ke rumah Bibi Rere untuk melihatnya, Apa dia sekejam itu denganku?” tanyanya pada pantulan kaca.
Bersambung.
***
Okey sudah 2 Eps hari ini, tolong jangan lupa LIKE dan VOTE nya jangan dong di lewatkan, kalian komentar tetapi saya cek riwayat VOTEnya enggak ada, saya kan sedih jadinya. Oh ya… yang minta Part Vara dan Harsen, kemungkinan besok bagian mereka ^^