
Toko Kue Cornelis.
Di sinilah Defan bersama Vara menghentikan langkahan kaki mereka. Berjalan dari depan simpang lorong yang mereka tapaki, untuk mencari tempat yang di sediakan Eva untuk Alice dan Anet. Walaupun itu lorong sempit, tidak bisa di masuki oleh mobil, lorong itu sangat ramai, ramai pengunjung karena merupakan daerah strategis untuk membuka toko rumahan. Karena itulah, Eva memilih, sebuah toko sekaligus tempat tinggal yang cocok untuk membuka toko kue buatan tangan Anet.
"Selamat siang Bibi Anet." sapa Vara dan Defan bersamaan.
"Hah... Vara, Defan, kalian kemari? masuk nak, Alice ada di dalam." ajak Anet yang sedang sibuk melayani pelanggannya.
"Wah Bibi... pelanggan Bibi sangat ramai. Apa tidak memakai pegawai untuk membantumu Bi?" tanya Defan.
"Sepertinya memang harus ya, Fan. Nanti Bibi pikirkan. Sekarang kalian masuklah, Alice ada di dapur membantu Bibi membuatkan adonan Kue." ucap Anet.
"Baik Bi." ucap Vara dan Defan bersamaan.
Defan dan Vara bersemangat untuk masuk kedalam rumah itu, mencari keberadaan Alice yang sedang di dapur membuat adonan kue. Saat sampai di dapur, Alice yang menyadari kedatangan keduanya pun tersenyum.
"Wah... Kapan kalian datang kemari? kok enggak ngabari ke Aku sih?" tanya Alice
Defan tersenyum, "Karena ponselmu sangat susah untuk di hubungi. Apa Kau tidak tahu Aku menghubungimu sampai 10 kali? Mengirimkan pesan cinta padamu sampai berkali-kali, tetapi sama sekali tidak ada balasan." Defan mendekati Alice.
"Agh... Maaf sedari pagi tadi Aku tidak memegang ponsel, Aku sangat sibuk membantu Mamaku." jawab Alice juga ikut tersenyum. Ya... Alice memilih berhenti dari Cafe untuk membantu mamanya yang sudah memiliki Toko sendiri.
"Apa perlu Aku bantu?" tanya Defan dengan memegang tempat adonan kue.
"Tidak usah.... Kau pasti tidak bisa. Malahan akan repot, jika nanti bermasalah. Duduklah dulu, maaf rumah ku sangat berantakan." celetuk Alice yang wajahnya masih di hiasi tepung.
Defan tersenyum, kemudian dia menyentuh pipi Alice dan mengusap sisa tepung yang menghiasi wajahnya.
"Kenapa Kau sangat manis sekali, walaupun tepung-tepung ini yang menjadi polesan di wajah cantikmu." ucap Defan dengan santainya.
"Ahhh... Kau ini, jangan gombal. Apa maksud kedatangan kalian ke sini?" tanya Alice seraya melirik ke Vara yang audah melipat kedua tangannya di atas dada.
"Hemmmmm.... Akhirnya kalian berdua menyadari keberadaan Aku juga! Kalian pikir Aku ini makhluk halus yang tak kasat mata. Seenaknya saja bermesraan di depanku, jiwa jomblo Ku kan meronta-ronta. Apa kalian paham!."
Alice tersenyum, sedangkan Defan menatap aneh pada Vara.
"Karena itu... cepat dapatkan cintanya Kak Harsen."
"Uwahhh.... Kau sangat santai sekali, sementang Kau itu sudah punya pacar. Hah... Aku tidak menyangkah Fan, Kau itu terlalu pintar soal seperti ini." ucap Vara dengan gemas.
"Agh... Aku tak butuh nasehatmu. Sebentar lagi Kak Harsen akan datang ke sini." ucap Defan dengan menatap pada Alice.
Vara yang mendengarnya terkesiap, "Apa maksud perkataanmu Fan?"
"Kau tidak mengerti juga? Tadi Aku mengirimkan pesan ke Kak Harsen, bahwasannya Aku bilang, Kau itu tiba-tiba sakit perut. Mungkin beberapa menit lagi dia sampai." tutur Defan.
"Defaaaaaannnn!!!!" teriak Vara, membuat Alice dan Defan sama-sama terkaget.
"Kenapa Kau berteriak kepadaku!" ucap Defan dengan melototkan matanya, "Maafkan sepupuku yang gila ini sayang, membuat Kau terkejut." ucap Defan pada Alice, Alice hanya tersenyum dan menatap kembali pada keduanya.
"Kauuuu... itu benar-benar membuat Kak Harsen repot saja!" bentak Vara.
"Kau seharusnya berterima kasih padaku! Aku membantumu untuk mendapatkan cintanya Kak Harsen." ucap si Defan dengan mata melotot.
Vara menyentuh keningnya seakan tidak percaya, "Hah... Aku tidak percaya dengan yang Kau lakukan Fan." Vara memilih untuk meninggalkan keduanya dan berlari kecil ke arah luar.
Anet yang melihat Vara berlari merasa bingung dan mencoba mendekati Vara.
"Ada apa denganmu, Nak? Kenapa Kau terburu-buru?"
Dengan menarik nafas sejenak, "Tidak apa-apa, Bi. Hanya saja seseorang akan datang. Jangan perdulikan Vara, Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi."ucap Vara dengan sopan.
"Agh... Baiklah Nak." balas Anet dan kembali ke tokonya.
Tak lama orang yang di tunggu Vara tampak dari pandangannya, buru-buru turun dari mobil dan hendak menyebrangi jalan di depan lorong. Vara tersenyum dengan perasaan tersentuh melihat wajah Harsen yang menyimpan kepanikan, dan berlari ke arah Vara.
"Dasar Pria kakuh bodoh! Kau sangat bisa di kelabui Defan." gumam Vara dengan suara kecil.
Harsen yang melihat Vara dari kejauhan segerah berlari dengan kencang, masih dengan memakai stelan kerjanya, membuat Harsen tampak berkharisma walupun sedang berlari. Saat tiba di depan Vara, Harsen dengan cepat memeriksa tubuh Vara yang hanya menatapnya dan mematung.
"Mana yang sakit? Katakan pada Kakak, Apa Kau mau ke rumah sakit? Mari kakak antarkan, Ayo." ucapnya menarik tangan Vara.
Vara tetap berdiam di posisinya, membuat Harsen terhenti dan menoleh ke arah Vara.
"Kenapa Kau hanya diam! Ayo kita ke Rumah Sakit!."
Di sana, Defan, Alice dan juga Anet menatap pada keduanya. Jangan di tanya si Defan tertawa sendiri, membuat Alice memukulnya karena Alice tahu perbuatan Defan.
"Kak Harsen! Kenapa kakak marah-marah ke Vara!" ucap Vara kepadanya.
"Kakak? Kakak enggak marah Vara! Kakak sangat mengkhawatirkan diri mu. Ayolah kita ke Rumah Sakit, jika perutmu terasa sakit, biar segerah di obati."
"Apa Kakak bodoh?" tanya Vara padanya.
Raut wajah Harsen berubah bingung, "Kau mengatai kakak?" Harsen melepas tangan Vara dan berkacak pinggang seakan tidak percaya dan tidak terima.
Vara tertawa seakan ada yang lucu, membuat Harsen semakin kesal.
"Hah... Aku tidak percaya, orang yang berpendidikan tinggi seperti Kak Harsen, tidak bisa melihat dengan jelas? Apakah Vara meringis kesakitan?"
Harsen baru tersadar, kemudian dia menatap Vara dari ujung kepala dan ujung kakinya.
"Benar juga apa yang Vara katakan. Kau baik-baik saja?" tanya Harsen.
"Iyaaaa Kak, Vara baik-baik saja! Kakak itu di tipu oleh Defan. Masa iya, sedari tadi melihatku yang biasa saja di ajak ke Rumah sakit. Mata kak Harsen terbuat dari apa sih?" ucap Vara menatap ke Harsen.
Harsen yang sedang berkacak pinggang menarik nafasnya kasar, seakan tidak percaya, perasaannya yang sedari di kantor mendapatkan pesan dari Defan membuatnya kalut enggak tahunya dia di tipu oleh Defan. Mata Harsen berpindah ke arah Defan yang sedari tadi tidak di sadarinya. Defan yang mendapatkan pandangan Harsen melambaikan tangannya dan tersenyum.
"Jangan terlalu mudah di tipu oleh orang sekitarmu Kak!" ucap Vara dengan penekanan.
"Karena Vara tidak tahu, betapa perdulinya kakak terhadapmu!." balas Harsen membela diri.
"Wah... Apakah itu pernyataan cinta dari Kak Harsen?" Vara tersenyum.
Harsen terkesiap, lalu Ia merasa gugup, "Ti... Tidak. Itu hanya perasaan seorang kakak yang takut adiknya terluka."Harsen membuang pandangannya.
"Wah... Kak Harsen... Sungguh sangat cepat di luar dugaanku." Defan mendekati keduanya.
Harsen mendekati Defan, Plakkkkkkkk....
"Awwww." Defan menyentuh kepalanya yang di toyor Harsen.
"Sekali lagi Kau bermain-main seperti itu, akan Kakak adukan Kau pada Kak Rava."
"Jangan dong Kak, Kalau tidak seperti itu apa mungkin Kak Defan mau ikut bergabung dengan kami? kasihan Vara kak sendiri melihat orang pacaran." Defan menatap pada Harsen.
"Apa maksud kamu, Fan?" Harsen mulai curiga.
"Kami mau menyusul kak Rava dan Kak Renata ke taman bermain Kak. Aku mengajak Alice, bagaimana nantinya dengan Vara jika tidak ada yang menemaninya. Karena itu Aku memanggil kak Harsen." ucap Defan tanpa berdosa.
"Apa Kau sudah gila! Kak Rava sedang berkencan dan Kau ingin mengganggunya! Aku tidak menyangka padamu Fan!." Harsen membuang nafasnya kasar.
"Ayolah Kak," ajak Vara dengan menggenggam tangan Harsen serta memasang wajah memohon.
Harsen menatap pada Vara, "Apa Kau seminat itu untuk mengganggu Kakakmu?" tanya Harsen.
"Bukan Kak... Hari ini adalah hari terakhir bagi Kak Renata, kami ingin menemaninya untuk bermain bersama. Apakah itu salah?" tanya Vara dengan menatap Harsen penuh harap.
Harsen yang menatap dalam pada mata Vara tak mampu menolak, "Baiklah.... Kakak ikuut." ucap Harsen dengan berat hati.
"Yeeeeeeee." ucap Vara girang dan berputar.
Harsen tersenyum kecil melihat Vara yang senang seperti anak kecil itu. Kemudian Defan yang sudah mendapatkan jawaban pun menghampiri Alice yang sedari tadi hanya melihat pada mereka.
"Ayo.... kita susul kak Rava." ajak Defan pada Alice.
"Sebentar Aku ingin mengambil tas dan ponselku. Kau berpamitlah pada Mamaku." jawab Alice kemudian masuk.
Dengan cepat Defan meminta izin pada Anet, tidak banyak berpikir, Anet memberikan izin pada Defan. Karena Anet senang, anaknya bisa memiliki teman dan kekasih dari anak yang berpendidikan seperti mereka.
"Kenapa menatapi kakak seperti itu?" tanya Harsen ke Vara.
"Kak Harsen sangat tampan, sangat baik, dan perhatian sama Vara." ucap Vara tanpa gugup.
Harsen menjadi gugup, "Jang—Jangan berlebihan memuji Kakak." ucapnya dengan malu, "Membuat Aku malu saja." gumam Harsen kecil dan membuang pandangannya ke arah lain. Padahal di dalam hatinya, sangat senang di puji oleh Vara.
"Ayo Kak," ajak Defan yang sudah bersama Alice.
"Ayoooo." balas Harsen.
Dengan cepat Defan dan Alice duluan berjalan mendahului Vara dan Harsen. Sementara Harsen hendak berjalan terhenti saat Vara tidak ada di belakangnya, dan mendapatkannya di toko Anet dan berpamitan pada Anet.
"Dia memang gadis yang sangat unik." gumam Harsen.
"Ayo Kak." ajak Vara kemudian.
Harsen mengikuti Vara dari belakang, membuat Vara kembali terhenti dan menoleh pada Harsen.
"Kenapa berhenti, Jalanlah." ucap Harsen.
"Kak... Berjalanlah di sampingku. Karena Pria masa depanku itu nantinya akan mendampingiku, bukan membuntutiku." ucap Vara dengan tatapan tajam.
Harsen memutar kedua bola matanya, dengan berjalan perlahan ke arah samping Vara tanpa berkata apapun.
"Begini Kak baru benar." ucap Vara seraya tersenyum, dan melanjutkan jalannya.
Tiba di penghujung lorong, dengan cepat Harsen berjalan kedepan dan mengulurkan tangan ke Vara.
"Kemarikan tanganmu." perintah Harsen.
"Hah." balas Vara bingung dengan menatap wajah Harsen.
Tanpa menunggu jawaban Vara, Harsen menarik tangan Vara dan menggenggamnya, lalu memberikan perlindungan pada Vara dengan menyebrangi jalan menuju mobilnya. Masih menggengam tangan Vara, Harsen membawanya masuk ke mobilnya duduk di samping kursi kemudi.
Vara di buat senyum-senyum dengan tingkah si Harsen pada dirinya. Dengan cepat Harsen berlari kecil dan masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya, mengikuti mobil Defan. Di dalam mobil, Vara hanya berdiam dengan senyum -senyum sendiri, Harsen yang melirik sekilas dengan alis terangkat sebelah, seakan bingung dengan sikap Vara.
"Apa ada yang lucu?" tanya Harsen tiba-tiba.
"Hah... Agh... Tidak. Ini seperti kita mau kencan saja." ucap Vara tanpa malu.
Harsen tersenyum kecil tanpa Vara tahu, "Kau sangat berharap seperti itu?"
Vara menoleh pada Harsen, "Benar... Karena Aku sangat mencintai Kak Harsen." balas Vara dengan mantap.
Harsen refleks menginjak remnya dan menarik tubuh Vara agar tidak terlempar. Kemudian keduanya saling bertatap dalam diam.
"Apa Kau bercanda?" Harsen menatap dengan tajam.
Tekan Like dan Jangan lupa untuk VOTE ya.
UNTUK SELURUH PEMBACA SAYA YANG MUSLIM, SAYA UCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN🙏.